“ Walaupun kamu captain basket tetap saja kodratnya kamu siswa kayak saya. Kamu juga salah karena datang telat, hukuman berlaku untuk siapapun yang melakukan kesalahan” ketus gadis berambut panjang dengan keringat yang mengalir dipelipisnya.
Reza menghentikan aktiftasnya bercumbunya ketika mendadak teringat kenangan sepintas masa SMA nya. Serius saat sekarang ini? Saat ia tengah meremas p******a montok Cintya dan menikmati tubuh telanjang yang berbaring dibawahnya?
“ Sayang, kenapa?" desah Cintya sambil meraba perut Reza.
Reza mencium bibir pacarnya dan berbaring terlentang disebelahnya. “ Aku ingat ada acara keluarga di rumah. Kamu mau ikut?"
Cintya mendengus. " Malas ah! Mama kamu kan judes sama aku, yang ada entar aku dicuekin sama keluarga kamu."
Reza mencium bahu telanjang Cintya lalu beranjak dari tempat tidur dan mengenakan kemejanya yang tergeletak di lantai. " Malam ini kamu mau kemana?"
" Paling clubbing sama Jihan."
" Engga ke Hana?"
Cintya menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan mengambil gaun tidur hitamnya. " Hana lagi pergi sama Aldi, aku denger sih mereka mau ajak si Bunga sekalian."
Reza yang tengah memakai sepatu menghentikan aktifitasnya mendengar nama 'Bunga' disebut. " Bunga?"
" Itu lho yang pernah ketemu sama kita di Cafe bareng Hana! Bunga si kutu SMA."
" Memangnya Bunga pacaran sama si Aldi?"
Cintya tertawa kecil. " Aldi engga mungkin pacarin Bunga, yang ada dia langsung nikahin itu cewe kali, secara si Bunga itu kan cinta terpendamnya Aldi."
" Kamu cemburu?"
" Udah lewat kali masa-masa itu, Yang." Cintya teringat masa pernikahannya dengan Aldi, pria yang begitu sopan dan menyayanginya. Bahkan, untuk berhubungan s*x saja Aldi harus meminta ijin padanya padahal jelas-jelas mereka sudah suami istri. " Aku rasa Bunga cocok jadi ibu sambungnya Hana."
" Aku malah sebaliknya."
Cintya mendongakkan kepala dan menatap bingung Reza yang tersenyum misterius. " Maksud kamu apa Yang?"
Reza menggelengkan kepala dan mencium bibir Cintya singkat. " See you, Baby."
Reza berjalan dengan langkah pelan menuju lift, ia memikirkan mengenai Bunga dan Aldi. Reza tahu Bunga ketika mereka masih SMA, bahkan ia masih ingat jelas wajah dan perkataan ketusnya pada dirinya meskipun setelahnya mereka sama sekali tidak pernah berinteraksi. Yang diketahui Reza, Bunga hanyalah gadis aneh yang setiap harinya selalu menampakkan wajah bingung . Gadis itu tidaklah cantik jika dibandingkan dengan kekasihnya, Cintya. Namun, ketika ia kembali bertemu dengan gadis itu di café, ada rasa rindu menjalar dihati Reza.
Menjadi Ibu sambung Hana dan menjadi istri Aldi? Sial, Reza tidak akan membiarkannya.
" Om, gimana jadi kita ngelamar Bunga?" tanya Reza begitu menghampiri Pak Bahrul yang tengah main catur dengan sepupunya.
" Gagal, Budenya tadi kasih tahu Om kalau Bunga engga mau sama kamu."
" Om, coba bujuk Budenya buat ngerayu Bunga."
" Kamu suka sama Bunga?" tanya Irham sepupu Reza.
" Yah lumayanlah buat dijadiin istri."
" Naksir?"
Reza mendelik ketus pada sepupunya yang tersenyum jahil.
" Kamu kalau suka sama Bunga ya deketin langsung, masa minta tolong Om sama Bude Mpie? Memangnya kamu masih anak-anak? " ejek Pak Bahrul pada ponakannya yang paling tua itu. "Ham, Om mau ke kamar mandi dlu, kamu teruskan saja mainnya dengan Reza."
" Lo masih sama si Cintya?" tanya Irham begitu Pak Bahrul masuk kedalam rumah.
Reza hanya berdeham sebagai jawaban.
" Lo masih pacaran sama si Cintya tapi lo mau nikahin yang namanya Bunga itu? Wahh lo serakah banget, bro!"
" Kalau gue dapatin Bunga buat jadi istri gue.." Reza menggantungkan kalimatnya dan tersenyum kecil pada sepupunya yang menatap penasaran.
" Gue penasaran sama si Bunga ini, gimana cantiknya dia sampai lo mau ngelepasin pacar abadi lo."
" she is not beautiful just she is an attractive girl."
...
" kamu ngapain pagi-pagi ada dirumah saya?" tanya Bunga bingung mendapati Reza berada dirumahnya pagi-pagi.
" Kamu engga sopan banget sih Kak, Reza kesini buat antar Bude Mpie." Mama menepuk lengan anaknya pelan.
" Budenya mana?"
" Lagi beli kupat tahu di depan rumah." Mama menatap Reza. " Nak Reza belum sarapan kan? Makan disini aja."
" Engga ngerepotin tante?"
" Engga kok, malah senang Tante kalau ada yang makan disini." Mama kembali menatap Bunga yang masih berdiri dengan wajah cemberut. " Kak, cepetan sarapan! Kamu mau datang telat kerja? Tadi Mama lihat di TV hari ini ada demo buruh di gedung sate dan pasti bikin macet."
" Kamu diantar sama Reza aja." sela Bude Mpie begitu masuk kedalam rumah.
" Engga ah!" sela Bunga cepat.
" Kenapa? Reza sengaja lho antar Bude kesini, katanya sekalian mau ketemu kamu. Lagipula diantar Reza lebih cepat kalau nunggu ojek online lama lho."
" Memangnya Reza engga keberatan antar Bunga?" tanya Mama semangat.
Reza tersenyum. " Engga kok tante, hari ini saya sengaja libur karena mau menemani bude Mpie kesini sekalian ketemu Bunga juga."
Bunga melongo mendengar jawaban Reza. Ia menatap sinis pria yang tengah tersenyum manis dengan pada dirinya.
" Ayo cepetan makannya Kak, kasihan Reza nunggu lama."
...
" Maksud kamu apa?" tanya Bunga begitu ia dan Reza berdua di mobil.
" Maksudnya?"
" Kamu ngapain kerumah saya pagi-pagi? Kamu engga mungkin kan kalau naksir saya?"
Reza tertawa keras. " Saya engga naksir kamu." bunga menghela napas lega mendengarnya. " Tapi saya mau kita nikah." lanjut Reza membuat Bunga melotot.
" Kamu mabuk ya?"
" Tadi malam saya engga clubbing, jd sudah dipastikan saya sadar seratus persen."
" Kamu kalau mau nikah kenapa engga sama Cintya aja yang jelas-jelas pacar kamu."
" Saya maunya sama kamu."
" Terserah." putus Bunga lelah.
" Saya yakin kita bisa jadi partner hidup yang baik."
" Alasannya?"
" Kamu menarik, saya suka lihat wajah bingung kamu."
Bunga berdeham. " Gini ya Pak Reza yang terhormat, saya memang perawan tua tapi saya bukan perempuan murahan yang asal mau diajak nikah, terutama sama laki-laki yang engga jelas kayak anda. Jadi saya saranin anda lebih baik nikahi saja Cintya yang memang jelas-jelas pacar kamu."
Reza tergelak. " Ini yang bikin kamu semakin menarik, kamu beda sama Cintya. Saya benar-benar suka kamu."
" Gelo." gumam Bunga kesal.