"Bagaimana kondisinya?"
Pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu bertanya tanpa menatap pria yang baru saja datang menghadap padanya.
"Dia sudah baikan, Tuan. Efek dari tusukan tersebut tidak terlalu berada padanya. Hanya saja saat itu dia shock sehingga mengakibatkan tubuhnya tumbang. Tak heran jika dia bisa bertahan, bukankah dia memang seorang pangeran yang ditakuti di masa lalu?"
"Hahahahah itu hanya di masa lalu, Ameer. Kau tak percaya akan kemampuanku untuk menghancurkan dia dengan tanganku sendiri? Ku rasa itu tidak sulit jika melibatkan hati."
Zeen, pria itu tersenyum penuh kelicikan. Ameer sang asisten hanya menatapnya tak mengerti tetapi tak ingin bertanya lebih lanjut.
"Silan, seorang pria yang tak berperikemanusiaan. Hatinya keras seperti batu dan tak mau mendengarkan nasihat dari siapapun. Dia tak terkalahkan dan wajar ditakuti. Tapi jangan lupakan, yang kita hadapi sekarang bukan seorang Silan, tapi Ardika. Mereka seperti dua orang yang berbeda karena sifat Silan berbanding balik dengan Ardika. Pria itu sudah taubat rupanya. Sekarang dia sudah hidup dengan hati nurani, jadi menurutku, dia akan lebih mudah dikalahkan jika urusannya dengan hati." Zeen menjelaskan pada sang asisten dengan penjelasan panjang kali lebar yang ia dapatkan dari sumber terpercaya.
Tak hanya dari mereka yang hidup di negara yang sama dengannya, tetapi dengan mereka yang berada di negara tempat Ardika mengasingkan diri, dia mempunyai sumber informasi yang bisa dipercaya. Oleh karena itu dia mengetahui banyak hal tentang rivalnya itu dan dia akan tertawa lebar kala menyaksikan pria yang berani mengangkat bendera peperangan dengannya itu, menjadi kalah dan bertekuk lutut sembari memohon ampun padanya.
"Biarkan saja dia dulu, aku tak ingin dia langsung mati. Biarkan dia merasakan dulu kehancurannya. Sangat tak enak sekali jika melihat dia mati begitu saja. Kyana belum melakukan apa-apa." Pria itu berucap masih dengan senyum liciknya.
"Baik, Tuan."
"Bagaimana dengan Kyana? Apa kau sudah pastikan dia mau makan saat aku ada di luar seperti ini?"
"Sudah, Tuan. Nyonya Kyana berhasil dibujuk oleh Miranda untuk makan siang. Sekarang keduanya terlihat lebih akrab. Sepertinya nyonya hanya kesepian dan membutuhkan teman untuk berbagi cerita."
Zeen mangut-mangut. Baguslah jika gadis yang dia berikan sebagai asisten pribadi untuk mengurusi Kyana di rumah, bisa lebih dekat dengan gadis itu. Artinya dia tak perlu terlalu khawatir akan Kyana yang sekiranya kesepian lalu meninggal rumahnya.
"Kerja kalian bagus. Aku suka."
"Terima kasih, Tuan."
"Sekarang pergilah dulu, nanti aku akan menghubungimu jika urusanku di sini sudah selesai. Kita harus merayakan kemenangan sementara ini."
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi."
Ameer membungkuk hormat pada Zeen yang memberikan anggukan kecil.
Pria dengan tubuh kekar itu keluar dari ruangan sang tuan dengan senang karena kinerjanya diterima baik oleh majikannya itu.
Bekerja dengan Zeen selama bertahun-tahun membuat dia paham betul bagaimana pria itu. Jika dia tak marah-marah seperti saat ini, artinya apa yang sedang ia rencanakan sudah berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Ameer ikut senang karena pada akhirnya, gadis yang membuat dia menjadi brutal itu, kini tunduk di bawah lindungan Zeen.
Sementara itu, sejauh tujuh kilometer dari kantor tempat Zeen berada, gadis yang mereka bicarakan tadi tengah duduk di pinggir kolam renang yang airnya tenang dan bersih. Di depannya ada seorang gadis yang seumuran dengannya.
"Nyonya, jika Anda butuh sesuatu, tolong katakan pada saya, supaya saya langsung membawakannya untuk Nyonya." Gadis di depannya itu berbicara.
"Heheh, baiklah Miranda. Sekarang aku hanya butuh teman berbagi cerita, hanya itu saja."
"Kalau begitu, ceritakanlah apapun yang ingin Nyonya ceritakan. Saya akan mendengarkannya dengan senang hati."
Kyana terdiam. Ingatannya menerawang jauh pada kejadian seminggu lalu. Sudah seminggu dia berada di sini dan mustahil dia tidak merindukan sang ibu yang selalu memanjakannya setiap hari.
"Aku merindukan ibuku. Tapi aku tak siap dan tak mau bertemu dengannya dulu," ucap gadis itu lirih.
"Setiap malam, biasanya ibuku akan menemaniku di kamar, menyanyikan lagu-lagu tidur dan menyelimutiku. Tapi sekarang, aku tidak bisa merasakan itu semua karena ibuku pasti masih marah padaku seperti yang kulihat malam itu, hiks.."
Tangis itu akhirnya pecah setelah beberapa hari mencoba menguatkan hati bahwa ia pasti bisa melewati ini semua.
"Nyonya, tenanglah. Ibu Nyonya pasti sangat merindukan Nyonya sekarang."
"Tidak, dia tidak merindukanku, Miranda. Buktinya dia tidak mencariku, dia meninggalkanku malam itu dan hanya fokus pada pria yang jelas-jelas menjadi sumber penderitaan kami selama ini. Pria itu telah membunuh ayahku, tapi ibuku malah membela dia. Padahal aku melakukan itu semua untuk membalaskan apa yang telah ia perbuat pada ayahku. Apa aku salah melaksanakan semua itu, Mir?"
"Tidak tidak. Nyonya tidak salah sama sekali. Apa yang Nyonya lakukan itu masuk akal. Mungkin jika saya yang berada di posisi Nyonya, saya bisa melakukan hal yang lebih parah lagi dari apa yang Nyonya lakukan. Sungguh Nyonya, tak ada yang bisa membayar nyawa orang yang terbunuh selain dengan nyawa orang yang membunuhnya."
"Nyonya tak perlu khawatir, kami di sini akan selalu mendukung Nyonya seperti Tuan Zeen mendukung penuh apapun yang Nyonya lakukan."
Mendengar itu, Kyana menghapus air matanya. Dia merasa berada di tempat yang paling benar menurutnya. Di saat orang-orang terdekatnya menyakiti hati, dia bisa bertemu dengan mereka yang berusaha terus membuat ia bahagia.
"Terima kasih, Miranda. Aku senang bertemu denganmu."
"Sama-sama, Nyonya. Seharusnya saya yang mengatakan itu karena saya sangat senang bertemu dengan Nyonya Kyana dan mendapatkan kepercayaan dari tuan untuk menjadi asisten Nyonya. Saya siap melakukan apa saja untuk Nyonya."
Kyana hanya tersenyum. Ini sebenarnya terlalu berlebihan bagi dia yang terbiasa melakukan apa-apa seorang diri di rumah. Maksudnya tanpa pembantu, hanya ada dia dan ibunya.
Ibu?
Kyana tersenyum sendu karena wanita itu kini melakukan apa-apa seorang diri. Bohong jika Kyana tidak memikirkannya. Dia hanya sedang marah pada ibunya yang tak membela dan mendukung ia melakukan hal itu pada pria yang telah menjadi alasan ayahnya pergi dari muka bumi ini. Kyana tak habis pikir hati ibunya terbuat dari apa. Dia saat dia sudah tau akan hal itu, ibunya masih sangat peduli pada pria itu, bahkan terlampau peduli sehingga dia melupakan putrinya sendiri di dalam gudang tua yang berada di tengah hutan. Anak gadisnya satu-satunya itu terlupakan hanya karena ingin menyelesaikan pria itu.
Kyana tersenyum kecut. Sungguh, hatinya bagai teriris jika mengingat hal itu. Ibunya seperti lupa padanya.
Dan sekarang, belum juga ada tanda-tanda wanita itu mencarinya. Padahal, dia sangat berharap Zeen mengatakan bahwa sang ibu sedang mencarinya di luar sana. Jika begitu, maka dengan senang hati, dia akan memohon pada Zeen agar membawakan ibunya ke sini dan tinggal sementara dengannya di sini. Namun, itu hanya harapan belaka, karena Zeen yang ia percayai mencari informasi tentang ibunya di luar sana, mengatakan tak menemukan tanda-tanda wanita paruh baya itu mencari putrinya. Dan bodohnya, dia langsung percaya pada apa yang Zeen katakan.
Dia yang bersembunyi di istana seorang Zeen, tak ingin siapapun tau ia ada di sana. Oleh karena itu, dia hanya mendengarkan informasi dari luar dengan bantuan orang lain, salah satu kepercayaannya saat ini adalah Zeen. Hanya dia satu-satunya pria yang baik menurut Kyana. Sementara kekasihnya itu, dia sudah mengubur dalam-dalam perasaannya pada pria yang setiap hari membuat ia berbunga-bunga hatinya.
Sungguh, semua sudah berbeda sekarang. Semua yang ada pada Ardika terlihat gelap di mata Kyana karena dendam yang dimenangkan.