Dare

1034 Words
Mereka duduk manis di lantai dengan karpet sebagai alas duduk mereka. “Siapa yang mulai duluan?” Kevin melirik ke arah teman-temannya. Ia meraih botol dari genggaman Farrel. Mereka serentak menoleh ke arah Frenya. ”ANYA!” Farrel menunjuk Frenya yang berada di depannya, lalu terkikik geli. Frenya mendelik. “IHH! Jangan dari Anya terus! Mentang-mentang Anya paling muda selalu aja jadi korban,” sewotnya, memajukan bibir. Vino, Kevin, Karin, Dion dan Farrel tertawa. Daniel mengacak-acak rambut Frenya, gemas. ”Jika tuan ratu sudah marah maka kita serahkan kepada tuan raja, bagaimana?” Kevin memasang senyum manis pada Daniel. Selaku orang yang paling tua di sini. Serasi ya mereka. ”Oke, gue mulai duluan.” Daniel memilih mengalah dari pada Frenya ngambek. Kevin menyerahkan botol pada Daniel. Daniel melempar botol dengan santai. Seolah sudah ahli dalam bidang ini, dan benar saja, Botol itu berhasil berdiri dengan kokoh di atas karpet bulu. Dia berhasil menghindari dare. Kevin merutuki keahlian Daniel yang selalu saja beruntung, padahal sudah lama sekali dia ingin mengerjainya cowok itu tapi entah kenapa keberuntungan selalu ada pada pihak Daniel. Sementara yang lain hanya bisa mengumpat dan pasrah. “Lanjut, Azka jalan,” kata Kevin dengan wajah masam. Jangan sampai Azka juga sama beruntungnya dengan Daniel! Daniel menyerahkan botol pada Azka. Azka menerimanya, lalu melempar botol itu dan ternyata keberuntungan pun ada di pihaknya, botol itu berdiri dengan sempurna. Kevin melongo. “Seperti biasa.” Vino sudah tidak heran lagi. Frenya melongos. “Udah gak salah prediksi lagi ini mah.” Karin terkekeh, mengalihkan perhatian pada Azka dan bertepuk tangan bangga pada sang sahabat. “Iya dong, Azka gitu loh.” Tebakan Karin pun tidak salah. “Kalian berdua makan apa sih? Beruntungnya kok gak ngotak?! Tau ah kesel gue, lanjut ke siapa nih?” Tanya Kevin sedikit tidak mood karena iri dengan kedua temannya itu. Karin dan Frenya serentak menjawab. “LO, KEVIN.” “KEVIN!” Kevin menepuk dahinya. “Oh iya! Yaudah gue lempar nih.” Semoga saja keberuntungan berpihak padanya. Kevin menyatukan kedua telapak tangannya. “Semoga Kevin beruntung ya Tuhan, Kevin udah makan t*i Karin tadi, semoga membawa keberuntungan, Amin.” Vino berdecak. Dia mendorong bahu Kevin yang ada di sebelah kanannya. “Cepetan g****k!” Jengah Vino. Kevin terdorong ke depan. Sial, ia merutuki perbuatan Vino. “Sabar elah!” Kevin melempar botol. Dan botol pun jatuh tergeletak di atas karpet bulu. ”AH, s**t!” Gerutu Kevin membuat Vino, Kevin, Farrel ,Dion, Frenya dan Karin tertawa keras melihat botol Kevin tergeletak lagi. Farrel memandang Kevin dengan mengejek. “Cih, Kevin payah! Gitu doang gak bisa! Uuu.” Farrel menyoraki Kevin. Kevin yang sejak tadi mood nya sudah tidak enak semakin bertambah kesal. Cowok itu melemparkan botol yang tinggal setengah ke arah Farrel. ”Dasar bayi!” Umpat Kevin. Farrel mengaduh kesakitan. ”Kevin jahat!” Rengeknya. ”Bodo amat!” Kevin menjulurkan lidah pada Farrel sementara Farrel hanya melotot tanpa bisa berbuat apa-apa. Meminta pembelaan? Tentu saja dia tidak akan di belas, sudah jelas jelas Farrel yang salah di sini. “Apa dare buat gue?” Kevin bertanya pada Azka. Cowok itu bermain sebelumnya, jadi dia yang berhak menentukan dare Kevin. Mereka mengalihkan perhatian pada Azka yang sejak tadi hanya bergeming. Azka menatap Kevin. “Ajak balikan Si Kai.” Smirk muncul di balik bibir tebal itu. Kedua tangan Azka di letakkan di bawah d**a, seolah tidak ada yang salah dengan perkataannya. Sangat santai. Kevin melongo. Bisa-bisanya Si cowok dingin ini sekali berbicara langsung di luar dari pemikiran mereka ”Gila lo! Dia mantan sd gue! gue aja gak tau dia masih inget gue apa nggak. Ogah ah! Mau taro di mana muka gue kalo ngaku ngaku mantan dia.” Kevin menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Ya elah Vin cuma dare doang, kalo udah seminggu bisa lo putusin lagi,” jawab Vino dengan enteng. Dasar fucekboy. ”Masalahnya dia tetangga gue!” Kevin mengacak-acak rambut. Dion memicingkan kedua matanya. “Lo salting, Vin?” Tanya Dion ketika melihat wajah Kevin sedikit memerah. Jarang sekali seorang Kevin salting hanya karena cewek. Sebab biasanya dialah yang akan membuat cewek salting padanya. Tapi kini ada yang beda. ”Apaansih! ya gaklah!” Dalih Kevin. Dion masih tidak percaya. Bahkan dia yakin seluruh penghuni sini juga melihat Kevin saat ini tengah salah tingkah. Farrel mencolek dagu Kevin menaik turunkan alis. “Cie! Kevin salting, Cie! mukanya udah merah tuh!” Kevin melebarkan bola matanya. Dengan cepat menangkup kedua pipinya menggunakan kedua tangan. “Apaansih,” ketusnya. Mereka semua terkekeh melihat tingkah Kevin yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya. ”Kai temennya Frenya itu kan?” Frenya menganggukan kepala atas pertanyaan Karin. Dia menoleh pada Kevin. “Dia masih jomblo kok, Vin,” kata Frenya dengan senyum konyol miliknya. ”Gak peduli gue! Ogah!” Sewotnya cepat. Tidak terima dirinya terus di godain seperti ini, dia membuang muka ke arah lain. Mengumpati Azka yang entah kerasukan apa bisa langsung memberikan dare itu pada Kevin. ”Dare is dare, Kevin. Harus lo jalanin!” tegas Daniel. Aura ketua osisnya keluar. Ia tak terima jika salah satu temannya tidak seportif. Kevin menutup mata, lalu membukanya perlahan, menghela nafas. “Okee! tenang aja gue jalanin kok besok di kantin gue bakal tembak dia, puas lo semua!” Dengan kesal Kevin menoleh pada Azka memberikan jari tengah untuk ia acungkan pada Azka. ”Liat lo, tunggu pembalasan gue, Ka.” Azka mengedikkan bahu acuh. “Di tunggu,” ucap Azka dengan santai. Suasana kembali cair. Frenya melirik Farrel. ”Farrel! giliran lo.” Farrel mengangguk antusias. Botol yang sudah ada di tangan Farrel dia lemparkan ke udara. Ternyata botol itu berhasil berdiri! Farrel bersorak riang, Dia melirik Kevin dengan tatapan mengejek. “Tuh kan! Bisa gue! Yah Kevin payah!” sombongnya dengan dagu ia naikan. Kevin berdesis. Lihat saja nanti, dua target yang akan dia balas. Azka dan Farrel. Harus ada dare berikutnya dengan cara Kevin. Dia harus membuat Azka dan Farrel kena dare pokoknya! ”Lanjut Dion nih.” Farrel menyerahkan botol itu pada Dion. Cowok itu menerimanya. Ia melemparkan botol itu. Sangat di sayangkan botol itu dengan naas harus tergeletak di karpet. “Apa?” Tanya Dion to the point pada Farrel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD