Bab 3: Balapan Liar (1)

1233 Words
  Bab 3: Balapan Liar (1)    Deru mobil-mobil yang tertata rapi di pinggir jalan ikut meramaikan musik yang berdentum keras. Mobil-mobil yang dimodif berbagai bentuk dan warna menghiasi jalanan itu. Dipamerkan seakan mobil-mobil itu berada dalam lelang. Pintu mobil yang didominasi warna pink terbuka. Seorang gadis berambut coklat muda lurus panjang mengenakan kaos pendek putih dengan  hotpants biru menempel hingga setengah pahanya melangkah keluar. Laki-laki yang dilewatinya memberikan atensi penuh pada tubuh sexy gadis itu.   Kaki jenjang yang dihiasi sepatu boots hitam dengan hak tinggi berjalan menuju kerumunan para gadis. Dia berhenti melihat banyaknya kerumunan. Gadis itu menepuk bahu salah satu gadis. Wajahnya tampak terkejut lalu menepuk gadis lain hingga memberikan jalan baginya.  Tak jauh dari terlihat seorang laki-laki dengan rambut orange memberikan senyuman lebarnya yang hanya ditujukan pada satu orang yaitu gadis bernama lengkap Park Mina. Matanya menatap rakus tubuh Mina yang menggiurkan seakan hendak melahap gadis itu hidup-hidup. Tungkai Mina bergerak menuju ke arahnya. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Seakan mengklaim laki-laki itu miliknya.    "Selalu saja dikelilingi para gadis, Alex?"   Laki-laki bernama Alex Kins itu terkekeh mendengar panggilan sayang dari kekasihnya. "Kau tenang saja Sayang, Hanya kau yang memiliki hati dan tubuhku ini."   Mina menggerakkan jari telunjuknya mengitari sisi wajah Alex. "Benarkah?"   "Yup. Semua orang juga tahu Alex Kins adalah pacarnya Park Mina. Hanya saja Tuhan menciptakan wajahku terlalu tampan sehingga membuat para gadis datang dan mengagumi ketampananku yang tiada habisnya."   Mina menyandarkan tubuhnya pada tubuh Alex. Dia menempelkan dahi mereka dan menatap dalam ke arah manik hitam milik pria itu. Membiarkan gairah dalam diri Alex mengguncangkan laki-laki itu. "Tapi kau hanya milikku, Alex. Akan kupatahkan tulang leher perempuan gila yang berani menyentuhmu."   Alex kembali terkekeh geli. Dia meraup bibir Mina masuk dalam ciuman panas. Alex dan Mina saling berlomba untuk mendominasi ciuman itu. Lelaki itu lantas menarik punggung Mina memperdalam ciuman mereka. Bahkan permainan lidah mereka terasa begitu intim. Menjilat, menghisap, dan saling bertukar saliva satu sama lain.   Tuk ... Tuk ... Tuk ...   Mina melepaskan ciumannya dan mendengus kesal ketika kap mobilnya diketuk kasar. "Dasar b******k! Berani-beraninya kau--Eh, Kak Nana rupanya." Emosi Mina menguap seketika saat melihat gadis bersurai gelap panjang berdiri dengan melipat kedua tangannya.    Natasha Raymond, yang saat itu mengenakan rok mini putih dengan tank hitam berpotongan pendek yang menampilkan perut ratanya, memaksakan senyuman untuk pasangan itu. "Masih terlalu sore untuk kalian berdua having s*x, Park Mina. Kita bahkan belum balapan. Segera bersiap, Kak Joonie sudah datang." Ucap Nana kemudian.    "Baiklah, as your wish." Mina tampak cemberut kecewa.   Setelah Nana pergi, Alex mengecup bibir kekasihnya sekilas menghilangkan bibir cemberut gadis itu.  "Tenang Sayang, kita bisa melakukannya nanti setelah balapan. Bahkan semalaman kalau kau sanggup." Bujuk Alex dan berhasil menampilkan senyuman di bibir kekasihnya.   Di sisi lain tampak seorang laki-laki bersurai abu-abu tengah mengecek kondisi mobil Dodge Charger seri tahun 1960. Tak akan pernah ada yang mengganggu waktu laki-laki itu dengan mobil kesayangannya. Setelah merasa kondisi mobilnya dalam keadaan baik, John Raymond menutup kap mobilnya dan menyandarkan tubuhnya di mobil.   Netranya berkeliling ke sekitar. Pemandangan dua pasangan yang sedang b******u, beberapa orang yang sedang merokok dan minum, lalu … entah bagaimana tiba-tiba saja tatapannya tertumbuk pada seorang gadis yang mengenakan kaos putih sebatas bawah d**a hingga menampilkan perutnya yang langsing serta celana jeans biru yang memeluk erat kedua kakinya.    Rambutnya yang sedikit berantakan bergerak mengikuti langkah gadis itu. Dia berhenti dan berbincang dengan Theana. Bibirnya yang mungil bergerak tatkala gadis itu tengah bicara. entah apa yang merasuki John sampai ia menaruh atensi pada hal seperti itu. Bibir itu tidak terlalu penuh, tapi begitu mengundang untuk dicicipi. John tiba-tiba saja yakin rasanya akan manis saat bibirnya berhasil melumat bibir gadis itu. Ah, ada apa dengannya? Kenapa pikirannya sekotor ini, padahal hari masih sore? Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam.   Namun pada akhirnya John tak henti-hentinya melihat perempuan itu. Seakan apapun yang dilakukan dia sangat menarik bagi laki-laki yang saat ini mengenakan kemeja pantai berwarna biru. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyuman saat gadis itu terlihat kesal karena angin sudah membuat rambutnya berantakan.   "RM, Vernon mencarimu. Sepertinya dia tidak terima kau mengalahkannya tempo hari." Seorang laki-laki tampan mendekati John dengan lollipop di dalam mulutnya.   Seorang laki-laki dengan rambut blonde lantas berjalan menghampiri John. Tak ada jawaban dari John Raymond membuat laki-laki yang sering dipanggil Jin itu menoleh. Dia melihat John tengah terpaku dan tatapan matanya tertuju ke depan. Jin mengikuti tatapan matanya hingga melihat apa yang membuat lelaki itu tak bergeming.    "Cantik, tapi tentu saja tidak secantik Nana." Jin merangkul bahu John dan langsung menyadarkan laki-laki itu.   "Siapa gadis itu?" Tanya John tanpa memperdulikan ucapan Jin.    "Gadis itu?" Jin memegang dagunya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuknya sedang berpikir. "Aku ..  tak pernah melihatnya. Entahlah, sepertinya orang baru."   John menghela nafasnya. "Jika kau tidak pernah melihatnya kenapa harus sok berpikir segala?"    "Aku ‘kan sedang berusaha mengingatnya, mana tahu pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya. Tapi ternyata aku memang tidak pernah melihatnya." Jin terkekeh geli.   Jika saja bukan kekasih adiknya, John sudah menjitak kepala Jin dengan keras. Kadang pria Jepang itu keterlaluan sekali, memangnya sudah jadi tren di negeri sakura untuk bercanda dengan kebodohan yang hakiki seperti itu? Harakuta Jin memang beda, John akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri.  "Sudahlah percuma tanya padamu. Akan kucari tahu sendiri."    John menegakkan tubuhnya dan menghampiri gadis yang menarik perhatiannya. Langkah kaki pemuda itu terhenti saat melihat seorang laki-laki berkulit seputih salju mendekati gadis itu. Tampak gadis itu tengah kesal bahkan menepis kasar tangan laki-laki itu.   "Sudah kukatakan kita tak lagi ada hubungan apapun jadi berhentilah mengaturku." John bisa mendengar amarah gadis itu.   "Berhentilah menentangku, Sialan! Ayo ikut aku!" August menarik tangan Abigail secara paksa.    John mengerutkan kening, kemudian ia berhenti dan menghalangi jalan laki-laki itu. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah August. "Lebih baik kau lepaskan saja gadis itu, Bung. Selagi aku masih bicara baik-baik."    "Ini bukan urusanmu, jadi silakan minggir." Usir August cuek.    "Woah, kalau sikapmu sekasar ini … bisa jadi aku akan berubah pikiran. Sayang sekali, ini akan menjadi urusanku mulai sekarang.” John tersenyum miring. “Aku benci sekali pada pria yang memperlakukan seorang perempuan dengan kasar seperti ini. Jadi ... bagaimana kalau kita saja yang menyelesaikan masalah ini?"    August berdecak, "Jadi kau mau kita berkelahi di sini?"    John menggelengkan kepalanya. "Kau orang baru di Boston? Apa kau tidak mengenalku?” lelaki itu tertawa. “Kau sedang berada di daerah kekuasaanku, Bung.Orang-orang ini pasti akan menghajarmu sampai sekarat, bahkan sampai mati, kalau kau berani melayangkan tinju padaku dengan tangan kurus itu."   August melihat orang-orang disekitar mereka sudah berdiri menatapnya bak sasaran empuk bagi kawanan serigala. Mungkin salah bicara atau bertindak sedikit saja, sudah pasti ia akan babak belur di serang sekumpulan orang yang siap mereka menyerbunya. John tersenyum sinis melihat wajah ketakutan August.  “Bagaimana?” John menarik napas panjang. “Ah, begini saja, aku akan memberimu kesempatan untuk mengalahkanku dalam balapan malam ini."   "Balapan?" Tanya August sambil mengangkat sebelah alisnya.    John mengangguk mantap. "Ya, balapan. Itu satu-satunya caramu bisa mengalahkan aku secara adil, dan … aman. Jangan lupa, kalau aku menang nanti … kau harus melepaskan gadis itu."   "Bagaimana kalau ternyata aku yang menang?" August menarik lengkung miring di sudut bibirnya.        John lagi-lagi mendengkus mendengar ucapan August. "Itu tidak akan terjadi. Jadi bersiaplah … dengan kekalahanmu."            “Kita lihat saja nanti.” August berbalik lebih dulu menuju mobilnya.       * * * * *     Bersambung, 1232 kata. Ada yang menantikan kisah Joonie setelah dewasa? staytoon yaaa! Jangan lupa TAP LOVE atau ADD/IKUTI cerita ini dan masukkan ke perpustakaanmu, ya~!   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD