MENYINGKIRKAN SEMUANYA

2094 Words
Hari itu, Wahyu menandai benda-benda yang mengingatkannya pada Lala Camelia. Ia membawa kardus besar coklat dan sambil menyeret kardus itu ia berkeliling ruang-ruang di apartemennya untuk memasukkan satu persatu benda itu ke dalam kardus. Pajangan-pajangan berbentuk hati pemberian dari Lala dilemparkannya ke dalam kardus. Majalah-majalah mengenai fashion yang meliput soal Lala dan berantakan di atas meja, ia kumpulkan lalu dilemparkan ke dalam kardus juga. Wahyu menghela nafas. Kemudian ia menyeret kardusnya ke dekat lemari kaca. Ia membuka pintu lemarinya dan mengeluarkan semua boneka-boneka lucu milik Lala dari dalamnya lalu memasukkannya ke dalam kardus, sebuah boneka besar Teddy Bear kesayangan Lala tidak muat masuk ke dalam kardus, dengan sebal Wahyu memaksanya, setelah menekan-nekannya sekuat tenaga hingga kepala boneka tersebut nyaris putus, barulah boneka besar itu bisa masuk ke dalam kardus. Wahyu terlihat puas, lalu menutup kardusnya dan mendorong kardus itu ke pojok ruang. Ia mengambil satu kardus besar lagi, menyeretnya ke dalam kamar. Dibukanya lemari pakaian tiga pintu itu. Ia mengambil semua baju dan celana pemberian dari Lala, lalu dimasukkan ke dalam kardus. Wahyu melongo melihat lemari pakaiannya hanya menyisakan beberapa kolor, beberapa kaos, satu celana panjang dan satu celana pendek tidur yang bolong. Wahyu mengusap wajahnya, ternyata semua pakaiannya pemberian dari Lala. Wahyu kemudian melihat jaket jeans Lala yang masih tergantung di balik pintu. Ia diam sesaat lalu tak kuasa ia merengkuh jaket itu, memeluknya kemudian membenamkam kepalanya ke dalam jaket tersebut. Masih tercium parfum tubuh Lala menguar terhisap hidung Wahyu, mengingatkannya pada Lala dan membawanya kepada gambaran-gambaran masa lalu akan kemesraan mereka pada saat itu. Lala yang senang bernyanyi meski sumbang, Lala yang senang tertawa meski tak ada yang lucu, Lala yang menjerit-jerit geli kalau disentuh ujung lututnya. Wahyu tak tahan lagi, ia merasakan rindu datang tiba-tiba membekapnya, menarik dan menenggelamkannya. Ia tak berdaya. “Huaaaaaa ….” Bayu dan Ira menatap lurus pada Wahyu yang sedang menangis di layar telepon genggam mereka. “Gue ga sanggup Bay … gue ga bisa buang barang-barang ini … gue inget Lala … huaaaaa,” tangis Wahyu lagi dengan kardus-kardus di belakangnya dan jaket jeans yang masih berada dalam pelukannya. “Apa ini semua harus gue singkirkan Bay? Ini masih belum foto-foto gue sama Lala yang banyak di tersebar di apartemen ini loh … gue ga sanggup … hiks, hiks,” isak Wahyu. Bayu menggaruk-garuk kepalanya, menjawab, “Ya harus Yu … itu semua harus lo singkirkan … kalau ga lo gagal untuk move on.” Wahyu menciumi jaket jeans itu dengan penuh nafsu. Bayu menampakkan wajah illfeel, “Idih, ga gitu juga Yu, lo malah keliatan kayak yang kelainan s*****l ih ….” Wahyu tak perduli, jaket jeans itu malah semakin dipeluknya erat-erat. “Yu, jangan lebay! Denger nih, lo pikir Lala kayak lo juga? Gue yakin sih engga … dia pasti lagi asyik-asyik party malam minggu ini sama cowok-cowok, sedang lo keliatan kayak cowok putus asa yang baru diputusin gitu,” tukas Ira kesal. “Lah bukannya dia emang baru diputusin Say?” celetuk Bayu. Ira mengerutkan kening lalu mengangguk, “Iya ya.” Wahyu terdiam sebentar, terus berkata, “Emang sekarang malam minggu ya?” Bayu dan Ira mengangguk. “Huaaaaaa … Lalaaa,” jerit Wahyu histeris lagi. “Wahyu! Heh udah jangan cemen gitu dong, lo ‘kan laki! Meskipun sekarang lo jomblo dan ngenes tapi lo harus kuat nerima kenyataan!” seru Bayu gemas. Wahyu terdiam sambil mengucek-ngucek matanya sambil berusaha tabah, berkata, “Makasih loh udah ngingetin kalau hidup gue ngenes ….” Bayu nyengir, “Yah itu kenyataannya hehehe ….” “Jadi gue harus singkirin semua nih?” desis Wahyu. Bayu mengangguk. Maka Wahyu menyeret kardus besar itu dengan lunglai lalu mengambil foto-foto dirinya dengan Lala satu persatu dari lemari hias maupun yang menempel di dinding dan melemparkannya masuk ke dalam kardus. Bayu dan Ira tersenyum melihat sahabat mereka melalui layar telepon. “Nah bagus Yu! Buang barang mantan pada tempatnya!” seru Bayu mengangkat jempolnya. *** Matahari pagi bersinar cerah. Wajah Bayu muncul di layar telepon lagi, senyumnya melebar. “Nah gitu dong, dari pada sedih mulu, minggu pagi begini bagusnya lari pagi,” ujarnya pada Wahyu, “baydewei lo belum mandi ya masih kucel gitu?” Wahyu mengangguk. “Gue ga bisa tidur Bay, dan ini gue bukan mau lari pagi,” balas Wahyu sambil berjalan lesu keluar dari apartemennya. “Lah trus lo mau kemana itu?” tanya Bayu dari layar telepon genggam. Wahyu tidak menjawab, ia terus berjalan dan masuk ke dalam lift. “Yu, sebaiknya lo mandi dulu deh biar seger otak lo itu,” saran Bayu tapi Wahyu diam saja. Pintu lift terbuka dan Wahyu melangkah keluar. “Yu, lihat sekeliling lo deh, kebetulan lo lagi di luar apartemen ‘kan? Coba lihat matahari masih bersinar, langit biru, udara segar … coba lo hirup udaranya trus lo lepaskan … fffhhhhh, aaaahhhh … melegakan d**a, menenangkan pikiran,” saran Bayu lagi. “Semalaman gue berpikir Bay,” sahut Wahyu tidak menanggapi saran Bayu itu. “Mmm, berpikir soal?” tanya Bayu mulai curiga. “Lo betul, kalau hidup gue ini memang ngenes, trus karir gue stuck, trus percintaan gue ambyar, trus gue tinggal di apartemen yang dibayari mantan yang sewaktu-waktu gue bisa diusir kapan aja dia mau … hidup gue udah abis … trus ngapain gue hidup lagi?” urai Wahyu dengan wajah sedih. Ia terus melangkahkan kaki berjalan keluar gedung apartemennya. “Ya terus maksud lo apa nih? Hey Yu jangan coba-coba mikir macem-macem ya! Lo mau kemana ini? Sekarang lo balik ke apartemen mendingan deh!” seru Bayu gelisah karena dari layar teleponnya ia melihat Wahyu sudah menyeberangi jalan. “Gue mau ke taman,” jawab Wahyu singkat. Bayu terkejut. “Yu jangan ke taman!” sergah Bayu mengingatkan, tak lama Ira yang baru selesai berolahraga pagi muncul di samping Bayu. “Kenapa dia?” bisik Ira. Bayu menunjukkan layar telepon genggamnya yang memperlihatkan Wahyu sedang melangkah masuk ke dalam taman yang berada di seberang apartemen. “Taman? Dia mau ke taman? Bukankah itu tempat yang harus dia hindari?” tanya Ira heran. Bayu mengangguk gelisah. “Wahyu! Stop! Jangan ke taman!! Yu balik ke apartemen! Yu!” teriak Bayu cemas. “Lo tau ga Bay, Ra? Di taman ini, tempat gue sama Lala banyak menghabiskan waktu dulu. Kita olahraga bersama di sini, kita bercanda di atas rumputnya, gue menciptakan lagu buat dia di pojok taman sana, dia nyanyikan lagunya meski sumbang tapi gue suka, trus di pojok taman sana lagi kita pernah makan burger bersama sambil tertawa-tawa, di balik pohon itu kita pernah berciuman di bawah langit biru … lihat, ada Lala di sana, ada Lala di sini, wah Lala di mana-mana,” urai Wahyu dengan tatapan mata kosong melihat ke kanan dan ke kiri. “Ini ga bagus, dia harus keluar dari taman itu, terlalu banyak kenangan akan Lala di sana,” resah Bayu. “Yu! Stop Yu, lo balik badan, dan balik ke apartemen sekarang!” teriak Ira, “eh tapi, bukannya di apartemen juga akan mengingatkan dia sama Lala?” Bayu menggeleng, “Kan semalam semua benda yang mengingatkannya sama Lala sudah dimasukkin kardus, atau terkunci dalam lemari … dia lebih aman di apartemen sih.” Maka Bayu dan Ira berteriak-teriak lagi melalui layar telepon genggam untuk mengingatkan Wahyu. Sayangnya Wahyu tidak memedulikan teriakan kedua sahabatnya itu, pikirannya telah kosong dan ia terus berjalan melintasi taman yang ramai orang berolahraga. “Wahyu balik! Balik Yu!” perintah Bayu terdengar lagi dari telepon genggam Wahyu yang dipegangnya. Wahyu tidak menuruti malah kini ia telah berdiri di samping sebuah danau di tengah taman. Wahyu naik ke atas sebuah pohon di pinggir danau itu lalu bersiap melompat. Beberapa orang memperhatikan tindakan Wahyu itu dan mereka memperingatkan Wahyu untuk tidak melompat ke dalam danau yang airnya tampak keruh. Wahyu menatap Bayu dan Ira di layar telepon gengamnya, kemudian tersenyum tenang. “Yu, jangan Yu, jangan lakukan ini Yu … lo ga sendiri … lo masih punya gue dan Ira … plis Yu …” mohon Bayu diikuti anggukan kepala dan wajah cemas Ira. Orang-orang mulai berkerumun di bawah pohon berteriak-teriak menyuruh Wahyu turun agar tidak melompat, tapi mau bilang apa, gelap sudah menutupi pikiran Wahyu. “Gue ga bisa hidup tanpa Lala … Bay, Ra … semua kenangan akan dirinya sulit gue lupakan … kalau gue pergi gue bisa lebih tenang … jaga diri kalian baik-baik ya,” ucap Wahyu lirih sambil melambaikan tangan pada Bayu dan Ira menandakan perpisahan lalu ia melompat ke dalam danau tersebut. Bayu dan Ira berteriak melihat gambar Wahyu yang mendadak menghilang dari layar telepon genggam mereka. Mata Wahyu terpejam. Tubuh Wahyu melayang jatuh dari dahan pohon menghujam masuk ke dalam danau dengan keras. BYURRR! Clep! Hening. Tak lama mata Wahyu berkedip-kedip. Ia membuka matanya tak mengerti lalu mengusap-ngusap wajahnya yang penuh lumpur. Kemudian terdengar suara orang-orang tertawa. “Mas! ‘Kan tadi udah diibilangin jangan lompat, itu danau-danauan, danau buatan, aernya cetek hahaha,” seru seorang pria geli lalu tertawa memegangi perutnya. Wahyu kini tersadar mengapa semua orang berteriak melarangnya melompat tadi dan mengapa sekarang mereka semua mentertawainya serta menontonnya dari pinggir danau. s****n! Maki Wahyu dalam hati. Ia berdiri di tengah danau dengan airnya yang hanya setinggi lutut kakinya saja. Jidatnya yang terbentur tanah bercampur lumpur itu berdenyut-denyut. Ia memijit-mijit jidatnya sembari melangkah keluar dari danau buatan itu dengan kepala tertunduk. “Nah kan, tenggelem kagak, puyeng deh lo jadinya,” ledek seorang penonton. “Sakitnya sih ga seberapa, tapi malunya itu loh hahaha,” tawa penonton lainnya disambut tawa semua orang berbarengan. Wahyu berjalan cepat, ia ingin segera kembali ke apartemennya saja. Hatinya malu dan dongkol. “Pemkot k*****t, kalau mau bikin danau jangan nanggung dong! Bikin sekalian yang dalemnya bisa buat ngumpetin dinosaurus gitu huh! ‘Kan gue jadi malu! Arghhhhh,” rutuk Wahyu dalam hati sambil berjalan. *** Wahyu telah berganti pakaian dan duduk meringkuk di balik selimut di atas sofa menatap Bayu dan Ira di layar laptopnya sedang tertawa-tawa, sedang telepon genggamnya yang basah sedang dikeringkan di depan kipas angin. “Jadi … jadi danau itu cetek Yu? Apa lo ga ngecek dulu gitu sebelum lompat? Cek ombak, apalah gitu? Hehehehe,” kekeh Bayu. “Gue ga bisa hidup tanpa Lala … kalau gue pergi gue bisa lebih tenang … jaga diri kalian baik-baik ya,” ledek Ira mengikuti ucapan Wahyu, “trus lompat dan jeduk! Kepala lo benjol hahahaha.” Wahyu memegangi jidatnya yang memerah dan bengkak itu. “Puas, puas deh ngetawain kebegoan gue,” cetus Wahyu sebal. “Hehehe, komedi banget sih lo Yu, makanya jangan pake bunuh-bunuh diri segala lah, udah gue bilangin ‘kan kemarin, jangan datengin tempat-tempat yang bakal mengingatkan lo sama Lala, lihat hasilnya?” kilah Bayu. Wahyu hanya menghela nafas mendengar kalimat Bayu itu lalu meraih telepon gengamnya yang mulai kering. “Eh lo mau ngapain tuh ngambil hape? Awas, inget aturan no tiga dan empat, no stalking dan hapus nomer si Lala, juga unfollow sosial medianya sekarang juga!” cetus Ira mengingatkan. “Udah beberapa hari sejak gue diputusin, gue belum lihat sosmednya dia lagi Ra … gue pengen tahu dia lagi ngapain sekarang,” rengek Wahyu dengan perasaan keponya. “Jangan! Lo ga perlu tahu dia lagi ngapain Yu, lupain udah, langsung apus aja nomer dan unfollow sosmednya cepet!” desak Bayu. “Betul, ntar lo kaget lagi lihat postingannya dia, dia mah lagi hepi-hepi aja tuh sama bokin barunya,” tambah Ira. Bayu dan Wahyu terdiam menatap Ira. “Eh mmm, maksud gue … lo ga perlu lihat deh pokoknya hehehe,” cengir Ira buru-buru menambahi kalimatnya karena ia baru saja keceplosan. “Bokin barunya? What?! Jadi dia udah punya pacar lagi?” seru Wahyu terkejut dan kecewa lalu dengan penasaran yang tinggi ia mengecek melalui telepon genggamnya. Bayu mendelik kesal pada Ira yang cengengesan, “Kamu sih!” Wahyu membuka i********: Lala. “Yu, udah unfollow aja, jangan lo liatin itu feednya si Lala … yah, yah … lo malah scroll down,” ucap Bayu cemas. Wahyu menatap tak percaya dengan apa yang telah diposting Lala Camelia selama beberapa hari kemarin setelah mereka putus. Alih-alih sedih malah sebaliknya Lala tampak begitu bahagia dalam balutan tawa yang lebar dalam foto-fotonya bersama seorang pria tampan dalam pelukan di berbagai acara dan pesta gala dinner. Degup jantung Wahyu jadi tak karuan, ujung bibirnya mulai berkedut-kedut, bola matanya bergetar-getar dan berkaca-kaca. Tak menunggu lama, teriakan sedih Wahyu memenuhi ruang apartemen, “Huaaaaaaa …..” Bayu menghela nafas seraya memijit-mijit ujung pangkal hidungnya, bergumam sebal, “Kan udah gue bilangin tadi jangan dilihat Wahyuuuuu ….” Ira hanya bisa cengar-cengir sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD