PELAJARAN DARI ASTRID

1524 Words
Wahyu menunjukkan pada Astrid tempat paling banyak kenangannya. Sebuah taman yang berada di depan gedung apartemen. Mereka berjalan menyusuri taman itu meski terlihat Wahyu begitu enggan berada di situ. Berkali-kali Astrid minta ditunjukkan tempat-tempat di mana Wahyu banyak menghabiskan waktu bersama Lala tapi berkali-kali juga Wahyu berusaha menghindari tempat itu bahkan melarikan diri menjauhi. “Apa maksudmu dengan ini semua Trid? Kamu ingin membunuhku?” seru Wahyu sambil berlari. Astrid mengejarnya dan berhasil menarik tangan Wahyu menahannya untuk tidak berlari. “Membunuhmu dengan apa? Yu kamu ga akan mati hanya dengan kenangan!” tegas Astrid lalu mengatur nafasnya yang terengah-engah. Wahyu memegangi dadanya, ia pun terengah-engah setelah berlari hampir mengitari setengah dari taman ini dikejar Astrid. Ia lalu duduk di sebuah bangku yang menghadap pada taman rumput nan luas, mengatur nafasnya. Astrid pun mengikuti duduk di sebelahnya. “Untuk apa kamu lakukan ini Trid?” tanya Wahyu. Astrid menggeleng, “Mungkin aku salah … sori.” “Gimana sih, aku masih ga ngerti, jadi apa maksudmu?” tanya Wahyu lagi. Astrid menyandarkan tubuhnya pada bangku taman yang berwarna putih itu. “Aku hanya ingin membantu … karena … aku pernah berada di posisimu Yu,” ungkap Astrid. Wahyu menoleh pada Astrid menunggu kelanjutan kalimatnya. Astrid mengatur nafasnya dulu lalu melanjutkan, “Waktu itu … kita sudah mau menikah … tapi dia malah mengirimkan orang lain untuk memberitahu bahwa pernikahan kita batal.” Wahyu tercengang mendengar cerita Astrid itu, ia menatap Astrid yang sedang menatap jauh ke depan. “Hari itu, semua sudah siap. Gedung, penghulu, katering, para tamu, para keluarga, aku sudah dirias … kita tinggal menunggu kedatangan pihak dia … tapi dia … tidak pernah datang … si pengecut itu tidak datang … hanya orang suruhannya yang muncul lari tergopoh-gopoh dengan wajah serba salah, lalu dengan gemetar orang itu mengatakan kalau pernikahan batal … kamu bisa bayangkan itu?” Wahyu terdiam. “Days, weeks, even months … aku hancur berkeping … semua hal yang menyangkut dengan dia, menyakitiku … benda, tempat, sosial media, bahkan ingatanku tentangnya, semua membuatku sakit, dan marah … aku mencoba membuang semuanya, melupakan semuanya, menghapus semuanya, menjauh dari semuanya … tapi tidak bisa … seperti ingin membuang noda di pakaian, meski sudah memakai penghapus noda terkuat sekali pun, noda itu ga ilang-ilang,” papar Astrid. Ia diam sebentar menatap Wahyu lalu menyambung kalimatnya lagi. “Kenapa? Karena semua itu telah menjadi bagian dari otakku, jadi bagian dari hidupku … semua itu telah menjadi bagian dari perjalananku, tidak akan bisa hilang … apes? Iya, untuk rasa sakitnya … tapi tidak untuk pelajarannya. Aku malah merasa beruntung, karena itu semua akan selalu ada di sana, di suatu tempat dalam otakku atau dalam pikiranku, untuk mengingatkan aku agar tidak jatuh ke dalam lubang yang sama ….” “Dan kamu tau? Yang lucu dari rasa sakit yang memuncak adalah kamu tidak merasakan sakit lagi … kamu tidak bisa disakiti lagi … kamu jadi mati rasa … betul?” Wahyu mengangguk pelan dan Astrid terdiam seraya menatap jauh ke depan lagi seperti sedang membayangkan saat-saat ia bertarung dalam rasa sakit, kecewa dan marahnya untuk menyatukan lagi kepingan hatinya yang hancur, untuk bisa bangkit berdiri kembali. “Dalam otakku saat itu, ketika kita mati rasa maka seharusnya kita jadi lebih berani untuk menghadapi semua itu, melakukan semua yang tadinya kita ga sanggup … ya maka itu yang aku lakukan … aku tidak berlari menjauh, tidak menghindar, tidak melupakan, tidak membuang apa pun … aku hanya perlu menata semuanya ulang tanpa ada yang harus dihilangkan,” lanjut Astrid lalu menatap Wahyu, “tapi mungkin aku salah … tidak semua orang sepertiku … aku seharusnya tidak memaksa kamu.” Sorot matanya yang tajam mengatakan pada Wahyu bahwa proses kebangkitan dari kehancuran itu memang tak mudah tapi bisa dilakukan. Astrid tersenyum, berkata pelan, “Take your time Yu … setiap orang butuh waktu.” Wahyu mengangguk, dalam hatinya ia terpukau dengan mental baja perempuan manis ini. Di balik senyum dan keceriaannya ternyata ia menyimpan sebuah cerita yang menyakitkan. “Kamu ga nanya sama dia kenapa membatalkan pernikahan?” tanya Wahyu. Astrid menggeleng, “Buat apa? Ga perlu juga … dengan membatalkan sepihak aku jadi tahu gimana sifatnya dan so lucky ga jadi merit sama dia … omong-omong, memang hanya di taman ini yang paling mengingatkan kamu sama Lala ya? Tempat lainnya ga ada?” “Sebetulnya kita suka dapat undangan ke café-café, acara-acara gala dinner atau tempat-tempat liburan lainnya tapi cuma di taman ini aku ngerasa dia mencintai aku apa adanya … dan kedekatan kita banyak terbentuk di sini,” jelas Wahyu. “Unik sih, biasanya tempat kenangan orang-orang itu ‘kan sebuah tempat yang keren dan mewah, kayak Bali, London, fancy restoran dan lain-lain … ini hanya taman,” senyum Astrid. “Aku akui, aku terlalu lembek sebagai cowok, apalagi soal cinta Trid,” ucap Wahyu lirih, “atau aku terlalu bodoh untuk tetap mencintai meski sudah disakiti?” Astrid menepuk-nepuk bahu Wahyu, berkata, “Kita semua pernah bucin, terus dikecewain lalu sadar, ternyata jadi bucin itu nyakitin.” Wahyu mengangguk dan menyentuh jemari Astrid menggenggamnya, “Trid … mmm, maukah kamu menemani aku menghadapi semua ini?” Astrid menggeleng, “Ini bukan pertempuranku … kamu tidak membutuhkan kehadiranku … yang kamu butuhkan adalah dirimu sendiri.” Kemudian Astrid melepaskan genggaman jemari Wahyu, ia berdiri dari duduknya, melepas sepatunya lalu berjalan ke tengah taman berumput tebal nan halus itu. Ia merentangkan tangan, mendongakkan kepalanya menatap langit jelang sore yang berawan lalu mulai memutar-mutar tubuhnya. Awalnya perlahan lalu semakin cepat. “Saat ini … yang kita butuhkan … adalah …” serunya tertawa sambil terus berputar, “Terbang … terbang … terbang, hahaha.” Wahyu segera melepas sepatunya, berlari ke tengah taman. Ia mengikuti apa yang dilakukan Astrid, merentangkan tangan, mendongakkan kepala lalu berputar-putar juga. Ia melihat awan-awan sore memutarinya di langit sana. Ia tertawa. “Kamu … betul Trid! … yang kita butuhkan adalah … terbang!” seru Wahyu. “Dan ga kembali …!” balas Astrid yang masih berputar dan tertawa. “Ya … dunia sudah menyebalkan! Hahaha,” timpal Wahyu. Mereka berdua tertawa dalam putaran lalu mereka saling bertubrukkan dan jatuh terlentang di atas rumput sedang tawa mereka masih terdengar lepas sepanjang sore. *** Sore telah berganti malam. Wahyu menatap Astrid di depan lobi apartemen. “Mau mampir dulu ke apartemen?” Wahyu menawarkan. Astrid menggeleng dan tersenyum, manis sekali, membuat Wahyu terpesona dan semakin terpikat. “Ga makasih Yu … aku pikir aku harus pulang,” tolak Astrid. Wahyu mengangguk mengerti. “Biar aku antar pulang kalau gitu ya,” Wahyu memberikan penawaran lagi. Astrid menggeleng lalu menunjuk pada seorang pria yang sedang duduk menunggu di atas jok motor di seberang jalan. “Oh …” gumam Wahyu jadi tak enak hati, ia lupa kalau Astrid sudah memiliki pacar. Wahyu memicingkan matanya pada pria di atas motor itu, lalu berkata, “Tapi … itu kayaknya bukan pria yang kemarin jemput kamu di café ya? Kok beda?” Astrid tertawa, menjawab, “Ya pasti beda … yang itu supir gojek … yang kemarin dari grab hehehe.” Wahyu terkejut dan dalam hati terbersit rasa lega yang sungguh melegakan, ternyata Astrid belum punya pacar! Yes! Ia menepuk jidatnya seraya berkata senang, “Oh tentu saja hehehe.” Astrid mengerutkan kening, “Emang kamu pikir siapa? Pacar?” Wahyu nyengir, “Abis mereka pada ga pake jaket seragamnya sih hehehe.” “Itu karena mereka menghindari ojek pangkalan yang masih ada di sekitar wilayah rumahku,” terang Astrid, “aku pulang dulu ya.” Astri pamit lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Wahyu dan mengecup pipi Wahyu. Wahyu terkesiap ia tak menduga Astrid akan mengecup pipinya. “Thanks Yu buat hari ini,” ucap Astrid tersenyum lalu membalikkan badan menyeberangi jalan. “Hey harusnya aku yang berterimakasih!” teriak Wahyu pada Astrid yang telah naik ke boncengan motor. “Aku akan hubungi kamu Trid!” teriak Wahyu lagi pada Astrid yang telah bergerak menjauh di atas motor yang menderu. Wahyu melangkah masuk ke dalam lobi apartemen dengan hati bahagia. Baru kali ini ia bisa merasakan bahagia sejak terakhir Lala memutuskannya. Ia menuju lift dan terkejut, di dalam lift tampak seorang pria botak dengan tubuh yang dipenuhi tato tadi. Wahyu menyapa, “Halo Bang, saya Wahyu, tetangga sebelah apartemen.” Pria botak itu hanya melirik sekilas pada Wahyu dan kembali acuh tak acuh. Pintu lift terbuka. “Saya duluan Bang,” ucap Wahyu lalu berjalan keluar lift. “Hey Bro Wahyu!” Wahyu menoleh mendengar namanya dipanggil. Ternyata pria botak dengan tubuh penuh tato itu yang memanggil. Ia berdiri di depan pintu apartemennya, menatap tajam Wahyu, berkata, “Nama gue Ajo, kalau ada apa-apa, lo ketok aja kamar apartemen gue!” Wahyu tersenyum dan mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar apartemennya. Selama tinggal di sini ia tak pernah mengenali para tetangga apartemennya, kini hatinya lebih lega karena ia tak merasa sendiri, ini mungkin yang dinamakan membuka diri itu. Wahyu menyalakan lampu. Berjalan mendekati tumpukan kardus-kardus di ujung ruang. Memperhatikan sebentar lalu manggut-manggut memahami apa yang dimaksud Astrid tentang melupakan tanpa harus membuang, kemudian ia duduk di sofa di sebelah boneka Teddy Bear lalu tersenyum melihat boneka itu. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD