Episode 5

1854 Words
"Arghh!" Suara erangan di dalam ruangan membuat Brian yang sedang memainkan ponselnya sontak kaget. Bukan dia yang punya suara, artinya... "Tuan muda!" Pria itu memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam saku. "Argg.." "Tuan muda bertahanlah. Akanku panggilkan Dokter untukmu." Tanpa ba-bi-bu lagi, pria itu memecet tombol pertolongan di tembok bagian atas tempat tuan mudanya berbaring. Suata uwi-uwi terdengar dari alarm pertolongan di depan kamar. Dokter yang menangani sontak berlarian menuju sumber suara. Cklek! "Dokter, tuan muda sudah sadar. Saya mendengarkannya mengerang." "Argg.." Erangan kesakitan kembali terdengar dari bibir yang terbuka, wajah sedikit meringis tetapi mata tetap terpejam. "Maaf, Tuan bisa menunggu di luar, saya akan memeriksa keadaan pasien," ucap sang dokter. Brian hanya menurut saja, dia tak ingin tuan muda yang dijaganya mengalami kesakitan seperti itu. "Huh... Apa aku harus menghubungi tuan dan nyonya sekarang dan memberitahukan keadaan tuan muda?" "Saya rasa jangan dulu, Bos. Kita bahkan tidak tau apa yang terjadi pada tuan muda. Sebaiknya tunggu kabar dari dokter yang menangani dulu." Salah satu bodyguard yang berjaga di depan ruangan menimpali ucapan Brian. "Saya juga berpikir demikian, Bos. Saya setuju dengan ucapan Joseph, kita sama-sama tau kalau Nyonya Devita sangat protektif kepada tuan muda, saya khawatir dia jadi panik dan langsung ke sini. Kita sama-sama mengetahui bahwa nyonya sangat kurang istirahatnya sejak tuan muda masuk rumah sakit." Smith mengomentari. Mereka adalah dua bodyguard di bawah perintah Brian yang urusan mereka adalah menjaga dan mengkawal sang tuan muda saat bepergian, kecuali ketika tuan muda meminta mereka untuk tetap tinggal dan tak mengikuti, serta mengancam akan menghukum mereka jika berani-beraninya mengikuti diam-diam. Seperti pada malam saat kejadian itu, mereka tak mengkawal sang tuan muda karena pria itu akan bertemu dengan kekasihnya yang mereka ketahui sangat saling mencintai. Sayangnya, mereka bahkan tak sampai hati berpikir bahwa gadis itu telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap tuan muda mereka." "Bos, mukamu jangan tegang-tegang begitu, sangat menakutkan. Bahkan kalau tikus-tikus rumah sakit melihatnya, mereka akan lari ketakutan." Lirikan maut Brian berpindah pada Joseph yang berani-beraninya mengatakan hal seperti itu pada atasan mereka. "Kau bilang apa? Berani sekali kau padaku!" "Ampun, Bos. Hanya menyampaikan pendapat dari hati agar tak ada yang menjanggal, itu saja." "Tapi kau juga jangan terlalu jujur, Josehp! Aku bisa marah padamu!" "Hehehe maaf, Bos." Ketika dua orang itu berdebat, Smith hanya bisa terkekeh menahan tawa. Dari sekian banyak bodyguard yang menjadi pekerja di rumah Alexander, entah kenapa dia disatukan dengan Joseph sebagai bodyguard khusus sang tuan muda. Bukan masalah tugasnya, tapi masalah dengan siapa dia bertugas. Pasalnya pria di depannya itu memang humoris dan blak-blakkan dalam berbicara. Lihatlah cara dia berinteraksi dengan atasannya sungguh meninggalkan tanda tanya. Untung saja yang dia hadapi sekarang bukan Silan, tapi Ardika. Silan dan Ardika, dua nama untuk satu manusia tetapi sifat mereka berbeda. Ardika si humoris, si baik hati dan Silan si tegas, si muka serius. Tak banyak yang tau hal itu, hanya orang ayahnya dan Brian tentunya. Brian jika melihat wajah tuan muda serius, maka dia akan sangat serius karena dia tau kisah masa lalu pria itu. Itupun dia diberitahu dulu oleh Alexander supaya dia bisa ekstra dalam melindungi sang tuan muda. Mendengar saran dari dua bodyguard itu, Brian menyetujui untuk tak menghubungi tuan dan nyonya besarnya untuk sementara waktu, hanya setelah mendapatkan kabar baik atau kabar sebaliknya dari dokter yang masih berada di dalam ruangan bersama suster yang membantunya. Wajah tak tenang pria itu tentu saja tak bisa dia sembunyikan. Bagaimanapun juga dia begitu sayang terhadap tuan mudanya ini. "Semoga tuan muda baik-baik saja," ucapnya lirih sembari menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bolehkah ia marah pada Kyana untuk saat ini?. Bolehkah ia ingin mencari Kyana dan menunjukkan pada gadis itu bagaimana keadaan pria yang selalu ini mencintainya, karena perbuatannya? Ingin sekali dia melakukan semua itu, tetapi dia baru saja mengetahui alasan kenapa gadis itu melalukan hal seperti ini kepada tuan muda. Jika memposisikan dirinya sebagai Kyana pun dia juga kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama. Sebab, luka karena kehilangan orang tersayang itu tak akan pernah bisa sembuh dengan apapun. Ting... Lampu indikator di atas lampu berbunyi sebagai tanda lampu akan dibuka. Cklek! "Dokter! Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Atau apa terjadi sesuatu dengannya?" Pria itu membrodong dengan pertanyaan saat sang dokter baru mengeluarkan badan dari pintu ruangan itu. Dia bertanya seperti wartawan saja, banyak sekali. Dua bodyguardnya hanya memasang wajah serius dan berdiri tegak di belakang. "Bersyukurlah karena pasien berhasil melewati masa-masa kritisnya. Sekarang dia sudah sadarkan diri." "Hah? Tu-tuan muda sudah sadar, Dok?!" "Yap, betul sekali." "Apa saya boleh masuk? Saya ingin melihatnya." Sangat tak sabaran sekali dia. "Tentu saja boleh, tetapi jangan banyak-banyak dulu dan jangan terlalu lama mengajaknya berbicara karena pasien masih sangat membutuhkan banyak-banyak istirahat." Dokter menjelaskan dengan detail seperti mengerti kalau tiga orang itu ingin masuk bersama. "Baik, Dokter." "Kalau begitu, saya permisi dulu. Nanti untuk resep obatnya akan saya minta suster mengantarkan." "Baik, Dok. Terima kasih." Dokter Davin yang usianya terbilang masih muda tersebut tersenyum melihat ketulusan pria yang menjaga pasiennya satu ini. Dia terlihat tulus sekali di mata sang dokter. Sepeninggal Dokter Davin, Brian langsung masuk ke dalam ruangan setelah mendengar sedikit sindiran dari Joseph. "Yah, kami juga sangat ingin mengatakan hallo pada tuan muda, tapi sepertinya tak bisa. Jadi, mohon bersabarlah Smith." Dia yang ingin masuk, tetap saja Smith yang dibawa-bawa. Brian hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi. Dia tau, jika menanggapi Joseph, sampai besok pagi pun dia masih tetap berdiri di luar karena pria itu punya seribu cara untuk tidak kalah dalam berbicara. Di dalam ruangan, Brian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia memandangi pria yang terkulai lemah tak berdaya di atas ranjang. "Arg.." Terdengar erangan saat pria itu mengangkat tangannya. "Tuan muda!" Brian sontak mendekati. "Tuan muda ingin apa?" "Sa-saya ha-us," ucap Ardika dengan terbata. Itu adalah ucapan pertama setelah dia beristirahat selama hampir empat hari di ranjang ini. Dengan sigap, Brian mengambilkan air dari dispenser yang memang tersedia di dalam ruangan. "Ini Tuan muda." Tak lupa Brian mengatur ranjang agar terangkat bagian atasnya sedikit untuk sang tuan muda bisa minum dengan benar. "Arg..." Lagi-lagi pria itu meringis saat air berhasil masuk ke tenggorokannya. Dia merasakan perih di bagian perutnya. Entah bagaimana pisau itu merobek ke samping sehingga organ di dalam perutnya tetap aman karena yang robek hanyalah kulit perut. Namun, siapapun tau kalau kulit perut itu tebal. "A-apa yang terjadi pa-daku, Bri?" Brian yang menaruh gelas dan menurunkan kembali bagian atas ranjang agar sang tuan muda bisa istirahat kembali, terdiam sejenak. Apa mungkin pria itu melupakan kejadian malam itu. Jika iya, bagaimana Brian akan menjawabnya sekarang, sementara pria itu sangat berharap tuan mudanya lupakan saja kejadian malam itu karena terlalu menyakitkan jika dia mengingatnya. Mata pria itu menatap sekeliling, dia menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan alat-alat kesehatan masih menempel di tubuhnya. "Tuan muda...." "Di ma-na, Kyana?" Masih dengan terbata-bata, pria itu memotong ucapan Brian sang asisten, untuk menanyakan keberadaan sang kekasih yang membuat ia terbaring di sini. "Khem, maaf Tuan muda, sampai saat ini Nona Kyana masih belum ditemukan keberadaannya setelah kejadian malam itu." Pada akhirnya Brian berbicara jujur saja. Tadinya dia ingin memberikan alasan lain mumpung tuan muda lupa kejadian itu, menurutnya. "Arg.." "Tuan muda!" "Tak apa. A-aku baik-baik saja." "Beristirahatlah, jangan banyak bergerak dulu. Tuan muda baru sadar dari koma, jadi kumpulkan dulu tenaga Anda." Ardika hanya mengangguk saja. Dia ingat, sangat ingat kejadian malam itu. Semuanya terjadi begitu cepat hingga dia tak mampu menghindari serangan dari gadis yang ingin dia peluk karena berpikir gadis itu ketakutan setelah diculik. Tak sedikitpun dia berpikir bahwa ini adalah sebuah jebakan Batman yang membuat dia terbaring lemah di tempat ini. "To-tolong temukan dia. Di-a, pasti sang-at ketakutan di luar sana." "Tuan muda, kami semua sedang melakukan pencarian demi Nyonya Yasmine. Dia sangat sedih kehilangan putrinya karena malam itu dia melupakannya di sana karena panik untuk membawa Tuan muda ke sini." Pria yang baru beradaptasi dengan panggilan barunya itu memejamkan mata. Terlalu sakit jika dia mengingat ucapan sang kekasih yang samar-samar ia dengar saat dirinya sudah tak lagi bisa melawan. "Matilah! Matilah kau seperti orang-orang yang telah kau perlakukan dengan kejam, bahkan kau bunuh tanpa belas kasihan!" Ucapan itu bak rekaman yang terus diputar berulang-ulang bahkan dalam mimpinya. Karena itulah dia terbangun dan seperti orang kaget. Sakit yang dirasa di bagian perutnya yang terkena tusuk, tak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang ada di hatinya ketika ucapan itu kembali terngiang dalam ingatan. Benci terhadap dirinya sendiri kembali dirasakan pria itu seperti sedia kala. Kisah masa lalunya yang menyiksa, bahkan ia coba lupakan dengan menghilangkan diri dari negara kelahirannya selama belasan tahun, tetap saja saat ia kembali, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dia tak akan bisa lari dari masa lalunya. Satu hal yang tak bisa dia bayangkan adalah bagaimana bisa dia tidak tau kalau kekasihnya itu adalah putri dari pria yang dulu sangat dia sayangi seperti ia menyayangi Jackson, ayah dari Andreas dan Olivia. "Kyana tak salah." Tiga kata itu menjadi ucapan pertama setelah ia tenggelam dalam ingatannya cukup lama. Tak ada dan tak boleh ada yang menyalahkan gadis itu. Karena bagi Ardika, yang dilakukan Kyana memang sangat pantas ia terima. Air bening keluar dari sudut mata pria itu. Dengan sigap Brian meraih tisu dan mengusapnya. Lebih dari setahun mengenal pria ini, ini adalah kali pertama bagi Brian melihat air matanya. Entah bagaimana rasa sakit yang ia rasakan, Brian tak sanggup bertanya. "Tenanglah, Tuan muda. Semua masalah pasti memiliki jalan keluar terbaik. Bersabarlah untuk menemukannya. Beristirahatlah dengan cukup agar Tuan muda lekas sembuh dan kita bisa sama-sama mencari jalan keluar dari masalah ini." "Aku orang ja-hat, Bri. Jika kau i-ngin pergi, pergilah. A-aku tak akan menahanmu. Ka-karena kau mungkin bermasalah jika dekat denganku." Dengan susah payah dia mengatakan itu. Cukup dia saja yang mendapat masalah, jangan orang-orang di sekitarnya. Menurut Dika, jika identitasnya sudah terkuak seperti ini, meskipun hanya satu orang yang tau, tapi semua itu pasti akan menyebar luas. Dia juga tak bisa membayangkan jika media mengetahui semua ini dan namanya terbuka di seluruh penjuru Negara Belanda. Bukan dirinya yang ia khawatirkan, tidak sama sekali karena dia sudah siap menanggung resiko kehidupannya yang kelam di masa lalu. Namun, dia tak akan rela jika yang mendapatkan balasan dari masa lalunya itu adalah orang-orang terdekatnya, termasuk sang asisten. "Anda bicara apa, Tuan muda. Saya tak akan pergi ke manapun. Kita bisa melewati ini semua bersama." "Tapi kau tak tau siapa aku sebenarnya, Bri." "Saya sudah tau sejak lama, Tuan muda. Jika saya ingin menjauh dari masalah, mungkin saya sudah melakukan itu sejak lama, saya akan pergi. Namun, saya tau tugas saya tak hanya membantu keperluan Tuan muda, tetapi juga melindungi Tuan muda." "Ka-kau tau?" Ardika terbelalak. Selama ini dia berpikir Brian tak tau masa lalunya dan hanya mengetahui dia yang sekarang. Namun ternyata dia salah. "Tenanglah, kita bisa berteman baik, Tuan Silan," ucap Brian sembari tersenyum tulus. Ardika tak menyangka dirinya menemukan orang-orang tulus seperti Brian. Yang tak akan pergi meskipun tau kebejatannya di masa lalu. Dipanggil Silan membuat pria itu tersenyum kecut, kamarin-kemarin ada Andreas yang sering memanggilnya begitu dan selalu dia tegur, sekarang ada Brian yang memanggilnya begitu. Tapi dia tak bisa menyangkal bahwa itu adalah namanya di masa lalu. Ia hanya bisa tersenyum kecut mengingatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD