SEBUAH KEJUTAN YANG TAK TERDUGA

1937 Words
Wahyu tampak melangkah malas mengikuti Bayu dan Ira di depannya. “Ayo dong Yu, yang semangat, jangan keliatan kayak hidup segan mati tak mau gitu!” seru Bayu lalu menarik lengan Wahyu agar melangkah cepat. “Kalian mau bawa gue kemana sih?” tanya Wahyu. “Udah lo ikut aja deh … lo ‘tu udah berhari-hari semenjak ngeliat instagramnya si Lala punya pacar baru, lo ga mau keluar-keluar apartemen … kita khawatir, makanya sekarang lo kita paksa dan ajak keluar,” sahut Ira. Tampak poster sebuah acara musik terpampang di pintu masuk di sebuah gedung pertunjukkan. Bayu merangkul bahu Wahyu, menunjuk, “Tuh lo liat siapa band yang tampil? Band kesukaan lo! Dan band kesukaan kita juga sejak sekolah dulu!” Sebuah xbanner yang menampilkan foto para personil Joker Band terpampang di sebelah loket penjualan tiket. “Lo pikir dengan menonton band kesukaan kita itu akan membuat gue melupakan Lala?” desah Wahyu meragu. “Dia ga suka sama band rock ini ‘kan?” tanya Ira. Wahyu mengangguk. “Kata lo selama bareng Lala, lo ngumpet-ngumpet kalau dengerin lagu band ini ‘kan? … Nah, berarti sekarang saatnya lo bisa gila-gilaan di dalam dengerin dan nyanyiin lagunya sepuasnya sekaligus buat lupain dia! Ini kesempatan lo buat bebaskaaan!” lanjut Ira lagi bersemangat. Ira benar. Wahyu teringat kalau Lala memang tidak menyukai band ini dan ia baru bisa mendengarkan lagunya hanya kalau Lala sedang pergi untuk pekerjaan modelingnya. Dengan begitu ia baru bisa memutar musiknya keras-keras lalu melompat dari satu kursi ke kursi lainnya, bergaya rockstar dengan gagang sapu menjadi microphone-nya. “Baiklah, gue akan coba nikmati ini,” kata Wahyu. “Hey pssst, apalagi banyak cewek-cewek cantik di dalam,” bisik Bayu mengedipkan mata sambil menyenggol lengan Wahyu. “Tapi bukan buat elu! Awas aja,” ancam Ira seraya melotot pada Bayu lalu memberi gerakan telunjuk yang menggaris leher. Bayu cengengesan mendapat ancaman serius itu dari istrinya. Wahyu nyengir dan menakuti, “Jagain dia Ra, bahaya dia kalau lihat cewek montok, bawaannya suka mau nyeruduk.” Bayu mengeplak kepala Wahyu, “s****n lo, kompor!” Ira segera menggandeng kuat-kuat tangan Bayu, berkata, “Ayo kita masuk, gue udah beli tiketnya.” Wahyu tertawa melihat Bayu ditarik tak berdaya oleh Ira masuk ke dalam gedung pertunjukkan. Di dalam gedung pertunjukkan suasana begitu ramai. Lampu-lampu besar menyoroti panggung. Pertunjukkan belum dimulai dan semua orang mulai berteriak-teriak tak sabar memanggil-manggil nama band tersebut. Begitu juga Bayu dan Ira sedang Wahyu hanya memandang berkeliling. Matanya tertumbuk pada seorang gadis yang sedang berdiri di dekat meja bar. Gadis itu memiliki potongan rambut pendek sebahu yang pas dengan wajah ovalnya yang tampak manis dan ramah. Gadis itu juga tidak ikut keriuhan memanggil-manggil nama band tersebut, ia hanya berdiri menikmati minuman cocktailnya dengan sepotong buah ceri di bibir gelasnya. Sepertinya cewek itu enak buat diajak ngobrol, bisik hati Wahyu. “Bay, Ra … gue mau beli minuman dulu … lo mau?” lontar Wahyu menawarkan. Bayu dan Ira menggeleng untuk kemudian tenggelam lagi dalam keriuhan penonton. Wahyu berjalan menuju meja bar dan memesan segelas minuman soda bercampur sari buah dan es batu. Ia menatap gadis itu, ia teringat akan 7 cara melupakan mantan nasihat dari sahabatnya Bayu. Mungkinkah ini saatnya ia membuka diri? Berkenalan dengan gadis itu yang tampak sendiri? Ah tapi dirinya tak tahu harus mulai dari mana, ia tak berani mendekati. Alhasil, Wahyu hanya bisa menikmati minumannya sembari sekali-kali melirik pada gadis itu. Entah kenapa gadis ini menarik hatinya. “Wahyu?” Terdengar suara seorang perempuan memanggil namanya dengan heran. Wahyu menoleh dan terkejut setengah mati setelah melihat siapa yang memanggilnya bahkan ia tersedak minumannya sendiri hingga terbatuk-batuk. Lala Camelia telah berdiri di hadapannya! “Eh … uhuk! Lala? Uhuk … uhuk …” sahut Wahyu kelimpungan. “Waw Wahyu! Ga percaya kamu ada di sini … aku pikir kamu sedang mengurung diri di kamar apartemen yang kubayar,” sindir Lala. Wahyu berusaha mengendalikan dirinya, “Ehem! Emang apa yang membuat kamu berpikir aku akan mengurung diri?” Lala mengangkat bahunya, “Yaah ga tau … frustrasi mungkin, kecewa mungkin?” “What? Gue? … Frustrasi? Kecewa? Hahaha … ga lah,” kelit Wahyu. “Syukurlah kalau engga … pantes kamu ga kontak-kontak aku,” sahut Lala. “Mengontak kamu? Buat?” tanya Wahyu mengerutkan keningnya. “Kamu kan tipikal orang yang semua harus jelas, tumben setelah kita putus kamu ga minta penjelasan apa-apa dari aku,” sambung Lala. Wahyu tertawa keras seakan dirinya tak butuh penjelasan itu. “Buat apa kontak kamu, toh sudah jelas kamu memutuskan aku untuk model pria muda itu … aku lihat … eh maksudku ga sengaja lihat … di instagrammu itu,” tukas Wahyu. Lala tertawa lalu dalam nada curiga bertanya, “Apakah kamu stalkingin IG-ku?” “What stalking? Hahaha ngapain? Kebetulan lewat di timeline kok,” tampik Wahyu cepat. “Model pria muda itu ya? Hahaha, kamu salah … bukan---“ Lala tak melanjutkan kalimatnya karena Wahyu telah memotongnya. “Trus, ngapain kamu di sini? Bukannya kamu ga suka sama band ini?” sinis Wahyu. Lala tersenyum, berjalan ke meja bar lalu mengambil pesanan dua gelas tequila yang telah disiapkan oleh bartender kemudian berbisik pada Wahyu, “Aku diundang … tapi buat kamu tahu, aku tetep ga suka sama musiknya kok.” Sebelum pergi Lala menatap Wahyu lalu menengok ke kanan kiri. “Hey, kamu sama siapa ke sini? Jangan bilang kamu datang sendirian? Aku ga tega loh lihat kamu jadi jomblo ngenes gini,” sahut Lala seakan prihatin tapi sebenarnya mencemooh. Wahyu menelan ludah, ia gengsi untuk mengatakan kalau ia pergi bersama teman-temannya karena kalau Lala tahu, tetap saja ia akan ditertawakan karena pergi bersama Bayu dan Ira yang tak akan berpengaruh pada penilaian Lala, ia akan tetap dianggap jomblo menyedihkan. “Pergi sendiri? Ya … ya enggalah … aku pergi bersama seorang cewek dong …” balas Wahyu berbohong dan ragu. “Oya? Kamu ga halu ‘kan? Karena aku ga liat siapa-siapa di sampingmu itu?” ledek Lala. “Mmm … dia lagi ke toilet … ya ke toilet …” tangkis Wahyu sambil meringis. Lala tertawa sinis, “Wahyu, Wahyu … masih saja tidak berani mengatakan yang sebenar---“ Tiba-tiba muncul seorang gadis di samping Wahyu memegang tangannya seraya berkata, “Maaf Sayang, aku ke toiletnya agak lama … ngantri soalnya.” Wahyu terkejut begitu pun Lala yang langsung memperhatikan gadis tersebut. Seorang gadis yang memiliki rambut sebahu dengan wajah oval yang mengembangkan senyum ramah nan manis. “Hey, gue Astrid, temannya Wahyu, kita lagi ngedate nonton bareng band ini … lo siapa?” sapa ramah gadis itu menjulurkan tangannya pada Lala. Lala menyambut uluran tangan tersebut, tersenyum canggung ternyata dugaannya salah, Wahyu sudah memiliki teman kencan rupanya. “Gue Lala …” jawab Lala sedikit malu. Wahyu yang masih termangu menatap Astrid tersadar kalau ini adalah sebuah misi penyelamatan bagi dirinya. Entah siapa Astrid ini tapi ia merasa beruntung diselamatkan dari rasa akan jatuh harga dirinya yang nyaris menimpanya. “Oooh, Lala … ini mantanmu itu bukan sih Say?” cetus Astrid sedikit menyindir seraya melingkarkan tangannya dengan mesra di pinggang Wahyu. “Mmh-hmm … iya … betul,” angguk Wahyu dalam kecanggungan, “dan … rasanya sekarang saatnya kita berpisah, ok La---” Astrid menggeleng, memotong kalimat Wahyu dan menatap Wahyu sambil berkata, “Kok buru-buru sih, santai deh Say … aku masih mau ngobrol sama mantanmu ini ….” Astrid lalu kembali menatap Lala, tersenyum dan berkata dengan meyakinkan, “Mantan lo ini cowok baik, gue yakin sih ga lama lagi lo akan nyesel udah mutusin dia … dan mmm, selain baik, dia hebat di ranjang juga loh.” Lala dan Wahyu sama-sama tercengang mendengar kalimat Astrid itu. Astrid mengedipkan matanya pada Lala lalu menarik lengan Wahyu untuk pergi, “Yuk Say, kita pesen minum lagi dan joget sampai pagi.” Mereka pun pergi meninggalkan Lala. Lala memperhatikan betapa gadis itu begitu mesra pada Wahyu. Merangkul Wahyu erat seakan takut kehilangan. Apakah ia akan menyesal seperti apa yang dikatakan gadis itu? Lala hanya mengangkat bahunya tak perduli. “Dan baguslah kalau mereka sudah b******a, gue ga perduli juga,” gumam Lala lalu ia membalikkan badan melangkah pergi dengan dua gelas tequila di tangannya. Sedang Wahyu masih tercengang dengan kalimat Astrid yang terakhir tadi. “Hebat di ranjang? Waw…” gumam Wahyu menggelengkan kepala pada Astrid. Astrid nyengir lalu melepaskan rangkulannya dari pinggang Wahyu setelah melihat Lala tidak ada dan tidak memperhatikan mereka lagi. “Hehehe … sori … terlalu lebay ya? Tapi yang jelas, mantan sok seperti dia pantas mendapatkan cerita itu,” jelas Astrid sambil meminum sisa cocktailnya sampai habis lalu mengunyah buah cerinya. Wahyu memperhatikan Astrid, berkata, “Tapi, terimakasih kamu sudah menolongku keluar dari situasi tadi.” Astrid memandang sesaat pada Wahyu dengan batang buah ceri yang masih terselip di bibirnya, menjawab “Sama-sama,” lalu memandang kembali pada panggung musik yang masih kosong. “Tapi bagaimana kamu tau?” tanya Wahyu penasaran. Astrid tertawa, membuang batang buah ceri itu, kemudian menatap Wahyu, “Taulah … suara mantanmu itu keras, sinis dan menyebalkan … trus wajahmu jelas kebingungan seperti ada tulisan SOS besar di wajahmu itu yang minta tolong, ‘tolong selamatkan aku dari mantan terngehe ini’ hahaha … aku pikir itulah saatnya aku masuk.” Wahyu tersenyum malu-malu, “Sampai keliatan gitu ya hehehe … untuk rasa terimakasihku … aku traktir kamu minum ya? … Cocktail dengan ceri?” Astrid tersenyum mengangguk. Tak lama Joker Band tampil di atas panggung diiringi riuh suara penonton bersorak. Mereka langsung menggebrak dengan lagu-lagu hits mereka. “Hey aku suka banget sama lagu ini!” seru Wahyu pada Astrid. Astrid pun mengangguk lalu mereka bernyanyi bersama mengikuti sang vokalis bernyanyi seraya mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi. Mereka tertawa riang bersama. Bayu menyenggol bahu Ira memberi kode untuk melihat ke belakang. Ira menengok lalu tersenyum senang melihat Wahyu sedang menikmati pertunjukkan musik ini dengan seorang gadis. Mereka pun tampak akrab, bernyanyi dan minum bersama. Bayu dan Ira saling tos, rencana mereka untuk membuat Wahyu keluar dari apartemen dan membuka diri, berhasil! “Ok terimakasih buat kalian semua yang sudah datang malam ini!” pekik vokalis Joker Band setelah beberapa lagu selesai dibawakan, “baiklah, sekarang gue akan bawain sebuah lagu slow, kita cooling down dulu setelah lagu-lagu rock tadi, ok?!” Penonton menyambut dengan riuh tepuk tangan. “Oya, lagu slow ini lagu baru, jadi lo semua yang hadir di sini jadi orang pertama yang denger nih … lagunya soal cinta … lagu cinta buat cewek gue … baydewei gue nulisnya juga baru tadi hahaha,” urai vokalis Joker itu tertawa. Penonton semakin riuh tak sabar. “Lagu ini gue kasih judul, ‘Special Bird For Special Lady’ … dan sekalian di panggung ini, gue mau ngenalin sama lo semua, siapa cewek gue ini … oya, sebagai info, kita sudah dua tahun setengah ini jalan bareng loh … please welcome … ayo kesini My Lady!” panggil vokalis Joker Band melambaikan tangannya. Dari sisi panggung yang gelap melangkah keluar seorang perempuan dan setelah di tengah panggung barulah sebuah lampu sorot yang terang benderang memperlihatkan jelas siapa perempuan itu dengan dua gelas tequila di tangannya. Tampak Lala Camelia dengan senyum mengembang menghampiri sang vokalis Joker Band. Mereka minum tequila bersama, berpelukan lalu dilanjut dengan berciuman mesra di atas panggung. Suara penonton bergemuruh menyambut adegan tersebut. Bayu dan Ira terkejut tak menyangka! Astrid menutup mulutnya dengan tangannya, terkejut juga. Sedang Wahyu berdiri membeku melihat hal itu. Matanya membelalak terbuka lebar, begitu pun dengan mulutnya. Gelas plastik berisikan soda, sari buah dan es batu terlepas dari tangannya jatuh ke lantai. Tanpa menunggu lama semua menjadi gelap. Wahyu pun pingsan. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD