Wanita dengan pakaian modis itu buru-buru menuruni anak tangga, disusul sang suami di belakang.
"Papi ayo cepat!"
"Iya, ini sudah sangat cepat. Kau ini, selalu saja seperti ini." Alexander hanya bisa menghembuskan napas berat saat mereka masuk ke badan mobil AvtoVas berwarna merah yang biasanya digunakan sang nyonya untuk bepergian. Mobil buatan perusahaan terkenal dari Rusia dari tahun 90-an itu adalah mobil kesukaannya.
Sang sopir langsung mengemudikan mobil begitu mendapatkan perintah dari majikannya.
Alexander yang terlihat tetap santai itu sebenarnya juga merasakan khawatir terhadap kondisi putranya. Namun, ia masih ingat, putranya adalah mantan seorang pangeran mafia di masa lalu, jadi dia merasa sedikit tenang karena tau putranya kuat menghadapi ini semua.
Hanya menunggu tiga puluh menit setelah dihubungi Brian, mereka sudah sampai di salah satu rumah sakit yang menampung putra mereka menjadi pasien vvip-nya.
Ting..
Pintu yang memiliki sensor sentuh itu berbunyi ketika ada yang memegang gagangnya.
Cklek!
"Sayang....."
Wanita paruh baya yang terlihat seperti anak muda itu berhambur menuju tempat putranya setelah pintu terbuka. Di belakang, suaminya mengikuti dengan tangan dimasukkan ke saku.
"Ma-mi..."
"Sayang... Kamu sudah bangun, mami khawatir sekali dengan keadaan kamu, Nak."
Devita memeluk sang putra, air matanya mengalir, ia menangis haru.
"Dika baik-baik saja, Mi. Ja-jangan menangis."
"Mami sayang padamu, mami tak ingin terjadi sesuatu lagi padamu, apapun itu."
Dengan senyum manisnya, Dika mengangguk mengiyakan wanita yang menangkup wajahnya dengan sayang. Bagi dia yang tak pernah merasakan kasih sayang sang ibu dari kecil, ini adalah kasih sayang ibu yang didapatkannya.
Dia kembali ke negara kelahirannya ini karena wanita ini yang terus membujuk sang suami untuk meminta putra mereka tinggal bersama. Terlebih usia sang suami sudah memintanya untuk istirahat saja dari perusahaan. Padahal Dika lebih senang berada di negara asal sang ibu yang melahirkannya karena dia merasa dekat dengan ibunya.
"Dika juga sa-yang Mami."
Cup!
Satu kecupan diberikan wanita itu di puncak kepala sang putra yang sudah ia anggap putra kandungnya.
Dika menatap pria paruh baya di belakang wanita yang memeluknya, ia tersenyum manis.
"Pih.."
Pelukan sang mama melonggar, memberikan akses untuk Dika dan ayahnya lebih dekat.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?"
"Su-suddah lebih ba-ik."
Perban di bagian perutnya dilirik sang ayah dengan lekat. Ia tau, pasti sakit sekali rasanya.
"Papi tau kau kuat, ini bukan apa-apa bagimu. Jadi, jangan menjadi pria yang lemah."
"Heheh."
Dika sedikit terkekeh. Bagaimanapun dia berusaha menjadi Ardika yang lemah di depan semua orang, dalam tatapan papinya, dia tetaplah Silan, pria yang kuat, yang selalu menjadi kebanggaan pamannya.
"Dika baik-baik saja. Tenanglah," ucapnya dalam satu tarikan napas, kali ini tanpa terbata.
Senyum pria paruh baya itu merekah. Setiap orang tua berbeda cara menunjukkan kasih sayangnya, dan Dika tau, papinya menunjukkan rasa sayang dengan membangkitkan kekuatannya. Pria itu tak pernah menganggap dia lemah.
Mahardika adalah nama panggilan yang ia berikan kepada putranya ini di waktu kecil, dan Silan adalah panggilan yang pamannya berikan dengan membuang nama depan dan akhir dari Dika sehingga dia tak mengenali dirinya sendiri.
"Papi selalu saja bicara Dika akan baik-baik saja, Dika tak akan kenapa-kenapa. Lihatlah putra kita sekarang, Pi! Dia sedang terluka, apa ini yang papi katakan dia baik-baik saja? Ahh dasar ayah yang tak peka terhadap putranya."
Lagi-lagi Dika terkekeh mendengar papinya diomeli oleh wanita yang dinikahi atas persetujuannya itu.
Tapi...
Senyumnya menghilang ketika ia ingat satu hal. Wanita ini, wanita yang ia sayangi ini tidak tahu menahu tentang masa lalunya. Takut jelas saja dirasa. Bagaimana jika wanita itu tau siapa dia, Dika tak bisa bayangkan bagaimana dia akan kehilangan kasih sayang. Namun, satu hal yang di sadari, dia memang tak pantas disayangi banyak orang karena dia bukan orang yang baik.
"Kau tenanglah, wanita itu tak akan lagi bisa menyakiti kamu. Mami akan pastikan dia menyesal melakukan semua ini pada putra mami!"
Deg!!
"Mih.. ja-jangan. Di-dia hanya salah paham."
"Salah paham kau bilang? Salah paham sampai membuat kau terluka dan hampir mati seperti ini? Ini yang namanya salah paham?"
"Tapi Mami...."
"Beristirahatlah, Nak. Mamimu memang seperti ini, jangan mengatakan apapun karena dia tak akan mendengarkan kamu. Papi sudah cerita semuanya tetapi dia tetap saja keras kepala."
"What!?? Mami keras kepala, Pi? Hello, yang berusaha dibunuh ini juga anak mami, bukan hanya anak Papi saja! Jadi mami sebagai ibunya, tidak terima putra mami diperlakukan seperti ini, apapun urusannya di masa lalu. Itu masa lalu!"
"Ma-mi, please... I-izinkan Dika selesaikan ini sen-diri. Di-dika tau apa yang harus Dika lakukan."
"Tapi, Nak..."
"Argg!!!"
Ucapan wanita itu terpotong dengan suara rintihan Dika.
"Sayang? Sayang kamu kenap, Nak?" Devita jadi panik, pun dengan Alexander.
"Tuan, Nyonya, mohon maaf. Dokter mengatakan kalau tuan muda tidak boleh diajak mengobrol terlalu lama. Tuan muda masih dalam proses pemulihan."
Seperti tau kondisinya, Brian langsung membuka suara. Dari pada suasana semakin memanas.
"Tapi dia tak apa-apa kan, Brian?"
"Tidak, Nyonya."
"Sayang, kamu tak apa, kan?" Tatapan wanita itu berpindah dari Brian ke Dika.
Ardika menggeleng. "Tak apa, Mi. Di-dika baik-baik saja. Ha-hanya saja, apa yang Brian katakan itu benar. Di-ka butuh istirahat."
"Sayang...." Devita mengusap lembut rambut tebal Dika. "Maafkan mami karena mengomelimu saat baru sadar seperti ini. Mami sayang padamu."
"Dika tau, Mi. Dika juga sayang Mami."
"Kau pulanglah istirahat dulu, nanti bisa gantikan nyonya siangnya."
Alex berbicara pada Brian. Dia tau Brian pasti lelah karena menjaga putranya semalaman.
"Baik, Tuan."
"Jangan lupa kau gantikan juga dua bodyguardmu itu dengan yang lain, mereka juga butuh istirahat. Jangan sampai tidur di ruang tunggu."
"Baik, Tuan, akan saya laksanakan." Brian membungkuk hormat sembari menahan tawa karena ucapan tuan besarnya. Pastilah dua orang itu berulah di luar sana.
"Tuan muda, Nyonya, saya pamit dulu." Brian berbalik sebentar sebelum berpamitan kepada dua orang yang memberikan anggukan padanya.
"Kau sudah makan?" Alexander bertanya pada sang putra.
"Sudah, Pih. Tadi Bri yang suapin."
Alexander melihat mangkuk bubur dari rumah sakit yang isinya setengah tandas.
"Ba-gaimana keadaan perusahaan?"
"Ck, tak usah dipikirkan dulu. Kau cepatlah sembuh dulu baru memikirkan hal-hal duniawi itu."
Seulas senyum terbit di bibir Dika, dia tau sang ayah sangat menyayangi dirinya. Beberapa kali pria itu mengatakan bahwa tiada gunanya harta jika anak tak ada dengannya.
"Istirahatlah, Nak. Jangan banyak bicara. Papi jangan mengajaknya berbicara terlalu banyak, ingat kata Brian tadi. Dika harus istirahat."
Wanita yang baru keluar dari kamar mandi itu mengomeli suaminya, parahnya dia mencubit lengan sang suami sehingga meringis.
Hal itu membuat Dika tak bisa menahan kekehannya. Selalu saja ada keributan kecil dari kedua orang tuanya yang bersumber dari dia seperti hal ini. Terkadang ketika sang ayah menanyakan pekerjaan terus menerus saat Dika masih sehat, maminya akan marah karena Dika kembali bukan untuk dijadikan pekerja.
"Baiklah, Papi tak akan menang di sini. Kalau begitu, Papi mau ke kantor saja. Ada meeting dengan perusahaan Indonesia yang katanya sudah membuat janji denganmu."
"I-indonesia?"
"Iya. Wijaya group."
"Owh, itu teman-teman Dika, Pi. Dika berharap Papi memperlakukan mereka sebaik mungkin."
"Tentu saja begitu. Papi tau mereka bukan seperti teman lagi bagimu, kan? Jadi, tenang saja, mereka bahkan sudah disambut di bandara oleh Nichols dan anak buahnya." Alexander berbicara apa adanya.
"Sungguh?"
Pria itu mengangguk.
"Terima kasih, Papi."
Alexander tersenyum. Apapun itu akan dia lakukan untuk membuat putranya bahagia. Semalam sejak dihubungi oleh sekertaris Dika, pria itu langsung meminta Nichols, asisten sekaligus pemimpin bodyguardnya untuk menjemput mereka di bandara. Pria itu tersenyum saat tau putranya berteman dengan anak-anak hebat itu. Perusahaannya sudah lama menjalin kerjasama dengan Wijaya group, dari sejak dipegang oleh Wijaya sampai berpindah tangan ke Putranya, mereka tetap menjalin kerjasama yang baik. Dia tak menyangka kalau selama di Indonesia, putranya berteman dengan mereka karena sebelum-sebelumnya dia hanya mengirim Nichols untuk meeting dan lainnya. Nichols juga tak pernah berbicara apapun terkait Dika di Indonesia karena memang putranya itu tak ingin ada yang tau bahwa dia sebenarnya berasal dari Belanda, apalagi dengan wajahnya yang lebih dominan mirip sang ibu yang Indonesia, dan dia bangga dengan hal itu.
Alex meninggalkan dua orang yang disayangi itu setelah berpamitan. Ardika melanjutkan tidurnya setelah Devita mengusap-usap dengan lembut rambutnya sambil bernyanyi lagu penghantar tidur. Terkadang Dika merasa lucu sendiri dibuatnya, sebab, sang ibu memperlakukan ia bagai anak kecil. Padahal usianya sudah memasuki usia kepala tiga.
Setiap kali dia teleponan dengan Reyhan, sahabatnya. Dia selalu diejek pria yang kini mempunyai dua anak dari dua wanita berbeda tersebut. Si gembul Kayla, putri pertama Rayhan dari mendiang istri pertamanya, ikut-ikutan mengejek Dika tak laku-laku. Di sana juga ada Wisnu, sahabatnya itu kini sudah menikah dan memiliki satu anak berusia satu tahun yang sangat gemas sekali. Dika belum pernah melihatnya secara langsung, dan itulah alasan kenapa dia ingin berkunjung ke Negara Garuda walau hanya sebentar saja. Tapi untuk saat ini, dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya dulu, apalagi sekarang urusannya sudah bertambah dengan Kyana yang tiba-tiba menjadi orang lain seperti ini.
Mengingat hal itu membuat hati Dika merasa sakit.
****
Tak ada yang lebih indah selain cinta seorang anak perempuan pada ayahnya. Dengan bantuan Zeen, Kyana bisa mendapatkan foto-foto ayahnya. Pria itu mencetak khusus untuk Kyana. Dan kini, di balik tembok kaca yang ada di lantai dua rumah besar itu, Kyana duduk termenung menatap ke luar keca yang isinya adalah pohon-pohon dari halaman rumah Zeen. Di tangannya melekat bingkai foto yang ia peluk dengan penuh kerinduan, seolah pria yang ada di dalam foto tersebut ada di depannya.
"Hai, kau jangan melamun terus. Ayo makan siang denganku di bawah."
Kyana menoleh ke sumber suara yang sudah mulai beradaptasi dengannya.
"Aku tidak lapar, Zeen."
"Oh, ayolah. Tadi pagi kau sarapan hanya sedikit sekali, bagaimana kau bisa mengatakan tidak lapar siang ini?" Zeen berusaha membujuk.
"Aku sungguh tak lapar."
"Tapi aku yang lapar, Kyana!"
"Kau makan saja duluan."
"Sudah kubilang, aku tak akan makan jika tidak makan denganmu. Ayolah, aku hanya tak ingin kau sakit. Kau harus punya tenaga yang kuat."
"Tapi Zeen...."
"Kyana, dengarkan aku. Kau harus makan, harus menjadi wanita kuat. Bukankah kau ingin membalas dendam pada pria itu?"
Kyana terdiam. Dendam? Cinta? Semuanya menyatu di hatinya saat ini.
Dia bahkan sempat menangisi perbuatannya waktu itu, tetapi ketika ingat dengan sang ayah, dia langsung menghapus air matanya.
Setelah Zeen memaksanya untuk makan bersama, akhirnya Kyana mengalah. Saat ini, tak ada siapapun yang bisa dia percaya dan andalkan selain Zeen. Bahkan pada ibunya sendiri pun dia masih tak bisa melupakan kekecewaan itu. Jadi, tak ada salahnya dia menurut saja pada temannya ini. Zeen sendiri hanya bisa tersenyum penuh kemenangan setiap kali Kyana berdebat dan berakhir tunduk padanya. Ini yang memang dia inginkan sejak lama, memiliki Kyana dan hidup dengannya.