Part 3 - Di Pilih Menjadi Model Majalah Sekolah

1427 Words
Saat ini Riana dan Marcell sedang berada di meja makan. Beberapa menu makanan sudah tersaji di atas meha makan itu. Mereka akan makan malam bersama. "Ayo dimakan Na, jangan di liatin aja." ucap Marcell. "Nana nunggu Mama pulang aja Pi. Nana pengen banget makan bareng Mama." Marcell menatap Riana dengan prihatin. "Kamu makan duluan aja sama Papi yaa. Kamu juga perlu menjaga kesehatan kamu. Papi gak mau kamu sakit. Nanti Mama khawatir kalau Nana sakit. Emang Nana mau buat Mama khawatir?" Riana pun menggelengkan kepalanya. "Trus kalau Riana sakit siapa yang bakal jagain Mama?" tanya Marcell lagi. Riana pun membenarkan ucapan Papi. "Oke, Nana akan makan sekarang." ucap Riana sambil tersenyum. "Berdo'a dulu Na." "O iya Nana lupa, hehe...." "Makan yang banyak yaa, biar Nana jadi anak yang kuat dan sehat." Riana menganggukkan kepalanya dengan patuh. Kini mereka pun menikmati makan malam berdua. Seperti biasanya, Ratna selalu pulang larut malam. Kali ini Riana sudah tertidur dengan pulas. Dan Marcell masih ada di rumah mereka. "Astaga!" ucap Ratna dengan terkejut. Bagaimana tidak terkejut, baru saja ia menutup pintu dan berbalik badan, sudah ada orang di hadapannya. "Ngapain lo kesini?" tanya Ratna. "Ada yang mau gue omongin sama lo." Ratna mengangkat sebelah alisnya. "Gue tau, lo pasti mau ngomongin anak pembawa s**l itu kan!" ucapnya dengan jengah. "Ratna!" bentak Marcell. Kemudian ia tersadar, ia bisa saja menggangu Riana yang tertidur. Marcell menghela napasnya untuk mengontrol emosinya. "Kenapa? Kenyataanya emang gitu. Sejak dia lahir, dia selalu membawa kesialan buat gue. Bokap nyokap gue udah gak ada karna dia! Liat gue sekarang! Gue gak bisa lanjutin sekolah gue juga karna dia! Kenapa lo selalu belain dia? Dia bukan anak lo!" ucap Ratna sambil menatap mata Marcell. Marcell tau, banyak beban yang sudah di pikul oleh wanita di hadapannya ini. Wanita yang sejak dulu ia cintai. "Itu semua bukan salah Riana. Itu semua udah takdir dari Tuhan. Riana itu anak yang baik. Tolong, sekali aja jangan sakiti dia, sayangilah dia Ratna. Suatu saat lo bisa nyesel dengan apa yang lo perbuat. Gue memang sayang sama Riana, dia anak yang baik, gue udah menganggap dia seperti anak gue sendiri. Gue sedih Rat liat dia yang selalu sedih. Sekali aja lo perhatiin dia, lo sayangi dia. Lo ibunya! Apa gak ada rasa sayang lo sedikit aja buat anak lo? Darah daging lo sendiri." Ratna memalingkan wajahnya. Ia tak mau menatap mata Marcell. "Gue gak sudi ngasih perhatian dan kasih sayang gue buat anak pembawa s**l itu! Karna dia, hidup gue jadi hancur!" "Kita udah kenal lama Ratna, gue tau lo dan lo tau gue. Gue tau lo orang baik. Tapi lo kayak gini karna lo marah dan emosi pada diri lo sendiri. Lo itu gengsi, gue tau lo sayang sama anak lo, walaupun lo selalu menyangkalnya. Lo bisa berdamai dengan masa lalu lo Rat, kita buka lembaran baru. Beri Riana kasih sayang. Sudah cukup banyak ia menderita Rat. Pikirkan kesehatan mental dia, dia gak sekuat yang lo kira. Dia sangat butuh lo." Ratna sadar, ucapan Marcell memang benar. Pria di depannya ini adalah pria yang ia cintai sejak lama. Ratna pandai menutupi perasaannya, hingga kini pun Marcell tidak tau jika ia juga mencintai pria itu. Tidak bisa Ratna pungkiri, ia senang jika Marcell juga mencintai dirinya. Berarti cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi ia terlalu malu dekat dengan Marcell. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan Marcell setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Ratna akui Marcell adalah pria yang sangat amat baik. Marcell tidak pernah meninggalkan dirinya selama ia berada di titik terbawah. "Stop Marcell! Gue muak denger lo selalu nyebut nama anak itu. Gue muak denger cerita lo tentang dia!" "Please jangan buat Riana sakit lagi Ratna! Disini bukan cuma lo yang menderita! Jangan egois dan jangan merasa kalau lo yang paling menderita!" "Hidup gue emang selalu menderita semenjak kehadiran dia! Hidup gue hancur karna dia!" "Jangan pernah ngomong gitu lagi! Kalau Riana mau, gue udah bawa dia pergi dari lo. Tapi apa? Bahkan Riana sangat menyayangi ibunya yang gak pernah perhatian dan peduli sama anaknya. Dan sialnya perasaan gue ke lo gak pernah berubah sejak dulu." setelah itu Marcell pun langsung pergi dari rumah Ratna. Setelah Marcell pergi, Ratna langsung terduduk di lantai. Ia menangis mendengar ucapan Marcell. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak. "Karna lo gak pernah tau rasanya jadi gue Cell." gumam Ratna dengan lirih. Dan ternyata Riana mendengar semua ucapan Mama dan Papinya. Ia terbangun dari tidurnya karna mendengar suara kegaduhan. "Maafin Riana udah bikin Mama kesusahan. Riana janji, Riana gak akan bikin Mama susah lagi. Riana akan jadi anak yang baik. Riana akan banggain Mama sama Papi." batin Riana. Setelah itu Riana kembali melanjutkan tidurnya. Ia tidak mau mengganggu Mamanya. *** "Andra! Ayo cepetan!" ucap Riana dengan ruangnya. Ia sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. "Nana pelan-pelan, nanti kamu jatuh!" "Gak akan Ndra! Ayo cepetan ih, nanti kita ketinggalan busnya!" ucap Riana dengan gemas. "Iyaa iyaa sabar!" gerutu Kalandra. Seperti biasanya, banyak yang menghina Riana. Tapi Riana tidak ambil pusing. Sudah menjadi hal biasa baginya selalu di hina seperti itu. Dan seperti biasanya juga, Kalandra menutup telinga Riana dengan kedua tangannya. Riana menurunkan kedua tangan Kalandra yang sedang menutup telinganya. "Andra gak perlu lagi nutupin telinga Nana. Nana udah biasa Ndra." ucap Riana sambil tersenyum. "Tapi...." "It's okay. I'm fine." sahut Riana. Kalandra pun menghela napasnya dan mengangguk. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di sekolah. Seperti biasa Kalandra dan Riana lah yang selalu mendapat nilai terbaik di kelasnya. Namun, tetap Riana sang juara kelas. Kalandra tidak iri dengan itu. Melihat Riana senang saja, ia juga ikut senang. Setelah mengikuti proses pembelajaran, kini mereka pun istirahat. Riana dan Kalandra akan pergi ke taman tempat biasanya mereka makan bersama. Tentu saja mereka membawa bekal dari rumah. Terkadang mereka juga bertukar lauk untuk saling mencicipi nya. "Riana!" panggil salah satu teman sekelas Riana. "Iya, ada apa Tika?" "Kamu di panggil Bu Desy, disuruh keruangan nya." Riana pun mengangguk. "Terimakasih Tika." gadis itu hanya mengangguk dan pergi dari sana. Riana memberikan kotak bekalnya pada Kalandra. "Sebentar ya Ndra, aku pergi keruangan Bu Desy dulu." "Mau aku temani?" Riana pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kamu duluan aja, nanti aku susul." "Oke, kamu hati-hati." Riana pun terkekeh. "Aku cuma mau ke kantor Ndra. Ya udah aku temui Bu Desy dulu." Kalandra hanya mengangguk saja. Riana segera pergi keruangan Bu Desy. Sedangkan Kalandra pergi ke taman tempat biasa mereka makan. "Silahkan masuk!" ucap Bu Desy ketika mendengar suara pintu ruangannya di ketuk. Riana pun membuka pintu ruangan Bu Desy. "Assalamualaikum Bu." ucap Riana. Bu Desy pun tersenyum. "Waalaikumsalam nak, silahkan duduk disana." ucap Bu Desy sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya. Riana pun segera duduk di sana. "Ada apa ya Ibu manggil saya?" tanya Riana. Bu Desy pun tersenyum. "Ibu cuma mau memberitahukan kepada kamu, bahwa kamu juga akan ikut serta menjadi model untuk majalah sekolah bersama Kalandra." Riana mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan Bu Desy. Hal itu membuat Bu Desy menjadi gemas dengan Riana. "Hah? Saya Bu? Ibu yakin?" tanya Riana seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Kami semua sudah membicarakan ini. Dan kami memilih kamu sebagai modelnya. Selain kamu pintar, kamu juga memiliki banyak bakat. Maka dari itu kami memilih kamu. Ada juga beberapa siswa lain yang akan terpilih nantinya. Ibu ucapkan selamat untuk kamu karna sudah menjadi pilihan terbaik." ucap Bu Desy sambil tersenyum dengan tulus. Tentu saja Riana senang. Ia bisa membanggakan Mamanya dengan hal ini. Riana pun tersenyum senang. "Terimakasih banyak Bu, sudah memberi kesempatan dan memilih saya. Sekali lagi saya ucap terimakasih." ucap Riana dengan senang. "Sama-sama nak." Setelah itu Riana berpamitan dan keluar dari ruang Bu Desy. Riana langsung berlari menuju taman tempat biasanya ia akan makan bersama dengan Kalandra. Dengan senyum yang sumringah ia berjalan di koridor sekolahnya tanpa memperdulikan teman-temannya yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Andra!!!" panggil Riana dengan nada cerianya. Kalandra pun menoleh kearah Riana dan tersenyum. Riana segera menghampiri Kalandra. "Seneng banget, ada apa?" senyum Riana pun semakin sumringah. "Aku dipilih sebagai model majalah sekolah bareng kamu! Aku seneng banget, pasti Mama bangga sama aku!" ucap Riana dengan sangat bahagia. Kalandra pun ikut tersenyum senang. "Wahh! Selamat yaa Na! Akhirnya kamu di pilih juga, jadi aku ada temennya. Dan aku yakin Tante Ratna pasti bangga sama kamu!" ucap Kalandra tak kalah senang. Riana pun mengangguk semangat. "Terimakasih Andra!" Kalandra pun mengusap kepala Riana dan tersenyum senang. "Ya udah, sekarang kita makan yaa. Nanti keburu bell masuk." mereka pun memakan bekal yang mereka bawa. Mereka juga saling bertukar lauk seperti biasa yang mereka lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD