Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Jose memasuki halaman rumahnya yang besar itu. Wilayah sekitar rumahnya terlihat sepi, tentu saja. Lampu rumahnya kali ini juga sudah redup, karena hanya beberapa saja yang dihidupkan oleh Jasmine. Seketika saja, Jose merenung. Ia menyandarkan dadanya dan tangannya pada stir mobil. Sesosok perempuan yang melekat pada pikirannya kini, hanya satu nama. Jasmine. Mengingat istrinya itu membuat Jose tersenyum kecut. Jose akan melihat, berapa lama gadis itu akan bertahan untuk mencintainya. Garasi mobil masih terbuka, dan Jose segera membawa mobilnya ke dalam. Sendawa beraroma alkohol terdengar dari mulutnya. Minuman yang diberikan Cath tadi lumayan membuatnya mual disertai gerah di tubuhnya. Jose tertawa kecil, mengingat Cath yang memaksananya u

