Seharian ini, Pak Affandy gelisah di dalam ruangan kantornya. Meskipun ruangan ini sangat nyaman, tapi tak mampu meredam kegelisahan hatinya. Beberapa berkas kerjasama yang teronggok di depan mejanya, sama sekali tak membuatnya tergugah untuk segera mengerjakannya. Ingatannya selalu saja terfokus pada wajah sembab Jasmine yang entah mengapa tiba-tiba memohon untuk datang menemui Jose dan meminta agar menikahinya.
Saat itu Pak Affandy naik pitam hingga meluapkan kemarahannya pada barang-barang di rumahnya. Ia tidak mengerti anak gadis tersayangnya tanpa sebab yang jelas berteriak sambil menangis, meminta Jose untuk menikahinya. Itu adalah hal paling konyol dan memalukan bagi Pak Affandy! Saat itu juga Jasmine melihat kemarahan pada wajah ayahnya. Namun, ia tidak peduli lagi, ia memang harus dinikahi, prinsip hidupnya telah tercoreng oleh lelaki itu.
Tanpa sadar, semua piring berisi lauk dan gelas pecah berserakan di lantai, Pak Affandy benar-benar terkejut dan marah hingga membanting apa yang ada di meja setelah Jasmine menangis ke kamarnya. Deru napas Pak Affandy tidak teratur, pikiran-pikiran aneh mulai menyergapnya. Tapi ia mengelakkan itu semua. Tidak, Jasmine gadis yang baik dan Mister Jose lelaki terhormat! Pekik Pak Affandy dalam hati. Namun, ia belum pernah melihat Jasmine sesedih itu dan seperti tersiksa. Sepertinya terjadi sesuatu yang disembunyikan.
Setelah beberapa malam ia pikirkan dan beberapa malam ia mendengar Jasmine menangis dengan serta merta mengunci pintu kamarnya, sekaligus tidak memiliki napsu makan dan minum, membuatnya harus menentukan sikap untuk kebaikan anak gadis tersayangnya itu.
Ya, keputusannya hanya satu, dia harus segera bertindak sebelum anak gadisnya itu melakukan ancamannya. Maka ketika jam makan siang usai beberapa waktu lalu, Pak Affandy memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kantor Jose, yang jaraknya lumayan jauh karena jalan menuju kesana sedikit melingkar.
“Apakah Mister Jose ada di tempat, Nona?” Pak Affandy memberanikan diri bertanya pada resepsionis yang sejak awal menawarkan senyum manisnya.
“Maaf, dengan Bapak siapa? Apakah sudah mengadakan janji dengan beliau?” resepsionis itu melontarkan pertanyaan dengan suara merdu dan ramah.
“Saya Pak Affandy dari Waskita Karya Group, Nona. Memang saya belum mengadakan janji dengan beliau, tapi kalau beliau berkenan bertemu dengan saya, saya akan bersedia menunggu.”
Wajah serius Pak Affandy membuat resepsionis tersebut menghubungi Jose yang ada di ruangannya, tepatnya lantai paling atas.
Beberapa percakapan terjadi antara resepsionis dengan Jose. Dari penjelasannya terdengar agak keberatan untuk menerima Pak Affandy masuk menemui bosnya, karena tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Namun, Jose bersedia menerima Pak Affandy meskipun tak ada janji sebelumnya.
Suasana ruang kerja di kantor Jose sangat tenang dan nyaman ketika tiba-tiba Roza melongok masuk dan mengatakan bahwa Pak Affandy sudah ada di depan pintunya. Tanpa berpikir macam-macam, Jose meminta Pak Affandy agar dipersilahkan masuk. Jose kembali berpikir, sepertinya tidak ada pekerjaan yang menyangkutpautkan Pak Affandy. Hubungan perusahaan mereka sudah beres seratus persen.
“Maaf, Pak Affandy. Ada yang bisa saya bantu?”
Pak Affandy menghela napasnya dengan berat.
“Sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya kurang berkenan, Sir. Ini menyangkut putri saya.”
Tubuh Jose seketika memanas. Tengkuknya merasa tidak enak dan ia seperti baru ingat bahwa Pak Affandy ayah Jasmine.
“Anak Anda Jasmine maksudnya?” Jose bertanya, karena dia masih juga belum menangkap, apa yang kira-kira akan menjadi bahan pembahasan mereka kali ini.
“Ya, Jasmine.”
Jose terdiam sejenak, menunggu bilamana Pak Affandy akan melanjutkan pernyataannya. “Ada apa dengan Jasmine, Pak Affandy?”
Muka Pak Affandy terlihat merah padam. “Saya tak tahu apa yang telah terjadi antara Anda dan putri saya, Sir. Karena Jasmine tak mengatakan alasan yang sebenarnya. Tapi yang pasti, dia meminta agar Anda menikahinya,” Pak Affandy berkata lirih namun tegas.
Dan kalimat Pak Affandy sukses membuat Jose terkejut sekaligus tak habis pikir, mengapa gadis itu bersikap aneh dan sedikit gila seperti ini.
“Maaf, Pak. Ada apa ini sebenarnya, sampai saya harus menikahi putri Anda?”
Terlihat sekali kali ini Pak Affandy menahan amarah yang nyaris meledak sekaligus rasa malu, kalau saja dia tak ingat bagaimana Jose sangat berperan aktif dalam perkembangan perusahaannya yang tergolong kecil jika dibanding dengan perusahaan Jose.
“Maaf, Sir. Saya sangat menghargai dan menghormati Anda. Jadi demi rasa hormat saya, saya meminta dengan baik-baik dengan merendahkan harga diri saya sebagai seorang ayah, agar Anda bersedia menikahi putri saya. Mengenai penyebabnya, silahkan anda terlusuri kembali.”
Jose tertawa miring kali ini. Kesabarannya nyaris diuji dengan hal konyol tak masuk akal seperti ini.
“Dan sebagai jawaban tegas, saya pastikan bahwa saya menolak permintaan Anda, Pak Affandy.” Kalimat tegas yang diucapkan dengan nada datar oleh Jose ini sontak membuat Pak Affandy merasa bahwa kedatangannya kali ini mengalami kegagalan. Tak terbayang olehnya bagaimana reaksi Jasmine nantinya.
Pak Affandy tanpa banyak bicara lagi, langsung berdiri dan meninggalkan kantor Jose tanpa permisi sama sekali. Harga dirinya benar-benar terinjak setelah dia sendiri yang merendahkannya, demi Jasmine.
Sementara Jose hanya tertawa, tergelak bahkan melihat kekonyolan yang dia lihat hari ini. Tapi kemudian tawanya terhenti mendadak ketika dia ingat peristiwa beberapa waktu yang lalu ...
Flashback ...
Malam itu, Jose telah mengantar Clara ke apartemennya, dan berlanjut pada mengantar Irina. Sementara Jasmine karena rumahnya paling jauh, maka diantar terakhir.
Jose tak mengacuhkan pandangan kesal Jasmine ketika dia menuruti ajakan Irina untuk turun saat sampai di rumah Irina. Dan hal yang bisa dipastikan adalah Irina selalu pandai memanfaatkan keadaan, karena menit berikutnya Jose larut dalam permainan transaksi bibir yang disuguhkan Irina.
Jose menggeram karena merasakan bahwa iblis dalam dirinya perlahan bangkit, menyisihkan akal sehat yang masih tersisa. Maka dia segera menyentak Irina untuk mengendalikan nafsu hitamnya. Bergegas, Jose meninggalkan Irina meski perempuan itu menahannya dengan setengah memaksa.
“Cukup, Irina. Ini sudah malam, dan aku harus mengantar Jasmine.”
“Tapi Jose ... kamu bisa kan, balik lagi ke sini?”
Jose terdiam.
“Maaf, Irina.” Hanya itu kalimat yang dikatakan Jose sebelum dia meninggalkan Irina yang terengah dengan nafsunya yang terputus tanpa pelampiasan. Perempuan itu kesal, sangat kesal malam ini.
Jose melangkah menuju mobil dengan sedikit tergesa dan langsung membuka pintu belakang mobil.
“Maaf. Bisa duduk di kursi depan?!” Jose meminta Jasmine pindah ke depan, dengan sedikit gemetar karena menahan desakan liar yang mulai bergerak di aliran darahnya.
Untungnya Jasmine hanya menatapnya sekilas penuh tanda tanya, tanpa membantah sama sekali kemudian berjalan ke jok depan. Duduk manis dengan Jose yang ikut menyusul di belakang kemudi, kemudian menjalankan mobil menuju rumah Jasmine.
Perjalanan mereka berlangsung bisu, setelah beberapa kata yang dilontarkan Jose tidak mendapat sambutan apapun. Sesekali Jose menatap ke arah Jasmine yang ekspresi wajahnya terlihat sangat tak sedap dipandang. Dalam hati, Jose yang dalam darahnya sudah dialiri nafsunya yang hitam, mengumpat karena entah mengapa dia begitu gerah menatap Jasmine yang hanya duduk manis di sampingnya. Dalam pandangan matanya, Jasmine bahkan mirip hidangan yang siap santap.
Jose menelan ludahnya yang bahkan semakin menyekat tenggorokannya. Suhu AC mobil yang bisa menggigilkan tubuh saat suasana normal, tapi kini tak memiliki efek apapun untuk tubuhnya yang semakin gerah.
“Jasmine...” Jose tak tahan untuk berdiam diri saja, yang hanya disahuti dengan pandangan sekilas Jasmine padanya. “Apakah Pak Affandy akan marah jika kamu pulang jam segini?”
Jasmine hanya menggeleng. Tiba-tiba ponsel Jasmine bergetar tanda telepon masuk. Terlihat Jasmine menerima dengan sopan.
“Hallo, Ayah?! Jasmine masih dijalan menuju pulang.”
“ ..... .....”
“Kok mendadak, Yah?”
“ ... ... ...”
“Okelah. Ayah hati-hati ya?”
“... ... ...”
“Oke, bye Ayah.”
Jasmine menutup telepon, tepat pada saat Jose menoleh ke arahnya. Ia menanyakan perihal telepon tadi.
“Pak Affandy?”
Jasmine mengangguk.
“Pergi kemana?”
“Katanya ke Surabaya. Mendadak.”
“Jadi aku harus mengantarmu ke mana? Bisa memberitahu nama jalannya?” Jose menoleh sekilas ke arah Jasmine.
“Jalan Bimasakti nomor lima puluh.”
Bisu. Pembicaraan mereka terhenti dengan sendirinya. Jasmine merasa matanya ingin mengatup sendiri, kelopak mata Jasmine terasa berat dan tubuhnya sungguh kelelahan. Tanpa sadar, ia pun terlelap.
Beberapa saat, mobil Jose telah memasuki halaman rumah Jasmine. Desahan lelah Jose saat sampai rumah Jasmine pun, tak terdengar oleh Jasmine. Hingga Jose melihat ke arah Jasmine. Matanya terpejam. Jose mengambil kesempatan, tiba-tiba ia tak bisa menahan diri lagi dan nekat melumat bibir Jasmine hingga Jasmine tersadar dari tidurnya.
Mata Jasmine sontak terbelalak, melihat dan merasakan apa yang dilakukan Jose padanya. Jasmine segera menjauh dari wajah Jose. Ia sadar bahwa napasnya terengah kala tertidur tadi, akibat bibir lelaki itu. Dengan cepat Jasmine membuka pintu mobil Jose, namun Jose menahannya dengan sebuah panggilan.
“Jasmine?!”
Jasmine menatap Jose sekilas. Sungguh, Jasmine ingin segera berlari masuk ke dalam rumahnya untuk menghindari tatapan mata Jose yang sayu namun tajam menusuk. Tapi gadis itu seperti terhipnotis. Tubuhnya seperti beku, kaku dan ia tak berkutik.
Bahkan ketika menit berikutnya Jose sudah meraihnya dengan sebuah ciuman lembut dengan bibir yang panas, Jasmine hanya bisa membelalakkan mata takjub sekaligus terkejut. Tapi Jasmine tak bisa menolak meskipun dia sangat ingin menolak. Akal sehatnya bahkan mengumpat karena tubuhnya demikian meleleh dengan debaran jantung yang berdentam-dentam melebihi kadar normal.
Napas Jasmine terengah diantara ciuman Jose yang semakin panas dan menuntut agar Jasmine membalas lumatannya yang rakus. Sementara Jose yang akal sehatnya telah terselubungi oleh kabut hitam bernama nafsu, entah mengapa menjadi sedikit marah ketika Jasmine seolah tak menganggap keberadaan Jose sama sekali.
Jose menggeram merasakan dirinya yang merasakan bahwa bibir jasmine demikian lembut dalam kepolosannya. Terasa manis karena Jose ingin menyecapnya lagi dan lagi.
Jasmine yang sekalipun tak pernah merasakan ciuman laki-laki itu hanya bisa terdiam tak membalas kerakusan bibir Jose yang di luar kendali. Jasmine hanya terdiam dengan tubuh panasnya yang gemetar luar biasa. Bahkan Jose semakin kurang ajar, ia mengecap jenjangnya leher Jasmine dengan sedikit paksaan, hingga mendapati harum tubuh Jasmine yang membuatnya tak bisa berhenti dan menjauh. Jasmine ingin sekali menjerit, namun ia tak tahu mengapa sulit sekali melakukan itu. Napas mereka beradu, sesekali Jasmine terdengar mendesah, seperti menikmati permainan bibir Jose.
Jasmine masih dalam rengkuhan tubuh Jose. Jose mulai merasa, Jasmine menikmati setiap sentuhannya. Hingga ia terkubur oleh nafsu hitam yang selalu siap mengancam kewarasan laki-laki itu. Benar saja, seketika Jose dengan sedikit kasar dia menggigit leher Jasmine membuat gadis itu menjerit. Dan bagai tersadar dari lingkaran arus hitam mengerikan, Jasmine berontak dan melepaskan diri dari cengkeraman Jose.
Keduanya terengah dan saling pandang. Kemudian dengan muka merah padam menahan malu dan marah, Jasmine bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari ke dalam rumah.
Sementara Jose yang masih terpaku, hampir tak percaya dengan apa yang dia lakukan sendiri tadi. Karena jujur saja, Jose bahkan tak merencanakan sama sekali apa yang dia lakukan barusan.
Jose menggeram, karena sejujurnya, dia belum puas merasakan kelembutan yang bercampur rasa manis yang menguar dari tubuh Jasmine. Segera dia menyalakan mesin mobilnya dan melaju pelan untuk kemudian semakin cepat meninggalkan rumah Jasmine. Jose bertekad harus menjauhi Jasmine, apapun alasannya. Dia tak ingin terperosok dalam pesona gadis muda itu. Karena semakin dekat dengan Jasmine, semuanya akan menjadi lebih buruk dari sekarang.
Jose tak mau itu terjadi. Dia tak akan menyeret siapapun untuk memasuki dunianya yang gelap dan mengerikan untuk sebagian perempuan. Meski nyatanya ada beberapa perempuan yang bahkan dengan senang hati menyodorkan diri memasuki dunia Jose.
Tapi Jose tak ingin perempuan itu Jasmine. Tidak! Jangan Jasmine. Jose menggeleng kuat. Sekuat tekadnya.
Flashback off ...
* * * * *
Sore ini Jasmine menunggu kedatangan Pak Affandy dengan harap-harap cemas. Karena tadi pagi, Pak Affandy berjanji akan datang menemui Jose dan meminta agar laki-laki itu bersedia menikahinya. Meski Jasmine tak mengatakan apapun alasannya, tapi Pak Affandy terlanjur berpikir buruk mengenai tekad konyol Jasmine kali ini.
Dengan sedikit cemas, gadis itu berkali-kali melihat ke arah halaman yang sore ini dibasahi oleh gerimis. Hatinya pun semakin tak menentu ketika dia mendengar deru mobil yang berhenti di garasi samping rumah. Jasmine berlari kecil menyambut kedatangan ayahnya. Jelas dari pelupuk matanya, kemurungan menghiasi wajah Pak Affandy. Ingin sekali Jasmine menangis saat itu juga, karena tanda di wajah ayahnya membuat ia menebak-nebak jawaban apa yang ayahnya dapati dari Jose.
Jasmine duduk bersender di bangku halaman. Sekilas ia mengingat sikapnya yang tiba-tiba saja menggila. Meminta untuk dinikahi oleh partner kerja ayahnya? Iya itu benar-benar gila! Namun, mengingat apa yang telah dilakukan oleh Jose padanya, sudah seharusnya Jose mempertanggungjawabkan hal itu padanya, dan ayahnya.
“Ayah, bagaimana? Apa jawabannya?” Jasmine langsung menyerbu ayahnya dengan senyum ceria yang tak dapat dia tutupi, meski feelingnya mengatakan bahwa Pak Affandy gagal.
Sembari menggeleng, Pak Affandy kini menatap Jasmine dengan pandangan menyesal karena telah mengecewakan gadis itu.
Jasmine hanya menatap ayahnya dengan pandangan mata kecewa dan di mata yang biasanya memancarkan binar ceria yang demikian cemerlang, kini mengambang air tipis yang siap meluncur jatuh. Dengan rasa kecewa yang demikian besar, gadis itu berlari ke kamarnya, membanting pintunya dan menumpahkan tangisnya di sana.
“Jasmine!” Teriakan Pak Affandy bahkan tak membuat Jasmine berhenti.
Dengan bergegas, Pak Affandy menyusul Jasmine ke kamarnya. Langkah Pak Affandy yang lebar itu bahkan dibawanya setengah berlari hanya untuk melihat bahwa gadis itu menangis tersedu di sana. Dengan langkah pelan, Pak Affandy melangkah mendekati Jasmine dengan perasaan hancur lebur, seakan merasakan bagaimana hancurnya hati Jasmine.
“Jasmine, Ayah tak tahu apa yang menjadi penyebab sehingga kamu nekad menyuruh ayah untuk memintanya jadi suamimu,” Pak Affandy terdiam sesaat. Sementara isak Jasmine masih terdengar miris, mengiris d**a Pak Affandy hingga berdarah-darah.
Jasmine tak juga menjawab.
“Jadi kamu tetap tak mau menjawab, kenapa nekat meminta Mister Jose untuk menikahimu?”
Jasmine menggeleng.
“Kalau begitu, mulai sekarang... lupakan Mister Jose. Toh sejak awal Ayah sudah bilang kan, beliau orang kaya. Apalagi usia kalian sangat jauh perbedaannya...”
Tangis Jasmine terhenti seketika. Ia berusaha mengatur napasnya dan memandang wajah sang ayah.
“Bagaimana kalau Jasmine mencintai Mister Jose, Yah? Apakah Ayah masih juga bertanya, kenapa Jasmine ingin menjadi istrinya?” akhirnya Jasmine menemukan alasan paling masuk akal. Jawaban yang setidaknya tidak membuat ayahnya murka.
Pak Affandy terkejut.
“Jasmine? Kamu tahu apa yang kau katakan, Nak? Bagaimana mungkin kamu mencintai laki-laki yang bahkan baru kamu temui hanya beberapa kali?”
Jasmine terdiam, kembali terisak.
Jasmine kemudian malah menggeleng sambil menunduk. “Jasmine tak tahu, yang pasti Jasmine merasa bahwa Jasmine mencintainya.”
Saat itu juga runtuhlah sudah amarah Pak Affandy mendengar anak gadis satu-satunya itu, mengatakan bahwa dia mencintai Mister Jose, rekan kerja yang selalu merangkulnya dalam berbisnis. Meski kerjasama mereka selama ini berjalan baik dan saling menguntungkan, tapi jujur saja Pak Affandy tak terlalu mengerti dan memahami siapa dan bagaimana Jose. Pak Affandy hanya tahu bahwa Mister Jose adalah laki-laki dengan performa sempurna. Anugerah ragawi yang nyaris tanpa cela, ditambah kepiawaian dan insting bisnis yang tajam.
Selain dari itu, Pak Affandy benar-benar tak tahu tentang Mister Jose. Dan sekarang anak gadisnya mengatakan bahwa dia mencintai Mister Jose? Sungguh, Pak Affandy bertanya pada dirinya sendiri, apa gerangan yang telah terjadi diantara mereka. Meskipun beliau tahu bahwa beliau tak akan mendapatkan jawaban apapun dari mulut Jasmine.
Pak Affandy menghela napas berat, kemudian berdiri dan memandang Jasmine sesaat. Menunduk untuk mengusap kepala Jasmine dengan lembut. Pak Affandy menyesal tak bisa memberikan yang apa yang Jasmine inginkan, padahal selama ini apapun yang Jasmine inginkan pasti dapat beliau penuhi.
“Maafkan Ayah, Jasmine.” Pak Affandy lalu berjalan keluar dari kamar Jasmine, meninggalkan gadis kesayangannya itu kembali menangis. Hati Pak Affandy seperti dipenuhi gerimis. Sesak dan dingin. Tanpa sadar, Pak Affandy pun menangis tanpa sepengetahuan Jasmine. Ia merasa, tidak bisa membahagiakan Jasmine. Tidak mampu membuat anak gadisnya merasa berbahagia.
Hari ini, senja meratapi mereka. Ada dua hati yang terluka. Dan gerimis pun benar-benar menjelma menjadi hujan yang membasahi hati mereka, hingga di penghujung malam.
* * * * *
Siang ini cuaca sedikit mendung. Pemandangan kota yang terlihat dari ruangan Jose yang terletak di lantai sepuluh seperti berada dalam lingkaran kabut. Tapi tiba-tiba konsentrasi Jose terusik ketika pintu ruangannya terbuka dengan paksa, dan memunculkan seorang gadis yang membuat saraf Jose tiba-tiba membeku, disusul oleh Roza, sekretarisnya yang kelihatan menyesal karena tak bisa mencegah si tamu masuk.
Gadis itu, Jasmine. Perempuan muda yang berhasil menyita sedikit kewarasan yang tersisa di benak Jose.
“Maaf, Pak. Seharusnya saya bisa mencegahnya,” Roza berkata sedikit khawatir bossnya akan marah seperti biasanya.
Jose yang sudah bisa menguasai keadaan hanya mengangguk dan mengisyaratkan Roza untuk keluar dari ruangannya. Perempuan itu mengangguk mengerti dan segera undur diri setelah melempar lirikan penuh tanya ke arah Jasmine yang masih tetap dengan ekspresinya yang penuh emosi.
Jose berdiri dari duduknya setelah Roza keluar dan pintu tertutup dengan sempurna.
“Hello, Jasmine? Apa kabar, hm?” Jose menyapa gadis itu dengan tatapan mata yang intens, membuat Jasmine bersemu merah dengan debaran yang mulai merayap, menjalari jantungnya.
“Baik. Dan maaf, saya tidak butuh basa-basi apapun dari anda, Mister Jose.”
Jose tersenyum kecil, merasa lucu dengan gadis yang satu ini. “Okeee... jadi apa yang membuatmu tiba-tiba datang menemuiku, hmm? Kamu ... merindukanku?” Jose bertanya spontan dengan suara yang dibuat lembut. Tapi alih-alih bersikap lembut, Jose malah merasa bahwa suaranya menjadi serak seakan menahan nafsu yang menggeliat lirih di dalam jiwanya.
Diam-diam Jose mengumpat.
“Mengulang kedatangan Ayah saya kemarin, saya minta anda menikahi saya!” Jasmine berkata dengan tegas, meski terdapat getaran lembut yang menandakan bahwa dia menahan emosinya.
Jose menatap Jasmine penuh selidik, kemudian tersenyum geli melihat niat Jasmine.
“Bagaimana kalau aku tak mau?” Jose berusaha tidak terpancing oleh luapan amarah Jasmine.
“Saya tidak mau tahu! Pokoknya anda harus menikahi saya. Karena anda... karena anda yang menodai bibir saya!” kata gadis itu dengan nada berapi-api, sementara mukanya merah padam menahan malu.
Jose melotot padahal dalam hati dia ingin tertawa terbahak-bahak dengan ungkapan polos Jasmine.
“Kamu bilang menodai bibirmu? Ayolah, Manis... ini jaman modern dan soal ciuman... kurasa bukan hal aneh yang harus dipertanggungjawabkan?” Jose berkata dengan nada mengejek yang membuat Jasmine terhina. Muka gadis itu merah padam karenanya.
“Tapi anda sudah mencurinya dari saya!” Jasmine meradang. Pandangan matanya mulai berkaca-kaca. Pengalaman malam itu bersama Jose kembali terulang di ingatannya.
Jose tergelak.
“Tunggu dulu! Kamu memintaku menikahimu hanya karena ciuman pertamamu yang aku curi? Atau karena ada sebab lain?” Jose bertanya penuh ejekan.
Jasmine melotot. “Apa maksud anda dengan maksud lain?” Jasmine bertanya dengan nada tinggi, tapi Jose malah menjawabnya dengan senyum sinis.
“Yaaa... untuk jaman sekarang, tak satupun gadis yang menawarkan diri dengan cuma-cuma. Atau memang kamu menginginkan sesuatu hingga bertindak impulsif seperti ini?” Jose bertanya dengan nada menyelidik, menatap Jasmine lekat. Sementara bathinnya sedang meredam debaran jantungnya yang berdentam.
‘Sial,’ Jose merutuk dalam hati.
“Saya hanya ingin anda menikahi saya! TITIK!” Jasmine makin meradang.
“Dan aku tak akan menikahi kamu dengan alasan apapun, apalagi dengan alasan bodoh seperti apa yang kamu ungkapkan. Hanya karena sebuah ciuman yang aku yakin, kamu juga menikmatinya,” Jose menjawab panjang dengan suara tegas dan pandangan mata mencemooh serta senyum yang sinis.n Jasmine menggeram.
“Dasar laki-laki b******k! Saya pastikan bahwa anda akan menikah dengan saya, apapun caranya!” gadis itu menyumpah dengan wajah marah dan bergegas meninggalkan Jose yang masih tertawa geli setengah mati.
‘Benar-benar gadis yang lucu dan aneh,’ Jose membathin.
Jasmine membawa langkahnya keluar dari ruangan Jose setelah membanting pintu ruangan Jose, membuat Roza yang sedari tadi mencoba menguping, terhentak kaget begitu Jasmine keluar.
Jasmine tak menghiraukan tatapan penuh rasa ingin tahu yang terpancar jelas dari raut Roza. Dia berlari kecil namun tergesa untuk menggapai pintu lift, masuk kedalamnya untuk menumpahkan air mata yang sedari tadi ingin meluap keluar. Beruntung tak seorang pun berada di dalam lift, hingga Jasmine tak harus menutupi tangisnya yang memalukan.
Sementara Jose, tertawa aneh, sebelum akhirnya menghentikan tawanya sendiri dengan paksa. Masih berpikir, apa yang membuat Jasmine begitu nekat minta dinikahinya.
‘Benar-benar gadis yang aneh.’ Jose bergumam, masih tak habis pikir dengan tingkah Jasmine. Meski dalam hati Jose mengakui, tak mudah mengalihkan diri dari rasa manis yang pernah dia sesap dari bibir Jasmine.
Rasa manis yang terpadu sempurna dalam kelembutan bibir Jasmine yang menggoda. “Jasmine... Jasmine...” Jose bergumam lirih sambil tersenyum dan menggeleng geli.
* * * * *