Menyusun Rencana

1260 Words
"Mas," panggil Annisa yang terbangun saat pintu kamar dibuka dengan kasar. Reyhan tidak membalas sapaannya, ia berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi guna menyembunyikan luka pada bibirnya. “Kenapa?” batin Annisa bergumam. Melihat baju yang dikenakan Reyhan basah, membuat sang istri curiga, lalu ia pun beranjak dari tempat tidur hendak mengambil baju ganti di dalam lemari. Ia memilih kaus berwarna putih, dengan stelan celana berwarna coklat. Tidak lama Reyhan pun keluar seolah sudah membersihkan diri, dan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Ia duduk di tepian ranjang, sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk kecil. "Tumben jam segini mandi? kamu mau ke luar kota?" tanya Annisa berjalan menghampirinya sambil membawa baju. “Tidak," jawabnya singkat. Ia menerima baju dari sang istri sambil menunduk, lalu memakainya. "Kenapa kamu mandi sepagi ini?" Reyhan bergeming, dia memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menutupi luka pada bibirnya. “Mas, jawab dong!" "Sudahlah jangan banyak bertanya," cetus Reyhan sambil berdiri. "Kamu bersikap aneh. Apa aku tidak berhak tau?" "Kamu harus tau batasan, Nisa. Tidak semua hal bisa kamu tanyakan, karna aku tidak akan menjawabnya." "Kenapa?" tanyanya lagi dengan kening mengerut. "Sudahlah. Berhenti bertanya!" Pria berusia tiga puluh lima tahun itu kini naik ke atas ranjang, kembali berkulum di bawah selimut tebal. "Kamu mu tidur lagi, Mas?" "Iya." "Tapi, rambut kamu masih basah." "Nisa, sudahlah. Kamu bisa diam kan? kepalaku rasanya mau pecah mendengar ocehanmu." Tidak ingin memperpanjang masalah, Annisa pun mengalah, membiarkan sang suami kembali tidur dengan keadaan rambut yang masih basah, lalu pergi ke dalam kamar mandi. Ini bukan kali pertama ia mendapat perlakukan dingin dari sang suami. Namun, kali ini berbeda. Reyhan benar-benar tidak ingin melihat wajahnya, bahkan menyentuhnya pun sudah jarang ia lakukan akhir-akhir ini. Setelah mendengar pintu kamar mandi ditutup, ia pun bangkit dari tidurnya, berjalan menuju cermin rias, berdiri di sana sambil mengusap luka pada sudut bibirnya. "Sial," sungut Reyhan. “Apa yang akan aku katakan kalau Annisa menanyakan hal ini?” Walaupun sudah tidak berdarah, bibirnya masih terlihat bengkak, dan luka itu masih terlihat cukup jelas. Bukan hanya bibir yang terluka. Ia melihat ada goresan luka pada bahunya saat Alya melakukan perlawanan. "Gadis itu. Dia benar-benar pemberani, dia gadis yang sangat menantang," gumamnya pelan sambil tersenyum licik. Sedang ia yang mendapat perlakuan tidak baik dari seorang Reyhan, saat ini sedang menangis terisak di dalam kamarnya, membayangkan hal menjijikan saat Reyhan berhasil merobek baju, juga berhasil menyentuh bagian tubuhnya yang terbuka. “Sampai kapan aku akan seperti ini? tolong aku, Om. Bebaskan aku, aku takut,” lirih Alya seraya memeluk lutut dengan kedua tangannya. Ia terduduk di lantai, bersandar pada dinding pembatas. Terus menangis, hingga akhirnya ia menemukan cara lain untuk melarikan diri. Ia mengusap air matanya, lalu beranjak kembali ke dapur. Tiba waktu sarapan. Annisa bersama putranya Abiyu datang ke ruang makan, berdiri di samping Lastri yang terlihat sedang menata buah-buahan di tengah-tengah banyaknya menu sarapan. "Sudah beres, Bi?" tanya Annisa. “Sudah, Nyonya,” jawab Lastri. “Alya?” Belum sempat Lastri menjawab, gadis yang baru saja ditanyakan keberadaannya oleh Annisa, tiba-tiba muncul dari belakang, menyahuti panggilan. "Saya di sini, Nyonya," saut Alya sambil berjalan menghampiri sang majikan, lalu berdiri di samping Abiyu, dan menyapanya dengan senyum sumringah. “Biyu." Anak kecil itu menoleh, mendongakan kepalanya ke atas. "Tante, Alya." Membalas sapaan pengasuhnya dengan senyum manis. "Biyu sudah mandi?” tanya Alya sedikit membungkuk. Anak kecil itu menganggukkan kepalanya. “Sudah, Tante." "Kalau begitu, ayo kita makan!" ajak Alya yang langsung membawa Abiyu duduk tepat di sebelahnya. Begitu pun dengan Annisa yang mendudukan diri di samping kanan putranya, sambil bertanya, "Biyu mau makan sama apa?” ia membuka piring, lalu menuangkan nasi. “Aku mau itu, Bunda.” Dengan Jari telunjuk, anak kecil itu menunjuk satu menu makanan yang berada sedikit jauh dari jangkauannya. “Ada yang lain?” tawar Annisa lagi. Mata hazel berwarna biru itu mencari sayur kesukaannya di atas meja makan. “Cari apa, Biyu?" kali ini Alya yang bertanya. "Tidak ada sayur bayam?” Ia bertanya kepada Alya sambil mendongakan kepalanya ke atas. “Hhmm, sayang sekali sayur bayamnya habis, maaf ya, nanti tante ke pasar dulu belanja sayur-sayuran,” jawab Alya coba membujuk. “Tapi aku mau bayam, Bunda. Aku nggak mau makan kalau nggak ada sayur bayam.” Ia merajuk, melipat kedua tangannya di d**a, seraya memalingkan wajah ke samping. “Biyu, jangan kayak gitu ah, sayur yang lain juga kan banyak.” Annisa coba membujuk putranya, tetapi tidak berhasil, dan malah membuat sedikit keributan di ruang makan. “Aku nggak mau, aku mau sayur bayam.” Kekeh. “Ada apa ini?” suara Reyhan tiba-tiba mengejutkan semuanya terutama Alya. Dia langsung melangkah mundur, saat pria yang paling ia benci itu malah berdiri di sampingnya, tepat di belakang Abiyu. “Kenapa?” tanyanya lagi kepada sang anak. “Tante Alya tidak memasak sayur bayam untukku, Ayah. Biyu mau makan sayur bayam.” Terus merengek hingga akhirnya ia pun duduk di samping putranya, membawa anak kecil itu duduk di atas pangkuannya. “Nanti Tante Alya buatkan, sekarang Abiyu makan dulu sama lauk yang ada, ya!” bujuk Reyhan. Tidak berani membantah perkataan sang ayah, Abiyu pun akhirnya mau makan makanan yang sudah tersedia tanpa sayur kesukaannya. “lain kali pastikan stok makanan di rumah jangan sampai kekurangan seperti sekarang, saya tidak mau kejadian ini terulang lagi. Mengerti?” tegas Reyhan kepada Alya, juga Lastri. “Baik, Tuan,” jawab mereka bersamaan. Setelahnya Lastri pun undur diri, tetapi tidak dengan Alya yang tangannya di genggam erat oleh Reyhan secara diam-diam. Alya berusaha melepaskan diri, tetapi Pria itu malah semakin mengeratkan menggenggamnya, sampai pada saat Annisa melirik ke samping kiri, barulah tangan itu terlepas. “Gila, berani sekali dia,” batin Alya menatap tidak percaya, tubuhnya gemetar ketakutan. “Alya,” panggil Annisa. “I–iya, Nyonya?” saut Alya tergugup. “Kamu ke mall ya, beli keperluan dapur!” titah Annisa sambil mengunyah, ia menoleh ke arahnya. Alya mengangguk. “Baik, Nyonya. Tapi, kalau saya ke mall sendiri tidak apa-apa kan?” “Kenapa?” tanya Annisa. Reyhan pun ikut menoleh ke arah Alya yang masih berdiri di sana. “Bi Lastri bayak pekerjaan di rumah, Nyonya. Kasihan kalau harus ikut lagi ke mall untuk berbelanja.” Mencari alasan agar rencana untuk melarikan diri bisa berjalan dengan mulus. Annisa mengangguk setuju. “Baiklah, kamu bersedia pergi sendiri?" “Sangat bersedia,” jawab Alya tanpa ragu. Senyumnya terus mengembang, membuat Reyhan menatapnya curiga. "Kamu tidak akan pergi sendiri, Alya," kata Reyhan sambil menuangkan nasi ke dalam piringnya. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah terbiasa pergi sendiri." "Alya. Jangan membantah ucapan saya!" tegas Reyhan dengan menatap tajam. "Tapi, Tuan." "Tidak apa-apa, Alya. Nanti kamu pergi sama Bram," saut Annisa. Rencana yang sudah ia susun dengan sangat rapi, terancam gagal karena sang majikan malah meminta ia pergi bersama Bram. "Sial sekali. Bagaimana rencanaku bisa berhasil kalau begini caranya? Aku harus membuat Bram lengah. Aku tidak mau gagal lagi." Setelahnya Alya pun pergi meninggalkan mereka sarapan, lalu menemui Bram di garasi mobil. "Hei. Antar aku ke mall!" teriak Alya dari kejauhan. Bram menoleh, lalu berdiri. "Anda memanggil saya?" kata Bram sambil menunjuk dirinya dengan jari. "Iya lah, siapa lagi," cetus Alya sambil berjalan ke arahnya. "Sopan sekali anda?" "Kenapa? tidak terima? mau menghukum saya?" ucapnya penuh keberanian. "Keberaniannya lah yang membuat tuan Rey menyukainya," batin Bram melamun tanpa mengalihkan pandangan dari wajah gadis itu. "Hei." Suara Alya menyadarkan ia dari lamunannya. "Jangan menatap wajah saya seperti itu. Nanti anda bisa jatuh cinta." Bram tersenyum, begitu pun dengan Alya. "Sudahlah, ayo pergi sekarang!" ajak Alya. "Baik, Nyonya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD