“Mampus, Agatha! Gerbangnya udah di tutup!” Nafas cewek itu tersengal-sengal. Ia berdiri di samping gerbang sekolah, tepatnya di bagian luar. “Ini ngapain ya? Ish, bingung! Gue kan gak pernah telat.” Ada pancaran kekhawatiran di manik Agatha.
Bukan tanpa sebab dia telat. Agatha harus mengurusi adiknya sehabis pulang dari rumah sakit. Kalian pasti sudah tahu kejadian kemarin.
Kemarin Azka mengantarkan Agatha datang ke rumah sakit. Adik Agatha ada di sana, telah di bawa ke rumah sakit terdekat dari rumahnya. Setelah mengucapkan terimakasih Agatha langsung berlalu meninggalkan Azka, tanpa menoleh lagi. Cewek itu mencari ruangan adiknya yang ternyata sedang di periksa. Dia menunggu dengan gelisah, sampai dokternya muncul dan memberitahukan jika kaki adiknya kena benturan yang cukup keras hingga kaki yang memang sudah sakit di perparah dengan benturan itu. Untung dokter memperbolehkan adik Agatha untuk di bawa pulang dengan syarat sering memeriksa keadaannya dan memperhatikan jam-jam minum obat.
Dan itulah alasan Agatha telat. Dia harus memastikan adiknya sarapan sehat. Alhasil dia yang memasak sendiri untuk sang adik tercinta dan memastikan obatnya terminum semua.
Agatha berjalan bolak-balik, sesekali berjinjit untuk melihat ke arah lapangan. Kekhawatiran Agatha makin bertambah begitu melihat area lapangan sudah ramai dengan murid murid. Mulai dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas.
Agatha kembali diam. Berpikir. Selagi Agatha berpikir apa yang harus dia lakukan, datanglah seorang siswa yang dari almetnya sudah di pastikan dia kelas sebelas. Agatha bersorak dalam hati, Syukurlah, dia ada teman. Agatha memperhatikan kakak kelas itu.
“Kak Anya?” Agatha tidak salah lihat? Cewek itu semakin dekat, dan semakin membenarkan dugaan Agatha.
“Hai, Agatha,” sapa Frenya riang. Cewek itu menghampiri Agatha, tidak lupa dengan lambaian riang yang ciri khas. Kenapa bisa ciri khas Frenya? Karena setiap kali Frenya melambaikan tangan dia selalu memakai dua tangannya untuk menyapa orang-orang yang dia anggap baik. Dan itu yang membuat cewek itu kelihatan imut.
”Gimana kabar adik Agatha?” Tanya Frenya. Tidak enak sebenarnya bertanya seperti ini. Tapi Frenya juga penasaran.
“Udah baikan kok, kata dokter dia gak boleh banyak gerak dulu.” Frenya mengangguk paham.
”Syukurlah kalo gitu, terus kenapa Agatha bisa telat?”Agak sedikit heran Frenya baru melihat Agatha telat. Dia yang sudah langganan telat pasti tahu Agatha baru pertama kali telat.
”Aku masakin adik dulu tadi, kalo kakak? kenapa bisa telat?” Agatha tidak salah bertanya. Frenya terkikik lucu.
“Anya mah udah sering telat. Kalo gak telat sehari nih ya pasti badan Anya sakit-sakit semua,” ucap Frenya melebih-lebihkan. Agatha terkekeh. Ajaib sekali ada orang seperti ini. Agatha telat hari ini saja udah gemetar badan.
“Ehem! ngobrolnya di tunda dulu. Ikut gue.” Agatha dan Frenya mengalihkan pandangan ke asal suara. Di sana, dia gerbang utama sekolah sudah berdiri sang ketua osis dengan almet merah miliknya.
***
Di lapangan.
Keringat mulai bercucuran. Gelisah, malu dan takut, mendominasi perasaan gadis ini. Tangannya sibuk menyeka keringat di leher dan dahi sesekali manik itu melirik ke arah teman-temannya yang sedang asik membicarakan dirinya. Ya, dia tahu mereka sedang membicarakan Agatha. Gadis itu berdecak ketika salah satu dari mereka tertawa tertahan sambil menunjuk dirinya. Meski tidak tahu apa yang mereka ucapkan, gadis itu sudah yakin seribu persen yang mereka tertawakan itu dia. Sungguh menyebalkan.
