”Aw! Shh! Sakit, Nya!” ngaduh Vero kesakitan. Rasa takut dan malu bercampur aduk menjadi satu.
”Coba lo ulangi lagi ucapan lo!” kata Frenya dengan santai, tangan cewek itu tidak berhenti menarik surai panjang milik Vero. Siswa yang sedang mengadu kesakitan itu sama sekali tidak menjawab melainkan hanya terisak sampai sesenggukan di hadapan banyak orang, hingga murid dan guru pun menjadi iba padanya dan memandang Frenya tak suka.
Kalau kalian bertanya-tanya kenapa guru-guru tidak melerai mereka, maka jawabannya sangat simple. Karena pemilik sekolah sendirilah yang berkata pada mereka jika Frenya hanya boleh di tangani oleh osis, tidak boleh ada campur tangan guru di sana. Guru guru bahkan murid yang sudah menerima berita itu mengira Frenya dan ayah Daniel masih satu darah dan Frenya memanfaatkan hubungan itu untuk sebuah keonaran. Sehingga Frenya dapat berbuat semaunya di sekolah ini. Maka dari itu, Frenya sangat tidak di sukai oleh guru-guru, bahkan banyak anak murid di sma Kristal pun banyak yang tidak menyukainya.
Rasanya berang sekali, guru-guru selalu membandingkan Daniel dengan Frenya. Anak pemilik sekolah saja tidak pernah berbuat ulah di sekolah, justru membanggakan sekolah, namun yang bukan anak kandungnya malah membuat keonaran yang terkadang membuat guru-guru sampai geleng-geleng kepala. Tidak sedikit juga yang membanding-bandingkan Frenya dengan osis angkatan cewek itu. Padahal jika prestasi Frenya lebih unggul dari pada sang ketua osis baru, namun dia selalu di nomor terakhirkan oleh guru-guru.
”Lo gak punya mulut?” Lagi Vero hanya menangis.
Frenya berdecih. Dia hanya menarik pelan rambut cewek ini. Kenapa cewek ini sampai sesenggukan. Berlebihan sekali. Dia ingin adu drama di sini? Baiklah jika cewek ini ingin Frenya menarik kuat rambutnya, bilang saja. Maka dengan senang hati Frenya mengabulkan. Baru saja ia akan mengecangkan jambakkan itu, suara tegas dan berat seseorang berhasil mengurungkan niatnya.
”Frenya! Lepas!” Perintah Daniel dengan suara dominannya. Frenya menatap lama cowok itu, sebelum melepaskan jambakannya.
“Ikut gue, sekarang!” Tekan Daniel dengan suara dingin dan dalam yang membuat Frenya tidak bisa membantahnya. Cewek itu melongos kesal, lalu menyentakkan satu kaki ke tanah. Sembari mengikuti langkah kaki sang ketua, dia menyempatkan diri melototi ketiga cewek yang kini tengah menunduk ketakutan.
Murid murid yang ada di sana langsung heboh, saling berbisik dan menghina Frenya terang-terangan, karena perbuatan yang baru saja cewek itu lakukan. Seketika lapangan menjadi ricuh dan berisik.
Kepala sekolah yang sejak tadi hanya bisa menyaksikan kejadian itu dalam diam. Saat si biang keonaran sudah di atasi oleh ketua osis sma Kristal, Kepala sekolah dapat menarik nafas lega. Lalu kembali mengeluarkan suara dari balik pengeras suara.
”Tidak usah di pedulikan, mari kita lanjut saja-“ Kepala sekolah melanjutkan wejangan yang sempat tertunda itu.
***
Agatha di giring untuk ke ruang osis. Upacara telah usai di laksanakan. Setelah kejadian yang menggemparkan itu, Agatha tetap berdiri di samping podium seorang diri sampai upacara usai.
Dan di sini lah sekarang dia berada. Ruang Osis. Yang Agatha amati, ruang osis ini di d******i oleh rak lemari khusus berkas berkas, meja panjang dan kursi untuk rapat mungki. Ada juga seperti fasilitas toilet, papan tulis, beserta meja persegi dan dua bangku di pojok kanan ruangan. Dua bangku itu sudah ter isi oleh dua orang. Siapa lagi kalau bukan Daniel dan Frenya. Mereka duduk berhadapan dengan meja persegi yang menjadi penghalang mereka.
Agatha berjalan melewati rak lemari dan meja panjang menuju pada dua insan itu. Agatha di suruh untuk mendatangi sang ketua osis untuk meminta buku pelanggaran milik Agatha. Pertama kalinya dia ke sini dan pertama kalinya dia meminta buku itu. Astaga Agatha, baru saja menjadi anak baru sudah mengotori buku pelanggaran saja.
Kerutan muncul di dahi Agatha kala melihat Daniel mengelus dahi Frenya dengan tangan cowok itu. Agatha berdeham untuk memberitahukan keberadaannya. Agatha melihat Frenya terkejut dengan dehaman Agatha, sementara Daniel hanya bergeming walaupun tangannya sudah tidak lagi memegang dahi Frenya, namun beralih memegang pulpen.
”A-Agatha? Astaga Anya kaget. Agatha ngapain ke sini? Nada panik Frenya ia tutupi dengan senyum canggung. Tapi tak di pungkiri wajahnya sudah memanas. Dia melirik Daniel yang sama sekali tidak melihat ke arah Frenya dan Agatha.
”Eh, maaf kak aku lancang ya? Em- aku ke sini karena upacara udah selesai trus di suruh guru bk buat ambil buku pelanggaran hehe.”Baru saja Frenya akan membalas perkataan Agatha, namun Daniel sudah terlebih dahulu menyela.
Cowok itu bangkit. “Udah selesai? Kalo gitu ikut gue.” Setelah mengatakan hal itu Daniel berlalu dari sana meninggalkan Frenya dan Agatha.
Frenya ikut bangkit dengan lesuh. ”Ayo,” ajak Frenya menggandeng tangan Agatha.
Meski bingung, namun Agatha tetap mengikuti Frenya. Dia kira buku pelanggaran ada di ruang osis. Bukannya dia di suruh menulis di buku pelanggaran kan? Eh, tunggu, Ke-kenapa mereka ke tengah-tengah lapangan? lalu buku pelanggarannya? Kenapa Firasat Agatha tiba-tiba mengatakan dia akan ada hukuman tambahan lagi mengingat mereka sekarang telah berada di lapangan outdoor yang beberapa menit baru di pakai untuk upacara. Sudah tidak ada lagi murid yang berada di sana kecuali mereka bertiga. Pasti jam pelajaran sudah mulai, makanya sudah tidak ada lagi murid yang berkeliaran di luar kelas, kecuali yang berkepentingan, mungkin?
”Kenapa di lapangan?” Tanya Agatha berbisik pada Frenya. Agatha dapat mata Frenya sudah mulai menyipit dengan reflek karena terkena sinar matahari.
“Hukuman lagi,” jawab Frenya enteng.
“Loh? Kok bisa? Bukannya kita tadi udah di hukum?” Belum cukup juga mereka di permalukan dengan cara berdiri di atas podium? Mana panas lagi, kepala Agatha udah pusing, eh hukumannya malah di tambah. Kapok deh Agatha, tidak mau lagi dia telat.
Daniel muncul di balik punggung Frenya. “Lo.” Tunjuk Daniel pada Agatha. “Berdiri di sana sampai jam pelajaran kedua selesai.” Meski tidak sepenuhnya terima, Agatha tetap mengangguk patuh begitu melihat wajah dingin Daniel.
”Dan lo,” Kini Daniel menunjuk Frenya. “Berdiri di sana sampai jam pelajaran ketiga.” Mulut Frenya reflek menganga ketika mendengar hukuman yang dia dapatkan. Jam pelajaran ketiga?! Lama sekaliii!
”Apa! Gak bisa gitu dong! Gue cuma telat doang masa main seenaknya kasih hukuman tambahan,” sinis Frenya. Dia menatap Daniel penuh permusuhan.
Daniel menatap datar Frenya. “Gak ada penolakan,” putus Daniel dengan suara berat dan tegas. Frenya tak terima hukumannya di tambah, dia sudah memakai sunscreen untuk setengah jam dia di bawah sinar matahari. Tapi ini malah satu jam? Mau jadi apa kulitnya nanti!