Sudah dua bulan semenjak Moisels, mengalami serangan yang diakibatkan Grenzuta Rex. Selama itu juga Arslan terus melatih kemampuannya.
Tepat di saat Arslan melakukan latihan, Moisels datang dengan tangan kanannya yang masih diperban, dan dia membawa tongkat untuk berjalan karena kaki kirinya juga terkena dampak serang yang di akibatkan Grenzuta.
Arslan yang melihat kedatangan Moisels langsung mendekatinya, yang terlihat dari jauh seperti sudah menunggunya.
“Arslan! Sekarang kau kelihatan jauh berbeda dari terakhir kali kita bertemu,” ucap Moisels yang melihat Arslan dari kejauhan yang sedang berjalan ke arahnya. Terlihat Arslan sudah sedikit berubah dari terakhir kali mereka bertemu. “Padahal dia masih berumur 14 tahun tapi dia kelihatan jauh lebih jantan dan dewasa daripada aku.”
“Kau terlalu memuji Moisels, aku masih seorang pemula di sini. Dibandingkan dengan dirimu yang sudah 2 tahun melakukan pelatihan.” Arslan merasa sedikit malu karena tidak biasanya ada orang yang memuji dirinya.
“Hehehe kau benar.” Moisels tertawa kecil, lalu senyuman di wajahnya menghilang.
“Mmm… Kenapa kau cemberut seperti itu?” tanya Arslan yang tiba-tiba melihat wajah Moisels yang terdiam.
“Tidak, aku hanya berpikir apakah aku bisa mengalahkan mu nantinya ya. Hahahaha.” Moisels coba mencari alasan untuk menyembunyikan rasa sedihnya yang sepertinya sudah ketinggalan jauh dari Arslan.
“Begitu ya, tentu saja kau bisa, nanti pasti kau akan sembuh dan saat itu tiba kita bisa berlatih bersama lagi.” Arslan coba untuk menenangkan Moisels yang masih memikirkan masa depannya seperti apa.
“Aku harap begitu, tetapi mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk ku bisa sembuh dan bisa berlatih kembali,” ucap Moisels dengan wajah yang murung.
“Begitu, pasti kau akan merasa kesal karena semua kegiatan mu akan menjadi terbatas karena luka-luka itu.”
“Iya.” Moisels mengangguk.
Kemudian suasana menjadi hening.
Lalu Moisels ingin membicarakan sesuatu yang penting.
“Arslan!” kata Moisels dengan suara yang sedikit ada nada gemetar.
“Ada apa?” balas Arslan dengan melirik wajah Moisels yang sejak dari tadi murung. “Apa yang akan dia omongkan?”
“Sebenarnya aku datang ke sini, untuk mengatakan satu hal.”
“Mmm… Apa maksud mu.” Arslan merasa heran dengan ucapan Moisels yang sedikit aneh ditambah lagi wajahnya yang sejak dari tadi terus murung.
“Aku akan berhenti melakukan pelatihan di Guild Tranquilina ini,” ungkap Moisels.
“Apa.” Arslan menjadi kaget dengan pernyataan dari Moisels yang ingin berhenti menjadi anggota guild. “Kau tidak bercanda kan?” tanya Arslan dengan tatapan serius.
“Tidak… waktu itu saat, aku melakukan ekspedisi.”
Kembali ke waktu Moisels dan tim ekspedisi lainnya, mereka sedang melakukan ekspedisi ke wilayah Tonturea. Tonturea merupakan wilayah hutan yang di kelilingi pepohonan yang besar, di sana merupakan wilayah bagi banyak monster. Area Tonturea merupakan wilayah yang berbahaya banyak para petualang yang tewas di sana, akibat serangan monster-monster ganas. Tempat itu bagaikan sarang bagi monster yang memiliki tingkat kesulitan dari C hingga A.
Biasanya para anggota yang masih mengikuti pelatihan akan diuji untuk mengeksplorasi suatu wilayah tertentu, sebagai bukti bahwa mereka nantinya sudah siap untuk menjadi anggota Guild Tranquilina.
Anggota yang kali ini yang melakukan eksplorasi adalah Moisels dan Zinber dari tempat pelatihan Blade Master, Meiri dari tempat pelatihan g*n Master, serta Izumi dan Rick dari tempat pelatihan Magic Master.
Mereka berlima tidak mengetahui bahaya sedang mengintai, saat melakukan ekspedisi ke wilayah Tonturea. Saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju hutan bagian sebelah timur Tonturea.
“Entah kenapa perasaan ku menjadi tidak enak,” ungkap Rick saat sedang di perjalanan menuju ke arah timur. Banyak pohon dan tumbuhan lebat sepanjang perjalanan mereka. Rick merupakan Anak muda yang berumur 18 tahun, sifatnya sangat penakut namun dia sangat berbakat dalam menggunakan magic. Alasan dia mengikuti pelatihan di Tranquilina karena paksaan keluarganya yang merupakan salah satu keluarga terhormat di kerajaan Angrissa.
“Berhentilah menjadi seorang penakut,” ejek Meiri, kepada Rick yang sejak dari tadi ketakutan saat masuk wilayah Tonturea. Meiri merupakan wanita muda berusia 17 tahun, yang memiliki sifat kasar dan keras kepala. Soal kemampuannya tidak usah diragukan lagi.
“Sudah-sudah.”Izumi coba menenangkan mereka berdua supaya tidak bertengkar. Izumi merupakan wanita muda yang berumur 16 tahun, dia termasuk orang yang berbakat dalam menggunakan sihir. Tetapi dia selalu takut untuk memutuskan suatu hal.
“Cih… berisik sekali mereka.” Zinber merasa kesal mendengar suara Meiri dan Rick yang sejak dari tadi selalu berdebat. Zinber merupakan laki-laki berumur 18 tahun, sikapnya yang sombong dan arrogant membuat dirinya selalu berpikir bahwa dirinya lah yang paling hebat di antara semua orang. Dia juga merupakan orang yang ceroboh dan gegabah, kalau soal kemampuannya lumayan. Tidak terlalu hebat, alasan dia dipilih untuk melakukan ekspedisi karena kemampuannya cukup bagus dari pada kandidat lain yang sama saat dia pertama kali masuk pelatihan Blade Master.
“Kuharap ini tidak menjadi pertanda buruk setelah melihat mereka semu,” ungkap Moisels yang berbicara sambil melihat awan. Moisels merupakan laki-laki berumur 18 tahun, sikap yang tenang dan sangat bijak dalam mengambil keputusan membuat dirinya dipilih menjadi kapten dalam ekspedisi kali ini. Kemampuannya sangat baik bahkan dia sering disandingkan akan menjadi kapten seperti Duran yang memiliki kekuatan yang hebat.
Moisels tiba-tiba berhenti.
“Aku ingin sekali naik kuda, aku capek sekali,” keluh Rick.
“Hah… kau ini lebih baik kau tidak usah menjadi seorang anggota guild Tranquilina. Sampah seperti mu tidak pantas.” Meiri merasa kesal mendengar Rick yang selalu saja mengeluh.
“Shishhhht…” Moisels menyuruh mereka diam dengan menunjukan simbol jari kanannya di depan bibir.
Lalu keempat anggota lainnya yang melihat itu kemudian diam, dan berjalan mengendap-endap mendekati Moisels. Mereka bersembunyi di sebuah semak-semak.
“Ada apa?” tanya Zinber dengan suara pelan.
“Lihat itu.” Moisels menunjuk ke arah seekor monster, monster itu adalah Karafukuru Rex. Makhluk yang dikategorikan sebagai monster dengan tingkat kesulitan C hingga B, dengan ukuran 3 hingga 4 meter.
Karafukuru merupakan monster yang hidup berkelompok, dan anak-anak mereka di sebut Rafuku. Dan yang memimpin mereka biasanya di sebut Karafukuru. Hanya Rafuku jantan yang akan bisa berevolusi menjadi Karafukuru, untuk menjadi pemimpin kelompok. Mereka merupakan predator yang menyerang makhluk lain yang lebih lemah, dan suka menyerang secara mengeroyok dan membabi buta.
Saat ini Moisels dan yang lainnya sedang melihat Karafukuru sedang memakan mangsanya, yaitu Termodeu monster herbivora yang hidup di wilayah Tonturea.
“Sepertinya mereka baru saja memangsa Termodeu,” ungkap Moisels saat melihat Karafukuru dan Rafuku menggigit dan memakan tubuh Termodeu.
“Iya sepertinya begitu, lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Meiri dengan terus menatap Karafukuru.
“Sudah tentu kita akan memburu mereka.” Zinber berkata dengan senyuman lebar di wajahnya dengan mata yang melotot.
“Apa kau gila? Kita ke sini hanya disuruh melakukan ekspedisi tidak untuk memburu mereka!” Moisels merasa sedikit kesal dengan sikap Zinber yang seenaknya memutuskan sesuatu.
Di saat mereka sedang berbicara, Karafukuru menyadari kehadiran mereka dengan cara mencium bau tubuh.
“Gawat! sepertinya dia mengetahui keberadaan kita.” Moisels dengan kaget melihat Karafukuru mengendus bau mereka lalu menatap mereka yang berada balik semak-semak.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Meiri yang menatap ke arah Moisels.
“Apa yang harus kulakukan saat ini, lari atau bertarung. Prioritas kami hanya melakukan ekspedisi, tidak ada alasan untuk bertarung jika nyawa kami tidak dalam terancam.” Moisels mencoba berpikir secara tenang.
“Terlalu lama kau berpikir Moisels. Hehahaha…”Tiba-tiba Zinber langsung keluar dari semak-semak lalu berlari ke arah Karafukuru, sambil tertawa terbahak-bahak.
“Tunggu.” Moisels coba menghentikan Zinber yang tiba-tiba berlari.
“Bodoh kenapa dia bisa ceroboh seperti itu.” Meiri menjadi kesal melihat kelakuan Zinber yang seenaknya pergi tanpa ada instruksi dan rencana terlebih dahulu.
“Meiri, kau bantu kami dengan menembakkan panah mu. Rick kau lakukan hal yang sama menggunakan energi magic mu, sementara lindungi mereka jika para Rafuku mulai menyerang kalian. Aku akan membantu Zinber. Mengerti!” Moisels memberikan sebuah perintah dalam keadaan darurat supaya tidak terjadi hal buruk.
Karafukuru melihat Zinber yang berlari ke arahnya, langsung meroar untuk memberi perintah Rafuku supaya menyerang Zinber yang sedang berlari mendekat untuk menyerang mereka. Para Rafuku yang mendengar roar itu langsung berlari menyerang Zinber.
Zinber berhenti dan mulai menghadapi serangan Rafuku. Dia berhasil menebas beberapa Rafuku dan memberikan luka kepada, mereka. Di saat Zinber terlalu fokus dengan Rafuku yang berada di hadapannya, salah satu Rafuku hendak menyerangnya dari belakang.
Saat serangan itu mengarah ke Zinber, anak panah Meiri mengenai Rafuku yang hendak menyerang Zinber.
“Dasar seharusnya dia lebih berhati-hati lagi,” ungkap Meiri dengan terus menembakkan anak panahnya.
“Zinber!” Moisels berteriak sambil berlari mendekati Zinber yang sedang dikepung Rafuku.
“Ohh… Moisels, sekarang menjadi sedikit menegangkan bukan.” Zinber seperti tidak ketakutan dengan berbicara sambil tersenyum lebar.
Mereka saling membelakangi untuk melindungi satu sama lain.
“Apakah kau tidak bisa menentukan segala sesuatu dengan tenang,” kata Moisels sambil menyerang Rafuku yang hendak menggigit mereka.
“Tidak. Semuanya hanya perlu dikalahkan,” ungkap Zinber yang di saat itu juga sedang menyerang Rafuku yang hendak menyerang dirinya.
Karafukuru mengabaikan Zinber dan Moisels yang sedang diserang oleh Rafuku. Dia melihat ke arah Izumi dan Meiri yang membantu mereka dari jauh. Karafukuru lalu langsung melompat hingga melewati semak-semak yang menjadi tempat persembunyian Meiri,Izumi, dan Rick yang saat itu masih berada di sana.
“Uh gawat Karafukuru mengincar mereka, aku harus menyelamatkan mereka,” ungkap Moisels yang melihat Karafukuru melompat dan bersiap menyerang Meiri dan yang lainnya.
“Dari pada kau memikirkan mereka, pikirkan dulu situasi kita saat ini.”
Zinber dan Moisels yang masih sibuk mengatasi serangan Rafuku yang mengepung mereka, sementara itu Meiri dan Izumi berhenti membantu mereka karena Karafukuru sudah berada di dekat mereka.
“Cih akan ku kalahkan kau.” Meiri membidik Karafukuru, dan melepaskan anak panahnya. Serangan Meiri mengenai tubuh Karafukuru sehingga perhatiannya tertuju kepada dirinya.
“Rick, cepat kau lindungi Meiri menggunakan Magic Shield!” Izumi coba memberitahu Rick yang saat itu sedang gemetaran ketakutan.
Rick tidak bisa bergerak, tubuhnya terus bergetar ketakutan. Saat mendengar ucapan Izumi dia coba menggunakan Magic Shield untuk melindungi Meiri. Tetapi dia salah mantra bukannya Magic Shield yang keluar malah serangan magic yang mengenai tubuh Karafukuru. Sehingga perhatian Karafukuru mengarah pada dirinya.
Groaaarrghhh… Karafukuru meroar karena serangan Rick cukup membuat dirinya merasakan kesakitan.
“Huh…” Rick langsung berlari setelah mendengar roar Karafukuru yang marah kepada dirinya.
Karafukuru mengejar Rick yang berlari menjauh. Meiri coba membantu Rick untuk mengalihkan perhatian Karafukuru.
“Cih…” Anak panah milik Meiri sudah habis jadi dia tidak bisa membantu Rick yang berlari ketakutan yang sedang dikejar Karafukuru.
Rick berlari hingga terpojok di sebuah pohon besar. Karafukuru berjalan mendekatinya, dia menatap Rick yang gemetaran ketakutan. Rick menangis karena, Karafukuru sebentar lagi pasti akan memakannya. Karafukuru mulai mengangkat kepalanya, lalu hendak menggigit Rick.
GROAAARRRHHH… Tiba-tiba terdengar suara monster lain, roar itu cukup keras sampai burung-burung beterbangan keluar dari hutan Tonturea. Karafukuru yang mendengar itu menghentikan serangannya yang hendak menggigit Rick.
Semuanya menjadi diam setelah mendengar roar yang keras itu, bahkan para Rafuku yang menyerang Zinber dan Moisels juga ikut behenti.
“Apa itu?” tanya Zinber kepada Moisels setelah mendengar roar.
“Entahlah, tetapi sepertinya monster yang lebih berbahaya akan segera ke tempat ini,” ungkap Moisels yang berada di tengah-tengah rombongan Rafuku yang mengepung mereka.
Suara hentakan kaki mengarah ke tempat mereka. Pepohonan mulai tumbang satu persatu.
“Datang,” kata Moisels.
Grenzuta Rex muncul dari dalam hutan, di dekat Karafukuru dan Rick. Grenzuta lalu langsung berlari menyerang Karafukuru. Dengan menggigit tubuhnya, karafukuru meronta saat berada di cengkraman gigitan Grenzuta, kemudian Karafukuru mencoba melepaskan gigitan Grenzuta dengan menggigit leher Grenzuta. Tetapi malah membuat Grenzuta semakin menggila, dia menghempaskan tubuh Karafukuru ke arah pepohonan. Karafukuru terluka sangat parah hingga tidak bisa berdiri lagi, Grenzuta meletakan kaki kirinya di atas tubuh Karafukuru. Lalu menggigit tubuh lalu menarik daging Karafukuru hingga keluar.
Semuanya menjadi terdiam, suasa menjadi semakin memburuk dan sangat tegang. Di saat pandangan Moisels teralihkan karena Grenzuta yang menyerang Karafukuru secara brutal. Kaki sebelah kiri dan lengan kanannya di gigit Rafuku.
“Auh…” Moisels melihat kakinya di sana sudah ada Rafuku yang mencengkeram kakinya menggunakan giginya. Moisels lalu menebas leher Rafuku yang menggigit kakinya.
“Jangan teralihkan oleh monster itu! kita saat ini masih berada di dalam situasi bahaya,” jelas Zinber setelah menyerang Rafuku yang menggigit lengan kanan Moisels.
“Kau benar,” kata Moisels sambil memegangi lengan kanannya yang merasa sakit setelah digigit Rafuku. “Tunggu kalian semua pasti aku akan datang.”
Grenzuta kembali meroar, ‘GROOARRGHH.’ Sebagai tanda bahwa Karafukuru sudah berhasil dia kalahkan, karena roar sangat keras itu, membuat para Rafuku yang mengepung Zinber dan Moisels. Menyadari bahwa pemimpin mereka telah mati, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.
“Kenapa aku harus mengalami ini semua, ohh benar juga karena orang tua ku yang egois memaksa ku untuk ikut masuk menjadi seorang anggota Guild. Dengan alasan bahwa keluarga kami harus menjadi orang yang terhormat.” Jarak Rick yang saat itu paling dekat dengan Grenzuta, dia semakin ketakutan dan gemetaran bahkan dia mengeluarkan air mata.
“Aku akan menyelamatkan diriku sendiri, terserah kepada yang lainnya. Asalkan aku masih hidup tidak apa-apa.” Lalu Rick berlari tergesa-gesa sambil ketakutan di wajahnya.
Tetapi sayangnya Grenzuta menyadari hal itu, dia langsung melirik Rick yang sedang berlari. Lalu langsung mengejar Rick.
“Rick…” teriak Izumi yang melihat Grenzuta mengejar Rick.
Rick melihat ke arah belakang sambil berlari, setelah mendengar teriakan Izumi yang memanggil dirinya.
Grenzuta lalu memakan Rick yang sedang berlari. Gigitan Grenzuta berhasil mengenai tubuh Rick, kemudian dia menelannya.
Semua anggota ekspedisi menjadi terdiam dan kaget, melihat kejadian itu. Izumi mengeluarkan air mata, karena syok melihat orang yang baru saja dia lihat di makan begitu saja di hadapannya.
“Sialan.” Meiri berteriak kesal, lalu dia mencari sisa anak panah yang dia tembakan sebelumnya. Dia melihat satu anak panah yang masih menancap di tubuh Karafuku yang sebelumnya pernah dia tembakan.
Lalu dia berlari ke arah Karafuku untuk mengambil anak panah itu kemudian membidik Grenzuta lalu melepaskan anak panahnya, anak panah itu mengenai tubuh Grenzuta tetapi tidak sampai menancap tubuh. Grenzuta melirik ke arah Meiri lalu langsung menyerang menggunakan ekornya dengan cara memutarkan tubuhnya, dan kemudian ekornya akan mengarah ke target. Serangan ini sering di sebut Tail Whip.
“Celaka!” Meiri terkena serangan ekor Grenzuta, hingga dirinya terpental dan mengenai Izumi lalu tubuh mereka terbentur ke arah pohon yang ada di sana. Meiri tidak sadarkan diri setelah terkena serangan itu.
Izumi masih sadar tapi kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah. “Meiri chan!”
Grenzuta mulai berjalan mendekati mereka berdua. Lalu Moisels tiba dan berada berdiri sambil menghunuskan pedangnya ke arah Grenzuta untuk melindungi Meiri dan Izumi.
“Cih… Aku akan mengalah makhluk besar ini,” ucap Zinber dengan senyuman lebar. Dirinya sudah meminum beberapa potion untuk memulihkan stamina dan lukanya.
Sebuah Batu di lempar oleh Zinber untuk mengalihkan perhatian Grenzuta. Dan benar saja Grenzuta perhatiannya menjadi tertuju ke arah Zinber.
“Moisels bawa mereka pergi dari sini, aku akan mengulur waktu untuk kalian.” Zinber mengorbankan dirinya menjadi umpan demi menyelamatkan Moisels dan yang lainnya. “Sebenarnya ini juga salah ku seandainya saja waktu itu aku tidak terlalu ceroboh.”
“Zinber kau…” Moisels menatap wajah Zinber dengan serius. “Baiklah aku mengerti.”
“Izumi kau bisa berdiri dan berjalan?” tanya Moisels kepada Izumi yang saat itu memegangi kepalanya yang sedang berdarah.
“Iya,” jawab Izumi dengan nada suara rendah karena tubuhnya yang sudah mulai lemah.
“Bagus, ayo kita pergi dari sini.”
Izumi mengangguk
Lalu Moisels menggendong Meiri, dan bersama Izumi mereka berlari menjauh dari tempat itu.
Sementara Zinber masih mengalihkan perhatian Grenzuta dengan berlari, sekuat tenaga ke arah yang berlawanan.
“Benar begitu Moisels hiduplah dan jadilah seorang ksatria hebat,” ucap Zinber sambil tersenyum yang melihat Moisels dan yang lainnya berlari dari kejauhan.
Moisels dan Izumi berlari cukup jauh hingga mereka kelelahan, dan memutuskan untuk bersembunyi di dalam goa yang kebetulan mereka lihat saat sedang berlari.
Mereka duduk di dalam goa itu.
“Huh… huh…” Moisels dengan napas yang terengah-engah sambil menahan lengan kanannya.
“Sepertinya kau mengalami pendarahan karena berlari tadi,” ucap Izumi yang melihat Moisels yang sedang dalam keadaan terluka.
“Iya!” kata Moisels dengan wajah menahan rasa sakit dan memegangi lengannya.
“Biarkan aku memeriksanya.” Izumi yang merupakan seorang Spellcaster yang memiliki sihir penyembuh.
“Baik.” Moisels menuruti permintaan Izumi, dia membuka bajunya dan menunjukan lengannya yang terluka.
“Hah…” Izumi terkejut melihat luka Moisels. “Kau terlalu memaksakan diri, bagaimana kau bisa menggendong Meiri yang pingsan dengan keadaan seperti ini?” tanya heran Izumi kepada Moisels.
“Itu aku karena meminum Demon Potion,” jelas Moisels.
“Huhh… Minuman yang memaksa seseorang untuk mengeluarkan tenaga lebih, tetapi efek yang di terima adalah rasa sakit setelahnya,” ungkap Izumi setelah mengetahui alasan Moisels yang mampu bergerak dan menggendong Meiri meskipun dalam keadaan luka.
Lalu Izumi mengobati luka Moisels, untuk menghentikan pendarahan.
Sementara Zinber yang mengalihkan perhatian Grenzuta, sudah lelah berlari cukup jauh. Dia memutuskan untuk melawan Grenzuta. Tetapi karena pengalaman dan latihan yang belum cukup dia dengan mudah di serang oleh Grenzuta menggunakan Tail Whip, tubuh Zinber terhempas dan menghantam pepohonan.
“Luar biasa, aku memang tidak sebanding melawan mu…” Zinber pingsan. Grenzuta mendekatinya lalu langsung memakan tubuhnya.
Setelah cukup lama beristirahat di dalam goa Moisels, Izumi dan Meiri memutuskan untuk kembali ke Angrassia. Meiri yang sudah bangun dia yang membantu Moisels berjalan bersama dengan Izumi.
Beruntung di perjalanan mereka melihat beberapa Petualang yang sedang berburu. Jadi mereka meminta bantuan mereka untuk kembali ke Angrassia.
Dan sekarang di tempat Arslan dan Moisels.
“… Aku menyadari bahwa, aku tidak akan mampu menjadi seorang prajurit Guild atau Petualang,” ungkap Moisels dengan wajah yang sedih.
“Begitu rupanya, mungkin yang kau katakan benar. Apalagi kondisi mu sekarang pasti akan sulit untuk kembali menjadi seperti dulu.”
“Iya.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan kembali ke desa ku dan, menjadi seorang pedagang di sana.”
“Hmm… Begitu ya. Ya itu terserah dirimu. Tetapi aku mau mengatakan satu hal, lari dari kenyataan adalah hal yang buruk. Lebih baik kau melangkah maju atau kau berada terus hidup di masa lalu.”
Ucapan Arslan membuat Moisels menjadi terdiam.
“Kau ini ucapan mu seperti orang dewasa saja.” Moisels menanggapi ucapan Arslan seolah Arslan tidak serius.
“Akan ku beritahu kau, sesuatu. Dahulu di kampung halaman ku, aku sering dikatakan aneh karena sikap ku ini. Bahkan orang-orang dewasa tidak menyukai diriku. Banyak yang bilang kalau ucapan ku ini tidak sesuai dengan umur ku. Namun aku hanya melakukan apa yang ku anggap benar, karena dari itulah aku terbiasa untuk maju melangkah sendirian meskipun tidak ada orang berada di samping ku. Aku akan terus melangkah maju meskipun kampung halaman ku sudah hancur bersama keluarga.” Arslan menjelaskan dengan wajah yang sanga serius.
“Begitu ya,” kata Moisels. “Yang benar saja, dirinya jauh lebih dewasa dari ku.”
“Kapan kau akan pergi dari sini?” tanya Arslan.
“Besok, aku akan pergi kembali ke kampung halaman ku.”
Lalu Moisels berdiri dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berdiri.
“Arslan!” Moisels mengulurkan tangannya ke arah Arslan. “Sampai nanti waktunya tiba jadilah seorang Ksatria yang benar-benar hebat.”
“Iya, pasti akan kulakukan.” Arslan berdiri dan menjabat tangan Moisels.
Setelah itu Moisels kembali ke keruangan medis, dan Arslan kembali melanjutkan latihannya.
“Aku pasti akan bisa mengalahkan Dragon yang telah menghancurkan desa ku,” Arslan berkata sambil berjalan.