Episode 4

1450 Words
Cklek! Pintu terbuka lebar, membuat gadis yang duduk merenung di dalam kamar tersebut tersentak kaget. "Selamat pagi," ucap pria yang datang dengan nampan di tangannya. Tak pernah sekalipun dia melakukan hal seperti itu bahkan untuk dirinya sendiri. Setiap pagi, biasanya dia yang dibangunkan dan makanan tersedia di atas meja. Tapi pagi ini dia melakukan hal seperti yang pembantunya lakukan hanya untuk seorang gadis berambut coklat yang kini menatapnya takut. "Hai, jangan melihatku seperti itu." "Di mana polisi? Apa mereka mencariku? Tolong, tolong jangan katakan pada mereka kalau aku ada di sini. Kumohon... Tolong aku." Gadis itu meringkuk di ranjang, melilit diri dengan selimut yang dua hari ini membersamai ia di dinginnya malam. "Kyana, hei, ini aku Zeen. Aku, ga akan pernah biarkan siapapun mengganggu kamu, apalagi hanya segerombolan polisi. Aku yang akan pasang badan untukmu. Jadi, jangan pernah merasa sendiri dan jangan pernah ketakutan seperti ini. Kau aman denganku." Deru napas tak beraturan karena rasa takut dan keringat dingin itu kembali terlihat. Begitulah kondisi gadis itu sejak ia sadarkan diri dua hari lalu. Selalu dihantui ketakutan dan kecemasan yang berakhir dia menangis histeris. "Aku takut, Zeen. Aku..aku sudah melakukan semua itu, hiks..." "Tak ada yang perlu kau takutkan di sini, selama ada aku denganmu. Kyana. Kau percaya kan padaku, aku akan menjagamu." Pria itu mendekat, nampan yang dibawanya diletakkan di atas nakas. Ia duduk di sisi ranjang dengan tatapan fokus pada gadis di depannya. Tangannya perlahan menyentuh wajah gadis itu, mengalihkan rambut yang menutupi, dan menghapus air matanya. "Kau aman denganku," ucapnya lagi setelah gadis itu terlihat lebih tenang. "Yang kau lakukan bukan sebuah kesalahan, tapi memang itu yang harus dilakukan sejak lama. Manusia seperti dia, tak pantas hidup tenang di muka bumi ini, terutama di negara kita ini karena dia merupakan noda yang telah membuat hancur hidup banyak orang di masa lalu. Mungkin tak hanya kau, ada banyak Kyana di luar sana yang ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan itu. Namun, karena mereka tidak tau siapa dan di mana ia berada, mereka tak bisa membalaskan rasa sakit atas kehilangan itu. Dan kau, kau sudah di sini, tau siapa dia, bahkan dekat dengannya, jadi anggap saja yang kau lakukan ini adalah bentuk perwakilan untuk semua yang bernasib sama denganmu di luar sana, karena siapapun tau, mafia pada zaman itu tidak memiliki belas kasihan sedikitpun dan pada siapapun." "Ja-jadi aku tak salah kan melakukan semua itu? Aku benar? Polisi tak akan menangkapku karena dia, kan, Zeen?" Gadis itu meraih tangan Zeen dan menggenggamnya. Hal yang tak mungkin dan tak sudi ia lakukan sebelumnya. Zeen tersenyum menikmati hasil provokasinya yang menghabiskan waktu, harta dan tenaga yang tak main-main untuk sampai ke titik ini. Ia menggeleng sebagai jawaban untuk gadis yang ia cintai sejak lama. "Syukurlah, aku takut dipenjara. Aku tak ingin masuk ke penjara, Zeen." "Tak akan, Kyana. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi, kau tenanglah. Aku di sini denganmu." Tanpa basa-basi, Kyana memeluk pria itu, hal yang sangat disukai oleh Zeen. 'Teruslah seperti ini, Kyana. Aku menyukainya, aku sangat menyukainya. Bhahha... Lihat Ardika, kau bisa mati-matian menyembunyikan identitasmu dan lari dari bayangan masa lalu, tapi aku sudah berhasil membukanya, hahahaha... Sekarang nikmati saja hasil dari kesombongan dan keangkuhanmu yang berani-beraninya menyalakan api peperangan denganku.' Senyum licik pria itu terbit seiiring untaian kata yang terlantun di dalam hatinya. "Terima kasih, Zeen. Terima kasih, aku bahkan tak tau harus membalas kebaikanmu dengan apa. Sekarang bahkan ibuku sendiri pun tak peduli padaku, dia meninggalkanku saat itu. Aku..aku kecewa pada ibu, hiks..." "Di sini kau bebas melakukan apapun, bebas meminta apapun, aku akan membiarkanmu melakukan apapun itu asalkan satu hal yang tak boleh, jangan menangis lagi, jangan menyakiti dirimu sendiri dengan ingatan tentang mereka yang menyakiti. Jika kau terus begini, orang-orang di luar sana akan tertawa karena kau hampir menjadi gila tapi orang yang akan kau musnahkan malah masih berdiri dan bebas berkeliaran ke manapun." "Tidak, aku tak akan membiarkan itu terjadi. Dia harus merasakan apa yang ayahku rasakan." "Harus, kau tak boleh lemah." "Tapi aku tak tau apa yang harus kulakukan setelah ini, Zeen." Zeen melonggarkan pelukannya, dia menangkup wajah gadis yang sudah berurai air mata itu. "Gampang, sekarang hanya kumpulkan tenaga dan makanlah. Aku sudah membawakan sarapan untukmu agar kau lebih bertenaga. Jangan menyiksa diri dengan ketakutan yang tak pernah akan kubiarkan terjadi." Pria itu menyodorkan makanan untuk Kyana. "Makanlah, jangan hanya menatapnya seperti itu. Kau tak akan kenyang dengan menatapnya." Kyana tersenyum. Dia bersyukur masih memiliki teman seperti Zeen yang bisa menyelamatkan ia dari bahayanya hutan dan juga dari sakitnya kelaparan. Gadis itu jadi merasa bersalah karena sebelumnya dia sangat cuek pada pria di depannya ini, apalagi setelah sang kekasih mengatakan ia cemburu jika kekasihnya dekat dengan pria lain, terlebih itu rival bisnisnya. Namun sekarang, pria yang mengatakan ia cemburu tersebut sudah tak lagi berarti apapun bagi Kyana karena luka yang ia ciptakan begitu dalam dan terlalu lama dibiarkan menganga. Sejak usianya 10 tahun, dia harus menguatkan hati karena kehilangan sosok ayah secara tragis. Kabar yang ia ketahui, ayahnya telah dibunuh karena melakukan suatu kesalahan besar yang tak disukai pimpinannya. Sang ibu memberikan pengertian bahwa itulah resiko yang sudah ayahnya sepakati dan terima ketika ia masuk bekerja di tempat itu. Kyana yang tak paham apapun di usianya yang masih kecil, hanya tau bahwa dia sudah tak punya ayah lagi. Lulus dari Sekolah Dasar, lalu masuk SMP, SMA dan berlanjut ke jenjang perguruan tinggi, dia tetaplah merasakan kehilangan sosok ayah meski sebelumnya dia memang jarang bertemu pria itu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Urusan keuangan, Kyana tak sedikitpun merasakan kekurangan meski ibunya hanya menjadi penjual buket dan bunga hidup, tapi keuangan mereka tak pernah dirasa kurang. Gadis itu sama sekali tak tau dari mana kucuran dana yang membiayai hidupnya selama ini. Ternyata itu dari ayah pria yang telah membunuh ayahnya. Memang tak memberi secara terang-terangan, tetapi modal usaha dan kebutuhan lainnya dicukupi, termasuk dengan saldo atm khusus yang dimiliki sang ibu tanpa sepengetahuannya Kyana, yang tentunya uang dari pria itu selalu masuk ke sana untuk membiayai hidup mereka. Selama enam belas tahun hidup tanpa figur ayah, bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang Kyana. Di sekolah, dia pergi dibully karena ayahnya tak pernah terlihat sama sekali, apalagi setelah teman-temannya tau kalau ayah Kyana adalah bagian dari mafia-mafia zaman dahulu yang dikenal kekejamannya. Kyana lah yang merasakan sakitnya dikucilkan teman, sakitnya diteriakin anak orang tak hati manusia, sementara yang mereka sebut orang tak berhati manusia itu sudah tak lagi bisa dilihat Kyana selama-lamanya. Lalu, setelah dia bisa berdamai dengan kisah hidupnya di masa lalu, bertemu dengan pria yang menjadikan bagai ratu, Kyana yang sempat kehilangan figur ayah selama ini merasakan dia bertemu dengan orang yang tepat karena bisa membimbing ia ke jalan yang baik dan sedikit melupakan duka lara tersebut. Apalagi dengan ayah si pria ternyata merupakan sahabat lama mending ayahnya. Ia sangat bahagia sekali bertemu dengan mereka. Dengan orang tuanya sudah lama bertemu, tetapi dengan anaknya, Kyana baru bertemu setahun terakhir dan mereka terikat hubungan antar hati. Sayang, semuanya harus sirna dalam sekejap mata karena yang dianggap sumber kebahagiaan olehnya selama ini, merupakan sumber luka yang paling dalam. "Jangan melamun, makanlah yang banyak agar tenagamu pulih." Zeen mengingatkan setelah ia menyadari bahwa makanan di atas piring hanya di putar-putar saja tanpa dibawa ke mulut. "Eh, iya, maaf." "Jangan menambah beban dalam pikiran, tetaplah jadi Kyana yang sifat dan sikapnya selalu tenang. Meskipun aku tau, ini semua begitu berat untukmu," Zeen berbicara sembari memamerkan senyum termanisnya, "tersenyumlah Princess, kau tak pentas bersedih hanya karena pria seperti dia dan antek-anteknya." "Terima kasih, Zeen." Kyana membalas sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap. Zeen benar, kalau dia terus meratapi nasib dan berdiam diri di sini tanpa memikirkan apapun, percuma Zeen membantunya sejauh ini. Dia harus bangkit lagi untuk membalaskan dendam yang menyala kepada pria yang kemarin sebagai pemilik hatinya. Zeen Gernald Steve, pria dengan usia 30 tahun tersebut seharusnya sudah memiliki istri dan anak sejak dua tahun lalu dengan gadis yang dijodohkan orang tuanya. Namun, pertemuan tak sengajanya di mall dengan gadis cantik yang saat itu dompetnya terjatuh dan bisa membayar belanjaan, membuat dia langsung membatalkan rencana kedua orang tuanya yang sebelum sudah ia iyakan. Sayangnya, gadis yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama tersebut hanya menganggap ia sebagai teman saja. Meskipun sudah mengode berkali-kali, tetap saja gadis itu seperti mengkacanginya saja. Namun, enam bulan setelah pertemuan mereka itu, gadis itu diketahui dekat dengan seorang pria yang baru datang dari Indonesia dan ternyata merupakan anak dari pemilik perusahaan pesaing perusahaan yang ia pimpin. Jadilah mereka rival dalam dunia bisnis dan rival dalam dunia percintaan. Tapi saat ini, senyum penuh kemenangan itu terbit di bibirnya dengan lebar. Tanda kekalahan sang musuh terlihat jelas di depan matanya. "Your lose Brother!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD