Masih seperti beberapa hari lalu, seorang wanita paruh baya duduk di samping ranjang pria yang pada badannya terpasang beberapa alat medis.
Luka di bagian perut cukup dalam, namun untungnya tida merobek bagian tubuh yang lainnya di dalam sana dan secepatnya dibawa ke rumah sakit. Jika terlambat, entahlah apa yang akan terjadi pada pria tersebut. Kemungkinan terbesar mungkin dia bisa menyusul ibunya yang selama ini ia rindukan. Tangan wanita paruh baya itu mengusap lembut rambut si pria yang terbaring lemah itu. Air matanya mengalir karena dia benar-benar mengkhawatirkan pria yang berstatus anak sambungnya.
"Ayo bangun, Sayang. Mami kangen kamu manja minta ini itu, mami pengen masakin lagi makanan kesukaan kamu. Ayo cepat bangun..."
Sepuluh tahun menjadi istri seorang Alexander dan belum juga dikaruniai keturunan membuat wanita paruh baya itu begitu menyayangi putra tunggal sang suami dengan wanita yang menjadi istri pertamanya. Dia sudah menganggap Ardika sebagai anak kandungnya sendiri.
Tak heran sejak malam kejadian itu hingga hari ini dia masih ada di rumah sakit. Ini sudah hari ke tiga pasca kejadian itu tetapi Ardika masih belum sadarkan diri juga.
Dokter yang menanganinya setiap kali ditanyakan pasti menjawab sebentar lagi pasien akan sadar. Namun, sebentar laginya itu entah kapan dan tak bisa dipastikan.
"Mami, mami harus makan dulu, ya. Papi sudah pesankan makanan kesukaan Mami, fillet ayam kampung khas Indonesia. Ini susah sekali mencarinya."
Wanita yang berasal dari Belanda tersebut sangat menyukai makanan Indonesia yang satu itu. Apalagi yang langsung di beli di Indonesia seperti saat mereka berlibur beberapa bulan lalu. Dengan sabar Alexander membujuk sang istri untuk mengisi perutnya. Sebab, sejak putra mereka terbaring di ranjang rumah sakit, pola makan wanita itu jadi tidak beraturan. Alexander tak bisa memastikan 24 jam istrinya makan tepat waktu karena dia harus mengurus perusahaan yang sebelumnya menjadi urusan sang putra.
"Mami tidak lapar, Pi. Mami hanya ingin melihat anak kita bangun dan panggil mami."
Berbicara dengan suaminya pun tatapannya masih lekat pada anaknya.
"Iya, Papi juga tau hal itu. Tapi bagaimana kalau seandainya Ardika bangun nanti malah Mami yang gantian sakit karena makan tak teratur seperti ini? Papi yakin dia pasti sedih dan menyalahkan papi kalau terjadi apapun itu pada Mami. Makanlah walau hanya sedikit saja." Pria paruh baya itu masih semangat membujuk agar istrinya mau mengisi perut.
Namun, lagi-lagi wanita itu menggeleng.
"Ya sudah, kalau begitu sebaliknya kita pulang saja dulu, Mami istirahat. Ini perintah, bukan ajakan. Nanti biarkan Brian yang menjaganya di sini."
"Mami tak mau pulang kalau Dika masih belum bangun, Papi!"
"Ini perintah dan kali ini papi tak ingin dibantah!"
Alexander dengan suara tegasnya membuat wanita itu menatapnya seperti ingin marah tapi tertahan.
"Pi..."
"Pulang dengan papi atau kita tak usah bicara dalam jangka waktu yang lama."
Aduh, ancaman macam apa itu. Tapi Alexander tau bagaimana istrinya. Wanita itu cukup penurut jika tidak sedang dalam keadaan panik seperti kemarin yang langsung menghubungi polisi tanpa sepengetahuan sang suami.
"Baiklah, datangkan saja Brian terlebih dahulu. Mami tetap akan pulang dengan Papi setelah ada yang menggantikan mami di sini."
"Okay."
Akhirnya, Alexander mencari kontak yang bersangkutan untuk memintanya segera datang ke rumah sakit.
Tak membutuhkan waktu lama yang dihubungi langsung mengonfirmasikan dirinya dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat keberadaan tuan mudanya. Brian Adetama, pria berdarah Indonesia-Belanda seperti pria yang terbaring di ranjang itu merupakan asisten pribadi yang dipilih Ardika sejak setahun lalu ia memutuskan menetap di negara kelahirannya ini. Bertemu dengan Brian yang memiliki garis keturunan persis dirinya membuat mereka nyambung ketika berbicara. Terlebih kala itu Ardika masih sering merindukan teman-temannya di Indonesia, setidaknya berbicara mengenakan bahasa Indonesia ala Jaksel dengan Brian, cukuplah mengobati sedikit saja rasa rindunya sebelum akhirnya dia juga memutuskan untuk memanggil Andreas untuk kembali ke negara mereka untuk ditempatkan di salah satu kantor cabang milik perusahaan yang Dika pimpin dengan jabatan yang tak tanggung-tanggung, dia langsung digadang menjadi Chief Operating officer (COO) yang berada satu tingkat di bawah Chief Executive Officer (CEO). Tentunya pemberian jawaban itu setelah Andreas diberikan training dan pengasahan skill yang matang sebelum diangkat langsung dengan posisi dibawah CEO yang cukup tinggi.
Rasanya itu masih belum cukup bagi seorang Ardika untuk membalas jasa yang orang tua pria itu lakukan dan menebus kesalahan karena tak temukan mereka bertahun-tahun hingga mereka harus merasakan pahitnya hidup di Negara Garuda. Cerita hidup naas yang dialami Andreas dan Olivia cukuplah membuat rasa bersalahnya kian menganga. Oleh kerena itu, Alexander membebaskan saja putranya melakukan apapun itu asalkan masih bicarakan dulu baik buruknya di kemudian hari dengan ia dan mamanya yang protektif.
"Tuan, Nyonya, maaf saya terlambat," ucap seseorang di ambang pintu yang dibiarkan terbuka.
Kedua orang di dalam ruangan tersebut langsung menoleh pada sumber suara yang masih berdiri di ambang pintu.
"Masuklah," perintah Alexander.
Pria yang usianya terpaut dua tahun lebih tua dari putranya itu cukup dipercaya juga oleh Alexander karena orang tuanya pernah bekerja kepada mereka dahulu saat Brian usia anak-anak. Sayangnya sekarang hanya tinggal ibunya saja yang ada dan Brian tak mengizinkan ibunya bekerja. Biarlah ia yang mencarikan nafkah untuk ibunya yang berasal dari negara ini, sementara ayahnya meninggalkan makam di Indonesia.
"Brian, saya titipkan Dika padamu, tolong jaga dia. Saya takut ada orang jahat lagi yang datang mengganggunya."
Devita berpesan seolah pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Padahal itu karena peristiwa-peristiwa di dam Overthingking tentu dirasakan oleh wanita paruh baya itu.
"Baik, Nyonya. Saya akan menemani tuan muda di sini dan tak akan biarkan siapapun mengganggunya. Nyonya tenang saja."
"Tuh, dengarkan Mi. Lagi pula anak kita kuat, kata Dokter dia sebentar lagi sadar, jadi Mami tenanglah. Istirahat dan makan sebelum Ardika bangun atau dia akan memarahi papi yang membiarkan Mami makan tak teratur dan jarang istirahat."
Devita menarik napas panjang. Semalam memang dia yang menunggu juga di sini, Alexander juga datang, tetapi sudah peraturan rumah sakit kalau hanya satu orang saja yang boleh menunggu. Akhirnya pria itu hanya membiarkan istrinya saja setelah wanita itu merengek dan ia sendiri pulang untuk melepaskan penat setelah seharian menggantikan putranya di perusahaan. Namun, dia tak lupa mengirimkan bodyguard untuk menjaga anak dan istrinya di dalam sana, yang tentunya bodyguard menjaga di luar ruangan.
Cup!
Satu kecupan di kening putranya yang sangat lemah dan pucat. Layar monitor menunjukkan detak jantungnya baik-baik saja tak cukup membuat sang ibu tenang sebelum ia membuka mata. Mungkin Devita adalah salah satu list ibu sambung terbaik di dunia ini karena dengannya, Ardika merasa memiliki mama lagi, meskipun tak akan pernah ada yang menggantikan sang mama di hatinya.
"Mami pulang dulu ya, Nak. Kamu cepatlah membaik, mami kangen kamu yang tiap hari melemparkan jenaka yang membuat kita semua ketawa."
Sang suami sampai mengusap matanya yang berair karena dia selalu tak bisa berkata-kata dengan sayangnya wanita ini kepada anaknya. Ketika di luar sana ibu tiri dan anak tirinya dikabarkan sering ribut apalagi soal harta warisan, istrinya ini satu-satunya wanita yang berbanding balik dengan mereka karena Devita tak sama sekali mempermasalahkan harta warisan jatuh ke tangan siapa, karena seperti yang wanita itu katakan, harta yang paling berharga menurut dia adalah keluarganya. Selama tak ada yang mengambil keluarganya, dia akan tetap bahagia meski tercatat tak memiliki apa-apa. Tak heran jika dia kelewatan sayang kepada anak sambungnya ini.
"Ayo, Mi."
Devita mengangguk dan mengikuti langkah sang suami keluar dari ruangan vvip tempat putranya berbaring.
Brian mengantarkan sampai pintu dan menutup pintu kamar tersebut dari dalam setelah kedua orang yang dihormatinya itu menjauh.
Cklek!
Huhhh
Terdengar helaan napas berat pria itu. Dia berjalan menuju ranjang dan menatap prihatin pada pria yang dia ikuti ke manapun perginya selama setahun terakhir.
"Apa-apaan kamu malah pergi sendiri ke sana. Dasar ceroboh! Padahal aku sudah bilang dan ingatkan kalau masih banyak orang di luar sana yang ingin menghilangkan nyawamu! Sudah seperti kucing aja kamu punya sembilan nyawa!"
Akhirnya dia meluapkan kekesalannya setelah orang tua pria yang diomelinya pergi. Yang diomeli sedikitpun tanpa pergerakan membuat dia semakin kesal.
"Sekarang kalau sudah begini aku juga yang repot. Kamu pikir aku tidak takut kamu mati, hah?! Aku berteman dengan siapa kalau kamu mati!"
Dia yang duduk di samping ranjang terus saja mengajak Ardika berbicara meskipun pria itu tak merespon. Bukan hanya saat tak sadarkan diri saja dia berani mengomeli tuan mudanya seperti ini. Karena dia dan Dika sudah berteman akrab dan saling tau daerah-daerah di Jaksel yang memang alamat sang ayah, dia biasa mengomeli Ardika ketika menganggap yang dilakukan tuan mudanya salah.
Usai mengomel, dia malah terlelap di samping ranjang. Tak apa tidur sejenak karena dia tau di depan ada bodyguard yang tadi datang bersamanya menjaga di depan pintu. Meskipun memiliki asisten pribadi, ke manapun pria itu pergi selalu diminta membawa bodyguard oleh sang ayah karena biar bagaimanapun ini adalah negara kelahirannya, negara yang menyaksikan bagaimana ia tumbuh menjadi remaja, negara yang menjadi saksi dia terpisahkan dari orang tua serta saudaranya, dan negara yang menjadi saksi bagaimana perjuangannya menemukan orang tuanya sehingga mengorbankan banyak nyawa dan pertumbuhan darah karena kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Alexander hanya takut ada yang mengenali putranya dari orang-orang di masa lalu, meski sang putra sudah mengasingkan diri hingga 16 tahun lamanya di negara asal sang ibu, tapi tetap saja pasti ada satu dua orang yang mengenalinya. Sekarang ketakutan sang ayah terbukti dengan berbaringnya ia di ranjang rumah sakit yang tak lain adalah efek dari dendam di masa lalu yang belum usai. Sejarah lama yang terbaca kembali dan menyeret kehidupan gadis yang sudah ia gadang-gadang menjadi menantunya. Ketika yang ia takutkan melakukan kejahatan pada putranya adalah orang lain di luar sana, dia melupakan kalau kemungkinan terbesar yang akan membalas dendam adalah gadis yang ia minta putranya jaga dengan baik.
Alexander dan Yasmine sepakat tidak membahas masa lalu lagi karena mereka berdua memiliki kisah cinta yang sama, sama-sama kehilangan orang terkasih. Yasmine kehilangan sang suami, dan Alexander kehilangan istri dan anaknya sekaligus.
Mereka sepakat menyatukan anak-anak mereka agar mereka saling menjaga di kemudian hari, bukan malah menjadi seperti ini. Sangat disayangkan bahwa Kyana mengetahui masa lalu kekasihnya lebih awal dan entah dari mana sumbernya. Alexander akan menyelidiki semua itu karena dia tak ingin anaknya dalam bahaya untuk yang kesekian kalinya karena yang dia yakini, ada orang lain yang mengetahui masa lalu putranya dan menyampaikan berita yang berlebihan pada gadis itu. Anak mana yang akan ikhlas begitu saja ketika tau ayah yang selama ini dia rindukan ternyata adalah korban dari kebejatan masa lalu pria yang dia cintai. Alexander tak sama sekali menyalahkan gadis itu karena apa yang dirasakan oleh Kyana saat ini adalah hal yang dirasakan putranya belasan tahun lalu saat pamannya memprovokasinya untuk balas dendam kepada Alexander dan istri dengan alasan mereka telah membunuh orang tuanya. Padahal faktanya, mereka yang ingin dia bunuh adalah orang tua kandungnya.