Sudah lima belas menit, namun batang hidung Clara dan Keysia belum muncul juga. Gita menghitung mundur sambil melihat jam tangan. “Tiga, dua, satu.”
Dan benar saja speaker kelas langsung berbunyi. Mereka berdoa sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing.
Selesai berdoa, Keysia masuk ke kelas. Gita mengerutkan alis. Kenapa bahu cewek itu turun, seperti tidak semangat menjalani hari. Keysia melangkahkan kaki menuju bangkunya. Berbagai bisikan pun terdengar lagi membuat Keysia muak rasanya. Belum puas dia di gunjing saat di sepanjang koridor tadi, kini teman sekelasnya pun ikut menggunjingnya?
“Oy, kenapa lo?” Tanya Gita begitu Keysia sudah duduk di bangkunya.
Orang yang sudah menjadi pusat perhatian mereka hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
“Tau ah, gue lagi males hari ini.”
Agatha menghadap Keysia. “Kenapa lagi, Key? Bukannya hari ini lo harusnya berbunga-bunga ya?” Tadi di chat grup Keysia sempat kesenangan, eh sekarang malah turu.
Keysia cemberut. “Iya gue tau, tapi tadi pagi gue sempet tanya sama kak Dion maksud foto itu apa, dan lo tau dia jawab apa?” Agatha dan Gita serentak menggeleng. “Dia jawab kalo itu cuma permainan semacam truth or dare! Akh gue kira dia beneran tulus.”
Agatha dan Gita saling pandang. “Dan gue juga tadi ketemu sama Nenek sapu ijuk itu, gue kira dia sendiri gak bakal berani ngata-ngatain gue eh ternyata tetep aja dia nantangin pake ancem segala lagi! Kalo bukan kakak kelas udah gue garuk tuh mukanyaa! Tau ah gue bad mood banget hari ini,” kesal Keysia, dia melipat kedua tangan di atas d**a. Mengingat kejadian tadi di koridor membuat api di kepalanya berkobar-kobar. Jangan sampe dia berurusan lagi sama si Nenek sapu ijuk.
”Btw, Lala kemana, ya?” Keysia dan Gita menoleh ke arah Agatha.
“Oh iya! Lala kemana? Bukannya tadi dia udah di lampu merah ya? Kok duluan lo, Key.” Keysia mengendikkan bahu pertanda bahwa ia juga tidak tahu. Di sepanjang perjalanan menuju kelas pun Keysia tak melihat Clara sama sekali.
Agatha mulai merasakan perasaan yang tidak enak. “Dia bilang udah mau sampai tadi, cuma gak tau lagi.”
Gita melotot, mendadak panik. “Jangan, jangaaan!” Keysia menggeplak bahu Gita.
“Huss! Sembarangan lo. Coba lo telfon dulu siapa tau ada urusan penting.” Gita mengeluarkan ponsel miliknya dari balik saku seragam. Mencari kontak Clara, Lalu mendekatkan ponsel itu ke telinga.
Panggilan tidak terjawab. “Gak di jawab sama dia!” Panik Gita. Kepanikan Gita menular pada Agatha dan Keysia.
”Hpnya mati atau nyala? Coba cek, Gita.” Pikiran Agatha memutar pada kejadian dimana dia menelfon Clara sebelum masuk kelas. Dia tidak salah denger kok, Clara sudah ada di area sekolah. Tapi kenapa belum masuk juga? Padahal sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai.
Gita melakukan saran dari Agatha. Dia memencet kontak Clara lagi, menempelkan ponsel itu di telinga. Namun hasil yang di dapat sangat mencengangkan bagi Gita. Panggilan itu di reject oleh Clara!
“Dia ngereject telfonnya.” Mereka bergeming di tempat. Clara mereject? Mustahil sekali!
“Ada yang gak beres ini.” Agatha dan Gita menyetujui pendapat Keysia.
Clara tidak pernah mereject panggilan sesibuk apapun dia. “Gak biasanya Clara kayak gini,” heran Keysia. “Atau dia lagi ada masalah?” Agatha menggelengkan kepala disusul oleh Gita. Mereka masih berusaha positif thinking.
“ Gak tau juga, coba sekali lagi, Gita.” Agatha menggigit kuku-kuku jarinya. Kebiasaan ketika panik. Orang yang terakhir berhubungan dengan Clara secara tidak langsung adalah Agatha.
Gita mencoba sekali lagi. Jika memang sekali ini dia coba tidak bisa, maka akan di pastikan mereka harus melaporkan hal ini pada kepala sekolah!
Panggilan berdering. Agatha, Keysia dan Gita berharap cemas melihat ponsel Gita yang saat ini tidak lagi di taruh di telinga, melainkan dia speaker agar mereka bertiga bisa ikut mendengarkan.
Beberapa detik mereka menunggu akhirnya Clara menjawab panggilan mereka. Mereka bertiga menghembuskan nafas lega.
”LALA! LO DIMANA?!” Tanya Gita histeris. Masih ada rasa panik, meski cewek itu sudah mengangkatnya. Keysia dan Agatha diam menyimak.
”Gue pinjem Lala sebentar.” Setelah itu panggilan terputus. Mereka melebarkan bola matanya, terpaku bersama.
“Itu.. itu..” Gita tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tidak tahu harus merespon apa, pikirannya buntu seketika.
“KAK VINO!”
***
”DANIEL! VINO JAHAAT!” Vino merotasikan bola matanya.
”Tukang ngadu.” Farrel melirik sinis Vino.
“Tukang ngadu, biarin wlee.” Cowok itu mengikuti gaya bicara Vino.
”Eh.. eh.. itu Clara! Dia sama cowok?” Kevin menepuk berkali-kali bahu Vino. Dalam sekejap, Vino menoleh ke gerbang utama. Tanpa sadar tangan kekar dan berotot itu sudah meremas botol minum di genggamannya. Saat hendak ingin menghampiri, Vino berbalik.
“Nitip.” Dia melempar botol minum ke arah Kevin, yang secara beruntung dapat ia tangkap.
Kevin berdecak. “Kaget babi!” Makinya, meski begitu dia tetap memegangi botol Vino.
***
”Pergi dari sini!” Mereka berdua terkejut dengan kedatangan Vino. Apalagi Melvin yang sudah gemetar melihat tatapan tak bersahabat dari cowok itu.
”Jangan!” Cegah Clara, menahan tangan Melvin untuk pergi. Dia mengabaikan Vino.
Vino membasahi bibir, Dia melipat kedua tangan di bawah d**a. “Pergi atau gue yang seret lo ke kelas?” Ancamnya.
Clara melotot. Gilaa yaa! “Apa sih, Vin! Dia temen kelas gue!” Jelas Clara begitu melihat Melvin sudah ketakutan. Mereka hanya tidak sengaja ketemu dan berbincang tentang kelompok olahraga.
”Buruan!!” Melvin tersentak. Tanpa berpamitan lagi dia berlalu dari sana. Clara menatap iba Melvin yang tak salah apa-apa, namun jadi kena imbasnya. Semoga saja Melvin masih mau satu kelompok dengan Clara.
Clara melirik sekeliling. Mereka sudah jadi pusat perhatian. Astaga, baru pagi ini!
”Lo mau apa?” Tanya Clara.
Tatapan Vino tidak lepas dari Clara. “Jelasin!” Tak habis pikir Clara. Masalah seperti ini saja di perbesar.
”Kita di liatin,Vin. Nanti aja gue mau ke kelas.” Baru saja Clara hendak melangkahkan kaki, tangan Vino sudah menyekal pergelangan tangan Clara.
Vino membawa Clara ke arah gedung belakang sekolah. ”Udah sepi.” Vino melepas tangan Clara. Cewek itu melihat pergelangan tangannya sendiri. Untung Vino tidak kasar, padahal wajah cowok itu sudah merah padam. Tapi dia masih menarik tangan Clara dengan lembut?
”Mau di jelasin apa lagi? Lo udah buat anak orang takut, Vino!! ”
Vino menghela nafas kasar. “Gue cemburu, Clara!” Clara tidak peka atau pura-pura tidak tahu sih! Sudah jelas jelas wajah Vino sengaja menunjukkan dia telah cemburu! Tapi Clara tak peka juga?!