GEJOLAK HATI YANG TERSEMBUNYI

2551 Words
Lampu-lampu berbias menyorot mobil Jose yang melaju. Sudah hampir pukul dua belas malam, mereka berdua masih sama-sama terjaga. Perasaan aneh menghampiri Jasmine. Sesuatu kehampaan yang timbul-tenggelam. Tidak hanya itu, ia mulai merasa tidak nyaman dengan hembusan napas Jose, padahal ia tahu lelaki ini hanya menyetir dari tadi. Entahlah, ada perasaan tak tenang mengganjal di dalam hati Jasmine. Semua ketidaknyamanan yang ia rasa, membuatnya sesekali melirik Jose yang  berada tepat di sampingnya. “Ada apa? Ngantuk?” Jose membuka pembicaraan terlebih dahulu, mencairkan kebekuan suasana antara mereka dan seperti ia tahu bahwa sedaritadi gadis muda ini memperhatikannya diam-diam. Dan sejujurnya, Jose mulai sulit menahan panggilan dalam dirinya yang meminta untuk dipuaskan. Jose menghembuskan napas lagi dan lagi, ia berusaha mengalihkan pikiran dan hatinya. Pertanyaan Jose tidak ditanggapi Jasmine. Jasmine merasa tidak perlu menjawabnya. Ia tergugu, menyadari di malam ini Tuhan menempatkannya berdua dengan lelaki yang belakangan ini mengganggu pikirannya. Ya, dibalik diamnya ia sangat ingin menoleh ke arah Jose, tidak sekedar melirik, namun otot-otot leher Jasmine, seakan dibekukan waktu. “Apakah Pak Affandy akan marah jika kamu pulang selarut ini?” tanya Jose pelan. Namun, Jasmine tidak membalas lagi ucapan Jose, ia hanya menggelengkan kepalanya. Beberapa saat setelah itu, Jasmine terlihat menerima telepon dan berbicara dengan seseorang. Dan Jose menelaah wajah gadis itu lagi dan lagi. Hal itu, membuat jari-jemari Jose menggenggam erat stir mobilnya yang melaju sedikit cepat dan Jasmine belum tahu, bahwa Jose mulai merasa sulit menahan apa yang ia rasakan.     “Akhirnya sudah sampai...” ucap Jose melega. Tatapan matanya masih tertuju lurus, pada suasana sekeliling rumah Jasmine yang terlihat sepi. Gadis itu tampaknya benar-benar membisu, hingga Jose memalingkan wajah ke arah gadis di sampingnya. Jasmine terlihat tertidur. Harum tubuh Jasmine menelusuk penciuman Jose. Ia mulai kehilangan akal. Malam menjadi amat tegang. Debaran jantung Jose kini tak sendiri, melainkan bersatu dengan detak jantung gadis seumur adiknya itu.   * * * * *   Napas Jasmine yang tadi tak beraturan karena gejolak perasaan antara rasa marah, rasa aneh, dan juga  debaran yang entah karena apa, kini mereda. Namun dia  masih saja berada di sini, di depan cermin rias di  kamarnya. Menatap wajahnya sendiri, termangu, bahkan kemudian bersemu merah ketika tangannya tanpa sengaja meraba bibirnya yang kini terasa tebal karena isapan kuat dan rakus bibir Jose. Isapan rakus bibir Jose? Oke, Jasmine memang sedang merasakan marah yang luar biasa ketika tadi tanpa terduga, Jose meraihnya kemudian mencium dengan demikian intens, kuat, dan rakus. Tapi entah mengapa Jasmine bahkan tak bisa menolak kelakuan bar-bar Jose kali ini. Gadis itu seperti larut dalam petualangan baru yang tak pernah dia lalui sebelumnya. Kuluman lembut dan hangat yang semakin merakus, membuat Jasmine bahkan tersengal mencari napasnya sendiri. Namun laki-laki itu tak memberi Jasmine kesempatan, meskipun sekedar untuk mengambil napas. Lalu Jose kemudian kehilangan kendali, ketika rasa manis semakin menguar dari kelembutan kulit Jasmine. Dan  ini lebih dari sekedar nikmat untuk Jose. Pekikan Jasmine pun terdengar, ketika Jose tak bisa mengendalikan diri dan bahkan menggigit leher Jasmine, hingga meninggalkan bekas ruam merah yang sangat mencolok di kulit Jasmine yang putih bening. Tanpa sadar jari Jasmine menelusuri pusat rasa sakit yang tadi membuatnya menjerit. Dan Jasmine tentu saja terkejut ketika di sana, di sisi lehernya, dia menemukan ruam merah bekas gigitan Jose tadi. Jasmine mencoba menggosoknya untuk sekedar menghilangkan bekasnya. Tapi tentu saja dia tak berhasil. Gadis itu merengut. Apalagi ketika teringat bagaimana tadi Jose telah mencium Irina sebelumnya. Kemudian dengan tak tahu sopan laki-laki itu kemudian menciumnya juga. Jasmine geram. Ada perasaan tak suka ketika Jasmine mengingat Irina. Perasaan konyol yang menggelikan yang tak sepantasnya Jasmine rasakan, sebenarnya. Dengan perasaan tak jelas, Jasmine beranjak ke ranjang untuk tidur. Dia pikir, dengan tidur maka esok hari dia akan bisa bangun dengan suasana perasaan yang sudah berubah. Dia ingin segera melupakan kejadian yang baru saja dia alami malam ini. Tapi nyatanya, hingga jam menunjukkan pukul  dua dini hari, Jasmine tak juga bisa memejamkan matanya. Bayangan Jose ketika mereka pertama bertemu kini kembali membayang di matanya. Juga Jose yang penuh kharisma sedang memberi sambutan, Jose yang tadi mengantar Irina dengan adegan panasnya yang memuakkan, juga yang terakhir adalah Jose yang dengan demikian gahar merenggut bibirnya dalam lumatan lembut yang menuntut dan penuh gelora. Napas Jasmine terengah meski hanya mengingat bagaimana laki-laki itu demikian mahir memainkan bibirnya. Yang diikuti dengan tangannya yang seolah tahu apa yang harus dilakukan, dan ... ya ampuuunnn, gigitan Jose yang kembali membayang dalam benak Jasmine membuat gadis itu mengerang kecil, tanpa sengaja. Ketika menyadari bahwa dia sedang sendirian di kamar, Jasmine tersenyum malu sendiri. Apakah ini ekspresi kasmaran? Jasmine tak tahu. Yang dia tahu, dia tak bisa mengenyahkan bayangan Jose. Sangat tak bisa, karena itu bukan hal yang mudah. Jasmine meraih guling di dekatnya, memeluk erat seperti tubuhnya yang ingin merasakan pelukan Jose. Ia meraba bibirnya berkali-kali, pandangan Jasmine menyapu langit-langit kamarnya hingga sebuah percakapannya dengan Clara tadi siang terngiang di kepalanya. “Jas, siapa yang pertama mencium bibirmu?” “Belum ada. Memangnya kenapa? Dan mengapa harus?” “Nggak harus sih, hanya untuk membuktian bahwa kita menyayangi seseorang. Dan aku membiarkan dia mencium bibirku.” “Dia? Maksudmu?” “Bagas. Dia pacar aku.” Jasmine menggeleng mendengar Clara mengakui perbuatannya dengan pacar barunya. “My first kiss just for my husband, Cla.. Aku akan merasa bersalah jika seseorang mendapati bibirku, saat dia belum menikahiku!” Seketika, air mata Jasmine menetes. Jika Clara tahu kakaknya menciumku? Bukan-bukan sekedar berciuman biasa... ah tidak Clara tidak boleh tahu! Tekadnya dalam hati. Jasmine tersadar, kenikmatan yang ia rasakan malam ini bukan sebuah kebahagiaan nyata. Dan dalam hati Jasmine membatin – memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sebab, satu hal yang hatinya tahu ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan lelaki itu. Lelaki yang telah mencuri ciuman pertamanya. Di sisi kota yang lain, Jose bahkan merasa seperti orang gila karena tak menyangka bahwa dia bisa kehilangan kendali hanya karena seorang gadis muda seperti Jasmine. Bagaimana tidak sinting, Jose yang biasanya selalu memiliki selera yang aneh, malam ini seolah terseret pesona seorang Jasmine. Gadis belia yang baru saja lulus SMA yang ternyata juga teman sekolah adiknya. Sejak pertemuan pertama mereka di rest room, Jose sebisa mungkin mencoba mengabaikan pesona Jasmine yang mengancam kewarasannya. “Ggggrrrrhhhh...!” Jose menggeram marah pada dirinya sendiri karena dia juga tak mampu mengenyahkan bayangan Jasmine yang hanya melongo tak membalas kerakusan bibirnya. Jose mungkin tak menduga bahwa Jasmine memang bodoh untuk hal yang satu ini, sampai tadi, ketika Jose tanpa kendali meraup bibir Jasmine dengan rakus, sementara gadis itu hanya diam, tak membalas lumatannya. Ketika Jose merasakan ada gerakan masif dan semakin tak terkendali dalam dirinya, dia segera meraih ponselnya dan mencari nomor di dalamnya. Dan akhirnya dia menemukan, laki-laki itu segera mengatakan sesuatu. “Halo, Cath? Kita bisa pesta malam ini?” “Jose? Selarut ini?” “Aku hanya ingin jawaban ya atau tidak!” Terdengar suara terkikik di seberang. “Oke, Jose. Aku segera datang.” Klik! Laki-laki gagah namun seksi itu lantas mematikan sambungan handphonenya untuk kemudian melemparnya ke atas ranjang. Bergegas dengan langkah tegap keluar dari kamarnya dan berjalan menuju sebuah ruangan di ujung lorong rumahnya yang bernuansa kolonial, pikirannya dipenuhi berbagai fantasi liar yang sepertinya akan menggilas akal sehatnya. Kamar dengan pintu warna putih itu segera dia  buka setelah memutar anak kuncinya. Tangannya segera meraih tombol lampu dan menghidupkannya. Bukan suasana dengan terang benderang yang kini terpampang di depan matanya, melainkan kamar dengan desain hitam. Bahkan lampunya juga temaram. Jose melangkah menuju ke sebuah palang berbentuk huruf  X yang terbuat dari kayu. Kayu itu demikian kokoh dengan lapisan busa di atasnya, yang membuat sedikit empuk seperti sofa. Jose mendekatinya, meraba dengan perlahan ketika tiba-tiba nampak olehnya Jasmine yang seolah-olah tersenyum dengan keadaan full naked terikat di sana. Sungguh, dalam pandangan Jose, Jasmine sedang tersenyum dengan pandangan sendu ke arahnya. Seperti menawarkan permainan yang sangat diinginkan Jose malam ini. Jose mengerjap untuk mengusir bayangan Jasmine. Tapi lagi-lagi bayangan Jasmine yang tersenyum mengundang, tak juga enyah dari matanya. Hingga Jose mengerjapkan matanya, kembali. “Jasmine...,” Jose bergumam lirih nyaris seperti orang gila karena nyatanya dia bicara sendiri. Tangan laki-laki itu terulur seolah hendak meraih dagu Jasmine ketika sebuah ketukan terdengar jelas di pintu. Kesal, Jose menoleh ke arah sumber suara. “Cath? Kaukah itu?” suara Jose terdengar menggema di kesunyian malam dan ruang yang begitu luas. “Ya. Ini aku.” Jose lantas kembali menoleh ke arah silang X. Dan dia mengeluh kecewa karena Jasmine memang tak ada di sana. Kecewa? Laki-laki itu tersenyum sinis, menertawakan diri sendiri yang terlihat t***l malam ini. “Masuklah!” Lalu terdengar pintu yang terbuka dan Jose bahkan nyaris bisa menduga bagaimana penampilan Cath malam ini. Ya, perempuan cantik ini selalu hadir dengan tampilan make up yang sedikit menor. Tapi Jose bahkan tak peduli sama sekali dengan segala bentuk kemenoran Catherine. Karena yang dia butuhkan dari seorang Cath hanyalah bentuk penerimaan Cath atas keberadaan Jose sebagai seorang master. Ya, mereka rekan dalam penyimpangan seksual. “Apakah kita akan menggunakan palang ini lagi?” Cath bertanya ketika dilihatnya Jose memegang palang X itu. “Ya. Aku mau yang ini.” Jose menjawab dengan nada datar dan terdengar garing, membuat Cath mengerutkan keningnya penuh tanya. “Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?” Jose menatap Cath dengan jengah. “Aku hanya ingin kita bermain peran, bukan wawancara.” jawaban Jose yang datar namun tegas, kali ini mampu membungkam pertanyaan tak penting Catherine. “Oke,” perempuan itu mengangguk kemudian segera melucuti pakaiannya sendiri. Sementara Jose hanya memandangnya dengan tatapan kosong, seolah memang ada yang mengganggu pikirannya. Setelah benar-benar naked, Cath menghampiri Jose. Menyapa laki-laki yang masih berpakaian lengkap itu dengan sentuhan ringan di dadanya, yang biasanya akan membuat Jose memejamkan mata, seolah menahan gerakan masif yang menggeliat dalam dirinya. Tapi tidak untuk kali ini, karena Jose menepis tangan Cath dengan kasar. “Jose?” Cath terkejut dengan reaksi Jose. “Mainkan saja peranmu, Cath. Jangan berlebihan.” Jose berkata dengan nada rendah namun tegas. Cath hanya mengangguk, kemudian mundur. Jose dengan langkah santai lantas bergerak menuju ke arah dimana Cath sudah ready dengan perannya, kemudian mengelilingi perempuan itu. Lalu tanpa menunggu komando, Cath menempatkan dirinya pada palang kayu tersebut. Sementara Jose mendekat dan berbisik pelan. “Apakah kamu tak ingin bertanya mengapa aku memanggilmu malam-malam begini?” Cath menggeleng. Napasnya memburu oleh nafsunya yang mulai bangkit. “Bagus, karena memang seharusnya kamu tak mempertanyakan apapun yang aku lakukan.” Kemudian Jose mengangkat tangan Cath untuk kemudian mengikatnya dengan sebuah peralatan mirip borgol, namun lekat di palang tersebut. Dari satu tangan kemudian menyusul ke tangan berikutnya. Setelah kedua tangan Cath terikat, Jose kemudian menjongkok untuk mengikat kedua kaki Cath, Dan sempurnalah kini posisi Cath, centang perenang pada palang X. Jose beranjak meninggalkan Cath untuk mengambil sebuah ball gag dan seutas kain penutup mata yang berada di sebuah lemari di sudut ruangan. Mengeluarkannya kemudian dengan sigap memasangkannya pada mulut Cath. Juga matanya. “Aku ingin sesuatu yang berbeda malam ini, Cath.” Jose berbisik dengan napas memburu di dekat telinga Cath, membuat perempuan itu bergidik ngeri demi mendengar suara Jose yang serak dan dingin. Dan perempuan itu hanya mengangguk, karena hanya itu yang boleh dia lakukan selama bermain peran dengan Jose. Sekian lama menjadi partner seksual Jose, Cath sangat paham apa yang diinginkan laki-laki itu. “Good!” Jose lalu berjalan meninggalkan Cath yang sudah centang perenang. Dia melangkah menuju ke sebuah meja bar mini yang ada di sisi ruangan yang lain. Mengambil sebotol minuman favorit miliknya, kemudian dituangkannya dengan anggun ke sebuah gelas cantik yang selalu tersedia di sana. Suara gemericik lirih minuman yang tertuang itu sampai ke telinga Cath, membuat perempuan itu bisa membayangkan bagaimana gesture Jose saat ini. Cath menyunggingkan senyumnya dengan susah payah karena ball gag yang menyumbat mulutnya itu. Sungguh, Cath bisa membayangkan bagaimana seksi dan menariknya Jose jika laki-laki itu sedang menuang minuman kemudian menenggaknya hingga kandas. Cath suka dengan gesture Jose yang ini, sangat suka bahkan. Tapi Cath tahu diri, dia tak bisa lebih dari sekarang. Maka menjadi pasangan tak waras Jose sepertinya cukup untuk saat ini. Entah esok hari. “Apa yang kau pikirkan, Cath?” suara Jose tiba-tiba terdengar begitu dekat di telinga Cath, membuat lamunan perempuan itu buyar berantakan. Namun Cath hanya menggeleng, tak bisa menjawab. Sekali lagi karena ball gag di mulutnya tersebut. Jose tersenyum tipis ketika salah satu jarinya meraba sisi wajah Cath, bergerak lirih hingga turun sampai ke tulang selangkanya, membuat Cath mendongakkan kepalanya. Membuka akses seluasnya untuk Jose. Lalu Jose menekan sebuah tombol yang terletak di sisi palang X, membuat palang itu perlahan rebah. Menampilkan tubuh Cath yang terlihat nyaris seperti wanita persembahan. Ya, Cath memang perempuan  persembahan. Persembahan untuk Jose dan sisi gelapnya yang begitu jauh dan seolah – olah tak bisa terselami oleh siapapun. Kemudian sebuah rumbai lembut Jose sapukan ke permukaan kulit Cath, membuat perempuan itu menggeliat antara geli dan nafsunya yang mulai terusik. Perempuan itu terdengar mengerang seksi dan merangsang. Namun secepat kilat, Jose melecutkan rumbai tersebut ke paha Cath yang terpampang mulus, meninggalkan ruam merah dan Cath seketika terpekik. Tangannya terlihat mencengkeram dengan suara menggeram menahan rasa panas yang menyambar pahanya. Belum lagi Cath terbebas dari rasa panas yang semula masih menjalar perih, lecutan kedua diterimanya tepat di lengan tangannya sebelah kiri. Cath kembali terpekik tertahan. Kemudian lecutan itu terasa kembali, membuat Cath menggeliat kuat. Dan dari sinilah sisi liar Jose perlahan  menggeliat bangkit. Ketidakberdayaan Cath dan rasa tersiksa yang terekam oleh matanya, membuat mata Jose merah menyala. Membuat Jose merasa bahwa dia harus melampiaskan sesuatu, bukan hanya sebuah pelampiasan seks belaka, namun sebuah kepuasan yang hanya dia sendiri yang bisa menikmatinya. Bibir Jose menjelajahi setiap inci tubuh Cath yang tak berbalut sehelai kain pun saat ini. Cath terlihat pasrah, apapun keinginan Jose atas dirinya. Dengan tatapan tajam dan pikirannya yang masih digantungi wajah Jasmine, Jose menyusupkan diri dengan kasar pada tubuh Cath yang masih menggelepar dan menggeliat menahan rasa panas akibat amukan rumbai yang meski lembut, tapi tetap meninggalkan rasa panas di kulit tubuhnya. Tangan Jose yang kuat dan kekar bahkan sesekali menahan tubuh Cath agar tak terlonjak oleh hentakan birahinya yang tak berirama namun semakin memanas. Cath melenguh tertahan ketika merasakan bahwa Jose semakin liar dengan irama hentakannya. Namun sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Cath ketika tanpa sengaja dia melenguh menikmati rasa apapun itu, yang disuguhkan Jose untuknya. Karena Jose sungguh tak mau seorang perempuan pun menikmati dirinya. Tidak! Hanya dirinya yang boleh menikmati. Dan Jose akan mengenakan sanksi yang telah mereka sepakati seperti biasa, jika pasangannya melenguh menandakan kenikmatan, maka Jose berhak memberi sanksi. Karena slave tak punya hak untuk menikmati, haknya hanya dinikmati. Tidak lebih. Dan seperti malam-malam lainnya, malam ini Cath adalah slave untuk Jose. Jose menggeram dalam gumaman tak jelas. Namun telinga Cath masih cukup tajam untuk mendengar  bahwa Jose menyebutkan nama seorang wanita. Bukan hanya sekali Jose menggumamkan nama itu, tapi setiap kali Jose menghentak kasar, nama perempuan itu terlontar jelas dari bibir Jose. Awalnya Cath masih ragu, benarkah dalam setiap hentakan itu Jose menyebut nama seseorang ? Namun Cath masih yakin bahwa telinganya masih sangat sehat, untuk sekedar mendengar gumaman kecil penuh perasaan geram yang keluar dari bibir seksi Jose. Hingga pada hentakan terakhir ketika akhirnya Jose menemukan pelepasannya, laki-laki itu menghunjam demikian dalam, membuat Cath seolah dihempaskan dalam dunia awang-awang. Melahirkan teriakan satu nama perempuan yang terasa asing di telinga Cath. “HHHHHAAHH... JASMINE!!!     * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD