9. Hati yang Terluka

1310 Words
“Kamu serius mau menikah dengan Sean?” tanya Faris dengan wajah datar. Dia tidak menatap Izza seperti biasa. Pandangannya mengarah pada lantai putih yang dingin, kosong. “Iya. Aku rasa Mas Sean pria yang baik.” Izza melirik takut pada sang kakak yang masih tetap bertahan dengan posisi menunduk. Mereka sedang berada di beranda, menikmati sore yang sebentar lagi akan berganti malam. “Kamu memanggil Sean dengan sebutan ‘Mas’?”  Ada nada tak suka dalam pertanyaan Faris. Izza tahu tidak akan mudah membujuk sang kakak agar menyetujui rencana pernikahan itu. Dia sendiri masih harus meyakinkan dirinya. Ini terasa terlalu cepat, tetapi entah mengapa dia tidak ingin mundur. Suatu perasaan aneh mendorongnya untuk terus maju. Pernikahan adalah sebuah ikatan suci antara dua insan. Di mana hal itu dinilai sebagai ibadah terpanjang bagi seorang hamba. Menikah membuka banyak jalan untuk mendapatkan pahala. Bahkan sesuatu yang kita anggap remeh bisa mendatangkan kebaikan. Mulai dari memasakkan suami, tersenyum pada pasangan, sampai mencarikan nafkah untuk istri. Izza mengerti jika sebuah pernikahan bukan hal yang bisa dipermainkan. Dia juga tidak berniat mempermainkan perasaan Sean. Cinta bisa tumbuh seiring dengan kebersamaan dengan orang baru, bukan? Banyak pasangan yang menikah tanpa cinta dan akhirnya menemukan kebahagiaan.  “Ada yang salah? Dia lebih tua dariku, kan?” Mata Faris langsung menatap tajam Izza yang kini mengalihkan perhatian dengan menekan-nekan layar gawai. Terus terang saja, Izza merasakan sesak ketika mengutarakan keinginan untuk menikah. Ada rasa mengganjal yang terus menimbulkan rasa sakit di dadanya. “Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau Sean itu aneh?” tekan Faris.  Itu betul sekali. Izza masih menganggap Sean aneh sampai saat ini. Sebenarnya bukan aneh. Lebih tepatnya adalah misterius. Menurut Izza, Sean diselimuti oleh banyak rahasia. Berbagai pertanyaan seolah memenuhi setiap tindakan dan perkataan pria itu. Namun, dia tidak menganggapnya sebagai masalah. Semua orang memiliki privasi masing-masing. Pasti ada satu dua hal yang ingin kita sembunyikan. Itu sesuatu yang lumrah, bukan? Izza dan Faris juga memiliki rahasia mereka sendiri. Jadi, tidak mengapa jika Sean juga mempunyai batasan. “Itu karena aku baru pertama kali melihatnya. Setelah mengobrol beberapa waktu, Mas Sean tidak seaneh perkiraanku. Dia hanya sedikit tertutup.” “Sedikit tertutup atau berusaha menyembunyikan sesuatu?” “Sama saja, kan? Intinya ada sesuatu yang memang tidak bisa dikatakan. Kita juga punya rahasia, Kak,” bela Izza. Faris menghela napas.  “Begitu?” tanya Faris setengah menerawang. Dalam hati, dia membenarkan ucapan Izza. “Jadi, kamu sungguh akan meninggalkan Kakak?” Ngilu di hati Izza bertambah. Kata-kata Faris seperti menyatakan kalau mereka akan berpisah selamanya. Ini pertama kali Izza ingin melepas sang kakak. Dari dulu, dia selalu berharap bisa berada di sisi Faris dan tidak pernah berpisah.  Mungkin inilah yang dimaksud Mami. Secara tidak langsung, Izza dan Fariz membangun tembok pertahanan yang menghalangi sosok lain untuk mendekat. Mereka tidak menyadari kalau hal itu membuat masalah pelik. Keduanya saling menjaga dan mengasihi. Tidak ada yang menyangka mereka akan saling bergantung seperti sekarang. Parahnya, Izza dan Faris melibatkan hati. Siapa yang tahu pada akhirnya mereka akan terluka atau bahagia karena cinta. Semua kejadian sudah ditentukan oleh Sang Khalik. Kisah ini adalah salah satu skenario yang disiapkan Allah untuk membumbui kehidupan mereka.  “Mengapa Kakak malah bertanya seperti itu? Aku hanya akan menikah. Suatu hari nanti, Kakak juga akan menemukan wanita yang tepat untuk menjadi seorang istri.” Salah satu sudut bibir Faris terangkat membentuk senyum dingin. Menikah? Kata itu pernah terpikirkan olehnya. Dia menyandingkan kata menikah dengan Izza. Bahkan di setiap doa, dia menyebutkan nama sang adik. Saat ini, perbuatannya tampak salah. Atau dia memang sudah salah sejak awal? Semestinya Faris tidak membiarkan perasaan pada Izza tumbuh dan berkembang. Lebih buruk lagi, dia menginginkan Izza. Mengapa dia tidak menerima kenyataan yang ada. Izza itu adiknya. Dia hanya bertugas melindungi sampai Izza menemukan imam yang tepat. Mengapa dia bisa lepas kendali? “Kamu benar. Kakak nanti juga akan menikah. Seharusnya Kakak tahu kalau pembicaraan kita ini tidak akan menghasilkan apa pun. Kita hanya akan saling menyakiti.” “Kak!” protes Izza tak suka. Faris tersenyum. “Sudahlah. Ini hampir Magrib. Sebaiknya kita bersiap-siap salat.” Faris beranjak dan meninggalkan Izza.  *** Segala hal yang terjadi di muka bumi ini telah digariskan oleh Allah. Dialah pengatur semua kejadian yang dialami oleh hamba-hamba-Nya. Tidak ada makhluk yang luput dari perhatian-Nya, bagaimana pun bentuk mereka. Faris percaya jalan takdir tidak mungkin diubah. Allah memang memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa. Dia juga berjanji akan mengabulkan semua doa mereka. Pertanyaannya, sudah pantaskah kita meminta sesuatu itu pada-Nya.  Terkadang manusia hanya menuruti hawa nafsu. Mereka meminta sesuatu yang tidak pantas diterima. Karena itu, buatlah diri kita patut menerima pemberian-Nya. Jangan menjadi manusia tamak yang hanya ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar. Sang pria masih memandangi langit malam setelah mengadukan kegelisahannya pada Ilahi. Dia tidak menuntut banyak hal. Keinginannya adalah kebahagiaan untuk Izza. Jika pada malam-malam terdahulu dia menyematkan nama Izza dalam rangkaian kalimat pernikahan, kali ini tidak. Bukan karena telah menyerah, tetapi meredam gejolak hatinya. Dia tidak ingin larut pada pusaran kesalahan yang menjerat hati.  Aku rasa Mas Sean pria yang baik.  Kalimat itu kembali mengusik pikiran Faris. Dia juga setuju dengan pendapat Izza. Namun, dia tetap berpendapat kalau Sean memang menyembunyikan sesuatu. Entah apa. Semoga apa pun yang disembunyikan pria itu, bukanlah hal buruk bagi Izza.  “Tidak bisa tidur?” Faris menoleh. Ada Mami yang sudah mengenakan piama. Wanita itu mendekati sang anak. “Mami belum tidur?” “Seperti yang kamu lihat. Mami masih di sini.” Mami ikut memperhatikan langit yang dipenuhi bintang. Sementara Faris tidak berani melirik sang ibu. “Mami tidak perlu khawatir. Faris akan mencoba menerima keputusan Izza. Biar bagaimana pun, dia berhak memilih jalan hidupnya. Faris yakin dia cukup pintar memilih pendamping hidup,” ujar Faris pelan. “Itu lebih baik. Setidaknya, kamu sudah melangkah ke jalan yang benar.” “Sebenarnya Faris masih penasaran, mengapa Mami tidak begitu menyukai Izza sejak dulu. Maksud Faris, kami sama-sama anak angkat. Kenapa Mami membedakan posisi kami?” Akhirnya pertanyaan itu meluncur keluar. Mami menghela napas dengan berat. Faris menunggu Mami mengatakan kebenaran, tetapi tidak kunjung didapat. Waktu berjalan melambat. Mami terdiam sangat lama. Matanya menerawang jauh. Faris jadi menyesal.  Mau bagaimana lagi. Faris memupuk keberanian bertahun-tahun untuk mengobati rasa penasarannya. Setelah waktu yang panjang, dia bisa melontarkan beban itu. Namun, jika malah membuat suasana kacau, dia tidak akan mengulangi kecerobohannya lagi. “Kamu sungguh ingin tahu?”  Suara Mami bergetar. Dia mencengkeram erat pagar besi di hadapannya. Kedua mata wanita itu tidak berkedip. Faris mulai menyadari jika apa pun yang akan dikatakan oleh Mami, pastilah suatu kabar buruk. Jelas sekali Mami sedang menahan diri agar tidak meledak.  “Izza adalah anak dari wanita yang dicintai oleh papi kalian.” Kebenaran itu meruntuhkan semua rasa penasaran Faris. Jika apa yang dikatakan Mami benar, ini sangat buruk. Bagaimana bisa Papi membawa anak dari wanita yang dicintainya dalam kehidupan Mami. Melihat betapa sempurnanya rumah tangga Mami dan Papi, dia sulit memercayai ucapan yang didengar barusan.   Hidup selalu begitu. Yang kita lihat baik, belum tentu baik. Begitu juga sebaliknya. Itulah gunanya memperhatikan dan memahami seseorang. Kita akan tahu luar dalam. Bukan hanya yang tampak oleh mata, tetapi juga yang tersembunyi di hati. Mami tentu telah berjuang keras menerima kehadiran Izza di tengah keluarga. Faris tidak yakin apa alasan Mami memutuskan menerima Izza. Karena dirinya yang keras kepala atau permintaan sang suami. “Izza tahu?” “Kamu pikir dia akan bertahan di sini kalau tahu yang sebenarnya?” Tentu saja tidak. Izza tipe wanita yang tidak mau membebani orang lain. Jika dia tahu mengenai masalah ini, bisa dipastikan dia akan rela meninggalkan rumah. Semoga saja Allah selalu menjaga rahasia Mami. Sayangnya, kedua sosok yang tengah berbincang tidak pernah tahu jika ada sepasang mata lagi di sana. Kedua matanya sudah basah. Perlahan, dia melangkah dengan luka baru di hati. Dia berjanji tidak akan melukai Mami lebih lama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD