Anggota Baru

2716 Words
  Besok harinya tibalah waktu Moisels untuk pergi dari Guild Tranquilina dan kembali ke desanya. Dia menaiki sebuah kereta kuda, yang sudah siap untuk mengantarkan dia kembali ke kampung halamannya.   Kereta mulai berjalan, ketika sudah cukup jauh Moisels menatap ke arah Guild Tranquilina. Di sana ada Arslan yang sedang berdiri dan memandang dirinya dari kejauhan.   Arslan lalu mengepal tangannya dan diangkatnya ke atas. Moisels yang melihat itu menjadi tersenyum air matanya hampir keluar, karena melihat Arslan mengangkat tinju yang ada di tangannya sebagai tanda untuk terus berjuang. Dia pun melakukan hal yang sama.   Arslan tersenyum dari kejauhan.   “Arslan. Jadilah seorang ksatria yang hebat saat kita nanti bertemu lagi,” ucap Moisels dalam hatinya.   “Moisels aku pasti akan terus berjuang hingga aku menggapai tujuan ku, dan kau kuharap bisa terus melangkah maju meskipun kondisi mu sekarang sudah berbeda dari yang dulu,” ungkap Arslan dalam batinnya sambil tersenyum ke arah Moisels yang semakin menajuh.   Setelah perpisahan mereka, akhirnya Moisels telah pergi dan melanjutkan hidupnya di kampung halamanya. Sementara Arslan akan terus melanjutkan latihannya hingga dia bisa menjadi seorang ksatria yang mampu menyelesaikan ambisinya untuk mengalahkan Dragon, yang telah menghancurkan desanya.     Setiap hari Arslan terus berlatih, bahkan dia bisa mengalahkan beberapa orang senior yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam dunia pelatihan Blade Master. Satu-persatu orang-orang di sana mengakui kemampuannya.   Waktu terus berjalan hingga satu tahun kemudian. Tiba saatnya test menanyakan mental bagi setiap kandidat yang nantinya akan melakukan ekspedisi tahun depan. Dan ada sekitar 12 orang termasuk Arslan, yang di tanyai masih siap atau tidak untuk melanjutkan pelatihan di divisi Blade Master. Lima di antara mereka mengundurkan diri, lalu sisanya tetap memilih untuk melanjutkan pelatihan.   Dan setelah test menanyakan mental itu sekitar 2 bulan kemudian, penerimaan anggota baru di buka. Sudah banyak orang yang berkumpul di depan pintu ruangan test Blade Master. Astro di bantu oleh Duran akan melakukan penyeleksian untuk membuktikan dan melihat tekat para anggota baru, pantas atau tidak untuk mengikuti pelatihan Blade Master dan menjadi seorang anggota Guild.   Anggta Guild Tranquilina merupakan prajurit khusus, setiap kerajaan pasti memiliki anggota guild mereka sendiri. Termasuk di Kerajaan Angrissa, untuk menjadi anggota guild tidak hanya membutuhkan kekuatan dan kehebatan dalam hal bertarung. Tetapi juga sopan santun serta rasa hormat untuk menghargai orang lain juga menjadi faktor penting untuk menjadi seorang anggota guild. Karena anggota guild itu merupakan orang-orang terlatih yang nantinya akan menjadi contoh untuk masyarakat dan merupakan keamanan bagi seluruh wilayah kerajaan.   Dari hasil penyeleksian yang dilakukan Duran dan Astro, banyak dari calon kandidat baru yang tidak memiliki talenta bagus dalam menggunakan pedang. Hanya sekitar sepuluh orang yang berhasil lolos dalam penyeleksian itu.   Lalu Astro memberikan arahan kepada para calon kandidat baru. Sementara Duran akan kembali melakukan tugasnya, di saat dia hendak berjalan menuju pintu ruangan. Dia melihat Arslan yang kebetulan berdiri dari kejauhan melihat Astro sedang memberikan arahan pada anggota baru.   “Arslan apa yang dia lakukan di sini!” ungkap Duran saat melihat Arslan yang dari tadi memperhatikan Astro yang sedang memberikan arahan kepada anggota baru.   “Yo Arslan.” Duran menyapa Arslan sambil berjalan ke arahnya.   Arslan melihat ke arah Duran yang sedang berjalan menuju dirinya. “Duran kenapa dia berjalan ke sini.”   “Sudah lama kita tidak berjumpa.” Duran menyapa Arslan, senyuman lebar terlihat di wajahnya.   “Iya sudah lama kita tidak berjumpa.” Arslan ikut mengeluarkan senyuman untuk membalas senyuman Duran.   “Sudah satu tahun ya, lama sekali. Sekarang kau sudah jauh berbeda dari pertama kali kita bertemu.” Duran sedikit terkejut melihat penampilan Arslan yang sudah berbeda, dulu Arslan terlihat seperti anak biasa namun sekarang tinggi badan dan sikapnya sudah berbeda dari yang dahulu.   “Anda juga sangat berbeda dari satu tahun yang lalu sekarang di wajah mu…” Arslan ingin berbicara tentang wajah Duran yang dulunya terlihat masih muda sekarang kumis dan jenggotnya sudah tumbuh. “Bagaimana aku bisa mengomentari wajahnya ini, dari pengamatan ku cuma jenggot dan kumisnya yang berbeda dari dahulu. Dan itu sangat tidak cocok.”   “Mmm… Apa yang kau bilang tadi?” Duran tersenyum penasaran dengan kalimat yang akan Arslan keluarkan tentang dirinya. “Apakah dia akan mengatakan bahwa diriku ini jauh lebih gagah dari sebelumnya, heheheheh…” Dalam pikiran Duran, Arslan akan kagum melihat penampilannya yang sudah memiliki jenggot dan kumis.   “Ohh… Sekarang kau jauh lebih dewasa dari sebelumnya.” Arslan mengucapkan hal itu sambil menunjukan senyuman palsu. “s**l kenapa aku harus mengatakannya.” Tetapi di dalam batinnya dia menyesali ucapannya itu.   “Sudah ku duga dia akan terpukau dengan penampilan ku sekarang, karena kumis dan jenggot yang kumiliki ini.” Duran menjadi semakin salah paham kalau penampilannya yang memakai kumis dan jenggot merupakan penampilan yang keren. “Oh begitu terimakasih mungkin suatu saat nanti kau akan menjadi dewasa dan berpenampilan menarik seperti diriku hahahaha…” Duran tertawa dengan bangga akan pemikiran yang dia buat-buat sendiri tentang penampilannya.   “Kenapa dengan orang ini, ku kira dia lebih dewasa dan bijak dari Astro dan Hugo ternyata dia sama seperti mereka.” Arslan menghela napas karena melihat sikap Duran yang mengejutkan dirinya.     “Ngomong-ngomong Arslan kenapa kau ada di sini. Bukankah kau seharusnya masih melakukan pelatihan?” tanya Duran kepada Arslan.   “Mmm… Saat ini aku sedang istirahat, jadi aku ke sini untuk melihat penyeleksian anggota baru. Tetapi sekarang sepertinya sudah selesai,” jelas Arslan tentang alasannya ke tempat itu.   “Begitu ya, sekarang proses penyeleksian sudah selesai. Hanya mereka yang berhasil lulus,” ungkap Duran sambil menatap para anggota baru yang sedang bersama Astro.   “Bagaimana penyeleksian tahun ini menurut mu?” tanya Arslan untuk mengetahui pendapat tentang bagus atau tidaknya anggota tahun ini.   “Hmm… Hanya sedikit dari mereka yang berhasil melalui tes yang kami lakukan. Awalnya ada sekitar enam puluh orang yang mengikuti pelatihan, tetapi setelah kami test mental dan kemampuan skill berpedang mereka. Banyak yang buruk, jadi kami harus tidak meluluskan mereka. Hanya sepuluh orang yang berhasil lolos dari proses seleksi itu,” jelas Duran tentang proses seleksi yang baru saja dia lakukan.   “Begitu ya.” Arslan memandang ke arah anggota baru yang masih bersama Astro. “Jadi sekarang cuma sedikit yang berhasil lulus untuk mengikuti pelatihan.”   “Kalau begitu aku, harus pergi dahulu. Masih banyak urusan yang harus ku lakukan.” Duran kemudian pergi dari ruangan itu.   Arslan memandang para anggota baru sesaat. Kemudian dia juga pergi kembali ke tempat latihannya.   Di saat Arslan berjalan pergi salah satu anggota baru itu yang merupakan wanita berambut hitam menatap dirinya dari kejauhan.     Para anggota baru lalu melakukan latihan fisik yang biasa di lakukan oleh Arslan tetapi dalam lingkup ruang kecil terlebih dahulu. Dan besok baru mereka akan di bawa ke tempat latihan yang di sana Arslan juga melakukan latihan.   “Haduh… capek sekali hari ini,” keluh perempuan yang menatap Arslan dari kejauhan tadi.   Dia mendekati gendong berisi air, untuk membasuh wajahnya. Kemudian membasuh wajahnya lalu setelah itu di teringat kejadian sebelum dia berada di sana.   “Kau tidak akan bisa menjadi seorang yang berguna lihat diri mu sekarang hanyalah seorang pecundang yang tidak bisa apa-apa.” Di dalam ingatannya dia melihat seorang perempuan yang menghina dirinya.   Emosi dalam dirinya pun muncul. “Akan ku buktikan bahwa aku pasti bisa dan mampu menjadi seorang Ksatria wanita yang hebat.” Lalu wanita itu pergi ke kamarnya dan mandi layaknya seorang anggota yang baru saja selesai melakukan pelatihan.   Keesokan harinya para anggota baru sudah berkumpul di lapangan pelatihan yang biasa Arslan berlatih. Di sana ada Astro yang akan menyampaikan sesuatu kepada mereka.   “Dengar! Selamat datang di pelatihan Divisi Blade Master. Kalian semua akan melakukan pelatihan seperti kemarin tetapi dengan medan yang lebih sulit, di sini kalian harus mematuhi setiap kegiatan dan aturan yang ada. Mengerti.” Astro mengatakan hal itu dengan suara yang lantang dan juga keras khas pria bersuara bass.   “Mengerti!” jawab seluruh para anggota baru secara bersama-sama.   Lalu sepuluh anggota itu mulai melakukan latihan. Mulai dari lari, menaiki tebing buatan, serta latihan menggunakan pedang kayu melawan sesama anggota baru.   “Dari semua, anggota hanya perempuan muda bernama Stella yang ber asal dari daerah Bheoune. Yang memiliki skill bagus, serta semangat dan emosi yang membara terpancar di wajahnya,” ungkap Astro saat mengamati latihan anggota baru.   Latihan itu dilakukan hingga semua anggota kelelahan. Di tengah hari mereka istirahat semua.   “Huh…huh…” Suara napas Stella tidak berhenti karena dia terlalu memaksakan diri dalam latihannya.   “Boleh aku duduk di sini?” tanya seorang perempuan yang juga merupakan anggota barunya dan mereka baru berteman setelah melakukan latihan itu.   “Boleh!” jawab Stella dengan senyuman di wajahnya.   Lalu Arslan lewat dari depan mereka dengan jarak yang lumayan jauh. Dengan wajah yang serius Arslan hendak pergi ke perpustakaan yang ada di tempat pelatihan divisi Blade Master untuk menambah ilmu tentang pengetahuan alam yang nantinya akan menjadi tempat untuk dia berpetualang.   Stella terus mengamati Arslan yang sedang berjalan.   “Stella… Stella…”   “Ohh maaf aku tidak mendengar mu tadi.” Bahkan teman Stella yang berbicara dan memanggil namanya tidak disadarinya.   “Kau ini, sedang memikirkan apa?” tanya teman perempuan yang ada di samping Stella.   “Tidak. Aku hanya sedang melamun.” Stella mencari alasan supaya temanya tidak bertanya hal aneh kepada dirinya.   Hingga hari latihan itu selesai, Stella berada di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan Arslan yang tadi siang lewat di depannya saat waktu istirahat.   “Kenapa aku memikirkan laki-laki itu terus, sejak aku melihatnya di hari pertama. Aku semakin penasaran dengan dirinya.” Stella malam itu tidak bisa berhenti memikirkan Arslan, dia semakin tertarik dan ingin mencari tahu tentang Arslan.     Di hari berikutnya. Astro ingin melakukan sebuah test terhadap, Stella dan test itu dilakukan di depan seluruh anggota baru seperti dirinya.   Semua anggota baru berbaris rapi di lapangan.   “Baiklah semuanya sudah berkumpul,” teriak Astro untuk memastikan seluruh anggota berada di sana.   “Sekarang apa lagi?” ucap Stella dalam hatinya.   “Hari ini aku akan, mengetes salah satu kemampuan seseorang dari anggota kalian,” ungkap Astro tentang alasan dia mengumpulkan seluruh anggota baru.   “Siapa yang akan dipilih?”   “Aku juga tidak tahu.”   Seluruh anggota menjadi ricuh, mereka menebak siapa yang akan dites kemampuannya.   “Diam semuanya!” Astro berteriak dengan keras untuk mendiamkan anggota yang tadi ricuh.   Semua anggota kemudian menjadi diam setelah mendengar Astro berteriak. “Kemampuan yang akan dites, adalah Stella,” kata Astro.   Semua mata tertuju kepada Stella. Stella menjadi bingung kenapa harus dia.   “Stella kau harus melawan seorang yang bisa dikatakan adalah senior mu di sini, yaitu Arslan,” jelas Astro. Arslan kemudian berjalan dari ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.   Arslan berjalan dan berdiri tepat di samping Astro.   “Dia lah yang akan menjadi lawan mu Stella,” ucap Astro dengan menatap Stella yang masih ada dalam barisan.   “Huh kenapa harus dia, tetapi ini waktu yang pas untuk mengetahui kemampuannya dalam menggunakan pedang,” ucap Stella dalam hatinya sambil menatap Arslan.   “Stella sekarang kau maju!” perintah Astro, kepada Stella.   Lalu Stella maju, Arslan juga maju. Mereka berdua saling berdiri berhadapan.   “Ingat aturannya sederhana. Bagi mereka yang bisa menjatuhkan lawan akan dianggap menang atau salah satu dari kalian menyerah.” Astro mengatakan aturan dalam tes akan dilakukan Arslan dan Stella.   “Baiklah. Sekarang mulai!” Pertandingan pun dimulai setelah Astro mengatakan kalimat itu.   Stella langsung berlari dan menyerang Arslan, dengan menghunuskan pedangnya ke arah Arslan. Arslan dengan santai menghindari serangan Stella. Lalu Arslan hendak bergerak ke arah samping untuk menyerang Stella.   Stella dengan sigap mengangkat pedangnya lalu dia menyerang Arslan lagi. Arslan berhasil menangkis serangan pedang Stella.   “Heeh kau bisa menyadari gerakan ku tadi,” ucap Arslan, sedikit memuji Stella yang bisa menebak gerakannya.   Stella masih menahan pedang Arslan yang sedang beradu dengan pedangnya. Lalu Arslan melompat ke belakang, untuk mengambil posisi.   “Uhh… Kenapa dia melompat kebelakang,” ucap Stella dalam hatinya, yang melihat Arslan tiba-tiba melompat.   Suasana menjadi hening, semua anggota baru yang melihat pertarungan mereka tidak tahu harus mendukung siapa.   “Siapa yang akan menang menurut mu?”   “Entahlah aku juga tidak tahu.”   “Kemampuan mereka berdua sama-sama hebat.”   “Iya kau benar, padahal mereka lebih muda dari kita.”   Ucap para anggota yang menonton pertarungan Arslan dan Stella.   “Stella!” Rasa khawatir dirasakan oleh teman Stella yang melihat pertarungan Stella. Stella terus memberikan perlawanan, serangan demi serangan dia lakukan kepada Arslan. Namun dengan mudah dihindari atau ditangkis Arslan.   “s**l! Huh… Huh… aku tidak bisa sama sekali pedang ku tidak bisa menyentuh tubuhnya.” Stella merasa kesal, staminanya semakin terkuras akibat pertarungan yang sangat sulit dia rasakan.   “Sebaiknya aku sudahi pertandingan ini,” ucap Arslan dengan tatapan tajam ke arah Stella.   Arslan mengarahkan pedang yang ada di tangannya ke arah tanah. Itu merupakan persiapan untuk dia melakukan teknik khusus.   “Apa yang akan dia lakukan. Hiyaaa…” Lalu Stella berlari setelah Arslan menutup matanya dan memegang pedangnya ke arah tanah. “Apa pun yang dia lakukan aku akan berusaha untuk mengalahkannya.”   “Leaf Flash s***h!” Gerakan cepat yang Arslan lakukan mengenai perut Stella.   Stella yang terkena serangan Arslan, tak bisa bergerak sebelum akhirnya jatuh.   “Jika pedang ini bukan pedang kayu pasti dia sudah terkena serangan fatal,” ungkap Arslan sambil meletakan pedang kayunya ke pinggang.   “Pemenangnya adalah Arslan!” Astro mengumumkan pemenangnya. “Arslan memang hebat bahkan dalam satu tahun dia sudah bisa menguasai satu teknik pedang, pasti Moisels yang mengajarkannya,” ucap Astro dalam hatinya sambil menatap Arslan.   “Aku kalah! Benar juga lawan ku adalah seorang yang sudah terlebih dahulu berlatih di tempat ini,” Stella berkata dalam hatinya. Sambil terbaring di lapangan.   Anggota yang melihat pertandingan mereka menjadi sedikit terpukau dan kaget setelah melihat pertandingan mereka.   “Hebat sekali laki-laki itu dia dengan mudah mengalah Stella yang menjadi anak paling berbakat di antar anggota baru.”   “Tentu saja karena laki-laki itu terlebih dahulu berada di sini.”   Lalu teman Stella berlari mendekatinya, yang masih terbaring di lapangan.   “Stella! Kau tidak apa-apa?” tanya teman Stella yang saat itu sudah berada di dekatnya.   “Oh kau rupanya,” kata Stella sambil menatap temannya itu.   Arslan kemudian mendekati Astro.   “Arslan sekarang kembali lanjutkan latihan mu!” Astro menyuruh Arslan untuk meninggalkan tempat itu dan kembali melakukan latihan yang biasa dia lakukan.   “Baik Komandan!” Arslan berkata sambil menganggukkan kepalanya.   Lalu Arslan berjalan pergi menuju tempat latihannya. Kebetulan arah tempat latihannya itu melewati Stella dan temannya yang masih berada di tempat pertarungan mereka tadi. Arslan berhenti di dekat mereka berdua.   “Aku cukup terkesan dengan kemampuan mu! Jika kau terus melatihnya, pasti kau akan mejadi seorang Ksatria wanita yang hebat,” ungkap Arslan. Lalu dia melanjutkan langkah kakinya menuju tempat latihannya.   Stella dan temannya menjadi terdiam ketika Arslan mengatakan hal itu.     Setelah itu Arslan melakukan latihan seperti biasanya. Hingga malam di kamarnya dia merenung.   “Lelah sekali hari ini, aneh kenapa juga Komandan Astro melakukan test kemampuan terhadap perempuan itu.” Arslan berbicara di atas tempat tidurnya dan dia heran kenapa dia harus bertarung melawan Stella pada siang hari tadi.   “Ya terserah lah!”   Sementara itu di kamar Stella.   “Laki-laki yang bernama Arslan itu kemampuannya sangat hebat, suatu saat aku pasti bisa mengalahkannya.” Stella menjadi semakin semangat karena dia ingin menjadi lebih hebat dari Arslan dalam menggunakan pedang.   Malam itu semuanya menjadi berlalu hingga pagi tiba.   Pagi harinya matahari sudah terbit dengan cerah, Arslan hendak pergi melakukan latihan seperti biasanya.   Di saat dia berada di lapangan Astro dan Stella sudah berada di sana.   “Akhirnya kau datang juga Arslan,” ucap Astro ketika melihat Arslan berjalan mendekati mereka.   “Ada apa Komandan ini?” tanya heran Arslan melihat Stella sudah berada di samping Astro.   “Hari ini, dia akan menjadi partner mu dalam berlatih!” jelas Astro kepada Arslan.   “Apa!” Arslan menjadi sedikit kaget dengan ucapan Astro.   “Kalau begitu sampai jumpa!” Astro langsung pergi tanpa penjelasan lebih lanjut.   Setelah Astro pergi, Arslan dan Stella saling berdiri berhadapan. Mereka saling memandang satu sama lain.   “Mohon bantuannya!” Kemudian Stella membungkukkan tubuhnya ke arah Arslan.   “Huh! Baiklah kalau begitu aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi partner mu dalam latihan,” ucap Arslan dengan wajah yang serius.   Dengan begitu Arslan dan Stella menjadi partner dalam latihan.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD