LIFE GOES ON

2425 Words
Wahyu menyalakan laptop di atas meja kerjanya. Ia membuka file-file lama yang berisikan proyek-proyek mengisi efek suara yang pernah dikerjakannya. Ada proyek suara untuk mengisi efek suara biskuit, proyek suara untuk mengisi efek suara mesin motor, proyek suara untuk mengisi efek suara air dan lain sebagainya. Wahyu menghela nafas, receh sekali proyek-proyek yang didapatkannya ini. Pantas saja Lala kecewa karena itu semua memang tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup. Masih terngiang kalimat Lala di telinganya. Berubah maksudku, kamu menjadi pria yang lebih dewasa lagi, berubah untuk mencari pekerjaan yang lebih settle lagi, lebih mapan lagi dan ga gini-gini aja! Yu, kamu harus berubah untuk punya rencana buat masa depan kamu! Lala benar, ia harus berubah untuk masa depan dirinya sendiri. Dan kamu, kalau kamu ga puas dengan pekerjaanmu ya cari lagi dong, jangan cuma ngeluh doang, kamu bukan abege labil lagi Yu! Dan lagi-lagi Lala benar, betul ia tak puas dengan pekerjaan ini, tapi ia pun tak mau mengganti pekerjaanya ini karena hati kecilnya entah kenapa masih menyukai pekerjaannya sebagai pengisi efek suara ini. Wahyu memakai headphone-nya lalu melihat video-video hasil kerjanya yang telah banyak dipakai di iklan-iklan komersil di televisi. Ia mencoba menemukan lagi kecintaannya pada pekerjaan ini, menemukan kembali hasratnya. Ia mendengarkan suara renyah saat biskuit digigit, ia mendengarkan suara mesin motor yang menderu di jalan tanpa hambatan, ia mendengarkan gemericik suara air sungai yang mengalir. Sungguh semua iklan itu jika tanpa suara yang dihasilkannya hanya akan menjadi iklan bisu saja dan hatinya menjadi senang melihat iklan-iklan itu bersuara. Wahyu kini menyadari, ia memang tak puas dengan pekerjaannya tapi itu bukan berarti ia harus mengganti pekerjaannya, ia tak harus mengganti apa yang disukai hatinya. Ia hanya harus lebih mencintai apa yang dilakukannya lalu lebih rajin lagi mencari proyek-proyek mengisi suara agar semakin banyak memiliki penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Kalimat kuncinya adalah love what you do and do what you love. Wahyu mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi salah satu temannya di sebuah rumah produksi. “Yo Bro, kemana aja lo? Banyak kerjaan nih dari kemaren nungguin lo … tapi yah masih proyek ngisi suara-suara receh gitu lah … gimana mau lo ambil ga?” sahut suara temannya di ujung telepon sana. Wahyu tersenyum lebar, berkata, “Kirim semua file mentahnya ke gue Bro, gue ambil ‘tu kerjaan semuanya!” Kini Wahyu jadi mengerti akan maksud dari kalimat Astrid yang terngiang di telinganya. Aku tidak berlari menjauh, tidak menghindar, tidak melupakan, tidak membuang apa pun … aku hanya perlu menata semuanya ulang tanpa ada yang harus dihilangkan. Astrid benar, ia hanya perlu menata ulang semuanya kembali. Menata ulang hidupnya, pekerjaannya dan kisah cintanya. Tidak ada yang perlu dibuang, diganti atau dihilangkan. Wahyu jadi teringat Astrid, ia segera melihat pesan WA yang dikirimkannya pada Astrid berulang kali sejak beberapa hari lalu tapi semua pesannya itu hanya terlihat dengan ceklist satu, tak terkirim. Wahyu mencoba menghubungi Astrid. Telepon yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Selalu begitu balasan teleponnya dari berhari-hari lalu. Wahyu mengerutkan keningnya. Kemana Astrid? Batin Wahyu. *** Wahyu sedang bersiap-siap pindah dari apartemen hari itu saat Lala datang menemuinya. “Aku kesini bukan mau cari ribut Yu,” ucap Lala melihat Wahyu mengerutkan keningnya. Wahyu berjalan mendekatinya. “Lalu untuk apa La? Semua sudah selesai bukan?” tanya Wahyu dengan intonasi suara yang lebih tenang dan nyaris tidak ada emosi lagi. “Aku … aku kesini mau minta maaf … telah membohongimu selama dua setengah tahun,” lanjut Lala, “aku kepikiran ini terus, aku merasa kamu ga pantas diperlakukan seperti ini, kamu pria yang baik dan ga pantas dibohongi … aku merasa berdosa dan ga tenang Yu.” Wahyu terdiam menatap Lala, ia bisa merasakan kegelisahan dan perasaan bersalah yang terus menghantui Lala dari sorot matanya yang sayu. “Kamu ga salah-salah banget kok La, maksudku aku menyumbang kesalahan juga sehingga kamu berpaling, kamu benar seharusnya dari dulu aku lebih serius dalam menjalani hidupku dan menyiapkan masa depanku,” ungkap Wahyu, “… tapi ya sudahlah … aku memaafkanmu.” “Terimakasih kamu sudah memaafkan … kita tetep temenan ‘kan?” harap Lala. Wahyu tertawa, “Untuk yang ini aku belum bisa jawab La … aku masih menata ulang dulu semuanya.” “Menata ulang? Maksudmu kamu dapat pekerjaan baru?” tanya Lala. “Nope, aku masih dengan pekerjaan lamaku, aku menyukainya La … aku ga akan mengganti pekerjaan itu … menata ulang maksudnya, hidupku masih dalam proses pemulihan setelah semua ini, aku juga belum bisa mutusin sekarang apakah kita masih temenan atau engga setelah semua yang kamu lakukan itu,” jelas Wahyu. Lala mengangguk, “Ya, itu cukup adil … trus kamu ga akan ngasih tau aku kemana kamu akan pindah?” Wahyu tersenyum, “Ga sekarang … mungkin nanti.” DUA BULAN KEMUDIAN. Bayu dan Ira berjalan menuju sebuah rumah sederhana dengan sebuah motor baru yang terparkir di teras rumah, mereka saling pandang dan tersenyum, lalu mereka mengetuk pintunya. Pintu dibuka, tampak Wahyu berdiri dengan senyum lebarnya. “Ayo masuk! Selamat datang di kediaman Wahyu Priyanto!” sambut Wahyu. Bayu dan Ira melangkah masuk rumah dan menatap sekeliling. “Waah mantap … meski ga semewah apartemen tapi lo harus berbangga ini adalah rumah lo sendiri,” ucap Bayu dengan tawa senang, “dan keliatannya lo sedang sibuk juga ya?” Bayu menunjuk pada seperangkat keyboard musik baru yang tersambung pada komputer serta dua monitor layar besar di meja kerja. “Yap keyboard itu buat bikin suara macam-macam efek … masih ngisi suara-suara yang ga penting sih Bay, tapi setelah gue jalanin pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh ternyata menyenangkan juga dan posisi gue sebagai pengisi suara efek itu ternyata kalau dipikir-pikir krusial juga loh … bayangin sebuah iklan lagi menggigit biskuit tanpa ada suara biskuit yang tergigit ‘kan aneh,” jelas Wahyu, Bayu mengangguk setuju. “Bukan lumayan lagi … tapi ini bagus banget! Dalam dua bulan lo bisa merubah hidup itu gue salut Yu!” timpal Ira. Wahyu tersenyum, “Yah meski rumah subsidi, motor nyicil ….” “Ga masalah itu … tapi omong-omong siapa yang bisa membuat lo kembali ke jalan yang benar ini?” tanya Bayu, “apakah karena tujuh cara yang gue kasih tau itu?” Wahyu menggeleng, Bayu mengerutkan kening, “Trus kalau bukan tujuh cara itu, siapa dong?” “Yah katakanlah ada orang yang menampar keras pipi gue,” jawab Wahyu. “Biar gue tebak … Astrid?” sahut Ira. Wahyu mengangguk dan seketika tatapan mata Wahyu menjadi kosong. Bayu dan Ira saling menatap, mereka paham akan arti tatapan kosong itu. “Gue ga ngerti … kemana anak itu ya? Menghilang begitu aja,” keluh Ira. “Nomer yang dia kasih ga bisa dihubungi … dan kita ga tau nama lengkapnya siapa … jadi susah mau nyari di sosmed juga,” tambah Bayu. Wahyu manggut-manggut, berkata, “Sepertinya memang tidak mau ditemukan … tapi cewek itu sungguh membawa perubahan buat gue … gue cuma mau ketemu sama dia lagi, bilang thank you.” Kemudian mata Wahyu menatap keluar jendela, ada rindu yang memberati hatinya. Bayu dan Ira sungguh menyadari bahwa sahabatnya ini sedang jatuh hati lagi. “Lo sudah coba ke gedung pertunjukkan tempo hari? Atau