Ambisi Dari Seorang Yang Ingin Menjadi Ksatria Hebat.

1794 Words
Di pagi hari Stella sudah dipanggil oleh Astro. Menuju lapangan.   “Kenapa Komandan memanggil ku? Apakah aku melakukan kesalahan.” Stella terus berkata dalam hatinya sambil berjalan menuju lapangan.   Di lapangan sudah ada Astro yang berdiri tegap. Dia menatap Stella dengan menyipitkan matanya.   “Kenapa Komandan menatap ku seperti itu?” Stella menjadi penasaran melihat sikap Astro yang menatap tajam ke arahnya.   Stella lalu berdiri di hadapan Astro.   “Stella! Aku memanggil mu ke sini. Apakah kau tahu maksudnya?” Astro mencoba memberikan pertanyaan kepada Stella.   “Tidak Komandan, aku tidak tahu. Apakah aku berbuat kesalahan,” jawab Stella yang harus memakai suara lantang ketika di depan Komandan Astro.   Astro memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya kembali.   “Aku memanggil mu ke sini! Karena aku akan mengatakan sesuatu, aku sudah memilihkan teman partner latihan mu!” ungkap Astro dengan nada yang jelas dan lantang.   “Ehh… Apa maksudnya Komandan?” Stella menjadi bingung dengan ucapan Astro.   “Kau adalah salah satu anak berbakat di tahun ini! Aku ingin kau mendapatkan seorang partner dalam latihan, supaya teknik berpedang mu semakin bagus. Dan aku sudah memilih orang yang tepat yaitu Arslan.” Astro dengan suaranya keras dan lantang menjelaskan seluruh alasannya kenapa dia memanggil Stella ke lapangan pada pagi hari.   “Uhh… Tetapi.” Stella coba untuk menolak hal itu.   “Stella! Akan sangat di sayangkan kalau skill mu tidak diasah dalam sebuah latihan khusus, dan latihan itu hanya bisa dilakukan jika kau memiliki seorang senior atau rekan yang sepadan dengan kemampuan mu.” Astro mencoba membuat Stella mengerti akan keputusannya memilih Arslan yang akan menjadi partnernya.   “Begitu rupanya! Kalau begitu baiklah. Aku akan bersedia menjadi partner dari Arslan.” Stella dengan terpaksa menerima keputusan Astro.   Astro hanya mengangguk.   Setelah mereka berbicara Arslan dari kejauhan berjalan menuju lapangan dan hendak melewati mereka berdua.   Dan seperti itulah awal alasan kenapa tiba-tiba Stella harus menjadi partner latihan Arslan.     “Kenapa dia harus menjadi partner latihan ku?” Arslan masih bingung kenapa dia harus menjadi partner latihan Stella.     “Akhirnya aku bisa berlatih bersama dirinya, dengan begini aku bisa menjadi lebih tangguh dalam menggunakan pedang.” Stella merasa senang dia bisa menjadi partner Arslan, terutama dia sudah tertarik dengan Arslan saat mereka pertama kali bertemu.”   Di saat mereka sedang berjalan di lapangan latihan. Arslan berhenti dan menghadap Stella.   “Uhh kenapa dia berhenti, lalu kenapa dia menatap ku seperti itu?” Stella heran melihat Arslan yang tiba-tiba berhenti lalu menatap dirinya dengan pandangan yang cukup tajam.   “Aku ingin tanya. Apakah Komandan Astro memberi tahu mu tentang kegiatan tentang partner latihan?” Arslan bertanya kepada Stella untuk memastikan bahwa Stella tahu arti yang sebenarnya dimaksud dengan Partner Latihan.   Dengan santai Stella menjawab, “Tidak.”   “Uhh.” Arslan sedikit terkejut, dia lalu menghela napasnya. “Astaga Komandan Astro selalu saja membuat orang kerepotan dengan tindakannya.”   “Bukan kah menjadi partner latihan itu kegiatannya melatih skill berpedang saja?” Stella mencoba menebak arti dari Partner Latihan.   “… Memang, tetapi tidak seluruhnya benar. Karena menjadi partner latihan, berarti aku yang sebagai orang yang terlebih dahulu berlatih di sini harus membimbing mu secara khusus. Mulai dari latihan biasa, hingga latihan khusus seperti mengajari mu skill berpedang,” jelas Arslan kepada Stella.   “Begitu rupanya,” kata Stella. Di dalam batinnya dia tersenyum. “Aku akan mengalahkan dia setelah aku mendapatkan seluruh skill yang akan diajarkannya kepada diri ku. Hahahahaha.”   “Ayo!” Arslan lalu pergi setelah menjelaskan Stella tentang Partner Latihan.   “Tunggu.” Stella mengejar Arslan yang sudah pergi ketika dia masih melamun sambil berbicara dalam batinnya.   Arslan melakukan latihannya bersama Stella. Hampir latihan yang di lakukan mereka hanya latihan biasa tetapi Arslan sudah terbiasa jadi baginya berlari 50 mengitari lapangan sudah menjadi hal mudah. Sementara Stella yang baru mengikuti pelatihan anggota guild, merasa sangat capek dan tubuhnya sangat pegal.   Tiba waktu mereka istirahat.   “Huh… Huh… Apakah kau setiap hari melakukan ini?” tanya Stella yang terbaring dengan napas yang terengah-engah.   “Iya, Sejak dari satu tahun yang lalu,” jawab Arslan dengan nada yang santai.   “Aku akan mencari minum dulu. Kau istirahat saja dulu di sini!” Arslan lalu pergi untuk mencari minuman.   “Apakah dia seorang monster. Wajahnya selalu saja tidak mengekspresikan emosi dan perasaannya. Kenapa ya dengan dirinya?” Stella berbicara sendiri tentang Arslan, ketika Arslan sudah pergi dari sana.   Tidak berapa lama kemudian teman Stella yang biasa bersamanya mendatanginya.   “Stella!” Teman Stella berlari ke arahnya. Stella kemudian duduk dan melihat ke arah suara yang memanggilnya.   “Oh Naori.” Stella merasa lega karena Naori temannya datang menemuinya setelah latihan yang berat dilakukannya bersama Arslan.   Naori merupakan gadis muda yang berumur 15 tahun, tetapi sedikit lebih muda dan cukup pendiam.   “Ini aku bawakan kau minuman!” Naori memberikan minuman dia sengaja membawa minuman untuk Stella.   “Ohh terimakasih ya!” Stella mengambil minuman itu dan langsung meminumnya.   “Stella bagaimana latihan mu bersama laki-laki itu?” Naori menjadi penasaran dengan perasaan Stella setelah melakukan latihan khusus bersama Arslan.   “Melelahkan, dan anehnya laki-laki itu tidak merasa capek sedikit pun. Wajahnya tanpa ekspresi jadi aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Aku yakin pasti dia sudah mengalami hal yang sangat buruk,” jelas Stella tentang pendapatnya terhadap Arslan.   “Begitu ya, laki-laki yang berlatih bersama mu itu merupakan anak yang selamat dari kejadian di desa Veja satu tahun yang lalu,” ungkap Naori tentang tempat Arslan berasal.   “Heh… Benarkah!” Stella menjadi kaget. “Selama ini aku tidak tahu akan hal itu, ku kira dia type orang yang sombong dan arrogant. Makannya aku tidak pernah melihat dia bersama orang lain.”   “Iya, dan beberapa bulan yang lalu temannya yang merupakan partner latihannya pergi meninggalkan pelatihan anggota guild. Makannya dia selalu sendirian,” sambung Naori tentang Arslan.   “Ohh… Tunggu dulu kenapa kau bisa tahu semua itu?” Stella melirik tajam ke arah mata Naori yang dari tadi tahu semua tentang Arslan.   “Tidak, aku hanya tidak sengaja mendengar pembicaran Komandan.” Naori melirik ke arah lain untuk menghindari tatapan curiga Stella. Sambil mencari alasan.   “Mencurigakan.” Stella terus memandang tajam kepada Naori.   Lalu Stella berkata, “Ya sudah lah.”   Tanpa disadari mereka Arslan. Berada di balik tembok yang tidak jauh dari tempat mereka berdua mengobrol. Arslan membawa botol minuman yang awalnya hendak dia berikan kepada Stella. Karena sudah mendengar Stella dan Naori berbicara tentang dirinya, dia tidak jadi ke sana. Malah dia memutuskan untuk pergi ke tempat lain.   Arslan duduk di sebuah bangku yang terletak tidak jauh dari perpustakaan, yang biasa dia habiskan waktu untuk mempelajari ekologi para monster.   “Sudah ku duga di mana pun aku berada. Aku akan selalu merasa kesepian.” Arslan berbicara sendiri sambil menatap awan yang sangat cerah.   Sekitar dua puluh menit Arslan duduk di sana.   “Huh… Aku ingin sekali segera menyelesaikan latihan ku di sini,” ucap Arslan yang masih duduk dan bersantai di atas bangku.   “Kau di sini rupanya!” Stella tiba-tiba datang menemui Arslan yang sedang duduk bersantai.   “Uh… Ada apa?” Arslan mencoba bertanya, meskipun dia tahu bahwa Stella ingin mengajaknya melanjutkan latihan.   “Ayo kita lanjutkan latihan,” ucap Stella dengan senyuman di wajahnya.   “Sudah ku duga.” Arslan menatap serius wajah Stella yang tersenyum padanya. “Baiklah ayo kita lanjutkan.”   Lalu Arslan dan Stella pergi menuju lapangan. Tempat untuk melakukan latihan pedang, sekaligus merupakan latihan terakhir mereka di hari itu.     Arslan dan Stella berdiri saling berhadapan. Di tangan mereka sudah ada pedang kayu, yang biasa di gunakan untuk latihan.   “Sebelum kita mulai. Aku ingin kita berkenalan terlebih dahulu,” ucap Arslan dengan wajah yang serius kepada Stella.   “Ehh… ‘Benar juga aku dan dia belum sempat saling mengenal satu sama lain.’ Baiklah,” balas Stella.   “Aku akan mengenalkan diri ku terlebih dahulu. Nama ku Arslan, aku berasal dari desa Veja. Umur ku baru 15 tahun, aku orang yang sering di sebut sebagai orang yang pendiam dan juga aneh. Aku memiliki ambisi untuk mengalahkan Dragon yang telah menghancurkan desa ku.” Arslan mengatakan seluruhnya kepada Stella tentang dirinya.   “Waduh… dia blak-blakan sekali. Aku juga harus mengatakan hal yang sama, huh terserah lah.” Setelah berbicara dalam hatinya Stella mulai berbicara menggunakan mulutnya. “Nama ku Stella, 15 tahun umur ku. Aku berasal dari desa Hesmonare. Aku memiliki ambisi untuk bisa menjadi seorang Ksatria wanita yang hebat dan berbakat supaya semua orang mengakui ku.”   “Begitu rupanya.” Arslan berkata sambil tersenyum dengan menutup matanya. “Kalau begitu mari kita mulai latihan ini.” Lalu wajahnya menjadi serius dan tatapan matanya berubah menjadi tajam.   Arslan langsung menggunakan gerakan kilat yang sangat cepat.   “Uh… Gerakannya cepat sekali.” Stella kaget melihat Arslan yang tiba-tiba sudah berada di depannya.   “Dance Leaf No Uta.” Arslan menggunakan skillnya terhadap Stella. Serangan Arslan membuat Stella tidak bisa bergerak beberapa detik. Kemudian Stella terjatuh.   “Apa yang terjadi?” Stella sangat terkejut tiba-tiba dirinya jatuh tersungkur.   “Sudah berakhir!” Arslan memasukan pedang kayu ke pinggangnya.   Lalu Stella berusaha berdiri, dengan bertahan menggunakan pedang kayu miliknya.   “Aku tidak mungkin dikalahkan dengan satu skill miliknya lagi,” ucap Stella yang sambil berusaha berdiri menggunakan pedang kayu miliknya.   “Hooh… Dia masih berusaha berdiri lagi, lumayan juga.” Arslan menjadi tersenyum melihat Stella yang berusaha berdiri, dengan sekuat tenaga meskipun tubuhnya sudah menerima damage dari serangan Arslan.     Stella berdiri kembali dengan, lalu dia mengangkat pedang kayu menggunakan kedua tangannya. Kemudian dia berlari ke arah Arslan.   “Hiya…” teriak Stella sambil berlari ke arah Arslan. Kemudian dia mengayunkan pedang kayu miliknya ke Arslan yang sudah berada di hadapannya.   Arslan dengan mudah menghindarinya. Dengan skill Accelerator, lalu kemudian Arslan memukul belakang kepala Stella. Stella kemudian terjatuh dan tidak sadarkan diri.   “Keberaniannya lumayan juga!” Arslan memuji Stella yang sudah pingsan terjatuh.   Stella pingsan seharian, pada waktu senja dia kemudian bangun.   “Uhh… aku ada dimana.” Stella terbangun di atas bangku yang tidak jauh dari tempat mereka tadi berlatih.   “Kau sudah bangun!” Arslan berbicara sambil berjalan ke arah Stella.   “Huh…” Stella menjadi terdiam melihat Arslan yang berjalan ke arahnya, dan kini sudah berdiri di hadapannya.   “Stella besok, aku akan mengajarkan beberapa skill yang ku ketahui. Jadi bersiap-siaplah.” Arslan berkata dengan wajah yang sangat serius kepada Stella.   “Baik!” Stella berkata dengan senyuman, dia merasa bahagia karena besok Arslan akan mengajarkannya skill.   Lalu Arslan pergi meninggalkan dirinya.   “Ya… Sekarang aku akan menguasai skill seperti dirinya. Dan suatu saat nanti aku pasti bisa mengalahkannya,” ungkap Stella dengan senang dalam hatinya.   Dengan begitu besoknya Arslan akan mengajarkan Stella, salah satu skill yang dia pelajari selama berlatih di Guild Tranquilina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD