Wahyu membuka matanya sambil memegangi belakang kepalanya.
Dilihatnya Bayu, Ira dan Astrid sedang duduk memperhatikannya. “Di mana gue? Kepala gue kok sakit ya Bay?” lirih Wahyu. “Tadi lo ‘tu jatuh pingsan, kepala lo kena lantai,” jawab Bayu. Wahyu melihat sekelilingnya dan jelas ia tidak sedang berada dalam gedung pertunjukkan lagi. “Lo tadi digotong sama sekuriti ke café ini biar lebih tenang suasananya. Ini kita lagi di café sebelah gedung pertunjukkan,” sahut Ira menjelaskan. Wahyu melirik pada Astrid lalu pada Bayu dan Ira.
“Ya, itu Astrid, kita udah kenalan waktu lo pingsan tadi,” sahut Bayu mengerti akan arti lirikan Wahyu itu. “Sori … gue jadi ngerepotin kalian dan membuat kalian jadi ga bisa nonton acara musiknya,” desah Wahyu menunduk. “Memalukan … kenapa harus pingsan sih?” tukas Bayu sebal. Wahyu menghela nafas, “Gue juga ga tau … gue kaget aja … ga nyangka … tiba-tiba semua gelap … huffhhhhh … eh dia, si Lala … lihat gue pingsan ga?” Ira mengangguk, “Ya lihat lah … orang pas lo pingsan, lampu terang langsung nyorot ke muka lo yang lagi nganga pasrah di lantai gitu.”
Wahyu mengusap wajahnya tak terbayangkan malunya, untung saja ia pingsan.
Astrid menatap Wahyu, tersenyum, “Syukurlah, kalau kamu udah ga apa-apa … kalau gitu aku pulang dulu ya, udah ada yang jemput tuh.” Wahyu, Bayu dan Ira bersamaan menoleh dan melihat pada seorang pria bertubuh tinggi yang berdiri di pintu keluar café. Astrid menghampiri Wahyu, meremas tangannya, berkata pelan, “Kalau aja kamu ga pingsan … tadi bisa jadi, akan menjadi malam yang menyenangkan buat kita berdua.” Wahyu menunduk. Kemudian Astrid pamit pada Bayu dan Ira lalu keluar café bersama pria tadi.
Bayu dan Ira saling tatap, ternyata Astrid sudah memiliki pacar.
“Huaaaaaa!” pekik Wahyu kesal seraya mengacak-ngacak rambutnya. Tentu saja Bayu dan Ira menjadi panik menenangkan Wahyu karena semua orang di dalam café itu menjadi terkejut akan pekikan Wahyu tadi dan kini semua orang jadi menatap mereka bertiga dengan kesal.
***
Ting tong.
Suara bel di pintu apartemen terdengar. Wahyu mengangkat tubuhnya dengan malas dari sofa lalu membukakan pintunya. Tampak Lala Camelia berdiri di hadapannya. Wahyu tekejut, bertanya, “Mau … mau apa kamu?” Lala melangkah masuk ke dalam apartemen. “Hey, kok gitu nanyanya? Secara hukum ini masih jadi apartemenku loh, aku udah bayar sewa apartemen ini untuk setahun ke depan … yah kamu harusnya berterimakasih, karena masih bisa di sini meski hanya sisa dua bulan ke depan lagi, tapi lumayan ‘kan?” sinis Lala.
Wahyu terdiam.
“Tenang, aku kesini bukan buat ngusir kamu kok … aku kesini cuma mau ngambil barang-barang aku aja,” ujar Lala sambil melihat seisi apartemennya dan melihat tumpukan kardus-kardus di pojokan ruang, “hmm, tampaknya kamu sudah bersiap-siap juga ya untuk membuang semuanya … hah itu boneka-bonekaku!? Omaygat, boneka Teddy Bearku!” Lala mendelik marah pada Wahyu seraya menggeleng-gelengkan kepala. Wahyu hanya mengedikkan bahunya tak perduli dan dengan wajah tanpa dosa. Lala hanya bisa menggeram menahan marah melihat boneka-bonekanya itu.
“Kamu … sekarang tinggal bareng sama si burung spesial itu ya?’ sinis Wahyu.
“Kepo … “ jawab Lala pendek.
“Hey My Lady, cepeten dong … ambil barang seperlunya, yang lain tinggal aja, nanti kita beli yang baru!” seru vokalis Joker Band yang ternyata menunggu di depan pintu apartemen.
“Hi mi lidi, cipitin ding, imbil biring sipirlinyi, ying liin tinggil iji, ninti kiti bili ying biri,” cibir Wahyu menirukan kalimat vokalis Joker Band itu dengan kesal.
Lala menuju kamar lalu mengambil jaket jeansnya. “Aku hanya mengambil ini aja, ok Yu?” tandas Lala kemudian berjalan kembali keluar kamar. Wahyu memegang tangan Lala menahannya. Lala terkejut. Wahyu menatap Lala, berkata, “Setidaknya kamu jelaskan kenapa kamu memutuskan hubungan kita setelah lima tahun berjalan … lima tahun La ….”
Lala tertawa. “Bukannya kamu ga mau tahu alasannya ya?” sindirnya.
Wahyu menatap Lala serius.
“Betul, kamu mau tau alasannya?” tanya Lala meyakinkan.
Wahyu mengangguk.
“Aku capek menunggu kamu untuk berubah!” cetus Lala.
Wahyu terkejut, “Berubah? Bukankah kamu menyukai aku apa adanya?”
“Berubah maksudku, kamu menjadi pria yang lebih dewasa lagi, berubah untuk mencari pekerjaan yang lebih settle lagi, lebih mapan lagi dan ga gini-gini aja! Yu, kamu harus berubah untuk punya rencana buat masa depan kamu! Masa depan kita! Tapi aku sudah lelah menunggu itu, karena kamu ga kunjung berubah,” jelas Lala menahan kesal.
“Tapi, tapi … aku suka sama pekerjaanku,” kilah Wahyu.
Lala tertawa sinis. “Hahaha … oya? Kamu suka dengan pekerjaanmu? Jangan bohong, kamu selalu mengeluhkan hampir setiap kamu dapat proyek ngisi suara Yu! Kamu bilang gini, huh cuma ngisi suara kuda, huh cuma dapet bagian ngisi suara biskuit digigit, huh cuma disuruh ngisi suara pipa paralon jatoh dan bla bla bla … kamu inget kan? Dan aku kecewa kerjaan kamu itu ga bisa menghidupi kita. Dan seharusnya kalau kamu ga puas dengan pekerjaanmu ya cari lagi dong, jangan cuma ngeluh doang, kamu bukan abege labil lagi Yu!” cecar Lala.
Wahyu tertunduk, bicara pelan, “Sebetulnya, aku sudah mencari lagi … berusaha supaya dapetin kerjaan lain … cuma belum dapet … dan kamu ga sabar …”
“Lima tahun apa kamu pikir aku ga cukup sabar?!” timpal Lala.
“Lima tahun? … Ralat … bukan lima tahun, tapi dua tahun setengah,” cetus Wahyu mengoreksi lalu mendongak menatap Lala dengan tatapan yang tajam.
Lala mengerutkan keningnya tak mengerti, “Maksudmu?”
Wahyu tersenyum sinis.
“Kamu bilang kamu sudah bersabar selama lima tahun ini? Preet! … Sejak dua tahun setengah yang lalu kamu ‘kan sudah sama si manusia burung itu!!” ketus Wahyu sembari menunjuk pada pintu apartemen di mana vokalis Joker Band sedang menunggu, lalu melanjutkan kalimatnya lagi dengan intonasi suara yang penuh emosi, “itu artinya selama kamu bersamaku, kamu juga jalan sama dia selama dua tahun setengah! Selama dua tahun setengah itu juga kamu membohongiku … selama dua tahun setengah itu juga kamu pacaran sama aku dan b******a sama dia juga! Karena itu dia bikin lagu judulnya burung spesial ‘kan? Hahaha … fak! Spesial apanya? Emang telornya dia tiga? Yang spesial itu pake telor tiga!! … Oya biar aku perjelas, dua tahun setengah sesudahnya itu namanya bukan sabar tapi selingkuh!!!”
Wahyu balik mencecar. Wajah Lala berubah terkejut, itu menunjukkan suasana hatinya yang tak enak bercampur dengan rasa kesalnya pada vokalis band rock itu yang membuka hubungan mereka di panggung semalam. Lala menunduk malu lalu segera berjalan keluar apartemen tergesa-gesa.
“Ya, ya … pergi sana … terbang bersama si manusia burung itu … biarkan aku di sini! Aku akan baik-baik aja … tapi ingat jangan datang lagi!!” teriak Wahyu saat Lala keluar lalu menutup pintu apartemen dengan keras.
“Ya tutup pintunya keras-keras! Pergi! Jangan ganggu aku lagi!” teriak Wahyu lagi lalu diam dengan d**a yang naik turun kesal.
Wahyu tercenung. Apartemen menjadi hening. Sunyi serasa melingkupi. Tak lama Wahyu sesunggukan menangis, ia tak menyangka ia telah dibodohi selama dua tahun setengah. Dari sesunggukan kecil, tangisannya menjadi membesar dan, “Huaaaaaa,” pekik Wahyu histeris.
Ting tong!
Wahyu menghentikan pekikannya, ia menoleh pada pintu apartemen karena mendengar bel pintunya berbunyi. Ting tong! Belnya bunyi lagi. Ia segera mengucek-ngucek matanya, mengusap airmatanya, lalu berdiri dengan kesal, berjalan dengan marah, ia siap melontarkan kekesalannya lagi pada Lala. “Ngapain dia balik lagi kesini hah, dia pikir gue ga bisa marah-marah kayak dia apa,” gerundel Wahyu sembari membuka pintu apartemen.
Pintu apartemen dibuka lalu Wahyu berteriak, “Ngapain kesini lagi hah! Katanya mau pergi sama si burung---“ Wahyu tidak melanjutkan kalimatnya, ia terkejut karena yang berdiri di depan pintu apartemennya bukanlah Lala melainkan Astrid.
Astrid tertawa sembari membuka kacamata hitamnya, “Wow sabar, sabar … sepertinya ada yang baru dikunjungi mantan nih,” kelakarnya. Wahyu seketika cengar-cengir malu seraya menggaruk-garuk kepalanya merasa tak enak telah berteriak tadi. “Eh, maaf … aku pikir tadi bukan kamu,” ujar Wahyu. Astrid manggut-manggut, “It’s ok, permintaan maaf diterima … boleh aku masuk?” Wahyu segera menggeser dari depan pintu mempersilahkan Astrid untuk masuk ke dalam apartemennya.
“Eh tadi waktu di depan pintu, aku mendengar suara orang seperti yang sedang menangis histeris gitu dari dalam sini, kayak suara nenek-nenek … apakah itu kamu?” tanya Astrid.
Wahyu menggeleng cepat, tentu saja ia tidak akan mengakuinya. “Oh … eh … bukan … tentu saja bukan dari sini, masa aku histeris sih, kamu salah denger itu hehehe … aku juga suka denger suara nangis histeris gitu … itu, itu dari apartemen sebelah … apartemen sebelah itu isinya nenek-nenek … dia emang suka histeris kalau nonton sinetron maklum nenek-nenek hehehe,” kelit Wahyu cengar-cengir.
“Oooh,” Astrid manggut-manggut.
“Mmm, baydewei tau dari mana alamat apartemen aku ini Trid?” tanya Wahyu.
“Saat kamu pingsan semalam, aku ngobrol banyak sama Bayu dan Ira, termasuk dapet alamat apartemen kamu ini … bahkan saking lamanya kamu pingsan, kita sempat umroh dulu loh,” jawab Astrid.
“Hah?” cengang Wahyu.
Astrid tertawa lepas.
“Becanda … baydewei sepertinya kondisimu sudah baik ya? Aku kesini tadinya mau nengok kamu, takut gantung diri hahaha,” seloroh Astrid.
“Ga lah … thanks ya udah perhatian,” ucap Wahyu tersenyum.
Astrid mengangguk.
“Kardus-kardus apa itu?” tunjuk Astrid seraya mendekati tumpukan kardus-kardus di sudut ruangan. “Mmm, sedikit barang-barang yang mau dibuang,” jawab Wahyu. “Dibuang? Kenapa? Sayang loh,” sahut Astrid lalu mengambil sebuah foto, “oooh … barang-barang mantan toh.” Astrid tersenyum lalu memperhatikan semua kardus itu, berkata lagi, “Ini sih ga sedikit, tapi banyak.”
Wahyu nyengir seraya menutup paksa sebuah kardus dengan boneka beruang Teddy Bear yang terbuka lagi. Astrid mendekat lalu meminta Wahyu ke pinggir dengan gerakan tangannya, lalu ia membuka kardus tersebut, mengeluarkan boneka Teddy Bear-nya. Kepala boneka itu miring ke kanan miring ke kiri nyaris putus. Astrid geleng-geleng lalu melirik pada Wahyu, “Kamu tidak berprikebonekaan ya?”
Ia membawa boneka tersebut, duduk memangkunya lalu mulai merapihkan, mengikat dan mengencangkan kembali benang-benang dan kapas yang awut-awutan keluar dari leher boneka yang sobek itu.
“Boneka ini dan semua barang itu sebaiknya tidak kamu buang,” ucap Astrid dengan matanya terus fokus memperbaiki leher boneka Teddy Bear itu. “Tapi, aku harus membuangnya … untuk melupakan semua yang berkaitan dengan dia …” balas Wahyu. Astrid menatap pada Wahyu, bertanya, “Apa salah boneka lucu ini hingga diperlakukan macam sampah seperti ini? Begitu juga barang yang lainnya itu?” Wahyu mengangkat bahunya tidak tahu akan jawaban dari pertanyaan Astrid itu. “Kalau gitu, ambil saja boneka itu untuk kamu Trid,” lontar Wahyu begitu saja.
Astrid menggeleng sambil menatap Wahyu. “Boneka ini, juga semua barang itu … adalah bagian dari perjalanan kamu, bukan bagian dari perjalananku,” tolak Astrid lalu kembali fokus memperbaiki leher Teddy Bear.
“Tapi … aku tidak akan bisa move on kalau semua yang mengingatkan aku akan dia masih ada di sekitarku,” jelas Wahyu mengusap-ngusap wajahnya.
“Move on … sebuah kata yang terdengar mudah diucapkan tapi sulit dilakukan,” papar Astrid, “tapi … bukan juga sebuah hal yang tak mungkin tak bisa dilakukan … tanpa harus menyingkirkan atau membuang semuanya.”
Wahyu menatap Astrid, ia terkesan dengan kalimatnya, “Tapi … bagaimana?”
“Nah beres … lehernya sudah kembali tegak, benang-benangnya sudah aku sambungkan dan kencangkan lagi, kapasnya sudah aku masukkan lagi, hanya tinggal sobeknya aja yang perlu dijahit … lihat Teddy Bear ini sudah cantik kembali!” seru Astrid senang melihat leher boneka tersebut telah kembali normal. Astrid meletakkan Teddy Bear itu di sofa lalu menatap Wahyu. “Ayo kita keluar, tadi kamu bertanya bagaimana … sekarang tunjukkan dulu padaku tempat-tempat kamu dan Lala biasa menghabiskan waktu!” cetus Astrid kemudian menarik lengan Wahyu yang nampak bengong itu.
“Hah? Apa ga salah Trid?” sahut Wahyu ragu.
“Ga … ayo!” desak Astrid.
Wahyu segera mengambil kunci pintu lalu mereka keluar dari apartemen bersamaan dengan tetangga sebelah apartemen mereka yang juga keluar. Mereka berpapasan di depan pintu. Astrid menatap pria botak bertubuh besar yang dipenuhi tato hingga ke lehernya itu. “Halo Bang, kita tetangga sebelah … salam buat neneknya ya … aku salut sama Abang, mau mengurus neneknya hehehe,” sapa Astrid beramah tamah. Pria botak itu menatap Astrid berkata dingin, “Sok tahu! Nenek gue udah mati sepuluh tahun lalu, gue tinggal di apartemen ini sendiri!” lalu ia melangkah pergi begitu saja.
Astrid bertolak pinggang lalu memutar kepalanya perlahan dan menatap tajam pada Wahyu yang cengengesan.
BERSAMBUNG