Setelah Riana tiba dirumah, Marcell pun juga sudah ada di depan rumahnya. Ia menunggu Riana dan tersenyum ketika melihat Riana. Marcell juga mempunyai kunci cadangan rumah Ratna. Hingga ia bisa kapan saja berkunjung menemui Riana.
"Papi!" pekik Riana dengan senang. Ia berlari menghampiri Papinya dan memeluknya. Marcell pun langsung membawa Riana kedalam gendongannya dan mencium pipinya. Riana mengalungkan tangannya di leher Marcell agar tidak terjatuh.
"Gimana hari ini di sekolah?" tanya Marcell. Riana pun mengangguk senang.
"Nana, Kalandra, dan beberapa temen-temen Nana di pilih menjadi model majalah sekolah Pi!" ucap Riana dengan semangat.
"Beneran? Wahh anak Papi hebat banget sih. Keren! Papi bangga sama Nana!" Marcell pun tersenyum senang dan mencium pipi chubby Riana berkali-kali hingga membuat Riana tertawa geli.
"Haha udah Pi! Geli!" Marcell pun menyudahinya dan menurunkan Riana.
"Pi, Nana gak sabar deh pengen kasih tau sama Mama! Pasti Mama senang." ucap Riana sambil tersenyum polos. Hal itu justru membuat hati Marcell mencelos. Tapi ia berusaha mempertahankan senyumannya.
"Lihatlah Ratna, anakmu benar-benar menyayangimu. Aku berharap semoga kamu tidak menyesali perbuatan kamu suatu saat nanti." batin Marcell.
"Iya sayang. Mama kamu pasti sangat senang dan bangga punya anak secantik dan secerdas Nana. Papi juga sangat bangga punya Nana." ucap Marcell.
"Nana sayang banget sama Mama sama Papi. Papi adalah super hero nya Nana. Terimakasih ya Papi, selalu ada buat Nana. I love you Papi. Nana sayang banget sama Papi. Papi jangan pernah tinggalin Nana yaa." ucap Nana sambil mendongakkan kepalanya menatap Marcell dengan tatapan teduh. Marcell pun mensejajarkan tingginya dengan Riana. Ia tersenyum dan mengusap kepala Riana.
"Papi gak akan ninggalin kamu nak. Kamu itu penyemangat buat Papi. Papi juga sayang banget sama Nana. Papi akan lakukan apapun itu untuk Nana." Riana pun tersenyum senang.
"Ya udah kita masuk yuk. Papi bawa makanan buat kamu." Marcell menunjuk kearah meja yang ada di teras itu. Disana terdapat beberapa kantong belanjaan yang Riana tau berisi beberapa jajanan dan beberapa lauk. Riana pun mengangguk semangat.
"Ayo! Nana sudah lapar!" ucap Riana dengan semangat. Hal itu membuat Marcell tertawa gemas.
***
"Tidur aja ya nak. Kamu pasti sudah ngantuk. Lagi pula ini sudah larut malam, besok kamu sekolah." ucap Marcell dengan lembut. Ia tidak tega melihat Riana yang menahan rasa kantuknya.
"Nanti Pi, Nana mau nunggu Mama pulang. Nana mau kasih tau ke Mama kalau Nana terpilih menjadi model majalah sekolah. Mama pasti senang." ucap Riana penuh semangat.
Marcell menghela napasnya. Riana itu sama dengan Ratna, mereka sama-sama keras kepala. Sama-sama kekeuh jika punya keinginan. Melihat Riana yang semangat seperti itu, justru membuat Marcell sedih. Ia akan tau bagaimana tanggapan Ratna nantinya.
"Papi."
"Iya?"
"Kenapa Papi gak pernah tidur sini? Kenapa Papi enggak tinggal bareng Nana sama Mama aja? Pasti kan seru. Papi gak perlu bolak balik dari rumah Eyang trus ke rumah Nana." Riana juga begitu dekat dengan keluarga Marcell. Bahkan Riana memanggil orang tua Marcell dengan sebutan Eyang dan Uti. Orang tua Marcell juga menyayangi Riana, karna Riana anak yang begitu baik. Mereka juga sudah menganggap Riana seperti cucunya sendiri. Hanya saja Ibu dari Marcell kurang menyukai Ratna.
"Papi belum bisa sayang. Papi dan Mama kamu itu belum menikah. Laki-laki dan perempuan yang belum menikah itu tidak boleh tinggal bersama."
"Kenapa Papi dan Mama tidak menikah saja? Apa Papi gak mau jadi Ayahnya Nana?" tanya Riana sambil menatap Marcell dengan wajah polosnya.
"Bukan seperti itu nak. Hanya saja, belum saatnya." ucap Marcell sambil tersenyum. Riana menghela napasnya dengan lesu. Ia menundukkan kepalanya menatap kakinya yang sedang ia ayun-ayun kan.
"Padahal Nana berharap bisa tinggal bareng-bareng sama Mama dan Papi. Nana cuma pengen Mama ada yang jagain Pi. Nana suka khawatir kalau Mama pulang larut malam. Nana takut Mama kenapa-napa. Terkadang Nana gak bisa tidur nyenyak kalau Mama belum pulang. Nana juga berharap Papi mau jadi Ayahnya Nana." ucap Riana lesu. Lagi dan lagi hati Marcell terasa seperti tercubit.
"Bahkan di setiap saat Riana masih selalu memikirkan mu Ratna. Padahal dia sendiri sangat membutuhkan sosok Ayahnya. Dia bahkan lebih memikirkan dirimu dibandingkan dirinya sendiri. Aku sangat yakin, kamu pasti merindukan Ayahmu Riana, walaupun kamu belum pernah melihatnya. Dan laki-laki b******k itu bahkan tidak ada usaha untuk mencari kalian berdua. Papi janji Riana, Papi akan menjadi sosok Ayah yang baik untuk kamu. Papi akan berusaha untuk mencari keberadaan Ayahmu. Karna Papi tau, kamu sangat ingin bertemu dengannya." batin Marcell.
Melihat keterdiaman Marcell membuat Riana tersadar dengan ucapannya. Ia merutuki dirinya sendiri yang sering sekali mengucap hal-hal konyol.
"Mana mungkin Papi mau punya anak sepertiku. Bahkan aku sendiri tidak tau dimana Ayahku, dan siapakah Ayahku." batin Riana.
"Maaf Pi, omongan Nana yang tadi lupain aja. Nana udah terlalu banyak minta sama Papi. Maafin Nana ya Pi, selalu ngerepotin Papi." ucap Riana. Marcell pun tersadar.
"Eh enggak sayang. Kamu gak pernah ngerepotin Papi. Kamu itu anak yang baik, anak kesayangannya Papi. Papi janji, jika saatnya nanti telah tiba, kita akan tinggal bersama-sama. Papi akan menjadi Ayah yang baik buat Nana. Papi seneng bisa menjadi sosok Ayah untuk Nana." Marcell pun membawa Riana kedalam pelukannya. Riana membalas pelukan Marcell, yang begitu sangat nyaman baginya.
"Kenapa Ayahnya Nana bukan Papi aja sih? Papi orang yang baik. Dan kenapa Papa Nana gak pernah cari Nana dan Mama? Apakah Papa gak sayang sama Nana, Pi? Nana pengen banget ketemu Papa sekali aja. Tapi Nana gak tau Papa itu seperti apa. Mama gak pernah kasih tau ke Nana. Liat Mama begitu Marah dan sedih ketika Nana tanyain soal Papa, Nana gak berani tanya lagi. Nana cuma bisa diem aja. Karna Nana gak mau liat Mama sedih." Marcell menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Tapi Nana seneng, Papi selalu ada buat Nana. Mulai sekarang, Nana gak akan cari tau soal Papa lagi. Karna udah ada Papi yang selalu ada buat Nana. Terimakasih Pi, udah mau jadi Ayah buat Nana. Nana sayang banget sama Papi. Jangan pernah tinggalin Nana ya Pi. Nana takut sendirian." Air mata Marcell akhirnya terjatuh juga, namun ia segera mengelap nya.
"Papi juga beruntung punya kamu sayang. Papi janji, akan jadi Ayah yang baik dan seperti yang kamu inginkan."
"Cukup Papi selalu ada buat Nana, Nana udah seneng banget. Nana bener-bener bersyukur karna Tuhan udah mengirim Papi untuk Nana." Marcell semakin mengeratkan pelukannya, namun tidak menyakitinya.
"Tidur yuk, Papi temenin. Mama kamu masih lama pulangnya." ucap Marcell sambil melepaskan pelukannya. Riana menggelengkan kepalanya. Ia masih kekeuh ingin menunggu Mamanya pulang. Padahal Riana sudah sangat mengantuk. Marcell dapat melihatnya dengan jelas, mata Riana mulai merah dan beberapa kali ia menguap.
"Pasti sebentar lagi Mama pulang Pi."
"Oke, kita tunggu 10 menit. Kalau Mama kamu belum pulang, kamu harus tidur. Papi gak mau kamu terlambat ke sekolah besok. Kalau kamu belum tidur juga jam segini, kamu bisa ketiduran di kelas, dan Papi gak mau itu terjadi. Kamu bisa dihukum nanti sama Bu Guru."
"Iyaa Papi." ucap Riana dengan lesu.
Sepuluh menit kemudian, belum juga ada tanda-tanda kehadiran Ratna. Riana pun sudah sangat mengantuk, akhirnya ia memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Ayo tidur!" Riana hanya mengangguk. Marcell dan Riana pun berjalan menuju kamar Riana. Sebelum tidur, Riana menggosok gigi, mencuci muka, tangan dan kakinya.
"Tiga hari lagi, Papi bisa datang ke studio buat liat Nana? Kalau Papi sibuk kerja, gak usah datang. Karna Nana gak mau ngerepotin Papi. Di sana ada Bundanya Andra, jadi Papi gak perlu khawatir." ucap Riana yang saat ini sudah duduk di atas kasurnya.
"Tentu sayang, Papi akan datang melihat putri kesayangan Papi ini. Apapun untuk kamu, Papi akan lakuin." Riana pun tersenyum senang.
"Sekarang tidur yaa. Papi tungguin sampai kamu tidur. Jangan lupa baca doa." setelah membaca doa, Riana pun langsung terlelap. Karna ia sudah benar-benar mengantuk. Marcell membenarkan letak selimut Riana dan mengecup kening Riana penuh kasih sayang.
"Selamat tidur nak, mimpi yang indah yaa. Love you baby." bisik Marcell.
"Lindungi Riana dimana pun ia berada Tuhan. Berikanlah dia kebahagiaan, dan kabulkan lah keinginannya. Berikan hamba umur yang panjang dan kesehatan, agar hamba bisa menjaganya. Hamba ingin selalu melihat senyumannya. Dia memang bukan darah dagingku, tapi aku benar-benar menyayangi nya." batin Marcell.
Marcell pun pergi dari kamar Riana. Ia akan pulang kerumahnya. Saat sudah diruang tamu, ia bertemu dengan Ratna, yang sedang duduk santai di sofa sambil menikmati secangkir teh. Marcell pun ikut duduk di dekat Ratna.
"Ayo kita menikah!" ucap Marcell.
"Uhuukk... uhuukk... uhuukk..." Ratna menyemburkan tehnya ketika mendengar ucapan Marcell. Siapa yang tidak terkejut jika seseorang tiba-tiba mengajak menikah. Bahkan seperti mengajak membeli permen.
"Jangan bercanda Marcell! Dan bagaimana mungkin lo bisa segampang itu ngajak nikah, seolah ngajak beli permen." ucap Ratna tak habis pikir.
"Gue serius." ucap Marcell dengan serius.
"Kenapa lo tiba-tiba ngajak nikah? Karna anak itu?"
"Karna gue bener-bener cinta sama lo. Gue udah nunggu lo sejak lama. Kita udah sama-sama dewasa Ratna. Gue gak mau lo kerja di bar lagi dan pulang selarut ini. Gue bisa nafkahin lo, lo bisa enak di rumah tampa harus bekerja." Ratna terkekeh pelan.
"Lo pikir segampang itu? Lo gak tau, nyokap lo aja gak suka sama gue. Dan ini semua karna anak s**l itu."
"Stop! Jangan bawa-bawa Riana lagi. Lo bisa luluhin hati Mama lagi." Marcell pun mendekati Ratna dan duduk di sebelahnya. Tentunya hal itu membuat Ratna mulai gugup.
"Gue gak cinta sama lo." ucap Ratna tanpa melihat wajah Marcell. Marcell pun terkekeh pelan.
"Pembohong! Coba lo ucapin lagi, dan tatap gue!"
"Gue gak cinta sama lo Marcell!" ucap Ratna tanpa berani menatap Marcell. Marcell pun tersenyum miring.
"Kenapa gak berani natap gue? Gue tau lo bohong. Gue tau lo cinta sama gue. Cuma lo gengsi aja. Please pikirin Riana juga, dia butuh sosok Ayah. Gue siap buat ambil tanggung jawab itu. Gue tau lo juga butuh tempat bersandar. Gue akan lindungi lo, gue bener-bener tulus sayang sama lo Ratna. Lo tau, gue udah suka sama lo sejak lama. Dan ini saatnya gue nyatain perasaan gue. Gue gak mau liat lo kerja di bar itu lagi, gue gak suka orang yang gue sayang ditatap rendah oleh orang lain. Lo gak serendah dan seburuk itu. Lo istimewa buat gue, lo orang yang spesial buat gue Rat. Lo gak perlu lagi kerja di sana. Gue akan mencukupi semuanya. Kita mulai semuanya dari awal ya, kita buka lembaran baru lagi." Ratna justru menangis mendengar ucapan Marcell. Orang yang benar-benar tulus menyayangi nya.
"Lo gak tau rasanya jadi gue Cell. Gue akuin, gue emang cinta sama lo. Tapi gue gak bisa sama lo. Lo bisa dapet yang lebih baik dari gue. Gue itu kotor Cell, gue gak pantes buat lo. Bahkan gue jijik sama diri gue sendiri." ucap Ratna sambil menangis tersedu-sedu.
"Gue gak peduli tentang masa lalu lo Ratna. Bagi gue, lo tetap orang sepesial di hidup gue. Sekali aja lo jujur sama diri lo, jangan dengerin omongan orang lain. Kalau lo dengerin omongan mereka, yang ada lo akan semakin sakit hati. Seharusnya lo buktiin ke mereka, kalau lo bisa jadi yang lebih baik. Gue emang gak tau gimana ngungkapin perasaan agar romantis, tapi gue bener-bener jujur, gue cinta sama lo, dan gue juga sayang sama lo. Gue akan selalu ada buat lo. Will you marry me?" Ratna pun langsung memeluk Marcell.
"Kenapa lo selalu baik sama gue? Gue udah berusaha buat gak jatuh cinta sama lo semakin dalam. Karna gue sadar diri Cell. Gue gak pantes buat lo. Lo bisa cari perempuan yang lebih baik dari gue, tapi kenapa lo pilih gue? Apa karna lo kasian sama gue?" Marcell menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Udah berapa kali gue bilang, gue bener-bener sayang sama lo. Stop! jangan anggap diri lo itu orang yang paling buruk. Lo orang yang hebat dan kuat Ratna. Lo gak bisa ngatur gue pantes sama siapa, karna pilihan gue itu cuma lo. Dan seterusnya gue akan pilih lo. Lupain masa lalu lo Pelan-pelan, lo harus bisa berdamai dengan masa lalu lo itu. Kita mulai dengan lembaran baru ya. Jangan nangis lagi." Ratna pun mengangguk. Marcell mengusap air mata Ratna.
"Jadi apa jawabannya?" tanya Marcell. Ratna menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Yang bener dong jawabannya, masak cuma ngangguk-ngangguk. Laki-laki juga butuh kepastian."
"Yes! I do." Marcell pun tersenyum senang.
Ratna pun terkejut karna Marcell tiba-tiba menciumnya. Ia memejamkan matanya menikmati ciuman yang diberikan oleh Marcell. Ratna memukul-mukul d**a Marcell karna ia sudah sulit bernafas. Marcell pun melepaskannya. Ia tersenyum sambil mengusap bibir Ratna yang terlihat membengkak.
"Terimakasih, gue akan mengatur pernikahan kita secepatnya."
"Dasar gak ada romantis-romantisnya." tak di pungkiri, Ratna merasa senang bisa bersama dengan Marcell.
"Sebentar lagi, keinginan kamu akan terkabul Riana. Kita akan tinggal bersama-sama sesuai yang kamu mau. Papi akan lakukan yang terbaik untuk kamu." batin Marcell.