Agatha berpaling ke Frenya yang sudah nampak terbiasa tanpa peduli pandangan murid-murid di sana tentang Frenya. Terbukti perkataan Frenya benar, adanya. Cewek itu sering telat. Agatha bisa mendengar nyinyiran murid-murid tentang Frenya. Dan satu lagi. Frenya sama sekali tidak malu ataupun gelisah, sedangkan Agatha entah sudah berapa kali dia berganti tangan untuk menutupi wajahnya. Bagaimana tidak, sekarang mereka berdua telah di hukum untuk berdiri di sebelah podium pembina upacara. Berdiri di samping kepala sekolah sambil menjadi tontonan siswa di sana. Argh! Sampai detik ini saja malu Agatha masih belum hilang.
Menjadi pusat perhatian adalah hal yang paling Agatha tidak sukai. Dia lebih baik menyendiri sampai orang-orang tidak tahu keberadaannya, dari pada orang-orang tahu Agatha hanya karena dia telat. Dia risih melihat orang-orang berbisik sambil melihat ke arah mereka.
Agatha menunduk, salah satu geng siswa yang jaraknya lumayan dekat dengan mereka menyeletuk.
“Eh liat tuh, Frenya telat lagi.”
”Dia sering telat gak D.O dari sekolah?”
”Nggak tau, nyogok kali.”
”Lo yakin dia mampu? Dia kan sok kaya doang.” Agatha melirik Frenya yang masih santai bertopang kaki. Tapi dari jarak sedekat ini, Agatha bisa melihat raut wajah tertahan di sana. Rahang kakak kelas itu mengetat, tinggal menunggu ada yang menumpahkan minyak api di Frenya maka… DUARR!
”Dia gak tau malu banget sih urat malunya udah putus kali ya?”
“Gue sih jadi dia malu banget pasti.”
“Ya sebelas dua belas sama mamanyalah, paling sama murahan kayak mamanya. Coba aja suruh dia telanjang di sini pasti mau.”
Agatha melebarkan bola mata ketika mendengar perkataan tidak senonoh itu. Beberapa di sekitar geng itu jadi ramai berbisik. Agatha melirik ketiga cewek yang menggunjing Frenya. Mereka berada tepat di depan barisan yang sama dengan Agatha.
”APA LO BILANG?! JAGA MULUT LO YA!” Kemarahan yang di tahan akhirnya meledak juga.
Hening, semua orang terdiam melihat kemarahan Frenya. Bodo amat dia menjadi pusat perhatian. Mereka yang mulai duluan! Baru saja Frenya ingin menyamperi ketiga cewek itu untuk dia beri pelajaran. Suara kepala sekolah mengintrupsi langkah kaki Frenya untuk berhenti.
“Frenya! siapa yang menyuruh kamu teriak-teriak? Itu tidak sopan, Frenya!” Kepala sekolah berkata masih menggunakan pengeras suara. Frenya mendengus kesal. Tangannya terkepal. Tatapan cewek itu lurus menatap tajam ke arah ketiga cewek yang sekarang ketakutan,
“DIA DULUAN, PAK! ANYA GAK TERIMA YA DI HINA KAYAK GITU!” Frenya berjalan cepat ke arah barisan cewek yang tadi menggosipi tentang dirinya. Mereka juga bergosip tentang Agatha, tapi cewek itu hanya diam saja tidak ingin membuat keributan yang menyebabkan nama baru dia di sekolah ini langsung tercoreng karena hama-hama tak berguna.
Seluruh murid dan guru guru yang berada di sana serentak menjadi heboh karena ulah Frenya. Cewek itu menjambak rambut salah satu dari orang yang paling menghinanya. Tidak peduli teriakan dari guru-guru, Frenya tetap menjambak cewek itu sampai mengaduh kesakitan. “BERANI-BERANINYA LO NGEHINA MAMA GUE!!” Bentak Frenya.