Di dalam sebuah rumah yang dibelikan khusus untuk ia dan putrinya tinggali, seorang wanita paruh baya menatap sendu foto sang anak yang sudah seminggu ini ia tak tau di mana keberadaannya.
Rasa khawatir dan rindu dari seorang ibu untuk anaknya, tak bisa lagi diragukan.
Foto gadis dengan senyum lepas memeluknya, yang terdapat dalam bingkai berwarna hitam itu masih menjadi teman tidurnya selama seminggu ini.
"Di mana kamu berada, Nak. Maafkan ibu, ibu sangat jahat padamu. Seharusnya malam itu ibu tak marah karena kau sedang salah paham tentang nak Silan. Ya, sekarang kau sudah tau, dialah pria yang kau tanyakan pada ibu beberapa tahun lalu, dia yang bernama Silan, Nak. Tapi, tak sepantasnya kau melakukan ini semua karena dia tak bersalah sepenuhnya atas apa yang terjadi pada ayahmu."
Ucapkan yang terdengar parau keluar dari bibirnya yang sudah bergetar. Tangisan rasanya sudah bosan keluar dari sana karena setiap malam ia selalu menangis.
Beberapa kali, anak gadisnya itu memang menanyakan tentang pria bernama Silan yang ia ketahui dari orang-orang tua yang tau akan masa di mana ayahnya masih hidup. Seorang pria belasan tahun yang terkenal dengan ketangkasannya bermain senjata, tentang kekejamannya yang tak bisa terkontrol dan sifat keras kepalanya yang tak bisa dikurangi. Ia tau cerita itu dari beberapa orang tua yang ia temui saat dia dikirim dari komunitas melukis yang ia geluti bertahun-tahun, untuk mengikuti lomba di Amsterdam.
Awalnya gadis itu menolak, tetapi karena tau di sanalah ayahnya menghembuskan napas terakhir tanpa keterangan jelas, maka dia dengan senang hati berangkat. Hasilnya, dia tau kalau nama dari pangeran mafia yang menjadikan ayahnya korban kekejamannya itu adalah Silan, tetapi ia tak tau di mana pria itu berada karena tak satupun orang yang ia tanyakan tau keberadaan pria itu.
Saat bertanya pada ibunya, wanita itu juga mengatakan tidak tau.
"Maafkan Bibi, Nak Silan. Bibi tak bisa menutupi dengan rapat identitasmu. Tapi bibi harap kau bisa memaafkan Kyana. Dia hanya salah paham tentang semua ini dari apa yang dia dengar. Bibi yakin, kau bisa membuat ia kembali lagi ke padamu."
Yasmine hanya bisa berharap dan berdo'a untuk kebaikan anak-anak muda itu. Silan, atau pria yang lebih dikenal dengan panggilan Ardika tersebut juga sebenarnya tidak tahu menahu tentang Kyana dan ibunya yang merupakan anak dan istri dari Jordan, mantan penasihatnya itu.
Yang dia tau adalah, mereka masih kerabat dari sahabat ayahnya, bukan dari orang-orang di masa lalunya karena sang ayah memang tak mengatakan apapun dan memang sengaja tak memberitahukan itu padanya.
Ketika dia di titik terendah dalam urusan percintaan, ayahnya yang memanggil ia kembali ke negara kelahirannya ini memberikan semangat baru padanya, yakni menjodohkan ia dengan Kyana, anak sahabatnya.
Bagi seorang pria yang sudah patah hati akibat ditinggal oleh sang kekasih secara tiba-tiba tanpa alasan pasti, dia menerima saja siapapun yang ayahnya rekomendasikan. Maklum, dia mengingat umurnya yang seharusnya sudah memiliki anak seperti Ryan, Baim, Reyhan dan Alif. Tak mungkin dia bertahan seorang diri dengan gelar jomblonya yang pasti akan membuat ia mendapatkan bullyan.
Siapa sangka di balik itu semua, memang ada hal yang direncanakan, yakni agar dia bisa menjaga anak perempuan satu-satunya dari seseorang yang telah mengorbankan nyawa untuk hidupnya.
Bagaimana bisa pria itu akan memaafkan dirinya setelah tau semua ini. Meskipun Yasmine tak mempermasalahkan apapun dengannya.
Tok... tok..tok..
Suara ketukan pintu membuat wanita itu mengalihkan perhatiannya dari bingkai foto. Ia bergegas keluar dari kamar untuk melihat siapa kiranya yang datang bertamu.
Gorden coklat yang menutupi jendela, disingkapnya sedikit agar ia bisa melihat siapa gerangan yang ada di balik pintu bercat coklat itu.
Tok..tok..tok..
"Nyonya Yasmine? Ini saya Brian."
Belum sempat ia melihat siapa yang ada di luar, suara itu menginterupsinya.
"Sebentar!!!"
Buru-buru Yasmine membukakan pintu untuk pria yang ia kenali suaranya tersebut.
Cklek!
"Khem, selamat siang Nyonya."
"Selamat siang, Brian. Silahkan masuk dulu."
"Terima kasih."
Pria yang berbadan tinggi dan bertubuh kekar akibat gym itu masuk ke dalam rumah setelah sang tuan rumah memberikan izin.
"Duduklah, kau mau minum apa, Nak?"
"Terima kasih, Nyonya. Nyonya tak perlu repot-repot."
Yasmine menggeleng, dia sama sekali tak kerepotan.
"Sebut saja, kau mau minuman dingin atau hangat? Bibi sama sekali tidak kerepotan."
"Tapi..."
"Brian?"
"Hehe, sepertinya udara di luar cukup panas, Nyonya. Saya mau yang dingin saja."
Mendengar itu, Yasmine tersenyum. Ia mengangguk dan langsung menuju dapur.
Dia sebenarnya sama sekali tak nyaman mendapatkan panggilan terhormat dari pemuda itu. Sering kali ia meminta agar Brian memanggilnya dengan panggilan Bibi saja seperti tuan mudanya memanggil. Namun, hal yang membuat Yasmine merasa nyaman tersebut malah membuat pria itu jadi canggung dan dia lebih asyik ketika memanggil dengan panggilan nyonya.
Suara gelas yang beradu dengan sendok di belakangnya membuat Brian langsung menoleh.
Ia tersenyum kepada sang pemilik rumah yang menyambut kedatangannya dengan baik meskipun dalam keadaan hati yang sangat kurang baik. Itu terlihat jelas dari matanya yang sembab karena dia pasti telah menangisi putrinya.
"Ini, minumlah."
"Terima kasih, Nyonya. Seharusnya Nyonya tak perlu menjadi repot karena saya. Saya jadi tak enak hati."
"Kau ini, anggap saja rumah sendiri."
"Hehe terima kasih, Nyonya."
Brian meneguk minumannya hingga tersisa seperenamnya. Yasmine memperhatikan saja. Pria itu ke sini pastilah dengan suatu tujuan.
"Bagaimana keadaan Ardika, Brian?"
Yasmine tak kuasa menahan pertanyaannya. Sudah seminggu pria itu berada di rumah sakit, tetapi dia tak kunjung bisa menjenguknya karena takut bertemu dengan Devita. Terkahir dia datang sebelum pria itu sadar dan ia bertemu dengan wanita itu. Devita seperti biasa, marah dan mengusirnya dari sana.
Yasmine tak ingin lagi membuat keributan dengan pihak manapun. Oleh karena itu, dia memilih tak pergi lagi ke rumah sakit meskipun sangat merindukan dan mengkhawatirkan pria itu.
"Tuan muda sudah baik-baik saja, Nyonya. Bahkan nanti sore jika dia tak mengidap apapun setelah diberikan obat tadi pagi, dia bisa dibawa pulang dan melakukan rawat jalan."
Wanita itu menghela napas lega. "Syukurlah, bibi senang mendengarnya. Bibi ingin sekali datang menjenguknya, tapi kau tau sendiri kan, bagaimana ibunya melarang bibi untuk bertemu dengan Ardika. Padahal bibi juga sangat menyayanginya seperti anak sendiri."
Tatapan sendu wanita itu mampu ditangkap oleh Brian. Dia seperti mengerti perasaan wanita di depannya ini.
"Saya tau, Nyonya. Ini pasti sangat berat bagi Nyonya untuk menghadapinya seorang diri. Nyonya Devita saat ini memang sangat protektif pada tuan muda, tapi saya yakin Nyonya. Suatu saat dia akan kembali mengizinkan Nyonya Yasmine bertemu dengan tuan muda."
"Semoga saja secepatnya, ya. Bibi sangat merasa kehilangan," ucap wanita itu dengan lirih, bahkan sangat lirih.
"Tentu Nyonya. Owh iya, saya datang ke sini hanya ingin menyampaikan salam dari tuan muda. Beliau bilang, Nyonya jangan khawatir soal Kyana karena dia akan menemukannya dengan segera dan membawanya kembali pada Nyonya."
Lagi-lagi Yasmine menghela napas. Rasa bersalah kian menggerogoti hatinya. Bagaimana bisa pria yang anaknya coba bunuh bisa sebaik ini pada keluarga mereka.
"Bibi jadi tak enak hati pada Nak Dika. Dia begitu baik dan sayang pada keluarga kami. Bibi sangat menyesalkan perbuatan Kyana yang tak bisa ditolerir ini."
"Sabarlah, Nyonya. Semua pasti memiliki jalan keluar terbaik. Jangan menyiksa diri dengan terus menyesali ini semua, karena apapun yang terjadi di muka bumi ini, semuanya memiliki hikmah yang terkandung di dalamnya."
"Sampaikan salam terima kasih bibi padanya, Brian. Katakan pada Nak Dika, dia sebaiknya memikirkan kesehatannya dulu. Bibi sangat khawatir padanya. Kyana, biarkanlah ia menenangkan dirinya dahulu di luar sana. Jangan sampai mereka bertemu dahulu, karena bibi takut anak bibi nekat melakukan sesuatu yang buruk padanya. Kau paham maksud bibi kan, Brian?"
Helaan napas terdengar berat, namun pada akhirnya, sang pemilik tersenyum.
"Baik, Nyonya. Saya akan sampaikan dan saya mengerti apa yang Nyonya maksud."
Wanita paruh baya itu lega mendengarnya. "Syukurlah," ucapnya penuh hidmat.
Sebagai seorang ibu, nalurinya terhadap anaknya sendiri sangatlah kuat. Dia takut masih ada kenekatan lain dari Kyana yang belum dilakukannya untuk membalaskan dendam tak beralaskan ini. Lebih baik menghindari untuk mencegah daripada mengobati setelah adanya kecerobohan. Rasanya itu lebih baik menurutnya.