café di sebelahnya? Siapa tau Astrid suka nongkrong di sana,” saran Ira. “Hampir tiap malam gue kesana Ra … tapi dia ga ada,” jawab Wahyu. Bayu menepuk-nepuk bahu Wahyu, berbisik, “Tenang Sob … kalau sudah jodoh ga akan kemana.” Wahyu mengangguk dan tersenyum. “Hey lihat nih!” seru Ira lalu membesarkan volume di televisi layar datar berukuran besar itu. Sebuah berita mengenai pernikahan antara Lala Camelia dengan vokalis Joker Band sedang ditayangkan. Bayu terkejut lalu segera memberi tanda pada Ira untuk segera mengalihkan berita itu sebelum Wahyu melihatnya dan menjadi histeris sedih lagi. Ira mengangguk, tapi Wahyu malah mengangkat tangannya melarang Lala untuk memindahkan berita tersebut, sebaliknya ia meminta Lala membesarkan lagi volumenya. Bayu dan Lala saling menatap bingung. Wahyu tersenyum melihat berita itu kemudian ia mengambil telepon genggamnya dan mengetik sesuatu. Bayu dan Ira penasaran mendekati untuk melihat apa yang diketik Wahyu. “Lo ga salah? Ngucapin selamat ke Lala? Pake samawa lagi!” ketus Bayu. “Dan lo masih nyimpen nomer Lala?? Kita pikir lo sudah hapus nomernya Yu,” timpal Ira. “Bukan nomernya aja yang masih gue simpan,” sahut Wahyu tertawa lalu ia menunjukkan lemari yang berisikan boneka Teddy Bear yang lehernya sudah ia jahit, tumpukan foto-foto Lala bersama dirinya, majalah-majalah fashion dan semua barang dari Lala, “oiya, sekali-sekali gue juga suka nongkrong di taman dan main-main ke sosmednya.” Bayu menepuk jidatnya. “Ya ampun Yu! Jadi lo ga ngikutin tujuh cara untuk melupakan mantan yang gua kasih tau itu? Trus gimana kalau lo punya cewek lagi dan melihat itu semua?” tunjuk Bayu pada lemari yang dipenuhi barang-barang Lala. “Simpel aja Bay, gue tinggal bilang kalau gue dan mantan udah jadi temen sekarang … atau kalau cewek baru gue itu masih keberatan, gue juga ga keberatan untuk menyingkirkan itu semua kok,” ujar Wahyu, “tapi bukan disingkirkan karena gue mau ngelupainnya. Tau perbedaannya ‘kan?” Bayu manggut-manggut. “Tapi, kalau semua itu belum lo buang? Jadi lo belum move on dong?” celetuk Ira. Wahyu tersenyum, “Move on itu tidak perlu membuang yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita Ra … kenangan itu, rasa pernah sakit itu, akan selalu ada di sana … ga akan bisa gue ilangin … tapi itu semua udah ga bisa nyakitin gue lagi ….” “Move on itu adalah berani menghadapi apa yang terjadi … berani meng-handle rasa sakitnya … karena itu yang akan membentuk diri kita yang baru, itu yang akan mengobati luka kita … ga mudah tapi bisa dilakukan,” lanjut Wahyu, “tau ga? Kalau sulit melupakan, ya memang tidak harus dilupakan. Sesimpel itu.” “Dan gue juga ga perlu menunjukkan pada dunia kalau gue sudah bahagia, ga perlu gue posting foto-foto gue lagi hepi di sosmed gue… yang penting hati gue, pikiran gue betul-betul hepi, itu udah cukup … gue yang ngerasain, dunia ga perlu tahu juga ga masalah,” tambah Wahyu. Bayu dan Ira berdiri melongo mendengar kalimat-kalimat Wahyu yang penuh dengan filosofi itu. “Kesambet apaan ni bocah bisa bijak gitu?” bisik Bayu pada Ira. “Kesambet cinta kali,” balas Ira berbisik. “Bukan kesambet cinta, tapi kesambet Astrid,” bisik Bayu lagi. Wahyu tertawa melihat kedua sahabatnya yang berbisik-bisik itu. “Bukan Astrid aja sih … lo berdua juga banyak ngebantu gue dengan cara kalian, perhatian kalian, itu juga berpengaruh ke gue, gue makasih banget ... sekarang life goes on, gue harus terus hidup, so inilah gue yang baru,” pungkas Wahyu tersenyum cerah. “Terus … tujuh cara melupakan mantan dari gue itu ga ampuh gitu?” tanya Bayu. Wahyu mengusap-ngusap dagunya, sambil mengerutkan dahi seakan sedang berpikir keras kemudian berkata, “Mmmm, sebenernya bukannya ga ampuh sih … tapi resep itu sudah ketinggalan jaman aja ….” lalu Wahyu tertawa. “s****n!” tukas Bayu sebal. *** Segelas soda bercampur sari buah dan es batu diserahkan bartender di atas meja bar. Wahyu mengambil gelas itu lalu meneguknya. Matanya menyapu ruangan. Hatinya berharap malam ini ia bisa bertemu dengannya. Hari ini sudah di ujung bulan ketiga ia mengunjungi café ini. Suara musik dari seorang DJ di atas panggung memenuhi ruangan. Beberapa orang berdansa di lantai dansa, beberapa orang bergoyang di meja-meja mereka dan sebagian banyak dari mereka malah ngobrol dengan suara tawa yang keras sembari menikmati musik dengan sesekali menggoyangkan kepala. Tiga jam lewat. Tidak ada tanda akan kemunculan dirinya. Wahyu menghela nafas, bahkan untuk bertanya pada bartender Wahyu sudah malas karena ia sudah melakukannya setiap datang kesini sejak tiga bulan lalu dan jawaban bartender selalu sama dan kesal, “Gatau! Cewek yang nongkrong di meja ini banyak gue ga apal satu-satu!” Wahyu menghabiskan minumannya, meletakkan gelasnya lalu membayar. Kemudian Wahyu berjalan lesu keluar menuju tempat parkir. Sepertinya ia tak pernah bisa menemui gadis yang telah memukau hatinya itu lagi. Wahyu menyalakan mesin motornya, menderukannya dan siap melesat membelah malam sepi seperti malam-malam kemarin. “Wah motor baru ya!” seru seseorang dari belakangnya. Wahyu terkejut dan menoleh cepat. Hatinya nyaris berhenti berdetak setelah melihat siapa yang berkata tadi. Ternyata Astrid! Gadis itu tersenyum manis dengan kedua belah tangan di pinggangnya. Matanya berbinar melihat Wahyu di atas motor barunya. Wahyu segera mematikan mesin motornya dan melompat dari sadel untuk segera memeluk Astrid. Astrid tertawa dalam pelukan Wahyu, “Hey hey … ada apa ini? Hahaha ….” “Kamu kemana aja sih?” tanya Wahyu gemas menatap wajah Astrid dari dekat. “Emang kamu nyariin aku?” balas tanya Astrid. “Ya iyalah …” jawab Wahyu. “Ke sini?” Wahyu mengangguk, “Hampir tiap malam …selama tiga bulan.” Astrid tertawa lagi, “Wow … ya maap.” “Kamu ga bisa dihubungi, WA ga ke kirim, aku khawatir Trid,” bisik Wahyu. “Hapeku rusak Yu … eh khawatir apa kangen nih?” goda Astrid. Hati Wahyu begitu senang ia tak tahan lagi untuk menciumi pipi Astrid. Astrid tertawa-tawa geli. ‘Udah … udah … geli tau!” seru Astrid lalu melepaskan pelukan dan ciuman Wahyu yang bertubi-tubi lalu bertanya, “itu motor barumu?” Wahyu mengangguk penuh semangat. “Sekarang kamu ga usah pesen gojek atau grab lagi, aku siap nganterin kamu kemana aja!” seru Wahyu dengan wajah senang. Astrid tersenyum sembari mengusap-ngusap bodi motor itu. “Aku senang kamu sudah bangkit Yu,” ujar Astrid, “dan melihat kamu sudah maju begini, aku ikut bahagia.” “Itu semua karena kamu Trid!” balas Wahyu. Astrid menggeleng, “No … itu semua karena dirimu sendiri … aku hanya memantik sedikit tapi yang menyalakan dengan besar kekuatan hatimu ya dirimu sendirilah.” “Ayo, aku ingin mengajakmu jalan-jalan!” ajak Wahyu, “dan ada yang ingin aku katakan---“ Wahyu menghentikan kalimatnya ketika seorang pria gagah muncul di belakang Astrid. Wahyu tersenyum, berkata, “Itu gojek apa grab? Cancel aja Trid, biar aku yang anter kamu.” Astrid menggeleng lalu meraih tangan pria itu, menggenggamnya dengan erat. Astrid tersenyum sembari berkata pada Wahyu, “Yang ini bukan ojek online Wahyu … ini suamiku … sebulan lalu kami telah menikah … Sayang, kenalin ini Wahyu, teman baikku.” Astrid memperkenalkan. Pria itu mengangguk dan tersenyum ramah pada Wahyu. Sedang dunia Wahyu bergoncang dan ia hanya bisa melihat gelap. Lalu terdengar suara Astrid berteriak-teriak menggema dalam relung kerinduannya yang tak berbalas. “Yu! Wahyu bangun! Bangun! Kok pingsan sih!?” TAMAT
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD