Marcell memasangkan sebuah cincin di jari manis Ratna. Ratna tampak terkejut dengan hal itu. Walaupun Marcell baru saja melamarnya, ia tetap terkejut ketika Marcell memasangkan cincin di jarinya.
"Dua minggu lagi kita akan menikah." ucap Marcell sambil tersenyum. Lagi dan lagi, Ratna dibuat terkejut.
"Hah? Apa itu tidak terlalu cepat? Pernikahan juga membutuhkan biaya Cell."
"Lebih cepat lebih baik sayang. Kamu tenang aja, semuanya aku yang tanggung. Karna itu kewajiban aku. Kamu tinggal pilih gaun dan dekor pestanya."
"Tapi...."
"Ssstt.... Gak ada tapi-tapian. Kamu hanya perlu memperbaiki hubungan kamu sama Mama seperti dulu. Kamu harus pandai mengambil hati Mama lagi. Aku akan bantu kamu." Ratna pun tersenyum dan mengangguk. Marcell membawa Ratna kedalam pelukannya lagi.
"Terimakasih untuk semuanya Marcell." gumam Ratna dengan tulus. Marcell pun menganggukkan kepalanya.
"Apapun itu, asal kamu bahagia Ratna. I love you."
"I love you more." sahut Ratna.
***
"Ma, Pa. Ada yang mau Marcell sampaikan." ucap Marcell pada orang tuanya. Saat ini mereka sedang duduk di ruang keluarga. Marcell baru saja pulang dari rumah Riana. Orang tua Marcell tau akan hal itu. Papa dan Mamanya sedang menonton pertandingan sepak bola.
"Silahkan." ucap Dennis, Papa Marcell. Mira, Mama Marcell mengecilkan volume televisi itu. Ia mengambil minum yang ada di atas meja.
"Marcell ingin menikahi Ratna." ucap Marcell dengan serius.
"Uuhhuukk... Uuhhuukk... Uuhhuukk..." Mira tersedak karna mendengar ucapan putranya. Dennis langsung mengusap pelan punggung istrinya. Mira menatap tajam putranya.
"Apa maksudmu?! Jangan bercanda Marcell!! Masih banyak wanita lain yang lebih baik di luar sana! Kenapa kamu memilih wanita itu?!" ucap Mira yang mulai tersulut emosi.
"Marcell serius Ma. Marcell akan menikahi Ratna."
"Mama gak setuju Marcell! Mama bisa mencari wanita lain sesuai selera kamu."
"Marcell cuma mau sama Ratna, Ma. Please kali ini aja Ma, Pa. Beri Marcell restu untuk menjadikan Ratna istri Marcell. Kali ini aja, biarin Marcell menentukan pilihan Marcell sendiri Ma." Marcell duduk di bersimpuh dihadapan kedua orang tuanya. Mira memalingkan wajahnya kesamping agar tidak melihat wajah memohon Marcell.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Dennis. Marcell mengangguk mantap.
"Jika itu pilihan kamu, Papa hanya bisa memberi restu dan doa yang terbaik untuk kamu." Dennis sadar, selama ini Marcell tidak banyak menuntut padanya dan istrinya. Marcell selalu patuh kepada mereka. Selama ini Marcell tidak pernah membantah ucapan mereka. Sudah saatnya Marcell menentukan pilihannya. Ia tidak mau, putranya semakin tertekan dengan tuntutan yang mereka berikan. Mira menatap Dennis dengan tatapan yang sulit di artikan. Dennis tersenyum dan mengangguk menatap Mira seolah berkata 'kita beri kesempatan untuk Marcell'.
"Terimakasih banyak Pa." ucap Marcell dengan tulus. Ia tersenyum bahagia dan Dennis juga ikut tersenyum senang. Sudah lama ia tidak melihat senyum Marcell semerekah ini. Kini Marcell menatap Mamanya.
"Mama dan Papa tau betul jika Marcell sangat mencintai Ratna. Sudah sejak dulu hingga sekarang, perasaan itu masih sama. Marcell ingin menepati ucapan Marcell. Marcell ingin menjadi Ayah untuk Riana. Riana sangat membutuhkan sosok seorang Ayah Ma, Pa. Marcell mohon kali ini aja, ini pilihan Marcell. Dan tolong terima kembali kehadiran Ratna seperti dulu Ma. Ratna tidak seburuk itu, dia hanyalah korban." Mira menghela napasnya, membayangkan raut wajah sedih Riana ketika ingin melihatnya saja sudah membuat hatinya sakit, padahal dia bukan cucunya. Tak di pungkiri, ia menyayangi Riana dan menganggapnya seperti cucunya sendiri.
"Kamu yakin bisa memberi kasih sayang yang tulus untuk Riana? Jika seandainya kamu menikah nanti, dan kamu mempunyai anak lagi. Apakah kamu bisa memberikan kasih sayang yang smaa rata pada mereka? Apakah kamu akan membeda-bedakan mereka? Kamu tau sendiri, Riana bukan anak kandungmu. Tolong pikirkan kedepannya Marcell. Mama hanya takut Riana terluka semakin dalam, Mama juga menyayangi Riana." Marcell terdiam sejenak mendengar ucapan Mamanya. 'Apakah dia bisa memberi kasih sayang yang sama rata tanpa membeda-bedakan degan anaknya kelak?'
"Marcell janji Mama, Marcell akan selalu menyayangi Riana walupun nanti Marcell mempunyai anak kandung Marcell sendiri. Marcell akan berusaha membagi rata kasih sayang untuk Riana dan anak-anak Marcell nanti." ucap Marcell dengan yakin.
"Baiklah jika itu mau kamu, Mama akan berikan restu padamu. Pesan Mama, tolong jangan torehkan luka lagi pada Riana. Dia gadis kecil yang sangat rapuh. Jika bisa, obati luka itu secara perlahan." ucap Mira. Ia tau, selama ini ia dan suaminya sudah banyak menuntut Marcell untuk mengikuti kemauan mereka. Tapi itu semua mereka lakukan untuk kebaikan Marcell. Dan akhirnya ia memberikan kesempatan untuk putranya untuk menentukan pilihannya. Mira dan Dennis akan membiarkan Marcell bebas.
"Terimakasih banyak Mama." Marcell langsung mencium kaki Mamanya. Mira langsung memegang lengan putranya dan sedikit mengangkatnya.
"Jangan begitu nak. Mama hanya mau kamu bahagia. Mama dan Papa gak mau kamu salah mengambil langkah. Maafin Mama dan Papa yang selama ini banyak menuntut mu." ucap Mira sambil memeluk putranya. Marcell memeluk Mamanya.
"Kalian gak salah, menurut Marcell kalian adalah orang tua terbaik. Marcell tau, Mama dan Papa melakukan itu karna sayang sama Marcell. Terimakasih Mama, Papa."
"Jadi, kapan rencana kamu untuk menikah?" tanya Dennis.
"Dua minggu lagi." ucap Marcell dengan mantap. Dennis dan Mira pun melebarkan matanya karna terkejut.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Mira.
"Tidak. Lebih cepat lebih baik. Dan Marcell sudah menyiapkan semuanya." ucap Marcell sambil tersenyum senang.
"Dasar terlalu jatuh cinta bisa membuatnya gila." gumam Mira.
"Terserah padamu saja." ucap Mira dan diangguki oleh Dennis.
"Tentu saja, ini pernikahanku." Dennis dan Mira hanya menggelengkan kepalanya melihat putra mereka yang sejak tadi tersenyum terus menerus.
"Kamu tidak gila kan Marcell?" tanya Mira.
"Apa kamu akan terus tersenyum sepanjang malam seperti orang bodoh" ucapan Dennis membuat Marcell berdecak kesal. Apa mereka tidak tau jika ia sedang merasa sangat bahagia. Marcell pun memilih untuk pergi ke kamarnya. Ia tidak ingin moodnya rusak begitu saja.
***
Hari ini Riana tampak begitu semangat. Ia ingin mengatakan pada Mamanya jika ia terpilih menjadi model untuk majalah di sekolahnya. Mamanya pasti bangga dengan dirinya. Wajah Riana tampak begitu berseri-seri karna sangat bahagia.
Saat ini Riana sedang mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Seperti biasa yang ia lakukan.
"Akhirnya selesai." gumam Riana ketika melihat rumahnya yang sudah tampak bersih dan rapi. Setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ia tak ingin terlambat ke sekolah nantinya.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Riana bersiap-siap. Kini, ia sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahnya. Riana menunggu Ratna di ruang keluarga.
Ceklek...
Riana tersenyum lebar ketika melihat Mamanya keluar dari kamar. Ratna sudah menggunakan pakaian yang rapi. Riana tau, Mamanya akan pergi kerja. Ia segera menghampiri Ratna.
"Mama!" panggilnya dengan semangat. Ratna menghentikan langkahnya. Ia menatap Riana sekilas.
"Riana kepilih jadi model sekolah Ma." ucap Riana dengan antusias. Riana juga menyerahkan selembar kertas persetujuan bagi siswa yang terpilih menjadi model sekolah. Tanpa banyak kata Ratna mengambil pena dan menandatangani surat itu.
"Bagus, setidaknya kamu tidak mempermalukan saya. Kalau bisa, kamu harus menjadi juara terus dan mengikuti lomba apapun itu." ucap Ratna dengan raut datarnya. Moodnya sedang baik, jadi ia tidak marah-marah pada anaknya. Riana tersenyum mendengar ucapan Ratna. Jarang sekali Ratna berbicara panjang dengan dengannya. Pasti Mamanya sedang dalam mood yang baik.
Tak di pungkiri, Ratna juga merasa bangga dengan Riana. Walaupun dia tidak pernah memperhatikan anaknya itu. Riana tumbuh menjadi anak yang mandiri dan pintar.
"Riana akan berusaha menjadi yang terbaik Mama. Terimakasih Mama, Riana akan berusaha semampunya biar gak bikin Mama kecewa."
"Bagus! Dan itu harus!" setelah itu Ratna pun melangkah pergi.
"Mama!" panggil Riana lagi. Ratna membalikkan badannya dan mendengus kesal.
"Mama gak sarapan? Riana udah masakin buat Mama." ucap Riana dengan takut-takut.
"Enggak, kamu makan aja. Saya udah telat." ucap Ratna dengan raut wajah datarnya. Setelah itu ia pergi begitu saja.
Riana menghela napasnya. Ia menyimpan lagi masakan yang ia masak kedalam lemari makanan. Ia juga meletakkan beberapa lauk kedalam kotak bekalnya. Kalau begini ia akan lebih hemat. Ia juga bisa makan nanti bersama Kalandra. Walaupun Ratna memberinya uang yang cukup, tetap saja Riana menyisihkannya dan menabungnya. Ia tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Maka dari itu ia juga butuh persiapan. Setelah itu Riana pergi kerumah Kalandra untuk berangkat ke sekolah bersama.