E[isode 6

1089 Words
9 July 2020 Suami terbaik Episode 6 Seragam sekolahku itu atasannya warna putih lengan pendek berbentuk seperti kemeja, tapi pria sinting itu menggantinya dengan kemeja lengan panjang, lalu roknya panjangnya hanya di atas lutut sedikit tapi sekarang berubah jadi sangat panjang, dasar pria kurang ajar berani sekali dia mencoba menggantinya, tapi diriku tidak akan tinggal diam begitu saja, aku harus mencari suami sok jadi ustad itu. Langkahku yang lebar saat pergi mencarinya itu berarti hatiku sangat marah padanya, tapi kini diriku berada di lantai 27, pria itu makan di lantai berapa? Ah tanya pada kak, Ezra, saja. Kan katanya kakak itu adalah pelayan pribadiku, matanya mencari sosok gadis cantik tersebut, ketemu, wanita itu ternyata sedang membawa makanan, mungkin itu untuk suami sinting ku itu, perlahan ku ikuti langkah kakak itu, tidak salah lagi ternyata benar, suamiku berada di teras apa Namanya, balkon mungkin eehehe, entahlah, ternyata tidak turun di lantai satu. Ku percepat saja langkahku saat berada tepat di dekatnya langsung ku lempar saja seragamku di depan wajahnya. Bruk… “ Dengar, ya! Pak ustad, seragamku kenapa jadi begini?!” tanyaku kesal. Entah terbuat dari apa hati suamiku itu, dia tetap tersenyum dan mengambil seragam sekolahku, ia bangkit dari tempat duduknya dan memandangku lembut, tapi kenapa dia melepas jas mahalnya itu,” Sayang, tidak boleh seorang wanita itu memamerkan auratnya,” katanya sambil memasangkan jasnya yang kebesaran di tubuhku. Apa lagi dia itu, tau tidak si? Aku tidak memamerkan apapun, habis mandi belum sempat ganti baju karena seragamku dirusak olehnya, jadi hanya memakan sinlet saja tau,’kan? Baju yang tidak ada lengannya hanya ada gantungannya saja dan celana pendek sepaha, lagi pula mulai deh penyakit suamiku yang suka ceramah. “ Apa si?! Lagi pula aku ini tidak telanjang, jadi aku tidak memamerkan apapun,” bantahku. “ Sayang, kamu ini bicara apa? Berpakaian tidak sopan seperti ini saja sudah dilarang malah mau telanjang, jangan ya! Tapi tidak apa si, jika mau telanjang, khusus di depan suamimu saja,” ucap suamiku sambil merangkul bahuku dan menuntunku masuk kembali kedalam kamar. Normal Ivan menaruh seragam istrinya di atas ranjang, setelah itu ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang tangannya terulur untuk menggapai istrinya, dengan sekali Tarik gadis itu sudah berada dalam pangkuannya, setelah itu dia mengurungnya dalam dekapan hangatnya tanpa perduli gadis itu selalu berusaha berontak. “ Istriku yang cantik, sudah tidak usah bergerak terus. Duduk yang tenang, kalau kau terus bergerak setelah ini kita akan melakukan kegiatan yang mendatangkan pahala sangat besar, sayang. Kau mau?” tanyanya jahil. Fira merengut sebal, tapi akhirnya dia menurut juga, lagi pula rasanya nyaman juga berada dalam dekapan hangat suaminya. “ Dengarkan baik-baik! Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, itu ada dalam surat al ahzab ayat 59, nah, itu sudah jelas bukan sayangku, jadi jika kamu hanya memakai dalaman saja begini, sesuai tidak?” tanya Ivan sambil mengecup pipi gadis itu membuat Sang gadis semakin jengkel dan berusaha mengelak. “ Hei, apaan si?! Main cium-cium saja, katanya ustad, pinter agama, bahkan menyebutkan ayatnya juga, tapi kenapa mencium wanita sembarangan, dosa tau,” sewotnya. Bukannya berhenti pria itu justru memutar tubuh istrinya agar menghadapnya lalu kembali menciuminya sampai gadis kesusahan untuk mengelak, kahirnya dia hanya bisa pasrah dengan hati gondok setengah mati. Setelah puas menjahili istrinya, Ivan menurunkan gadis itu dari pangkuannya, lalu mengambil seragam yang sempat di campakkan tadi, satu persatu ia melepaskan kancing bajunya setelah semua terlepas dia pun menyodorkan kembali pada Sang istri, pria itu dapat melihat alis gadisnya masih ditekuk dan enggan menerima pemberiannya,” Kamu mau pakai sendiri, atau aku pakaikan?” tanya Ivan sambil mengedipkan matanya genit. Dengan sangat terpaksa Fira pun mengambil baju itu. “ Tutup mata!” serunya kesal. Pria itu tersenyum simpul, bagaimana bisa hanya untuk ganti baju saja harus menyuruhnya menutup mata, sah-sah saja kali kalau seorang suami melihat tubuh polos istrinya. “ Tutup mataaaa!!!” serunya sangat kesal. “ Iya, iya, sayang. Aku akan tutup mata, tapi ngintip dikit boleh, ya?” tanya Ivan jahil. “ Nggak boleh, dasar genit. Bintitan tau rasa, ni pasti kamu tukang ngintip wanita mandi, ya?!” ucap Fira garang. Pria itu menyerngit aneh, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan gadis itu, jangankan ngintip wanita mandi, disuruh lihat pun dia tidak akan mau, kecuali kalau yang mandi istrinya, mandi bareng juga ayok. Ivan maulana Rizky mengambil buku yang bertuliskan riyadusshalihin, ia mengarahkan matanya focus pada buku tersebut, dia adalah orang yang selalu memegang teguh setiap ucapannya, jadi bilang tidak ngintip ya tidak akan ngintip. Fira mulai mengganti bajunya dengan seragam sekolah barunya, kemeja lengan panjang dan rok di bawah mata kaki, wajahnya terus cemberut sambil memandangi penampilan barunya. “ Selesai,” katanya jutek. Ivan pun menutup bukunya lalu memandang Sang istri yang menurutnya lebih baik, ia pun bangkit lalu mengambil kerudung putih yang ada dalam almari, setelah itu dia memakaikannya di kepala istrinya. Tinggi, gagah, tampan, kaya dan baik pula, apa yang kurang dari pria yang ada di depannya itu, tapi satu yang menjengkelkan, tukang ceramah, tanpa sadar gadis itu membiarkan begitu saja suaminya memakaikan kerudung di kepalanya,” Nah, sayang. Sekarang kamu terlihat cantic dan menyenangkan hati. Dari pada kamu mengenakan seragam yang kekurangan kain, lebih baik ini, kau tidak usah khawatir, suamimu ini punya banyak uang, tidak akan habis jika hanya untuk membelikan baju yang kainnya pas dengan ukuran tubuhmu,” ucap Ivan tersenyum lembut. “ Apanya yang kurang kain?! Itu memang modelnya begitu, kamu kali yang kurang beres. Seragam sekolahku memang lengannya pendek, tidak berkerudung. Bukan kurang kain,” balas Fira sewot. “ Mana ada seorang Muslimah yang sudah baligh memakai baju lengan pendek, rok di atas lutut lagi, itu Namanya kekurangan kain, sayang. Oh, atau aku ulangi ayat tadi, ya?” balas Ivan. “ Nggak usah, menikah denganmu rasanya seperti neraka, banyak aturan,” ucap Fira. Ivan tidak memperdulikan ucapan Sang istri yang terus merasa kesal, dia lebih memilih menarik gadis itu kedalam pelukannya. “ Sayang, aku mengerti. Tidak mudah kau mengubah kebiasaan hidupmu, tapi ini demi kebaikanmu. Kau pasti bermimpi memiliki seorang suami seorang CEO yang tampan, memiliki tubuh bagus, kaya, iya,’kan? Allah sudah mengabulkan harapanmu, hanya dilebihi sedikit, yaitu mengajarimu menjadi istri Sholehah. Jadi jangan marah-marah lagi, nanti mati muda lho,” katanya lembut. Awalnya Fira mulai tenang tidak kesal lagi, tapi saat menyebut kata mati muda, seakan pria itu menyumpainya, pria itu sungguh luar biasa membuat hatinya jungkir balik berulang kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD