Part 6 - Jadi Model dan Hari Pernikahan

1440 Words
Hari ini adalah hari pemotretan. Kalandra dan Riana sudah rapi dengan pakaian profesinya masing-masing. Kalandra menggunakan pakaian ala kantoran dan Riana menggunakan pakaian dokter. Marcell tersenyum bangga melihat Riana, putrinya. Sesayang itu Marcell pada Riana. Walaupun ia tau, jika Riana bukan lah anak kandungnya. Sejak kecil ia juga membantu Ratna merawat Riana. Maka dari itu mereka begitu dekat seperti seorang Ayah dan anak. Sedangkan Ratna terlihat biasa saja. Bahkan wajahnya terlihat datar. Baju profesi itu adalah pemberian dari Marcell. Kata Riana, ia ingin menjadi dokter, maka dari itu Marcell langsung membelikannya. Riana tampak cocok menggunakan pakaian dokter itu. "Semoga kelak, kamu bisa menjadi dokter Na." batin Marcell. Selain itu, ada juga Dennis dan Mira. Mereka ikut senang jika Riana terpilih menjadi model majalah sekolah. Mereka benar-benar bangga pada Riana. Ayah dan Bunda dari Kalandra juga ikut hadir di sana. Kedua putra mereka terpilih menjadi model majalah sekolah. Ya, Kalandra mempunyai kakak laki-laki yang berjarak 2 tahun dengannya. Namanya adalah Sagara, atau kerap di panggil Saga atau Gara. Sagara sudah kelas 6 Sekolah Dasar. Semua anak kelas enam wajib mengikuti pemotretan untuk buku alumni nantinya. Ini kali pertama Riana membawa Marcell dan memperkenalkannya sebagai Papinya. Banyak ibu-ibu wali murid yang menatap Marcell dengan kagum. Selain gagah, tentunya Marcell juga tampan dan membuat kaum hawa terpesona. Ratna berdecak kesal akan hal itu. Moodnya benar-benar buruk sekarang. Tapi ia harus tetap di sana. Beberapa saat kemudian, sesi pemotretan pun selesai. Beberapa siswa yang ikut sudah di perbolehkan pulang. Ada juga yang masih ada di sana untuk foto keluarga. Riana hanya diam memandang teman-temannya yang sedang berfoto bersama keluarganya. Riana akui, ia menginginkannya. Marcell diam memperhatikan Riana, kemudian ia pun tersenyum kecil. "Ayo." ajak Marcell. Riana mengernyitkan dahinya bingung. "Kemana Pi?" tanya Riana. Bukannya menjawab malah Marcell tersenyum kepada Riana. Ia menarik pelan tangan Riana dan Ratna. "Mas, tolong fotokan keluarga saya ya," ucap Marcell pada fotografer itu. Pemuda itu pun mengangguk dan tersenyum. "Oh iya, Pak." Marcell memberikan kamera miliknya pada fotografer itu. Ia sengaja membawa kameranya karna ingin memfoto kegiatan Riana. Ia juga berhasil mengabadikan momen-momen itu. Riana, Marcell, dan Ratna pun foto bertiga. Mereka layaknya sebuah keluarga yang sangat harmonis dan serasi. "Eyang, Uti. Ayo ikut foto!" Ajak Riana dengan semangat. Tentu saja Dennis dan Mira menurutinya. Kalandra ikut merasa senang ketika melihat senyum menghiasi wajah Riana. Kalandra tau, keluarga Marcell sangat tulus menyayangi Riana. Dan Marcell adalah sosok Ayah bagi Riana. Bahkan hubungan batin mereka sangat kuat. "Bahagia selalu Na. Aku ikut senang jika kamu senang." batin Kalandra. Papinya benar-benar sangat peka. Riana tersenyum senang, hari ini ia sangat bahagia. Ia juga lebih dekat dengan Mamanya. Walaupun hanya di hadapan banyak orang Mamanya bersikap lembut padanya. Tapi ia sangat senang, karena ia sangat menyayangi Mamanya. Foto bertiga dengan Mama dan Papinya adalah impiannya. Akhirnya ia bisa memiliki foto keluarga yang lengkap. Sebagai bonusnya, ada Eyang dan Utinya yang ikut berfoto. "Terimakasih Ya Allah udah mengabulkan salah satu keinginan Riana." batin Riana. Setelah itu, Riana meminta foto bersama dengan keluarga Kalandra. Jadilah mereka foto beramai-ramai. "Terimakasih Bunda Maya, Ayah Zidan, Kak Gara, Andra." ucap Riana dengan tulus. Mereka pun membalas senyuman Riana dan mengangguk. "Sama-sama, Nak." ucap Maya dan Zidan bersamaan. "Sama-sama bubble gum," ucap Gara sambil mengusap rambut Riana. Gara memanggil Riana dengan 'bubble gum' karena Riana suka sekali memakan permen karet. Setelah selesai berfoto, Marcell pun mengajak makan siang bersama. Tentu saja ia juga mengajak keluarga Kalandra. Dan mereka pun menyetujuinya. *** Tak terasa waktu begitu cepat. Hari ini sudah dua minggu Marcell melamar Ratna. Dan hari ini adalah hari pernikahan Marcell dan Ratna. Ratna baru saja selesai di dandani. Begitu juga dengan Riana, wajahnya sedikit diberi make up. Ia menggunakan gaun putih pemberian dari Papinya. Ratna begitu tampak gugup. Riana menggenggam tangan Ratna. "Jangan gugup, semuanya akan baik-baik saja Ma." ucap Riana sambil tersenyum manis. Ratna memandang wajah anaknya yang tampak cantik dengan balutan gaun putih itu. Ratna pun mengangguk. Walaupun terkadang ia membenci Riana, tapi Riana juga bisa membuatnya tenang. Ratna dan Riana menoleh kearah pintu yang terbuka. Mira datang ke kamar yang digunakan oleh Ratna untuk berdandan. Ia tersenyum lembut menatap Ratna dan Riana. Hubungan Ratna dan Mira kembali membaik. Itu berkat Riana dan berkat kerja keras Ratna yang kembali meyakinkan Mira kepadanya. "Mama." gumam Ratna. "Uti." Riana tersenyum senang melihat kehadiran Mira. Mira segera menghampiri mereka. Mereka akan mengadakan pernikahan di rumah Marcell, karena rumahnya begitu besar dan luas. Apalagi tamu yang diundang Marcell begitu banyak. Kolega bisnis Marcell sangatlah banyak. "Sebentar lagi kita turun kebawah." ucap Mira. "SAH!" terdengar suara itu dengan cukup lantang. Mata Ratna berkaca-kaca karena terharu. Ia sudah menjadi istri sah dari Marcell Putra Erlangga. "Jangan menangis, nanti make up Mama luntur." ucap Riana sambil mengelap pelan air mata Mamanya yang terjatuh dengan tisu. "Benar kata Riana. Make up kamu bisa berantakan." Sahut Mira. "Ratna hanya terharu Ma." "Ayo kita turun kebawah. Marcell sudah menunggumu." Mira dan Riana pun menggandeng Ratna untuk menemui Marcell. Mata Marcell tertuju pada Ratna yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih itu. Dan make up yang tampak natural itu sangat cocok untuk Ratna. Dan satu lagi, putrinya juga tampak sangat cantik dan menggemaskan. Ratna duduk di samping Marcell. Mereka pun memasangkan cincin itu. Setelah itu Ratna mencium tangan Marcell, dan Marcell mencium kening Ratna. Riana juga ikut senang melihat Mamanya senang. "Bahagia selalu Mama." batin Riana. Setelah ijab kabul, sekarang saatnya resepsi pernikahan. Marcell juga sudah mengumumkan jika Riana adalah anaknya. Riana berharap ia akan memiliki banyak teman nantinya karena sudah memiliki seorang Ayah. "Selamat Mama, Papi. Semoga bahagia selalu. Riana akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mama dan Papi." ucap Riana kepada kedua orang tuanya. Ratna hanya tersenyum pada Riana. Hal itu membuat Riana senang. Senyum Mamanya adalah sumber kebahagiaannya. "Terimakasih banyak sayang. Sekarang Papi adalah Ayahnya Nana. Nana senang kan udah punya Papi?" Riana mengangguk semangat. Ia mencium pipi Marcell dan memeluknya. "Terimakasih banyak Papi. Papi selalu ada untuk Nana. Jagain Mama Nana ya Pi. Sayangi selalu Mama Nana." bisiknya. "Itu pasti sayang. Papi juga akan selalu menyayangi kamu." Riana mengangguk, ia sangat percaya pada Marcell. Sejak kecil ia sudah sangat dekat dengan Marcell. Riana pun mengurai pelukannya dan memberanikan diri untuk memeluk Mamanya. "Bahagia selalu Mama. Jangan pernah sedih lagi, sekarang kita punya Papi. Riana sayang banget sama Mama. Mama adalah ibu terbaik yang Riana punya. Love you Mama." bisik Riana. Tubuh Ratna menegang mendengar ucapan Riana. Rasanya tak bisa di jabarkan. Ini kali pertama Riana berani memeluknya lagi setelah kepergian orang tuanya. Ada rasa sesak di dadanya ketika Riana mengatakan itu dan ada pula rasa senang yang ia rasakan. Tapi ia menampiknya. Ia membiarkan Riana memeluknya sampai puas, tanpa ia sadari, ia juga membalas pelukan anaknya. Marcell tersenyum kecil melihatnya. "Semoga kamu tidak membenci Riana lagi." batin Marcell. *** "Na, Andra pulang dulu ya. Udah malam banget." Pamit Kalandra pada Riana. "Kalian gak nginep disini aja?" tanya Dennis pada keluarga Kalandra. "Gak usah Om, kita pulang aja. Anak-anak juga udah ngantuk berat itu. Untung saja besok mereka libur." ucap Zidan, Ayah Kalandra. "Salam buat Ratna dan Marcell ya Om, Tante." ucap Maya. Mira dan Dennis pun mengangguk dan tersenyum. "Oh ya udah, kalian hati-hati ya pulangnya." sahut Mira. Mereka pun mengangguk. Setelah berpamitan mereka pun segera pulang ke rumah. Kini tinggal Riana, Dennis, dan Mira yang ada diruang keluarga. Marcell dan Ratna sudah masuk kedalam kamar mereka. "Riana, malam ini tidur sama Eyang sama Uti mau?" tanya Dennis. "Riana pengen sama Papi dan Mama. Riana boleh gak tidur sama Papi sama Mama?" tanya Riana balik. "Emang Riana gak mau tidur sama Uti sama Eyang?" ucap Mira dengan nada dibuat sedih. Riana pun menjadi tak enak hati. "Mau Uti, tapi...." "Papi sama Mama kamu pasti lelah. Biarkan mereka istirahat dulu ya. Kamu tidur sama Uti sama Eyang. Kan udah lama banget kamu gak tidur disini. Uti itu kangen sama kamu." ucap Mira memotong ucapan Riana. Riana pun tersenyum. "Oke, Riana akan tidur bareng Uti dan Eyang." ucapnya dengan semangat. Utinya benar, Mama dan Papinya pasti sangat lelah, apalagi tamu yang datang sangatlah banyak. Mira dan Dennis pun tersenyum senang. Walaupun hidup dengan tekanan Mamanya, Riana adalah seorang gadis yang polos. Mira dan Dennis terkekeh melihat Riana. "Ayo Eyang gendong, udah lama Eyang enggak gendong kamu." ucap Dennis. "Riana berat Eyang." "Eyang ini masih kuat. Liat badan Eyang masih bagus dan kekar gini." ucap Dennis sambil memperlihatkan lengannya yang berotot. "Oke!" ucap Riana dengan semangat. Ia memilih di gendong dibelakang. Ia merentangkan tangannya layaknya naik pesawat. "Ayo Eyang, kita terbang!" pekiknya. Mira tertawa kecil melihat suami dan cucunya itu. Bagi Mira, Riana adalah sumber kebahagiaan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD