”Gue kira kalian-“ Belum selesai Gita berkata sebuah sumpit sudah melayang ke arahnya. Dan mengenai dahi Gita. Cewek itu mengaduh kesakitan, menatap tajam Vino. Apasih! Tiba tiba melempar sumpit ke dahinya! Ingin Gita balas tapi dia tak berani dengan Vino. Sial!
”Mending kalian pesen makanan sebelum bell. Gosipnya di skip dulu,” ujar Vino berkata. Keysia yang sejak tadi hanya berfokus pada ponsel tiba-tiba berdiri dari duduk.
”Sini gue aja yang pesen, kalian mau pesen apa?” Tanya Keysia pada teman-temannya. Tentu tak melihat ke arah Vino. Tidak sudi dia melihat walau hanya sekedar lirikan atau ujung matanya.
Orang pertama yang Keysia tatap adalah Agatha. “Em, gue bakso aja sama jus mangga.”
Keysia mengalihkan pandangannya ke Gita. “Gue nasi hainan pake ayam panggang sama telur setengah mateng, minumnya coklat panas pake lemon sedikit yaa,” Keysia berdecak. Ingin rasanya dia menggeplak kepala Gita dengan ponselnya. Sabar Keysia, sabar! namun begitu dia tetep mengingat baik baik pesanan Gita. Setelah itu pandangan Keysia tertuju pada Clara.
Bukan Clara yang menjawab, melainkan Vino. “Gue sama Lala pesen sate aja satu porsi sama jus jeruk dua.”
Keysia mengangkat alis. “Lo gak di ajak, Vin. Pesen sendiri!” Enak saja cowok itu nyuruh-nyuruh dia! Emang di kira Keysia babunya apa!
“Oh-“ Vino mengangguk singkat. “Kalo gitu lo juga gak boleh duduk di sini,” final Vino. Lagi lagi Keysia harus kalah dari Vino.
Kurang ajar! “Gue pesenin dulu menu kalian.” Keysia berlalu dari meja mereka tak lupa memberikan tatapan sinis pada Vino.
***
”Pak, saya pesen bakso satu ya buat meja nomor tiga puluh empat.” Keysia mendatangi lapak terakhir yaitu khusus untuk bakso. Jika yang lain membuat lapak mereka semenarik dan se-estetik mungkin, lain halnya dengan bakso yang tempatnya hanya memakai gerobak yang biasa di pinggir jalan. Jika kalian bertanya kenapa, maka tanya saja pada tukangnya, karena Keysia pun tidak tahu kenapa. Mungkin agar ciri khas bakso tidak hilang. Mungkin.
“Siap, Neng.”
Keysia mengucapkan terimakasih sebelum berbalik menuju mejanya. Namun, saat di perjalanan tiba-tiba Keysia di hadang oleh seseorang. Ralat, oleh sekelompok cewek. Keysia mendongak, melihat sekelompok cewek itu. Cih, dia lagi. Mereka adalah Salsa beserta antek-anteknya. Orang yang tadi menghadang Keysia. Bedanya sekarang dia membawa antek-anteknya. Menyebalkan.
“Kenapa lagi, kak?” Tanya Keysia malas. Dia masih sopan dengan menggunakan ‘kak’ untuk orang yang sudah mengatainya tadi.
Salsa menatap Keysia penuh permusuhan, Tangan cewek sudah di lipat di bawah d**a, dengan congkak dia menaikkan dagu tinggi-tinggi. Apakah Keysia takut atau terpukau? Cih. Keysia mendengus sinis melihat pemandangan memuakkan di hadapannya sekarang. Beraninya bawa antek-antek, giliran tadi pagi malah diem aja Keysia majuin.
”Belagu banget lo ya cuekin gue tadi! adek kelas gak punya sopan santun!” kesal Salsa baru tersampaikan sekarang. See? Kenapa baru mempermasalahkan sekarang? Tadi pagi diem aja.
“Lo kesini buat ngomong itu doang, kak? Yaudah, gue minta maaf ya. Maaf, soalnya gue gak ada waktu buat ngeladenin sesuatu yang menurut gue gak penting sama sekali!” ucap Keysia penuh penekanan.
Salsa menaikkan salah satu sudut bibir. “Waw! Mulut lo hina juga ya ternyata, gue kira t*i lo doang!” ejek Salsa dengan suara yang sengaja dia kencangkan.
Kantin seketika hening mendengar suara kencang Salsa. Sial! Sengaja banget sih Nenek sapu ijuk! Kini perhatian seluruh penghuni kantin tertuju pada mereka, termasuk teman-teman Keysia.
“Kenapa lagi tuh Nenek sapu ijuk? bukan dikantin angkatan dia juga sok bikin ribut, cih! pake bawa antek-anteknya segala lagi,” Kesal Gita, begitu menoleh ke arah sumber keributan. Rasanya dia ingin gabung juga.
”Dia yang tadi pagi itu ya? Yang bikin Keysia badmood? Dari almetnya sih dia kakak kelas.” Agatha memang belum pernah bertemu dengan kakak kelas yang sedang ribut dengan Keysia itu, tapi tadi pagi dia menyimak kekesalan Keysia dan salah satu penyebab mood cewek itu rusak.
”Nanti aja gue jelasin, Ra. Kita samperin Keysia dulu.” Clara bangkit, di susul oleh Agatha dan Gita.
Sedangkan Vino? Dia hanya memperhatikan mereka dari meja. Dia bahkan hanya duduk manis sambil menikmati pemandangan di depannya. Yang penting Clara baik-baik saja maka dia tidak akan bertindak. Dia memantau dari kejauhan. Tidak punya kepentingan juga untuk mencampuri urusan cewek-cewek.
”Gue udah minta maaf, trus lo maunya apa?” Karena dia sedang tidak mood untuk berdebat, akhirnya Keysia saja yang mengalah. Toh yang waraslah yang seharusnya mengalah, bukan?
“Lo belum jawab pertanyaan gue tadi pagi, Anjing! Sejak kapan lo deket sama Dion?”
Keysia sudah tahu apa yang akan kakak kelasnya ini tanyakan padanya. Tapi! Keysia tidak suka jika orang lain berusaha mencoba mengusik privasinya. Teman bukan tapi sudah berlagak sok mau kenal dekat dengan Keysia.
“Bukan urusan lo,” jengah Keysia. Haduh kakinya sudah pegal berdiri di sini terus, kenapa kakak kelas ini ngotot sekali ingin tahu hal itu.
Sumbu amarah yang sudah menumpuk di kepala Salsa serasa di kasih minyak oleh Keysia. Tinggal tunggu apinya di nyalakan, maka BOM! Salsa menatap tajam Keysia penuh permusuhan.
“Lo!” Salsa mendekati Keysia sambil menunjuk cewek itu. “Belum setahun aja lo di sini udah sok banyak tingkah! apalagi jadi kakak kelas lo, Cuih!” Salsa meludah ke samping.
Keysia menarik nafas panjang, menutup mata sebelum membukanya. Dia harus sabar menghadapi nenek rombeng satu ini.
“Berarti dulunya lo banyak tingkah ya? Keliatan soalnya kelas dua belas udah jadi biang musibah.” Keysia menarik salah satu sudut bibir. Menatap dari ujung kaki Salsa hingga ujung kepala dengan penuh penilaian.
”ANJING LO!!” Dengan penuh amarah Salsa berjalan ke meja dekatnya, mengambil gelas yang masih agak penuh dengan jus jambu. lalu menyiramkan jus itu pada Keysia.
Tapi sebelum sempat mengenai Keysia, cewek itu berhasil menghindar. Baru saja dia ingin menyeringai, namun tariakan Gita sudah mengagetkannya.
”AGATHA!”
Keysia menoleh ke balik punggungnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat teman-temannya sudah ada di sana dengan Agatha yang seragamnya sudah ternodai oleh jus jambu yang tadi Salsa lemparkan untuknya.
”Agatha! Kok bisa lo yang kena?!”