10. Datang

1269 Words
Mama masih terus menatap Sean penuh selidik. Sementara yang ditatap hanya membalas dengan senyuman. Bukan senyuman senang atau sejenisnya, melainkan pengalihan. Sean tidak mau Mama mengetahui apa yang kini tengah dia pikirkan. Dia tahu kalau kemungkinan berhasilnya tidak besar, tetapi tetap saja harus berusaha, bukan? Tidak tahan dengan tatapan menusuk sang ibu, Sean berdeham keras dan mengubah posisi duduknya. Dia mencoba peruntungan lain yang bisa menyelamatkan diri dari Mama. Tidak bermaksud untuk mengelabuhi, dia sekadar menutupi sampai tiba waktunya untuk jujur. “Mama tidak percaya pada Sean?” tanya Sean dengan wajah menyedihkan yang dibuat-buat. “Kamu tidak dalam keadaan bisa dipercaya,” ujar Mama penuh penekanan.  Tangan Sean bergerak menyentuh rambut bagian belakang. Namun, dia refleks menarik tangannya kembali begitu sadar. Dia menghindari tatapan mata dengan Mama saat melihat senyum kemenangan ibunya.  Sebuah dengkusan lolos dari mulut Sean. Kenapa dia malah melakukan hal ceroboh seperti itu. Mama sudah hafal kebiasaannya sejak masih anak-anak. Dia selalu menggerakkan tangan ke rambut belakang begitu ketahuan berbohong. “Kamu mungkin pandai mengelabuhi orang tertentu, tapi Mama tidak termasuk salah satu dari mereka. Mama yang mengawasimu sejak masih dalam kandungan. Kamu pikir akan mudah membohongi Mama?” “Bukan begitu, Ma. Sean hanya berusaha meyakinkan Mama kalau Sean serius.” “O ya? Kamu benar-benar serius? Kamu tidak sedang menjadikan Izza sebagai pelarian?” Sean bungkam. Dia tidak sedikit pun berpikir akan menggunakan Izza sebagai tempat pelarian. Gadis itu berbeda dengan Nadia. Satu-satunya kesamaan mereka adalah wajah. Sean memang mengingat Nadia setiap kali melihat Izza. Wajar, bukan? Tetap saja, Sean merasakan hal baru ketika berhadapan dengan Izza. Seluruh indra Sean seolah tidak bisa merespons perintah. Izza terlalu memesona sampai dia tersihir. Nadia dulu juga membuatnya tidak berkutik, tetapi efek yang ditimbulkan berbeda. Sean tidak yakin bagian mana yang tidak normal. “Tentu saja tidak, Ma.” “Apa kamu tidak akan goyah meski Nadia muncul lagi?” “Itu tidak akan terjadi, Ma.” “Bagian yang mana? Bagian kamu tidak akan goyah atau bagian Nadia muncul lagi?” “Keduanya tidak akan terjadi,” kata Sean mantap. “Kamu tidak pernah tahu bagaimana permainan dunia ini. Jangan terlalu percaya diri, Sean. Semua kemungkinan bisa terjadi.” “Sean tidak bermaksud untuk mendahului takdir atau terlalu percaya diri, Ma. Sean hanya mengikuti kata hati.” “Hati-hati, Sean. Hati itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Sekali saja terluka, hati tidak akan pernah sama. Kamu tidak bisa seenaknya berpindah. Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu sekarang.” Kata-kata Mama sangat tepat. Sean juga menyetujuinya. Kini, jantung pria itu bahkan berdetak keras. Dia bergetar memikirkan masa depan bersama Izza. Tidak ada jaminan dia akan membahagiakan Izza. Dia juga tidak berani berjanji. Lalu, apakah keputusan menikahi Izza ialah kesalahan? “Bisakah kamu menjaga hati?” “Maksud Mama?”  Mama menghela napas. Dia merasa menyesal karena telah merencanakan pertemuan Sean dan Izza hari itu. Harusnya tidak usah ikut campur. Jika Sean ingin membuka hati, dia pasti akan bertemu dengan wanita yang tepat suatu hari nanti. Semua sudah terjadi. Mama bahkan sudah mengajukan Sean pada Mami dan mereka sepakat dengan perjodohan. Tidak ada salahnya menyatukan dua insan yang masih sama-sama sendiri. Lagi pula, keduanya tampak saling tertarik. Walaupun, Izza berusaha menutupi. “Kamu harus betul-betul menguatkan hati jika Nadia kembali muncul. Jangan membuat Izza merasa sebagai cadangan. Dia wanita baik dan Mama tidak mau melihatnya terluka.” Kepala Sean mengangguk. “Sean juga tidak ingin melukai Izza, Ma,” ucapnya tulus dan dia memang mengatakan kejujuran.  “Kalau begitu, Mama sangat lega. Pegang kata-katamu, Sean,” ujar Mama sambil menepuk-nepuk pundak sang anak. “Masa lalu bisa menjadi gangguan berbahaya bagi sebuah hubungan. Jangan sekali pun berpikir untuk memasukkannya dalam hidup barumu, jika kamu masih memikirkan kenangan kalian.” “Sean tahu, Ma.” “Good. Mama percaya kamu sudah lebih pintar mengendalikan diri.” Mata Mama memancarkan cahaya ketika membelai rambut Sean. Senyumnya mengembang.  “Jadi, kapan kita akan melamar Izza?” Mama melotot pada Sean yang tertawa. *** “Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Izza,” kata Axel dengan wajah serius. “Karena Papa sudah tiada, saya sebagai anak sulung sekaligus kakak Sean yang mengajukan pinangan ini.” Malam ini keluarga Sean datang untuk meminang Izza. Tidak ada gunanya menunda hal baik. Apalagi ketika Mami menelepon dan mengatakan kalau Izza sudah menyetujui niat Sean. Segala hal sepertinya berjalan lancar.  “Saya mewakili keluarga sangat berterima kasih atas kunjungan dan niat baiknya. Namun, semua keputusan ada pada Izza, jadi ....” Faris menoleh pada sang adik. Izza meremas-remas gamis. Dia menunduk dalam. Kakinya bergerak-gerak pelan. Malam seperti ini datang juga. Dia tidak menyangka akan mengalaminya lebih cepat dari perkiraan. Dengan pria yang belum lama dikenal pula. Sungguh tidak disangka. “Izza, bagaimana keputusanmu, Sayang?” Mami menggenggam tangan Izza. Menyalurkan kekuatan pada sang anak yang terus bergetar. Izza mendongak dan melihat kedua mata Mami yang menyejukkan. Sedetik kemudian, Izza mengangkat kepala. Bukan untuk menatap orang-orang yang sedang menanti jawaban. Dia hanya tidak ingin terlihat gugup, meski kenyataannya begitu. Setelah menenangkan debar jantung, dia mulai mengeluarkan suara. “Bismillah. Saya menerimanya.” Sean memandang takjub pada Izza. Gadis itu semakin memesona dengan gamis jingganya. Sang pria bisa melihat kegugupan Izza. Dia sendiri harus mencengkeram erat kedua pahanya agar tidak terlihat memalukan. “Alhamdulillah. Semoga niat baik ini bisa segera diresmikan.” Suara Axel kembali terdengar tenang.  “Amin!” teriak Sean penuh semangat. Dia mengusap tengkuk saat semua orang menatapnya, kecuali Izza. Gadis itu sekarang sudah menunduk lagi. Sean jadi ingin mengangkat dagu Izza agar dia bisa melihat wajah manis sang pujaan hati. “Jangan mempermalukan diri lebih lama, Dik,” bisik Axel. Sean memutar bola mata.  Memangnya kenapa kalau Sean bahagia setelah Izza menerima lamarannya? Tidak bolehkan dia merasa senang? Semua pria akan merasakan hal itu saat mendapat persetujuan dari gadis yang dicintai, tak terkecuali dirinya. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kesempatan untuk memiliki Izza sudah ada di depan mata. Dia bahkan bisa melihat senyum Izza meski gadis itu menunduk. Izza tidak terpaksa menerima lamaran Sean, bukan? “Mau sampai kapan kamu menatapnya begitu?” “Kakak merusak suasana. Tidak bisakah Kakak diam?” tanya Sean tajam. Axel berdecap. “Jadi, kapan sebaiknya mereka menikah?” tanya Axel mengalihkan perhatian.  Perasaan panas langsung menjalari tubuh Izza, terutama bagian wajah. Dia yakin kalau sekarang mukanya merah. Dalam hati, dia berharap tidak ada yang memperhatikan, terutama Sean. Bisa-bisa dia pingsan saking malunya. Gadis berjilbab tidak pernah tahu jika Sean terus melihat ke arahnya. Mengikuti semua gerak gerik Izza yang tampak menghibur. Dia akan menyimpan memori ini dalam ingatan selamanya. Wajah Izza berlipat kali lebih menakjubkan saat tengah malu. “Lebih cepat, lebih baik, bukan?” tanya Mami. “Sepertinya Sean juga setuju. Iya kan, Sean?” Sean terbatuk dan mengalihkan mata secepat mungkin. Dipergoki calon mertua adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya. Namun, dia terlambat. Mami pasti sudah tahu apa yang dia lakukan. Memalukan. “Tentu saja, Tante. Saya setuju. Selama Izza menyetujui, saya akan sangat senang memenuhinya.” “Kamu akan menjaga Izza, kan?” Sean menoleh pada Faris.  “Saya akan berusaha dengan segenap jiwa raga untuk menjaga Izza,” ujar Sean yakin. Faris mencoba tersenyum dan mengangguk. Biar bagaimanapun, ini adalah keinginan Izza. Dia akan mendukung jika itu bisa membuat Izza berada di tempat yang tepat. “Itu sangat melegakan. Izza adalah adik yang sangat berharga bagi saya. Saya senang dia bisa menemukan jodoh yang baik seperti kamu, Sean.” Mata Sean memicing. Dia yakin jika Faris berat melepas Izza padanya. Pria itu awalnya gigih mencegah Sean mendekat. Apa Faris sekadar bersikap formalitas? Dia tidak sungguh-sungguh ingin melepas Izza. Haruskah Sean waspada?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD