Tekad Yang Tidak Pernah Tergoyahkan

2240 Words
Besok di pagi hari seperti biasanya Arslan akan pergi ke lapangan untuk berlatih. Dan di hari itu dia sudah janji untuk mengajarkan Stella, skill berpedang.   “Akhirnya, waktu ku akan bisa mempelajari skill.” (° ∀ °) Stella sangat bersemangat, di pagi hari itu, dia segera pergi dari kamarnya menuju lapangan.   “Selamat pagi Stella.” Naori berpapasan dengan Stella yang berjalan sambil tersenyum sendiri.   “Oh selamat pagi Naori, hari ini pagi yang cerah bukan?” (❛ᴗ❛) ucap Stella dengan mata yang bercahaya.   Bling… Bling…   “Iya kau benar, tetapi kau tidak biasanya menjadi bahagia sekali seperti ini.” Naori menjadi heran dengan sikap Stella. Dia juga melihat mata Stella yang bercahaya yang merupakan bukti ekspresi senangnya. “Silau sekali, pancaran matanya berbeda dari hari-hari biasa. Biasanya dia sangat ambisius dan juga sangat menawan dengan wajah yang cemberut.”   “Tidak, tidak ada apa-apa. Hari ini aku hanya akan diajarkan cara menggunakan skill, oleh senior Arslan,” jelas Stella dengan suara yang benar-benar bersemangat.   “Begitu ya rupanya, akhirnya kau bisa mempelajari skill berpedang. Selamat ya Stella.” Naori ikut bahagia setelah mengetahui, alasan Stella kenapa pagi itu terlihat bersemangat sekali.   “Kalau begitu aku harus pergi. Pasti sekarang Senior sudah menunggu ku,” kata Stella. “Kalau begitu sampai jumpa lagi ya.” Lalu dia pergi menuju lapangan.   “Iya, Berjuanglah!” teriak Naori, ketika Stella sudah mulai berjalan menuju lapangan.   “Iya!” balas Stella dengan menoleh ke arah Naori dengan senyuman lebar.   Setelah Stella pergi Naori menatap awan. “Semoga saja kau berhasil menggapai mimpi mu Stella.”   Stella tersenyum senang sepanjang dia berjalan menuju lapangan. Dan di saat dia berada di lapangan di sana sudah ada Arslan yang menatap dari kejauhan dengan wajah seriusnya.   “Apakah keputusan ku ini tepat?” Arslan merasa ragu akan keputusan untuk mengajari Stella skill berpedang.   Stella terus berjalan hingga berdiri di hadapan Arslan. “Selamat pagi Senior Arslan.” Stella membungkukkan tubuhnya ke arah Arslan.   “Iya!” Arslan terdiam sejenak, dengan menatap serius ke arah Stella. “Hmm… Dia begitu bersemangat sekali, matanya yang berkilau-kilau menunjukan niat dan tujuannya.” Arslan bisa melihat mata Stella yang berkilau-kilau ketika dirinya melihat wajah Stella.   “Stella!” Arslan mulai berbicara kepada Stella.   “Iya!” jawab Stella dengan suara yang lantang.   “Sesuai janji ku kemarin aku akan mengajari mu skill dalam berpedang.”   “Baik. Apa saja yang harus aku lakukan untuk bisa mempelajari skill itu?” tanya Stella yang masih menggunakan suara lantang. “Asal jangan meminta hal yang jorok, atau meminta ku menjadi istrinya di usia yang semuda ini.”     “Yang harus kau lakukan adalah menuruti setiap, arahan yang ku katakan. Bagaimana apa kau siap!” jelas Arslan dengan wajah yang seperti biasa jutek dan sangat serius.   “Baiklah aku siap, menuruti perintah mu. Jika itu memang merupakan latihan skill berpedang,” ungkap Stella. “Huh… Syukurlah ku kira dia akan meminta ku untuk menjadi istrinya.” Stella menghela napas.   “Ayo ikuti aku!” Arslan ingin melatih Stella di tempat yang berbeda.   “Kemana?” Stella bertanya dengan penasaran ke mana Arslan akan mengajaknya untuk berlatih.   Mereka berdua sampai di sebuah lapangan yang lebih kecil, di sana merupakan tempat Moisels dan Arslan sering berlatih ketika latihan biasa sudah mereka lakukan.   “Tempat apa ini?” tanya heran Stella, dia melihat tempat itu ada beberapa alat latihan, serta tempat itu sangat kacau seperti sudah terjadi pertarungan sengit.   “Ini adalah tempat aku dan partner latihan ku. Kami sering melakukan latihan di sini, ketika waktu istirahat atau pada malam hari,” jelas Arslan.   “Begitu ya,” kata Stella sambil mengamati seluruh tempat latihan itu. “Pasti kemampuan mereka berdua sangat hebat, terlihat dari tempat ini. Benar-benar hancur, aku semakin tidak sabar untuk segera melakukan latihan skill berpedang.” Stella menjadi semakin bersemangat setelah mendengar penjelasan Arslan, bahwa di sana merupakan bekas tempat latihan Arslan dan Moisels.   “Aku ingin memberi tahu mu sesuatu.”   “Apa.” Stella penasaran dengan apa yang akan diberitahu oleh Arslan kepada dirinya. “Kira-kira apa yang akan diberitahunya kepada ku?”   “Kau harus tahu, dahulu partner latihan tidak ada aturan resmi. Setiap kandidat yang mengikuti latihan di sini tidak ada yang namanya partner latihan. Istilah partner latihan ada karena aku dan Moisels yang merupakan senior ku di sini, sering berlatih bersama ketika istirahat atau malam tiba. Itu merupakan bentuk dari persahabatan antar laki-laki. Kami terus berlatih bersama, sampai Komandan Astro sering mengamati latihan kami. Sekarang aku mengerti kenapa alasan Komandan membuat partner latihan resmi seperti ini.”   “Kenapa?”   “Karena setiap anggota yang nantinya akan mengikuti tes ekspedisi, harus memiliki kemampuan yang hebat. Untuk bisa menjalani ekspedisi yang rutin dilakukan setiap anggota, ketika sudah dua tahun mengikuti latihan di sini.”   “Begitu ya, aku ada pertanyaan? Ke mana partner latihan mu itu?” Stella sengaja bertanya seperti itu karena dia ingin mengetahui seberapa pentingnya Moisels yang merupakan partner latihan, bagi Arslan.   Pupil mata Arslan menjadi sedikit melebar karena Stella bertanya seperti itu, kepada dirinya. “Kenapa kau bertanya hal seperti itu, aku yakin kau sudah mendengarnya dari teman mu itu. Ke mana partner latihan ku pergi.” Arslan mencoba untuk tetap tenang, meskipun dia merasa sedih ketika harus mengingat Moisels yang merupakan teman baiknya.   “Ehh…’Gawat dia sudah mengetahui kalau kami pernah membicarakan dirinya.’ Iya tidak.” Stella mencoba mencari alasan dengan melirik ke arah atas untuk menghindari tatapan mata Arslan yang serius menatap dirinya.   “Huh… Sudahlah, teman ku itu dia berhenti karena luka yang didapatkannya ketika melakukan tes mengeksplor suatu daerah,” jelas Arslan kepada Stella.   “Ohh begitu.” Stella melihat wajah Arslan yang sepertinya sedih ketika menceritakan Moisels. “Pastinya sangat berat ketika harus kehilangan seorang teman. Aku bisa mengerti perasaannya.”   “Jika suatu saat aku tidak berhasil menyelesaikan tes eksplorasi ke suatu daerah, paling tidak masih ada kau yang akan menjadi seorang kandidat, pantas untuk menjadi anggota guild. Maka dari itulah tujuan Komandan Astro untuk membuat sistem partner latihan, kepada anggota yang memiliki potensi. Yang nantinya mungkin akan menjadi seorang Ksatria hebat.” Arslan sudah mengungkapkan seluruh alasan kenapa partner latihan itu dibentuk kepada Stella.   Stella menjadi terdiam mendengar penjelasan Arslan.   “Senior, aku pasti akan menjadi seorang Ksatria yang hebat. Dan nantinya akan melampaui mu, jadi kumohon sampai waktu itu tiba jangan mati terlebih dahulu.” Stella berkata kepada Arslan dengan nada yang serius dengan penuh harapan di setiap kata yang diucapkannya.   “Tentu saja, aku tidak akan mati. Sampai tujuan ku terselesaikan,” ucap Arslan dengan wajah yang serius.   “Ohh…” Stella menjadi terkagum-kagum melihat Arslan yang tatapannya sangat serius. “Keren sekali dirimu Senior Arslan.”   “Sudah ayo kita mulai latihannya,” kata Arslan.   “Baik!” balas Stella dengan penuh semangat.   Mereka kemudian bersiap-siap untuk melakukan latihan. Arslan dan Stella sudah memegang satu pedang kayu di masing-masing tangan mereka.   “Stella! aku hanya akan mengajarkan tiga skill yang ku punya yaitu. Accelerator gerakan kilat untuk menghindari serangan musuh atau mendekati musuh, Dance Leaf No Uta skill yang digunakan untuk membalas serangan musuh, dan yang terakhir Leaf Flash s***h serangan ini berguna untuk menyerang musuh yang saat itu tidak bergerak dan sangat ampuh jika di gunakan untuk menyerang satu titik buta lawan atau monster,” jelas Arsan tentang skill yang akan diajarkannya kepada Stella.   “Whoaah keren semua.” Mata Stella kembali berkilau ketika mendengar penjelasan Arslan.   “Sebenarnya skill ini, merupakan skill dengan tingkat rendah. Tetapi tergantung kepada si pengguna, kau mungkin bisa memperkuat skill mu dengan latihan. Jangan lupa kau juga bisa menemukan skill lain yang mungkin lebih cocok kau gunakan, dengan style mu.”   “Baik, saat ini akan berusaha mempelajari skill yang akan kau ajarkan.”   “Bagus aku suka dengan semangat yang kau miliki! Sekarang kau pakailah ini.” Haru memberikan sebuah penutup mata berwarna hitam.     “Penutup mata? Untuk apa!” Stella menjadi heran kenapa Arslan memberikan penutup mata kepada dirinya.   “Latihan yang akan kau lakukan adalah Accelerator, teknik yang mengutamakan indera yang ada di seluruh tubuh mu. Aku akan melemparkan beberapa piringan kayu ke arah mu, berusahalah untuk menghindarinya.”   “Baiklah.” Stella lalu memakai penutup mata.   “Akan aku lempar, bersiap lah.” Arslan memperingati Stella untuk bersiap.   Stella kemudian mencoba merenung dan merasakan gerakan piringan kayu yang akan dilempar Arslan. Dia merenung dengan sangat tenang, Arslan mulai melemparkan piringan itu. Namun berhasil mengenai tubuhnya. Hingga satu piringan yang dilemparkan Arslan mengenai kepalanya, dan membuat dirinya menjadi terjatuh.     “Oi kau tidak apa-apa!” Arslan langsung mendekati Stella, setelah melihat Stella terjatuh karena lemparan piring kayu.   “Aku tidak apa-apa!” Stella bangun dan dia, kembali lagi berdiri. “Senior jangan berhenti sampai latihan hari ini berhasil.”   “Baiklah! Bersiaplah. Aku tidak akan menahan diri.” Arslan bicara dengan nada yang serius. “Boleh juga wanita ini dia tidak menyerah akibat piringan yang ku lempar tadi.”   Latihan itu mereka lakukan, hingga seharian penuh.   Stella akhirnya selesai melakukan latihan di hari itu. Tubuh Stella menjadi sakit semua, banyak sekali piringan yang dilemparkan Arslan mengenai tubuhnya.   “Aduh tubuh ku sakit semua,” kata Stella sambil melihat tangan dan kakinya yang lebam dan sakit.   Arslan kemudian mendekatinya. “Ini minum High Potion. Supaya luka lebam mu itu bisa hilang.”   “Terimakasih!” Stella mengambil High Potion yang di berikan Arslan.   Arslan lalu pergi setelah memberikan High Potion itu. “Besok jangan sampai terlambat latihan ini akan kita terus lakukan hingga kau bisa menguasai Accelerator,” ucap Arslan sambil berjalan menjauh.   Setelah itu Stella kembali ke tempat khusus perempuan untuk menginap di pelatihan Tranqulina. Dia berpapasan dengan Naori.   “Stella kenapa wajah mu.” Naori terkejut melihat wajah Stella yang masih lebam, ternyata Stella masih belum meminum High Potion yang diberikan Arslan.   “Aku baik-baik saja,” ucap Stella dengan senyum menyeringai, lalu dia terjatuh dan tertidur.   “Stella! Stella! Ya ampun dia tertidur. Pasti hari ini latihan yang dia lakukan sangat berat.” Naori kemudian membantunya kembali ke kamar.   “Tidur lah Stella dengan nyenyak besok pasti hari berat akan kau lalui lagi,” ucap Naori ketika membaringkan Stella di tempat tidur sambil menatap wajahnya yang tertidur pulas.     Arslan malam itu, belum tidur dia duduk sambil membaca buku di dekat ruangan perpustakaan. Dia biasa duduk di sana untuk menghabiskan waktu, untuk belajar tentang kehidupan monster-monster.   Naori datang untuk menemui Arslan, dia sangat tahu bahwa Arslan suka membaca di sana. Karena Naori perempuan yang juga suka membaca.   Dia melihat Arslan yang sedang duduk dengan serius membaca buku.   “Senior Arslan!” Naori mencoba menyapa Arslan.   Arslan kemudian melihat ke arah depan, dia melihat Naori sudah berdiri di hadapannya. “Apa mau mu?” tanya Arslan.   “Whoaah seram sekali wajahnya,” ucap Naori dalam batinya ketika Arslan menatap dirinya. “Aku ke sini ingin membicarakan sesuatu, boleh aku duduk di samping mu.” Naori berkata dengan nada yang sangat gugup kepada Arslan.   “Iya! Tentu,” kata Arslan dengan santai.   Kemudian Naori duduk di samping Arslan.   “Jadi apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Arslan dengan tatapan mata terus ke arah buku yang dipegangnya.   “Aku ingin menanyakan masalah latihan mu dengan Stella, aku mohon jangan terlalu keras dengan dirinya.” Naori berkata dengan wajah menunduk.   Arslan terdiam, lalu dia menutup buku yang dibacanya. “Aku mengerti perasaan mu, tetapi semua latihan yang ku lakukan itu semua demi dirinya.”   “Tapi—“ Naori coba untuk memotong ucapan Arslan.   “…Nanti dia harus siap dengan segala kemungkinan buruk terjadi,” sambung Arslan dengan nada yang serius.   “Apa maksud mu?” Naori sedikit bingung dengan ucapan Arslan.   “Aku melihat di dalam mata Stella, ambisi yang sangat besar. Ambisi itu membuat dirinya rela melakukan apa saja supaya bisa menggapainya. Aku hanya ingin menyiapkan mentalnya jika suatu saat ada yang menghalangi jalannya menuju impian yang dia inginkan,” jelas Arslan sambil menatap bintang di langit.   Naori menjadi terdiam dan menundukkan wajahnya. “Stella, dia sudah melalui hari berat selama ini. Banyak yang meremehkan dirinya, tidak ada yang mau menjadi temannya. Sifatnya yang berani membuat banyak orang tidak suka kepada dirinya. Akhirnya dia ingin menjadi seorang Ksatria wanita yang diakui oleh seluruh orang yang sudah meremehkan dirinya,” ungkap Naori tentang Stella.   “Jadi ku mohon! Jika memang latihan yang kau lakukan demi kebaikan untuk dirinya, tolong buat dia bisa terus semangat mengapai ambisinya yang ingin menjadi seorang Ksatria Wanita.” Naori berkata sambil menundukkan kepalanya ke arah Arslan, sebagai tanda permohonan atas permintaannya itu.   Arslan melirik ke arah Naori yang menundukkan kepala ke arah dirinya. “Kau tidak perlu sampai seperti itu. Aku tidak bisa berjanji kalau dia akan terus bersemangat, yang aku lakukan hanya sesuatu yang sudah menjadi tugas ku sebagai partner latihannya. Tidak ada yang spesial setelah itu,” jelas Arslan untuk membuat Naori mengerti.   “Itu sudah cukup, karena Stella semenjak bersama mu menjadi senang dan bersemangat. Aku tidak ingin semangat itu hilang begitu saja,” ungkap Naori sambil terus menundukkan kepalanya.   “Kalau begitu baiklah.” Arslan kembali menatap bintang di langit malam yang cerah.   Naori mengangkat wajahnya, dan tersenyum lebar.   “Terimakasih! Banyak. Sekarang aku permisi dulu.”   “Iya!”   Setelah percakapan itu Naori kembali ke kamarnya. Sementara Arslan masih merenung di malam yang sunyi.   “Ambisi ka! Aku harap aku juga akan bisa menggapainya,” ungkap Arslan sambil menatap bintang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD