”Trus?”
“Trus? Nyenyenye.” Vino mengikuti gaya bicara Clara.
Clara spontan memukul d**a Vino. “Apasih!” Sial, dia jadi harus menahan agar tidak tersenyum. Wajah Vino bikin Clara gemas!
Vino diam merasa tidak ada yang lucu. “Lo ngapain berduaan sama dia?”
“Ketemu di jalan tadi trus gue nanya tugas kelompok sekalian ke kelas bareng, emang kenapa sih?!”
“Emang kenapa?!!” Vino berdesis. “Gak salah ngomong?”
Clara yang merasa tidak ada yang salah dari ucapannya pun dengan yakin dia mengangguk.
“Aish! Lo bener-bener ya!!” Vino mengacak-acak rambut. Baru kali ini dia sefrustasi ini pada cewek. Biasanya dia tak mau ambil pusing dengan cewek-cewek lain, dan hanya menikmati. “Gue mau lo terima gue jadi babu lo selama seminggu.” Pernyataan Vino sukses membuat Clara melebarkan bola mata.
“APA! GAK MAU!” Ketemu sesekali saja udah ribet apalagi Vino jadi babu Clara yang pasti akan sangat merepotkan.
”Lo harus mau!”
“Gue gak mau!”
”Harus mau!”
“Gak mau!”
“Kalo gak mau gue bakal cium lo di sini! Sekarang juga!” Ancam Vino. Sudut bibirnya terangkat melihat Clara tampak mulai memerah.
”Coba aja!” Tantang Clara. Tak mungkin Vino melakukan hal itu.
Senyum sinis terbentuk di bibir cowok itu. “Lo nantang gue?” Vino bergerak maju. Clara mundur sampai punggungnya membentur dinding. Jadi cowok itu beneran?
KRINGG!!
Thanks God! Clara mendorong bahu Vino. “Udah sana masuk, udah bell.”
Vino diam tak berkutik.
Clara menghembuskan nafas. “Gue lagi gak mau cari masalah ya, Vin.”
“Tapi gue yang mau cari masalah! Apa susahnya sih tinggal terima aja ribet banget!”
“Gue gak mau deket-deket sama lo!” Clara menelan ludah. Sepertinya dia salah ngomong.
Vino mengepalkan tangan. “Coba ulangin?” Clara gelagapan.
“Lo b******k, Vin. Gue takut deket-deket sama lo,” ungkap Clara jujur.
“Jadi karena itu lo gak mau jadi pacar gue?”
“Y-ya masih banyak lagi.”
Vino berdecih. “Emang gue pernah b******k sama lo?”
Clara menggeleng. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar atau tak senonoh dari cowok ini. Meski Clara tahu Vino menahan itu semua. Tapi siapa yang tahu? Bisa saja Vino menahan itu semua hanya karena terlihat baik di mata Clara. Tidak ada yang tahu. Dan Clara trauma!
Baru saja Vino akan mengomel, namun tertahan ketika melihat darah mengalir dari hidung Clara. “Hidung lo berdarah!” Panik Vino, dia pergi ke belakang Clara untuk mengambil tissue dia tas cewek itu.
Clara mengusap hidungnya. Benar hidungnya berdarah.
”Udah tau sakit, kenapa harus sekolah sih!” Vino mengusap hidung Clara dengan telaten. Kenapa dia baru sadar wajah Clara pucat.
Sedangkan cewek itu hanya diam memperhatikan Vino. Terlihat sekali kekhawatiran dari mata cowok itu.
“Ikut gue.” Vino menarik tangan Clara. Tidak kencang tapi mampu membuat Clara mengikuti langkahnya, karena cewek itu juga terlihat pasrah.
***
KRINGG!!!
”Baik anak anak pelajaran kita sampai sini dulu, sampai jumpa minggu depan.” Bu Nining berlalu dari ruang kelas sepuluh ipa dua.
Setelah Bu Nining keluar, keadaan yang semula sepi seketika menjadi ramai, berbondong-bondong untuk keluar. Kecuali Agatha, Keysia dan Gita. Mereka masih berada di bangku masing-masing.
”Clara kemana sih? Udah dua pelajaran dia lewatin, untung kita bilang dia lagi gak enak badan, coba kalo Bu Nining sama Bu Siska tiba-tiba ketemu Clara di sekitar sekolah, guru Bk bisa turun tangan ini.” Keysia orang paling khawatir di sini. Padahal dia sudah mendengar suara Vino di telfon Clara. Tidak, dia hanya takut Clara masuk ruang Bk.
Jangan di kira mereka adalah anak nakal yang biasa melanggar peraturan sekolah, Mereka sangat mematuhi tata tertib yang ada di sekolah ini. Mulai dari keterlambatan hingga tidak mengerjakan pr, mereka sangat anti di hukum. Selain karena takut orang tua mereka di panggil, Agatha dan teman temannya sangat tidak mau di jemur di bawah trik matahari. Kalau kata Gita dia tidak ingin skincarenya menjadi luntur sia-sia karena berjemur matahari.
Gita bangkit dari duduknya. “Paling tuh anak lagi berduaan sama Vino. Udah gak usah di pikirin kalo sama Vino mah di jamin aman.”
Agatha tak setuju. “Bukannya Vino fuckboy ya? Harusnya Clara lebih bahaya kalo sama dia, Clara juga katanya gak suka sama dia.”
Gita menggeleng. Agatha belum kenal Vino aja. “Vino emang fuckboy, tapi kalo sama Clara mah dia pasti jadi jinak, tampangnya aja serem tapi hati hello kitty kalo ketemu Clara. Trus mengenai Clara, lo yakin dia gak suka sama Vino? Gue sih nggak yakin.”
Agatha mengendikkan bahu. “Gak tau. Kan masih anak baru.”
”Makanya lo harus-EH ITU CLARA!” Gita menunjuk heboh Clara yang sedang berjalan masuk ke dalam kelas bersama dengan Vino yang tampak acuh berjalan di belakang Clara.
”CLARAAA! LO KEMANA AJAAA?!” Keysia memeluk Clara erat. “Lo kemana aja sih! Tau gak lo kelewat dua pelajaran tau! untung kita bilang lo kurang enak badan trus di bawa ke uks.” Clara dan Vino saling pandang.
“Ja-jangan salahin gue.” Clara mengode temannya lewat mata. Serentak mereka mengikuti arah pandang Clara. Vino, ya mereka tau maksud Clara.
Keysia bersedekap. “Lo apain temen gue?!” Tuduh Keysia.
“Gue? Gak gue apa-apain, belum maksudnya,” acuh Vino asal tanpa memperdulikan dampak ucapannya yang sukses membuat Keysia melotot seram.
”Vino b******k! Sampe lo apa-apain Clara, gue gak restuin lo!” Ancam Keysia. Sedangkan Gita dan Agatha hanya terkekeh.
“Lo bukan mamanya.” Skakmat. Vino sialan! “Kalian mau sampe kapan di sini?” Setelah berkata itu, Vino merangkul Clara keluar dari kelas, meninggalkan teman-teman Clara yang nampak tertegun.
Keysia merengut kesal. “Awas aja lo ya, Vin! Sampe lo ngerusak pikiran polos Clara sama pikiran jorok lo itu! Gue orang pertama yang bakal maju!” Vino yang sudah memunggungi Keysia, namun masih dapat mendengarkan apa yang di ancaman cewek itu, membalikkan kepala. Smirk muncul di bibir Vino seakan mengejek Keysia. Lalu dengan tanpa beban cowok itu mengacungkan jari tengah pada Keysia tanpa niat membalasnya.
Keysia menyentakkan kaki ke lantai, kesal bukan main sekarang. Merasa terhina dengan tatapan Vino. Awas aja cowok jelek!
Agatha mengelus d**a Keysia, menenangkan cewek itu. Gita yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka akhirnya bersuara.
“Clara anaknya polos, baik, pendiem eh dapet jodoh yang b******k, b******n, emosian, nakal lagi. Paket cacat kah atau paket sempurna?”