Farrel menaruh tangannya di dagu. Ia tidak boleh menyianyiakan kesempatan emas ini. Dion baru kali ini gagal dalam permainan. Farrel berpikir keras, namun tak dapat jawaban. Dengan terpaksa Farrel menoleh pada Kevin dan mengkode cowok itu lewat mulutnya. Menyuruh Kevin untuk membantu dirinya, hanya kali ini dia meminta bantuan Kevin, untuk selanjutnya tidak akan! Kevin tersenyum menyeringai, lalu membisikan sesuatu pada Farrel. Serangai itu ikut tertular pada Farrel. Untuk kali ini tangan Farrel harus rela saling tos dengan Kevin. Farrel terkikik dengan satu tangan menutupi mulut. Rasain Dion!
Dion yang sejak tadi memperhatikan kegiatan saling membisik antara kedua temennya jadi merasa was-was. Dia mulai mencium bau-bau tidak enak akan terjadi padanya. Tapi apa boleh buat, dia hanya bisa pasrah saja.
Farrel menghadap Dion dengan cengiran lebarnya. “Dion harus pasang foto Keysia di feed i********: Dion pake caption ‘my crush’ dan gak boleh Dion hapus!” Dare Farrel membuat Dion berubah muka jadi pias.
Karin dan Frenya terkekeh melihat ekspresi Dion. Mereka saling bertos ria dengan Farrel dan Kevin. Sementara Vino hanya menyeringai puas.
”Hm, oke. Dia marah jangan salahin gue.” Dengan terpaksa Dion menghadap Vino. ”Mana hp gue, tolong ambilin dong, No. Di belakang lo.” Vino meraih ponsel Dion, kemudian memberikan pada pemiliknya.
Dion membuka galeri. “Foto yang mana? Di hp gue banyak foto dia soalnya gak bisa milih gue.” Frenya mendekat, menunjuk foto Keysia yang sedang berselfie senyum ceria di kamar nuansa abu-abu dengan rambut di gerai.
“Ini aja. Ya ampun cantik bangett! Ish! Dion mah Keysia udah ngejar-ngejar tapi masih aja di gantungin, bisa-bisanya cewek semanis ini malah di gantungin sama Dion. Karin! Liat deh udah pernah ketemu sama dia belum?” Frenya menengok ke arah Karin sambil menunjuk foto Keysia. Karin mengangguk. Dia pun kagum dengan kecantikkan geng cewek itu.
“Pernah sekali doang.”
”Udah tuh.” Mereka semua, tak terkecuali Azka, ikut mengecek i********: mereka.
Farrel menepuk tangan, bangga darenya di jalankan dengan baik. “Dion keren!” Dia mengacungkan kedua jempol untuk Dion.
”Langsung rame komen lo, Di.” Kevin mengetik sesuatu di komen. Ikut menimbrung.
Mereka bisa melihat komentar foto itu sudah di banjiri oleh pujian maupun hinaan dari pengikut Dion. Ada pula yang merasa iri, kesal, dan terkejut, tak menyangka. Kevin dan Vino yang melihat komen dari fans Dion pun sampai menggelengkan kepala tak habis pikir. Ketikan mereka sama sekali tak bisa di jaga.
”Bakal jadi hot news nih gue liat-liat.”
”Gila sih Dion gentlemen banget jadi orang. Gue jadi Keysia udah pingsan kali ya.” Karin terkekeh. Belum tau saja dia usaha Keysia bagaimana untuk dekat dengan Dion.
Frenya tersenyum lirih. ”Anya baru mau nyuruh Daniel buat, eh lupa kalo kita backstreet.” Mereka memandang prihatin pada Frenya. Daniel menghela nafas pelan. Tangannya bergerak mengelus rambut Frenya.
”Makanya jangan backstreet dong, Nya.” Frenya menggeleng. Keputusannya sudah mutlak tidak bisa di ganggu gugat.
“Udah lanjut aja, Karin sekarang giliran lo.” Vino mengambil botol minum, memberikan pada Karin.
Kini giliran Karin yang melemparkan “Yah, gagal,” gumamnya kala melihat botol terjatuh. Karin mendesah berat.
“Apa, Ion?” Dion berpikir mencari dare yang enak untuk dia berikan pada Karin.
”Cium kaos kaki Kevin sampe lima detik.” Tanpa beban Dion memberikan dare itu pada Karin. Cewek itu melongo.
1
2
3
Mereka semua, kecuali Azka. Tertawa terbahak-bahak, bahkan Vino sampai memegang perutnya, Farrel menepuk-nepuk lantai, Frenya menepuk-nepuk punggung Daniel yang sudah memasang muka masamnya, dan Kevin yang sudah berguling-guling di lantai.
”HAHAHA, SAKIT PERUT GUE.” Karin merengut kesal melihat teman-temannya tertawa dengan sangat puas. Dia melototi Dion yang justru ikut terkekeh.
”HAHAHA ANYA SAKIT PERUT.”
”SABAR YA, KARIN.” polos Farrel. Mengusap bahu Karin, pura pura sedih. Karin tak menggubris sama sekali.
”Gak bisa di ganti darenya?” Dion menggelengkan kepala. Karin mendesis, bersedekap.
”Yaudah! Mana sini kaos kakinya!” Minta Karin pada Kevin.
“Bentar gue ambil dulu.” Kevin antusias bangun dari duduk, berjalan ke arah rak sepatu. Mengambil kaos kakinya.
Kevin kembali keruang tamu dengan menenteng bangga kaos kaki miliknya. “Hahaha, rasain lo, Karin!” Kevin tersenyum jahat. Ia memberikan Kaos kaki itu pada Karin.
Karin menerima kaos kaki Kevin dengan muka masam, ia menenteng kaos kaki Kevin dengan hanya menggunakan dua jarinya saja. Ia memperhatikan kaos kaki Kevin lekat-lekat. Sudah butek. “KEVIN! KAPAN LO CUCI KAOS KAKI INI?!” Tanya Karin tanpa mengalihkan mata pada Kaos kaki Kevin.
Kevin mendelik ketika mengingat suatu hal. “Sebulan belum gue cuci,” cengirnya. Tak di sangka kaos kaki itu sudah lebih sebulan tidak ia cuci. Menjijikan.
Karin melongo dengan mulut terbuka. “JOROK ANJIR, KEVIN!” Membayangkan dirinya akan mencium kaos kaki yang sudah sebulan belum di cuci? Bunuh saja Karin!
“Udah cepetan cium, gak usah sok drama gitu muka lo.” Vino memanas-manasi Karin yang hanya melirik sinis padanya.
Karin meneguk ludah, sebelum ia benar-benar mencium kaos kaki. Ia membaca doa dalam hati, semoga saja setelah ini dia tidak di larikan ke rumah sakit. Karin mendekatkan kaos kaki itu ke arah hidung, menciumnya dengan mata tertutup. Tidak! Dia tidak benar benar menciumnya, ia menahan nafas.
“SATU, DUA, TIGA, EMPAT, LIMA! SELESAI, ” Serempak Kevin, Vino, Dion, Frenya dan Farrel menghitung satu sampai lima.
Saat waktu sudah selesai Karin segera berlari ke arah kamar mandi. Dari sini mereka mendengar suara muntah dari dalam kamar mandi. Azka menghampiri Karin.
”Wah, kaos kaki lo sebau itu ya, Kevin!” Farrel terperangah. Di lihat dari warnanya saja sudah membuat Farrel jijik, apalagi menciumnya. Ih, Farrel tidak ingin membayangkan.
“Sebulan? Kevin ngapain aja sih, kok gak di cuci-cuci?! Jorok ih.” Frenya menjitak kepala Kevin. Kevin mendengus. Seenaknya aja jitak kepala orang ganteng.
”Gue lupa bawa laundry ketinggalan di sepatu gue soalnya kaos kakinya, hehe.” Vino dan Dion menggelengkan kepala tidak habis pikir.
”Giliran siapa?” Tanya Frenya. Vino mengacungkan tangan.
“Gue.” Vino mengambil botol itu, Kemudian melemparkannya.
Dan hasilnya dia gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Vino menghela nafas.
“Apa darenya?” Kevin menunjuk kamar mandi dengan dagu.
”Karin yang kasih, tunggu aja masih di kamar mandi dia.” Mereka menunggu Karin selesai dengan muntahnya.