Kantin lantai tiga

1123 Words
“Paket rusak! Gak bakal Clara jodoh sama Vino!” Keysia seperti menyimpan dendam tersendiri jika sama Vino, entah kenapa. Memang di antara mereka yang masih polos dan tidak tahu menahu soal dunia luar ialah Clara dan Agatha. Kalau Agatha memang polos dari lahir, maka Clara memang tidak ingin mengenal dunia luar. Trauma katanya. Jadi selama hidupnya, Clara adalah orang yang sangat di perhatikan oleh mamanya, semacam strict parents. Namun, bukannya mengeluh justru dia sangat nyaman dengan larangan mamanya. Menurut Clara, larangan itu adalah suatu perhatian untuk kebaikan Clara sendiri. Bahkan dia jarang keluar rumah jika tidak terlalu penting hingga saat ini, walau Clara sudah tinggal di apartemen. Mama Clara pun awalnya sangat menentang Clara untuk tinggal di apartemen, tapi karena suatu alasan lain, akhirnya Mama Clara pun tidak bisa melarang Clara. Demi kebahagiaan Clara. *** Inilah yang Clara tidak suka. Mereka jadi pusat perhatian seluruh murid ketika lewat di koridor hingga ke kantin kelas sepuluh. Mereka berempat dan juga Vino berada di koridor gedung tiga yaitu gedung khusus angkatan kelas dua belas, angkatan Vino. Untuk mencapai kantin mereka memang harus melewati gedung itu. Alhasil, Clara harus mengacuhkan berbagai lirikan yang dia dapatkan dari kakak kelas yang berpapasan dengannya. Sementara sih biang masalah hanya sibuk memainkan jari Clara tanpa mau ikut nimbrung dalam obrolan tak penting para cewek-cewek di depannya. Sesekali melirik Clara yang wajahnya sudah tertekuk. Jangan di kira Vino memainkan jari-jari Clara tidak di omeli oleh sang pemiliknya. Salah besar. Keysia melihat Vino ikut naik bersama mereka. “Ngapain lo ikut ke atas? lupa denah kantin atau gimana?” Tanya Keysia sinis. Vino mengendikkan bahu.” Suka-suka gue.” Clara menghembuskan nafas, melirik sejenak sebelum naik ke atas. Mengabaikan perdebatan mereka dengan jalan duluan. Di ikuti oleh Agatha dan Gita. Keysia mendengus, mengejar teman temannya yang sudah naik duluan. Mereka berempat tiba di lantai tiga, tepatnya di kantin kelas sepuluh. Ramai sekali. Sepertinya mereka telat, karena sudah tidak ada lagi tempat duduk yang kosong. Semua terisi penuh dengan murid yang di d******i angkatan mereka. Tiba-tiba mereka berempat merasakan sesosok jangkung melewati perkumpulan mereka yang masih berdiri di samping tangga. Dan benar saja dugaan Clara, kantin yang awalnya ramai berubah menjadi hening. Ada beberapa murid yang berbisik-bisik kecil. Sedangkan sang pelaku utama hanya acuh berjalan tenang dengan tangan di sembunyikan di balik saku celana. Mendahului para cewek, mencari tempat duduk. Seakan tersadar bersama, mereka juga mulai ikut mencari tempat duduk. Para siswa di sana tidak sangka akan bertemu Vino di kantin ini. Banyak dari mereka langsung mengabadikan momen langka ini melalui kamera ponsel, harus ada foto Vino di ponsel mereka! Yang sudah pasti lambe turah akan ramai dengan tag-an foto Vino. Dari tempatnya berdiri, Clara bisa melihat Vino tengah mengacak-acak rambut. Ck! Dasar murahan! Kecentilan banget sih! Emang buaya darat lupa daratan! Grutu Clara dalam hati. Padahal sudut pandang Vino tampak santai-santai saja. Kalo kata dia, hitung hitung nambah followers i********:. Geng Vino sangat susah di cari, dan jarang sekali mereka bisa melihat dari jarak dekat, bahkan ada yang belum pernah melihatnya sama sekali jika tidak di bilang oleh teman sebangkunya. Kenapa bisa begitu? Ya, Karena mereka kelas dua belas, mulai dari gedung dan kantin saja sudah berbeda. Bahkan parkiran pun berbeda, menambah susah mereka untuk tebar pesona dengan geng itu. Beruntung sekali yang seangkatan dengan mereka bisa melihat pesona mereka setiap hari. Mereka, geng Vino Cs. Siapa yang tidak mengenal mereka, bahkan mulai dari MOS sekolah pun anak kelas sepuluh sudah mengetahui mereka. Meski ada beberapa yang tidak tahu karena tidak mengikuti MOS. Namun nama mereka terkenal dan di ceritakan oleh banyak orang. *** ”Kalian udah selesai makan kan? Awas boleh? Gue mau duduk soalnya.” Vino menghampiri salah satu meja sudut kiri pojok. Dari makanan Vino yakin mereka sudah selesai makan, tapi masih di kantin? Menuhin meja aja! Salah satu cewek itu, berkata dengan berani. “Kak Vino duduk di samping sini aja, kita belum mau pergi dari kantin.” Cewek itu menggeser, hingga ada sedikit celah untuk Vino duduk. Vino bergeming. Dia di atur oleh adik kelas? “Gue mau duduk bareng pacar gue, minggir buruan atau mau gue paksa?!!” Perintah Vino mutlak. Sedikit emosi melihat wajah sok cantik dari cewek yang tadi dengan beraninya mengatur Vino. Untung cewek. Mendengar nada emosi Vino, serentak mereka langsung beranjak dengan cepat dari meja itu. Si cewek yang tadi berani berbicara pada Vino itu tampak tak rela, namun tangannya sudah di tarik duluan oleh teman temannya. ”LALA,” panggil Vino. Bukan hanya Clara yang menoleh, serentak murid di sana pun ikut menoleh pada Vino. ”Ngapain liatin gue?!” Galak Vino. Segera mereka mengalihkan mata, berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya Clara dan teman temannya yang masih menatap Vino. “Duduk sini aja,” ajak Vino. Dengan santainya cowok itu duduk bersila kaki di atas meja. Kok? Kenapa meja itu kosong? Padahal Clara yakin tempat itu masih terisi. “Akhirnya ada tempat! Ayo ke sanaaa.” Gitalah yang terlebih dahulu menghampiri Vino. Di susul yang lain. *** Mereka berlima akhirnya mendapatkan tempat duduk. Dengan Vino yang duduk bersebelahan dengan Clara. Di samping Clara lagi ada Keysia. Dan di hadapannya adalah Gita dan Agatha. ”Ya ampun! Mejanya kotor banget ih! Gak higenis!” Gita mengelap meja mereka dengan tissue basah. Orang yang makan di sini tidak di beresin lagi apa? Ini bukan restaurant yang selesai makan tinggal pergi, mereka harus taruh piring di masing-masing lapak dan mengelap meja dengan tissue atau lap yang di sediakan oleh kantin. Dan membuang bekas makanan mereka ke tong sampah yang sudah di sediakan. “Kalian dari mana tadi, Kak? Kok bisa Clara sampe gak masuk dua pelajaran?” Agatha memulai topik pembicaraan mereka. Dia penasaran saja Clara masih ada di lingkungan sekolah atau luar sekolah. Karena jika masih di dalam sekolah, pasti Clara sudah di tegur karena keluyuran di jam pelajaran. ”Ke markas,” singkat cowok itu tanpa melirik ke Agatha. Gita melotot. Apa! Gita berteriak heboh.” Wah! Ngapain kalian di sana? Jangan jangaan kalian! Wah! Lo udah apain Lala, No?!” Jawaban Vino hanya mengendikkan bahu, dia sudah bertekad untuk tidak ikut campur dalam obrolan para cewek ini. Tak tertarik juga meladeni mereka. Clara yang tahu teman-temannya belum puas dengan jawaban Vino dan orangnya pun tampak enggan untuk menjelaskan, akhirnya dia yang menyahuti. “Em- itu- Karin! Iya Karin katanya mau ngasih kalian sesuatu karena berhubung oleh-olehnya kelebihan jadi dia kasih ke kalian, dan oleh-oleh itu dia titipin di markas. Eh waktu di markas Karin telfon gue yaudah kebablasan sampe lupa waktu,” jelas Clara ada sedikit kegugupan di sana. Tapi dia tidak bohong sepenuhnya, kok. Saat Vino membawanya ke markas, Karin tiba-tiba menelfon Clara. Tentu cewek itu tak akan bilang kenapa dia bisa sampai ke markas anak cowok itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD