BAB 1 - Perkenalan Di Tangga
“Aww… pelan-pelan, Mas… perih banget… Suara itu terdengar dari arah tangga besar di ruang tengah.
Asep yang baru beberapa menit masuk rumah langsung menoleh cepat. Tas kecil masih menggantung di pundaknya. Ia bahkan belum sempat benar-benar melihat isi rumah megah itu ketika suara mengaduh membuat langkahnya refleks bergerak. Seorang perempuan hampir terjatuh dari tangga.
Tanpa pikir panjang, Asep langsung melangkah cepat. “Eh, hati-hati!” Refleks tangannya menangkap tubuh perempuan itu sebelum jatuh lebih keras. Namun kaki perempuan itu tetap sempat menghantam lantai.
“Aww…” Perempuan itu meringis sambil memegangi lututnya. “Sakit banget…”
Asep langsung jongkok sedikit. "anjir, masuk kerja langsung hoki gue, empuk kenyel panget buah dadanya🤤" pikir asep. ternyata asep sempat menyentuh buah d**a tanpa cewe itu sadar, tangan asep buru buru geser ke perut sebelum cewe itu sadar.
“Pelan… pelan dulu. Kebentur?”
Perempuan itu mengangguk pelan sambil mengatur napas. “Iya… aduh…”
“Coba jangan dipaksa berdiri dulu.” Asep membantu menopang tubuhnya sedikit agar tidak terlalu membebani kaki. “Pelan aja, Mbak.”
Perempuan itu yang tadinya masih fokus menahan sakit mendadak diam. Ia menoleh. Elsa mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Ia menatap pemuda asing di hadapannya. Wajahnya tampan, rahang tegas, dan matanya... mata itu menatapnya dengan tulus🥺, tanpa ada maksud tersembunyi. Namun, ada satu kata yang membuat alis Elsa langsung berkerut tajam.
“Kamu siapa?”
Asep terlihat kikuk. “Saya Asep, Mbak.”
Elsa menegakkan badannya, sedikit menyingkir dari pegangan Asep. Ia membenarkan pakaiannya, lalu menatap Asep dengan pandangan menyelidik, dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas.
“Mbak?” tanya Elsa, suaranya sedikit naik satu oktaf. “Kamu manggil aku mbak? Kamu pikir aku berapa, sih? Emak-emak PKK?”
Seorang wanita tertawa kecil wanita itu berjalan dengan elegan sambil menuruni tangga, membuat wajah Elsa semakin merona bukan karena malu, tapi karena kesal. “Ya iyalah, Nak. Dia baru masuk, nggak kenal kamu. Kamu kelihatan tua karena galak mulu, jadi wajar dia manggil Mbak.”
“Ma!” protes Elsa tidak terima. Ia lalu menunjuk jari telunjuknya ke arah d**a Asep. “Hey, kamu. Umurku baru dua puluh, lho. Jangan sembarangan manggil mbak-mbak. Bikin tua aja.”
Asep tersenyum canggung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ehe, maaf, Mbak—eh, Non—eh, Mbak... eh, gimana ya?”
“Panggil aja Elsa,” kata Elsa cepat, lalu menatap ibunya. “Atau biar asik, panggil ‘Putri’ aja kayak di keraton.”
Bu Dewi mendekat, menepuk bahu Asep. “Biarkan saja, Sep. Nanti juga dia ngerti. Ini Elsa, anak ketiga saya. Yang paling bawel.”
Asep mengangguk, memberikan senyum ramah yang membuat Elsa sedikit tercekat. “Baik, Bu. Maaf ya, Mbak—eh, non Elsa. Saya Asep, pekerja baru.”
Elsa mendengus pelan, namun matanya tidak bisa berpaling dari wajah Asep. Ada sesuatu yang menarik dari cara pemuda itu berdiri. Tegap, tidak bungkuk sedikit pun. Dan tadi... tadi dia menangkapnya dengan sangat cepat. Biasanya cowok-cowok yang pernah diajak kenalan temannya hanya bisa berteriak panik kalau melihat dia hampir jatuh.
“Iya, iya, Asep. Aku udah dengar,” kata Elsa berpura-pura acuh, memungut ponselnya yang beruntung tidak pecah, hanya ada retakan halus di pelindung layarnya. “Tadi untung kamu sigap. Kalau nggak, udah aku laporin ke polisi karena menyebabkan kerugian materiil.”
"kaki mu gimana nak" Bu Dewi tampak raut wajah khwatir. "hati-hati kalau berjalan nak".
"iya ma, cuma terbentur sedikit"
Tatapan wanita elegan itu lalu berpindah pada Asep. “Oh, kamu sudah datang?”
Asep langsung berdiri tegap. “Siap nyonya, baru dateng.”
Elsa langsung menoleh bingung. “Mama kenal dia?”
Wanita itu mengangguk. “Kenal. Dia Asep.”
“Siapa?”
“Anak Pak Dadang. Security di kantor Mama.”
“Oh…” Elsa melirik Asep lagi. “Jadi pekerja baru di rumah ini?”
“Iya, Non.”
“Nah, gitu dong,” gumam Elsa. “Masa tadi manggil mbak.”
Dewi malah tersenyum kecil. “Masih dipermasalahin?”
“Ya iyalah, Ma.”
Dewi lalu memperhatikan Asep lebih jelas. Tatapannya naik turun sesaat. “Kamu tinggi juga ya, Sep.”
Asep langsung berdiri makin tegap. “Siap nyonya, Seratus delapan pukul dua.”
“Pantesan.”
Elsa langsung melirik mamanya. “Mama kok malah ngobrol?”
“Ya Mama ngobrol lah.” Dewi terlihat memperhatikan bahu Asep yang tegap. “Kamu olahraga?”
“Rutin, Bu.”
“Oh ya?”
“Fitnes sama olahraga di rumah push up pagi 200 sore 200.”
"kuat" Dewi mengangguk kecil. “Pantes badanmu bagus juga.”
Asep tampak sedikit kikuk. “Biasa aja, Nyonya.”
Elsa langsung menghela napas. “Apa sih, Ma…”
“Kenapa?”
“Genit banget.”
Dewi langsung menoleh. “Hah? Mama cuma nanya.”
“Ih, dari tadi diliatin.”
Dewi malah tertawa kecil. “Kamu ini.” Lalu kembali menoleh pada Asep. “tugas Kamu anter siapa nanti?”
“Siap, Kalau kata Bapak, saya pegang mobil B XXXX WJ, Bu.”
Dewi terlihat langsung ingat. “Oh…”
Elsa ikut melihat mamanya. “Kenapa?”
“Itu mobil Diana.”
“Oh…” Elsa kembali melihat Asep. “Berarti kamu supirnya, kamu sudah tau kak Diana yang mana?”
“Kayaknya pernah lihat, Non.”
“Hm…” Elsa kembali meringis. “Aww…”
Dewi langsung panik lagi. “Masih sakit?”
“Iya…”
Asep refleks maju sedikit. “Kalau boleh, Non jangan dipaksa berdiri dulu.”
Elsa langsung melirik. “Kamu ini refleks banget ya.”
Asep tersenyum kecil. “Soalnya takut Non jatuh lagi.”
Elsa diam sesaat. Lalu mendengus kecil. “Ya udah… bantu berdiri deh. Tapi pelan-pelan.”
“Siap, Non.”
“Dan jangan panggil mbak lagi.”
Asep langsung mengangguk. “Iya, Non.”
Bu Dewi menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Ia menatap Asep lagi, kali ini dengan wajah lebih tegas. “Jangan digangguin ya, Nak. Nanti kalau dia terus-terusan gangguin kamu macem-macem, bilang sama saya.”
“Siap Nyonya,” jawab Asep.
“Sini, kita masuk. Saya kenalin sama staf lain yang ada di dapur.”
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Interior rumah ini bernuansa elegan dengan warna dominan krem dan cokelat kayu. Saat melangkah memasuki area dapur yang luas, Asep melihat beberapa orang staf lain sedang sibuk menyiapkan bahan makan siang.
Ada Mbak Rina, pembantu rumah tangga senior yang sudah lama mengabdi di sana, lalu ada Ayu, Bagian urus kebun yang juga sering membantu urusan luar. Mereka berhenti sejenak saat Asep masuk.
“Ini Asep, Mbak,” perkenalkan Bu Dewi. “Mulai hari ini dia bantu di sini. Urusin apa-apa ya, Asep ini rajin, sering bantu bapaknya di kantor.”