KEPUTUSAN GEGABAH

2602 Words
Pagi ini, Roza menyodorkan jadwal untuk dijalankan Jose hari ini. Dua sesi rapat dengan kolega dari Surabaya dan Yogya akan selesai pada pukul tiga sore, kalau saja rapat hari ini berjalan lancar sebagaimana jadwalnya. Setelah jam tiga, jadwal kosong. “Sore ini, jadwal kosong, Za?” “Benar, Pak.” Jose manggut-manggut. “Maaf, Pak. Ada kabar dari staff Pak Affandy yang mengabarkan bahwa hari ini beliau tidak bisa hadir.” Jose mendongak menatap Roza. “Bagaimana bisa beliau tidak hadir, sementara rapat hari ini berkaitan juga dengan perusahaan beliau sebagai suplier bahan?” Jose bertanya dengan dahi mengerut. “Betul, Pak. Tapi asisten beliau mengabarkan bahwa beliau sedang menunggui anaknya yang sakit di rumah sakit, Pak.” Jose terkejut. Sakit? Jasmine sakit? “Sakit?” “Iya, Pak.” Jose terdiam, merenung dan memikirkan sakit apa yang diderita gadis keras kepala itu. Rapat hari ini berjalan sesuai jadwal, menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang memuaskan semua pihak. Termasuk perusahaan milik Pak Affandy Candranata yang hanya diwakili oleh staf beliau. Usai rapat, Jose menghampiri staff yang dimaksud oleh Roza tersebut. “Maaf, Anda staff Pak Affandy?” “Betul, Sir.” Asisten itu menjawab sambil mengamati Jose yang bertanya dengan nada yang demikian datar. “Benar putri beliau sakit?” “Betul, Sir. Menurut kabar terakhir yang saya tahu, kondisinya semakin menurun.” Deg! Ada kegundahan tersendiri ketika Jose mendengar kondisi Jasmine menurun. “Di mana putri beliau di rawat?” Asisten pak Affandy lantas menyebut nama sebuah rumah sakit swasta yang cukup berkelas di kota itu. Lalu tanpa menunggu percakapan berikutnya, Jose bergegas meninggalkan asisten Pak Affandy. Jalanan belum lagi macet ketika Jose sampai di jalan menuju rumah sakit. Entahlah, dia tak mengerti mengapa harus bergegas untuk menjenguk gadis aneh itu. Padahal beberapa waktu lalu, Jose jelas-jelas menolak satu permintaan mengejutkan yang diajukan Pak Affandi kepada dirinya. Jose tersenyum. Dalam hati menertawakan rasa sayang Pak Affandy yang berlebihan terhadap anaknya. Bahkan dengan sukarela merendahkan harga dirinya dengan meminta seorang laki-laki untuk menikahi putri kesayangannya. Setengah jam berlalu dengan cepat ketika Jose sampai di halaman Rumah Sakit mewah itu. Sejenak langkahnya meragu, tapi kemudian dia menepis keraguannya. Dengan langkah lebar, Jose melangkah menuju ke bagian informasi. Kemudian seorang perawat memberi petunjuk keberadaan pasien dengan nama Jasmine. Ketika Jose sampai, di depan pintu kamar rawat inap Jasmine, ia berhenti sejenak. Keraguannya kembali muncul, namun lagi-lagi dia menepisnya. Jemarinya mulai menekan handle pintu kamar itu, perlahan. Dan pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah Pak Affandy yang duduk termenung di sofa, yang berada di sudut kamar. Sementara di tempat tidur rumah sakit, terbaring seorang gadis dengan selang infus di tangannya. Dan begitu Jose terlihat di depan pintu, Pak Affandy yang tak menyangka akan kedatangan seorang Jose, segera berdiri menyambut dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. “Halo, Sir?” Pak Affandy mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Jose, mencoba menyapa dengan ramah. Jose menyambut dengan tak kalah ramah. “Maaf, saya baru bisa menjenguk putri anda sekarang, Pak Affandy. Karena sekretaris saya baru memberitahu tadi.” Pak Affandy tersenyum. “Tak mengapa, Sir. Ini juga sudah cukup untuk saya dan putri saya.” Jose menatap Jasmine. Terlihat gadis itu sedikit kurus dari terakhir kali Jose bertemu dengannya. “Apa penyakit Jasmine, Pak Affandy?” Pak Affandy menatap Jasmine sebentar, kemudian berjalan mendekati anak gadisnya itu. Pak Affandy sedikit membuka kisah Jasmine. Sementara Jose ikut berjalan pelan mendekati Jasmine yang tertidur. “Dokter bilang typus.” Pak Affandy mengatakan kesimpulan dokter dengan pelan. “Sejak kapan?” Pak Affandy tak langsung menjawab, bahkan beliau menatap ragu ke arah Jose. “Maaf, seharusnya saya tak mengatakannya. Karena ini sudah cukup memalukan untuk kami.” “Maksud Pak Affandy?” Jose mengerutkan keningnya. Pak Affandy hendak menjawab, namun ragu. “Sejak anda menolak permintaan saya untuk menikahi Jasmine, dia sangat terpukul. Selera makannya menurun. Bahkan keinginan kuliahnya di Kuala Lumpur pun, dia batalkan begitu saja.” Pandangan Pak Affandy terlihat kosong ketika menatap putrinya yang tertidur dengan napasnya yang sangat lirih. “Saya minta maaf jika menjadi penyebab Jasmine seperti ini,” Jose menyatakan penyesalan yang dalam. Pak Affandy menggeleng sambil tersenyum masam, tak berani menyalahkan Jose dalam kasus Jasmine. “Anda tidak bersalah. Mungkin Jasmine saja yang manja. Maklum, dia masih terlalu muda. Sementara untuk membimbing secara keseluruhan, jelas saya tidak mampu, mengingat saya adalah single parent.” “Sekali lagi saya minta maaf, Pak Affandy.” “Tak perlu minta maaf, Sir. Nanti bersama berlalunya waktu, saya rasa kedewasaan Jasmine akan semakin bertambah. Saya  hanya meminta doa untuk kesembuhan putri saya. Dia satu-satunya yang saya miliki setelah almarhum istri saya meninggal.” Pak Affandy mengusap pelan rambut Jasmine yang terlihat sangat kontras dengan warna sarung bantal rumah sakit itu. Tak urung, mata Pak Affandy kelihatan berkabut dan mendung. Kesedihan begitu kentara meski beliau mencoba menutupinya. Jose tiba-tiba kehilangan kata-kata berada pada suasana yang demikian sendu. Tapi Jose punya alasan sendiri, mengapa waktu itu dia tak meloloskan keinginan Pak Affandy untuk menikahi putri semata wayangnya. Karena Jose tak ingin menambah daftar nama perempuan yang akan menjadi abnormal karena dirinya. Cukup sudah dirinya yang abnormal, beserta teman-teman tak wajarnya. Tapi jangan Jasmine. Gadis ini terlalu baik dan cantik untuk menjadi pasangan ‘tak wajar’ nya. Dan Jose sungguh bertekad untuk menjauhi Jasmine, sebelum keduanya saling tertarik kemudian terjebak dalam permainan gila yang sebenarnya menjijikkan. ‘Tidak. Jangan Jasmine.’ Jose tanpa sadar menggeleng, membuat Pak Affandy bertanya dalam hati, apa yang membuat Jose seperti ingin menepis sesuatu dari pikirannya. “Ada sesuatu, Sir?” Jose menggeleng sembari melihat ke pergelangan tangannya untuk memastikan jam. “Sepertinya sudah sore, Pak Affandy. Jadi saya akan pamit untuk pulang. Saya doakan agar Jasmine segera sehat seperti semula.” Pak Affandy tersenyum. “Terima kasih untuk simpati dan doanya, Sir.” Jose mengangguk dan tanpa diduga, laki-laki itu berjalan pelan mendekati Jasmine. Mengamati dengan seksama untuk beberapa saat. Kemudian tangannya yang kokoh itu terulur untuk mengusap lembut rambut Jasmine, kemudian mengusap pipi tirus gadis itu dengan punggung tangannya. “Lekas sembuh, Jasmine.” Jose mengucap kata lirih, namun menjadi seperti mantra yang mengusik tidur lelap gadis itu, membuatnya menggerakkan kepala dengan sebuah senyum tipis, meski matanya masih terpejam. Pak Affandy tertegun sejenak ketika melihat sikap manis dan lembut Jose kali ini, mengingat bagaimana kerasnya laki-laki itu menolak pinangannya, beberapa waktu lalu. “Saya permisi, Pak Affandy. Semoga putri anda lekas sembuh.” “Terima kasih, Sir.” Jose bergegas meninggalkan kamar rawat inap Jasmine diiringi tatapan penuh tanda tanya pak Affandy. Menyusuri koridor rumah sakit mewah ini membuat Jose sejenak terbawa arus lamunannya. Kedua sisi hatinya saling berebut tempat untuk dominan. Antara keinginan menolak Jasmine karena tak mau membuat gadis itu terjebak dalam kehidupannya yang hitam, atau menerima kehadiran gadis itu, mengingat bagaimana sebenarnya Jose memiliki ketertarikan tak kasat mata terhadap Jasmine. Sejujurnya, hati kecil Jose telah terpesona oleh Jasmine. Tapi Jose setidaknya tahu, bahwa sebuah hubungan tak cukup dibangun berdasarkan rasa terpesona serta ketertarikan. Sebab, sebuah rasa cinta harus ikut andil di dalamnya. Dan Jose tahu, cinta Jasmine pada dirinya hanya cinta monyet seorang gadis remaja. Bukan sebuah cinta perempuan dewasa. ‘Tapi dia sungguh terlihat cantik dan manis..” sisi lain hati Jose seolah berteriak menyatakan bagaimana indahnya Jasmine. Tapi lagi-lagi sisi hatinya yang lain menentang, bahwa Jasmine hanya gadis muda dan tak akan bisa memuaskan hasratnya yang tak wajar. Karena jelas bahwa masih sangat banyak partner abnormal yang bisa dia pakai sewaktu-waktu. Dan itu cukup memuaskan, setidaknya hingga saat ini.   * * * * *   Rembulan di luar terlihat bulat dan bersinar terang. Kondisi tidak seindah pemandangan malam, sakit Jasmine sedikit memburuk. Beberapa kali dokter mengecek keadaannya, memberikan suntikan dan segala macamnya. Membuat Pak Affandy panik. Hingga dia memutuskan untuk menghubungi Jose, sebagai langkah terakhir dan paling memalukan yang harus Pak Affandy tempuh kembali. Biarlah, asal Jasmine bahagia, apapun taruhannya akan Pak Affandy jalani. Meski untuk itu, dia harus kembali membuang harga dirinya. “Maaf jika mengganggu Anda, Sir.” Pak Affandy menyambut Jose yang datang tergesa ke ruang rawat inap Jasmine. “Tak mengapa, Pak.” “Ini  tentang putri saya lagi.” Jose mengerutkan dahinya penuh tanya. Pak Affandy terdiam sejenak, menatap Jose dengan ragu-ragu. “Untuk yang terakhirnya, saya mohon.. saya meminta kesediaan anda, Sir. Untuk menikahi putri saya.” Pak Affandy terdiam sejenak. Dilihatnya Jose yang merasa jengah dengan permintaan tak masuk akal yang dilakukan oleh Pak Affandy. “Maaf, Pak... pernikahan bukan hal sepele. Pak Affandy tentu tahu akan hal ini. Ada kesepakatan dan tanggung jawab di dalamnya. Dan itu yang belum bisa saya jalani untuk saat ini.” “Saya tahu, Mister. Jika ini hanya akan berlangsung sesaat, saya ikhlas, Mister. Jika ini akan menjadi jalan kebahagiaan putri saya, saya akan sangat bersyukur. Namun jika ini akan menjadi hal terakhir yang akan dialaminya, saya ikhlas, Mister.” Kalimat aneh Pak Affandy membuat Jose mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. “Apa maksudnya, Pak Affandy?” Pak Affandy menghela napas berat. “Dokter menyimpulkan bahwa Jasmine seperti tak memiliki semangat untuk sembuh. Itu bisa sangat buruk untuk dirinya Sir...” Jose terkejut. Bagaimana bisa sampai demikian? Jose meragu, pikirannya kacau antara iya atau tidak. Karena keduanya memiliki alasannya masing-masing. Dan kedua alasan itu sama-sama masuk akal. “Saya takut Jasmine...” suara Pak Affandy terhenti, dari matanya yang sendu jatuhlah setetes air matanya. “Jangan berpikiran yang buruk, Pak Affandy. Jasmine akan sembuh! Dia pasti akan sembuh!” Jose berusaha menenangkan Pak Affandy. “Saya sungguh tidak tahu lagi, Sir. Jasmine sempat mengigaukan nama anda saat tubuhnya demam tinggi...” cerita Pak Affandy tampak menahan rasa ketakutan dalam hatinya. Jose terdiam. Ia menatap langit luar melalui jendela ruangan Jasmine. Mendung terlihat menggayut hitam di kejauhan. Hati Pak Affandy pasti sedang hitam layaknya langit malam ini. Jose menghela napas dan kembali menatap Pak Affandy. “Pak Affandy, silahkan Anda mencari hari paling baik untuk pernikahannya.” Kalimat tegas Jose membuat Pak Affandy terkejut. “Pernikahan?” Pak Affandy tak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya yang bercampur dengan rasa bingung. “Saya bersedia menikahi Jasmine jika itu yang Pak Affandy tanyakan.” Pak Affandy bahkan hanya bisa melongo mendengarkan kalimat tegas Jose kali ini. Bahkan ketika laki-laki itu berjalan pelan mendekati ranjang Jasmine, Pak Affandy masih terdiam mendengar Jose berubah pikiran. Setelah menatap beberapa saat, Jose lantas mengusap lembut rambut Jasmine yang masih terbaring dan tidur dengan pulasnya. “Cepat sembuh, Jasmine. Karena kita akan segera menikah. Aku akan menjadi pendamping hidupmu.” kata Jose tegas meskipun dengan volume yang lirih. Pak Affandy semakin kehilangan kata-kata saking bahagianya dengan kesanggupan Jose menikahi Jasmine. Ini benar-benar diluar dugaannya. “Terima kasih, Mister Jose.” Pak Affandy tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya malam ini. Bahkan di mata tua beliau mengambang air mata bening yang hendak jatuh. “Saya akan mempersiapkan segala sesuatunya, Sir.” Jose memandangi Jasmine yang terlihat sedikit pucat lalu kembali melihat Pak Affandy. “Saya yang akan mengurusnya semua, Pak Affandy. Ini akan menjadi tanggung jawab saya.” “Tapi Mister Jose?” “Kewajiban Pak Affandy nanti hanya menikahkan saya dengan putri anda. Selebihnya, semua akan menjadi tanggung jawab saya.” Pak Affandy melongo, lagi. “Saya harap, Jasmine segera sembuh. Sudah malam sekali, saya permisi, Pak Affandy.” “Silahkan, Mister Jose. Sekali lagi terima kasih.” Jose hanya mengangguk sambil melangkah keluar dari ruang rawat inap Jasmine, diiringi tatapan penuh kebahagiaan dari mata Pak Affandy. Sementara keluar dari ruang rawat inap Jasmine, Jose merasa aneh dengan keputusannya untuk menikahi Jasmine dengan gegabah. Pertimbangannya hanya satu, karena Pak Affandy sangat menyayangi Jasmine, sehingga Jose tak ingin mengecewakan Pak Affandy. Terlebih mereka sudah menjadi rekan bisnis selama bertahun-tahun. Lalu bagaimana dengan Jasmine? Apakah dia punya andil dalam keputusan gegabah yang diambil Jose? Sejujurnya, Jose mengakui bahwa Jasmine memang cantik dan menarik. Siapa yang tak goyah dengan gadis berkulit putih mulus,  memiliki wajah dengan pipi yang cubby dan menggemaskan, mata yang selalu berbinar ceria, dan juga postur yang menggoda? Tentu semua laki-laki akan goyah. Tak terkecuali Jose. Yang menjadi masalah adalah karena Jasmine masih terlalu belia untuk seorang laki-laki berusia 32 tahun seperti Jose, bahkan masuk kategori b******k. Jose tak mau membawa Jasmine kedalam kehidupannya yang penuh dosa. Namun, binar mata memohon Pak Affandy, juga raut wajah Jasmine yang tertidur tanpa semangat untuk sembuh, mampu membuat Jose mengatur ulang penolakannya beberapa waktu lalu. Jose menggamang di antara kerlipan lampu kendaraan. Kemacetan di malam ini, tidak membuatnya kesal seperti biasanya. Malam ini berbeda, membuatnya terlalu banyak berpikir sekaligus berandai. Tapi, inilah keputusannya. Dia akan menikahi Jasmine. Segera, setelah gadis itu sembuh.   * * * * *   Tiga minggu berselang ... “Apa kabar, Cantik?” Pak Affandy menyapa Jasmine yang pagi ini sudah terbangun dan sedang sarapan bubur, disuapi oleh seorang perawat. Kali ini Pak Affandy menyempatkan diri menjenguk Jasmine, setelah kondisinya menunjukkan kemajuan yang lumayan. “Hai, Ayah,” Suara Jasmine masih terdengar lirih dan lemah, tapi pancaran semangat terlihat berbinar di matanya yang cekung. Pak Affandy mendekat. “Bagaimana pagimu, Sayang?” “Jasmine lebih baik hari ini, Yah. Benar kan, Sust?” Jasmine menatap suster yang menyuapinya, seakan meminta persetujuan bahwa hari ini dia jauh lebih baik. Suster itu tersenyum lembut dan mengangguk. “Kamu harus segera sembuh. Karena Jose jelas tak mau menikahi gadis kecil yang penyakitan.” Pak Affandy tersenyum penuh arti menatap Jasmine yang tersenyum malu. “Sudah, Sust, saya sudah kenyang,” kata Jasmine menggelengkan kepalanya. Suster itu mengangguk dan memilihkan beberapa butir pil yang harus diminum Jasmine pagi ini. Dengan senang hati Jasmine menerima butiran-butiran pahit itu dan meminumnya. Semangatnya untuk sembuh benar-benar terlihat dari sinar matanya yang berbinar. Padahal untuk hari-hari biasa, Jasmine akan  sangat membenci pil-pil itu. Beberapa saat, suster itu  keluar dari ruang rawat inap Jasmine,hingga tinggal  Jasmine dan Pak Affandy di sana.  “Apa kamu yakin dengan keinginan kamu menjadi pendamping hidup Mister Jose, Jasmine.” Jasmine menatap ayahnya sebentar, lalu menunduk sambil mengangguk. Pak Affandy menghela napas sedikit berat, karena beliau ragu, perasaan cinta seperti apa yang dimiliki Jasmine untuk Mister Jose itu. Tapi demi menghargai keputusan Jasmine, Pak Affandy mencoba berkompromi dengan keinginan tak masuk akal Jasmine kali ini. “Apa Ayah tak merestui Jasmine?” gadis itu bertanya lirih sembari menatap ayahnya. Pak Affandy tersenyum sendu. “Asal kamu bahagia, apapun itu, Ayah akan selalu merestui kamu, Jasmine.” “Terima kasih, Ayah...” kata Jasmine sembari mengulurkan tangan meminta sebuah pelukan. Pak Affandy menyambut Jasmine dengan pelukan hangat seorang ayah. Air matanya jatuh untuk kesekian kali, ia sangat menyayangi anak gadisnya itu. Seperti hidupnya yang ia jaga, Jasmine adalah satu-satunya semangat kehidupannya. Seaneh apapun permintaan Jasmine, nyatanya Pak Affandy tak pernah sanggup menolaknya karena hanya Jasmine yang dia miliki saat ini. Beliau tak mau melihat Jasmine mengalami patah semangat seperti ini lagi. Cukup sekali Pak Affandy melihat Jasmine menderita. “Istirahatlah, Sayang. Ayah akan ke kantor. Pagi tadi Mister Jose meminta Ayah untuk datang ke kantornya.” Jasmine cukup berbinar mendengar nama Jose dari sang ayah. Jasmine merasa Jose adalah masa depannya, pria yang bisa membuatnya bahagia. Dan sangat jelas Jasmine benar-benar kasmaran kali ini. “Ayah akan bertemu dengan Jose?” Jasmine bertanya dengan malu-malu. Pak Affandy mengangguk, “Ada sesuatu?” Jasmine menggeleng malu, pipinya masih saja bersemu merah hingga Pak Affandy keluar dari ruang rawat inap Jasmine. Sungguh, bayangan akan dirinya yang bersanding dengan Jose di sebuah pelaminan sudah mampu membuat Jasmine tersulut rasa yang menggelenyar dalam tubuhnya. Bergerak masiv menuju jantungnya yang kini berdegup sedikit lebih kencang hingga menghasilkan wajah yang bersemu merah. Entahlah, sepertinya bayangan Jose saja sudah berhasil membangkitkan sisi sensitif yang selama ini tertidur dalam tubuh Jasmine. Gadis itu merasa ... b*******h.     * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD