Bab 2: Rencana

780 Words
Bab 2: Rencana   “Kau tidak punya cara lain, Kak, akui saja!” Abigail melipat tangannya di d**a, dia menatap malas pada sorot tajam August yang mengintimidasi. “Jangan tatap aku seperti itu, percuma saja. Aku sudah melihat tatapan mencolok itu sejak anak-anak, rasanya aku malah ingin mencongkel biji matamu, alih-alih ketakutan.”  Kening August berkerut, napasnya ditarik dalam lalu diembuskan sekaligus. Pusing sekali ia memikirkan tingkah adiknya yang keras kepala ini. Seharusnya cukup ia saja yang maju ke dalam misi yang diberikan Steven, tapi Abigail terus merajuk agar dibiarkan ikut. August tahu betul kalau adiknya bukan gadis lemah nan cengeng, tapi tetap saja sebagai seorang kakak dia khawatir. itu adalah hal yang wajar. Namun, lihat, bahkan Abigail sama sekali tidak mendengarkannya sekarang.  "Tidak, Abby. Tidak.” August menegaskan kata-katanya lagi. “Kau tahu persis bagaimana bahayanya RM. Aku benar-benar tidak suka rencana bodohmu itu." Tolak August setelah mereka membahas rencana mereka malam ini.  "Tapi Kak, hanya itu satu-satunya cara. Lagipula dia laki-laki. Ini pasti berhasil!" Abigail mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mendengkus kesal. “Kenapa kau sangat bodoh, sih?”  “Hei, siapa yang kau bilang bodoh, itu, dasar bodoh!” August masih tetap pada pendiriannya. Dia benar-benar tidak setuju dengan gagasan adiknya. "Jika dia laki-laki, lantas apa?"  Abigail memutar bola mata malas, “Bodoh teriak bodoh, Kakak benar-benar sangat bodoh!”  Seorang gadis yang sejak tadi duduk menyaksikan perdebatan kakak beradik itu ikut memutar malas matanya. Tungkai gadis itu menapak lantai dan berjalan menghampiri August. Tangannya menggapai bahu lelaki itu sebelum mengelusnya dengan seduktif.  "Tidak sekarang, Hannah." August melepaskan tangan gadis bernama lengkap Hannah Crowd itu, lalu fokusnya kembali pada Abigail lagi. “Kau sama sekali tidak berniat mengubah rencanamu?”  Hannah tampak tidak peduli, bahkan ketika tangannya dihempaskan dengan semena-mena oleh lelaki dingin itu. Tatapan August mengatakan kalau ia tidak suka, tapi bukannya mendengar ucapan sang kekasih, Hanna kembali memainkan tangannya yang lihai menyelip ke d**a bidang August. Wanita itu menangkap otot-otot keras yang dilatih dengan sangat baik itu, kemudian bermain di sana. Mengelusnya perlahan naik dan turun sambil sesekali mencubit pelan p****g pria itu.  "Aku benar-benar akan--"   Ucapan August terputus. Bibir bawahnya digigit tatkala tangan Hannah menyusup di balik kemejanya dan membelai kulit d**a pria itu. Lelaki itu lantas menarik tangan kekasihnya dan berbalik dengan mata menggelap karena libido yang tiba-tiba naik. Ini semua tidak lain dan tidak bukan adalah karena ulah Hannah.   "Aku sedang bicara serius dengan Abby, Hannah Crowd, tapi kau malah membuatku ingin menerkam dirimu di atas ranjang." August menggerutu, kemudian menarik gadis itu lalu menciumnya sekilas.  "Itulah yang akan Abby lakukan." Hannah buru-buru melepaskan ciumannya lalu menjentikkan jarinya. “Persis seperti ini, karena kalian … laki-laki.”  "Tidak ... Tidak ... Tidak ... Tidak.” August tersadar dari pikiran kotornya, dan semakin memprotes ucapan Hannah. “Tidak akan kubiarkan adikku yang polos ini jatuh ke tangan laki-laki jahat seperti RM." Lelaki itu mengangkat kedua tangannya, menolak ide gila adik dan pacarnya.  "Oh, ayolah! Kita tidak berbicara soal siapa yang pantas bersanding denganku. Namun, ini adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan misi, ingat?” Abigail menarik napas dalam-dalam, alot sekali diskusi mereka malam ini.  “Aku akan masuk ke dalam kelompoknya dengan memenangkan balapan.” Putus August pada akhirnya, yang langsung ditolak Abigail mentah-mentah.  “Oho! Jangan sembarangan mengira, Tuan Menyebalkan!” gadis itu menyanggah sambil mencibir, “RM alias John Raymond adalah raja balapan liar. Kau tidak mungkin menang melawan dia.”  August menyanggah cepat, “Aku juga yang terbaik di kepolisian, kalau kau tidak ingat.”  “Ya, memang benar, tapi balapan bukan keahlianmu. Apalagi balapan liar.” Hannah menginterupsi, “lagi pula tidak ada salahnya memberikan kesempatan pada Abby.”  “Julukannya adalah Cheetah, Kakak bahkan mengulang tiga kali saat pertama kali membuat SIM.” Abigail menambahkan dengan nada mengejek. “Dia mungkin sudah menghabiskan hampir separuh masa hidupnya dengan balapan, kau tidak akan tau trik apa yang akan digunakannya saat di jalanan.”  “Apa perlu aku tunjukkan sekali lagi, bagaimana cara kami bekerja, Tuan Drew?” Hanna kembali menghampirinya, kali ini memeluk pemuda itu dari belakang sambil mengecup tengkuknya.  August mendesis, menahan desakan gairah yang mulai naik dan menjalari syaraf-syaraf sensitifnya. Hannah tersenyum miring, kemudian menangkup pipi pria itu gemas. “Perempuan adalah kelemahan laki-laki, apa kau tidak mengerti juga, Honey?”  “Mengapa kau masih meragu, padahal tubuhmu memberikan respon agresif ketika disentuh wanita?” Abigail mencibir, “aku sudah dewasa, Kak, aku yakin bisa menjaga diri dengan baik dalam misi kali ini.”  “Oke, kalian menang!” August berdecak dan mendengkus sekaligus, lalu menghela nafas panjang sambil menatap Hannah dan Abigail secara bergantian. Kedua gadis itu sudah memojokkannya membuatnya tidak bisa berkata tidak. “Tapi kalau sampai ada apa-apa, kau tidak bisa menolak perintahku untuk kembali, mengerti?”  Abigail mengangguk mantap.    * * * *   Bersambung, 780 kata. Ada yang menantikan kisah Joonie setelah dewasa? staytoon yaaa! Jangan lupa TAP LOVE atau ADD/IKUTI cerita ini dan masukkan ke perpustakaanmu, ya~!   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD