Episode 8

1573 Words
Ting... Pandangan Ardika tertuju ke arah pintu. Cklek! "Hay!!!" Dua orang pria yang lebih muda darinya datang dengan heboh, dikawal oleh pria paruh baya yang tersenyum lepas di belakang mereka. "Hei," balas Ardika dengan senyum manisnya. Dia senang bertemu dua orang ini setelah sekian lama mereka tak beradu mulut. Puk! "Ka-lian se-hat?" "Pertanyaan macam apa itu? Lo pikir kita jauh-jauh dari Indonesia ke sini mau berangkat dalam keadaan sakit? Iya kali." Baim menimpalinya. Dari dulu hingga sekarang memang mereka yang selalu beradu mulut. Dari zaman Adryan dan Ica, lalu kemudian Dika yang tiba-tiba muncul di saat gentingnya masalah yang dihadapi gadis yang kini menjadi istri Baim, sungguh mereka tetap sama. "Tau ni orang, nih. Seharusnya kita berdua yang nanya, lo udah baikan belum? Kaget banget denger kabar kalau CEO yang akan kita temui malah terbaring tak berdaya di sini. Ga jadi baku hantam deh kita." Ryan menimpali dengan wajah prihatin tetapi tetap terdengar mengejek dalam ucapannya. "Hahah, Si-sialan kalian berdua emang." "Udah, lagi sakit sempat-sempatnya ngumpat. Harusnya tuh tobat." Alexander hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Dua pria yang tadi dengannya super formal, kini seperti anak remaja SMA di depan putranya. "Khem, maaf om potong dulu pembicaraannya. Nak, mami kamu di mana?" Ketiga pria sok anak muda itu menengok ke sumber suara yang hampir terlupakan keberadaannya. Dia juga membahasakan dirinya om seperti bahasa-bahasa yang ia tau digunakan di negara asal mantan istrinya. "Ma-mi sedang ke ru-angan Dokter, Pi." Suaranya masih terbata. Pria itu mangut-mangut. "Kalau begitu, papi tinggalkan kalian dulu, ya." Akhirnya dia memilih tak mengganggu obrolan anak-anak itu. "Makasi, Pak Alex." Keduanya serentak menjawab. "Heheh, kalian panggil saja om, jangan sungkan." "Owh, iya, Om." Baim menyahuti. Mereka mengangguk saat pria itu melambaikan tangan dan keluar dari ruangan. "Huaa anak mami kenapa nih jadi begini? Perasaan mah jagoan banget. Kok kalah?" "Iya nih, Im. Heran juga gue. Padahal hal kan jagoannya kita-kita. Selalu jadi superhero dia." "Bhahha...." Mereka tertawa. "Beda cerita kalau urusannya dengan cinta," ucap Dika membalas sekenanya. Memang saat kejadian itu, dia tidak siap sama sekali. Tepatnya dia shock sehingga terkapar lemas tak berdaya. "Eh, emang gimana ceritanya lo bisa di tusuk sama pacar lo? Kek sate aja lo!" Ryan kalau bicara memang tanpa saringan. Bisa-bisanya dia menyamakan temannya dengan sate. "Hehehe naas idupnya, emang baiknya jomblo aja kali, yak?" Mendengar gurauan dua orang itu, Dika tersenyum, tetapi tatapannya tak bisa berbohong. "Apa e-mang bener ya, co-wok kek gue ga pantes dapat cinta dari siapapun. Tiap gue jatuh cinta, pasti mereka nya-kitin gue dengan berdalih ma-sa lalu gue yang gua tau, ta-k semudah itu untuk dimaafkan." Ryan dan Baim langsung terdiam menyadari perubahan raut wajah Dika dengan ucapan mereka yang salah. "Dik, ga gitu maksud gue. Maaf kalo tadi salah ngomong." Baim langsung merasa bersalah. "Heheh ga pa-pa. E-mang be-bener kek gitu kenyataannya." "Tapi..." "Heheh, ang-gap ini hukum karma buat gue." Baim dan Ryan saling tatap tak enak. "Ya udahlah, semuanya udah terjadi. Mungkin di balik ini semua, ada pesan yang bisa dipetik. Gue turut berdukacita dengan keadaan lo. Tapi, gue harus ingetin lo. Lo jangan banyak pikiran dulu, jangan banyak omong karena tenaga lo keliatannya terkuras banget buat ngomelin doang." "Nah, bener tuh. Jangan pikirkan apapun dulu untuk saat ini supaya lo cepet sembuh dan lo bisa hadapi semuanya dengan penuh persiapan. Setelah mendengar cerita dari bokap lo, gue jadi berpikir kalau ini bukan akhir, tapi awal dari semua yang akan lo hadapi kedepannya. Gue berharap lo bisa lebih kuat, Dik." Dika mengangguk mantap. "Heheh, thanks ba-nget ya, ka-lian udah kasih motivasi ke gue. Di saat-saat i-ni, gu-gue memang butuh tempat bertukar pikiran." "Lo tenang aja, selama tiga hari di sini, kita berdua akan selalu jadi supporter lo." Ryan menepuk bahu sahabat dari kakak iparnya itu. "Oh iya, gue sampe lupa. Kak Rey titip salam buat lo, katanya dia kangen banget. Tadinya sih pengen gue ajak, tapi yah..lo tau sendiri kan, bini gue lagi hamil lagi, Rahma anaknya masih bayik. Ga mungkin dong gue biarin gada yang jaga mereka. Bokap nyokap lusa baru balik dari Turki." "I-Icha hamil lagi!?" Ryan mengangguk melihat wajah berbinar Ardika. Dia tau pria ini juga menyayangi istrinya. "Baru beberapa bulan. Beda dikit lah ya sama Olivia," tambah Ryan sembari menoleh pada Baim. "Olivia ha-mil juga?" Lagi-lagi kejutan untuk Ardika yang sudah lama tak bersua dengan mereka. "Huum, makanya ga mau gue tinggal, tapi ipar gue sanggup jagain katanya." "Alhamdulillah, gue se-neng dengernya. Tuh ipar lo entah kapan dia balik ke sini." "Entah, haha." Ardika sebenarnya tau, Andreas akan kembali setelah proyek pembangunan kantor cabang yang dipegang oleh tim-nya selesai ia tinjau, dan itu membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk dia berada di sana. Ini sudah bulan ke empat setelah dia pamit pulang beberapa bulan lalu, artinya tinggal sebulan lagi dia harus kembali ke perusahaan. Lagi pula, Ardika sudah memberikan satu unit rumah mewah untuk dia tinggali selama berada di negara yang seharusnya di mana dia berada. Bagaimanapun, postur tubuh dan wajahnya tetap saja tak membuat dia seperti orang Indonesia meskipun sudah lama tinggal di sana. Berbeda dengan Dika yang memang memiliki gen dari sana, wajahnya kombinasi yang bisa diterima dua negara itu. "Gu-gue minta tolong. Ja-ngan bilang ke dia ka-lau gue dalam masalah seperti ini." "Oke," jawab Baim dengan segera. Andreas seharusnya berada di sini menemani ia karena satu-satunya pria yang akan mengerti posisinya adalah dia yang berasal dari masa lalu seorang Silan. Hampir saja Dika menelponnya dan meminta kembali, tetapi dia takut, dengan keadaan Kyana yang menganggap ayahnya mati karena Dika, Andreas juga akan mengatakan hal yang sama. Biar bagaimanapun, pengeboman rumah yang terjadi bertahun-tahun silam tetap saja karena dirinya, meskipun bukan ia yang melakukan semua itu. Terlalu banyak nyawa yang dikorbankan hanya untuk satu nyawanya saja. Bahkan nyawa seorang ibu yang melahirkan ia dan saudaranya adalah korban juga dalam konflik kehidupan yang ia telat sekali ketahui. Tapi dia bersyukur semua ini terjadi padanya, bukan kepada gadis yang ia disembunyikan keberadaannya sampai detik ini dan tak pernah ia izinkan kembali ke tanah air. Chelsea, adiknya itu harus mengasingkan diri di negara lain atas perintah Alexander karena Belanda belum baik untuk dia. Sebagai seseorang yang pernah dibesarkan di tempat yang sama, bagi Ardika atau yang dikenal Chelsea dengan nama Silan, gadis itu sangat berarti untuknya karena dia saksi hidup Silan selama berada di lingkaran hitam itu. Tak sedikitpun ada kebencian pria itu pada sepupunya meskipun Steven adalah ayah dari Chelsea yang membuat dia hidup sebagai monster di masa lalunya karena dendam dan adu domba. Dika berjanji pada Chelsea, bahwa ia akan membawanya ke negara kelahirannya setelah merasa semuanya aman. Semua musuh dari masa lalu tak mengintai mereka lagi. Salah satunya sudah terbunuh, William, otak dari mereka semua. Hanya antek-anteknya saja yang ditakutkan menyakiti sang adik dan Dika tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Cukup dia kehilangan orang-orang tersayang di masa lalu, tidak untuk masa depannya. "Ardika..." Sosok wanita paruh baya yang tadi dicari suaminya sudah kembali. Ia menatap satu persatu pria yang bersama putranya. "Mami, kenalin, i-ini teman-teman Dika da-ri Indonesia." "Hallo, Tante, saya Baim." "Saya Ryan, Tante." "Owh, iya. Perkenalkan, saya Devita, maminya Ardika . Senang bertemu dengan kalian." "Kami juga senang sekali," jawab Baim dengan sopan mewakili saudaranya juga. "Oke, mami ke sini cuma mau berikan obat untuk Ardika saja. Kalian bisa ngobrol setelahnya karena mami ada urusan di luar. Tapi, harus ingat, Ardika butuh banyak istirahat." "Siab, Tante." Devita belum terbiasa dengan panggilan tante karena jarang ada yang memanggilnya dengan panggilan itu. Meskipun kata om dan tante itu sebenarnya berasal dari negaranya yang diserap oleh Indonesia. Tak akan terlupakan dalam sejarah bahwa Indonesia pernah dijajah negara Belanda dan meninggalkan banyak bahasa mereka yang masih digunakan. "Adryan, Baim, Dika, Papi pergi dulu. Daah.." Kedua orang itu meninggalkan anak-anak muda itu di dalam ruangan. "Ma-mi gue kalo lagi protektif kebangetan, un-tung ka-lian ga ketemu dia yang lagi kumat protektifnya." "Bhahaha sayang banget dia sama lo." "Lagian sih lo Im, mana ada emak yang ga sayang anaknya. Gila lo ah!" Dika hanya tersenyum. Dia tak pernah menjelaskan pada dua orang ini kalau Devita hanyalah ibu sambungnya. Karena dua orang ini sudah tau kalau ibu kandung Dika berasal dari Indonesia. Banyak hal yang dibahas mereka, meskipun saudara angkat yang masih berdarah persepupuan, Ryan dan Baim persis saudara kandung yang kadang sejalan kadang baku hantam. Tidak dengan tenaga, tapi otak dan mulut yang beradu. Dika berkali-kali terkekeh mendengar perdebatan mereka. Dua pria itu dua tahun lebih muda darinya, tetapi mereka terlihat seperti seumuran. Dia jadi membayangkan dirinya dan saudaranya yang melakukan hal yang sama seperti dua temannya itu. Namun, nyeri di hati terasa lagi kala ia ingat kepala yang tergelintir di tanah, dan juga laut yang menjadi saksi, dua saudaranya menyatu dengan alam. Semuanya tak lepas karena dia, karena dendamnya yang beralamat palsu. Jika tak ingat bunuh diri itu dosa, dan jika dulu ia tak bertemu dengan Rayhan yang membantunya menyelamatkan mental, mungkin dia juga tinggal nama, meninggalkan orang-orang yang pernah ia sakiti dan bahagiakan, meski yang tersakiti jauh lebih banyak dari yang ia bahagiakan. Tak terasa bulir bening itu berhasil lolos begitu saja tanpa permisi saat pemiliknya membayangkan bagaimana wajah-wajah mereka. Dika jadi berpikir, apakah dia sedang dihukum oleh masa lalunya sehingga dia benar-benar tak menemukan sedikit pembelaan pun untuk dirinya sendiri. Beruntung saja Ryan dan Baim tak memperhatikan air matanya itu sebelum ia berhasil menghapusnya. Dia terlalu b***t untuk berbagi kisah dengan dua pria yang hidupnya lempeng-lempeng saja ini. Biarlah ia menahannya dulu seorang diri. Sungguh itu keputusan yang baik dan paling tepat menurutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD