Keberanian Berujung Petaka

1297 Words
Ingin sekali ia berteriak, berlari keluar dari rumah yang sudah menjadikan hidupnya seperti di dalam neraka. Namun, sulit ia lakukan mengingat keamanan rumah Reyhan yang sangat ketat, sehingga selama satu bula terakhir ini dia hanya bisa mematuhi semua perintah Reyhan, meratapi nasib yang menyedihkan harus berakhir menjadi tawanan, pembantu tanpa bayaran sepeser pun. "Entah sampai kapan penderitaan ini akan berakhir kalau aku tidak mengambil tindakan. Mungkin selamanya, karena jumlah yang harus aku lunasi tidak sedikit." Menggerutu sambil mencuci muka, setelahnya ia berdiri, menatap wajahnya dari pantulan cermin. “Iya, aku harus cari cara untuk melarikan diri, tuan sialan itu pasti sudah tidur juga." Alya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu keluar dari kamar mandi secara perlahan membuka pintu, menutupnya sangat hati-hati. Melihat Abiyu masih tertidur pulas, ia pun tersenyum, berpikir kalau kali ini usaha untuk melarikan diri akan berhasil. Namun sayang, baru saja ia melangkah hendak pergi, terdengar suara langkah kaki menuju kamar Abiyu, Alya terperanjat segera kembali naik ke atas ranjang, kembali berbaring di sebelah anak kecil itu, ikut masuk ke dalam selimutnya. "Sial. Siapa itu?" membatin. Ia mendengar suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali, dan suara langkah kaki yang entah itu siapa terdengar semakin dekat, bahkan sangat dekat. Alya bisa merasakan ada seseorang duduk di tepian tempat tidur, tetapi bukan di sebelahnya, seseorang itu duduk di sebelah Abiyu. Ia tidak berani membuka mata, memilih terus terpejam walaupun penasaran dengan sosok itu. Hening. Hanya suara kecupan yang ia dengar. Setelahnya Alya merasakan kalau orang itu saat ini sudah beranjak dari sana, bahkan ia mendengar langkah kaki. Namun, langkah kaki itu bukannya menjauh malah semakin mendekat ke arahnya. “Dia menghampiriku?” batin Alya. Orang itu berhenti melangkah, lalu mendudukkan diri tepat di sampingnya. “Tuhan, apa yang akan orang ini lakukan? Tolong aku!” Di balik selimut tebal Alya mengepalkan tangan, bersiap-siap melawan kalau orang itu melakukan sesuatu. Tidak melakukan apa-apa, dia hanya berbisik di dekat telinganya seraya berkata. “Alya, sepertinya aku mencintaimu.” "Suara itu? tuan Reyhan?"ungkapan cinta Reyhan membuat tubuhnya lemas, tangan yang tadinya mengepal kuat seolah tidak memiliki tenaga lagi bahkan hanya untuk melawan saat Reyhan mengecup keningnya singkat. "Pasti aku salah dengar, ini tidak mungkin." Terus bergumam dalam hati. "Aku mencintaimu, Alya. Kalau kamu tau apa yang sedang aku rasakan saat ini, kamu pasti akan mengatakan kalau aku sudah gila." Reyhan menyunggingkan senyum, lalu tangan kekar itu mengusap lembut rambut wanita yang masih berbaring di samping putranya. "Aku tau ini salah, mencintai wanita lain disaat aku sudah memiliki seorang istri, bahkan anak kecil yang kini berada di sampingmu itu adalah putraku. Entahlah Alya, semakin aku berusaha ingin melupakan kamu, hati ini malah semakin kuat ingin menarikmu jauh lebih dalam." Dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Alya, meraih tangan, lalu mengecupnya penuh perasaan. "Aku tidak butuh uang itu lagi, aku hanya ingin kamu tetap ada di sini, agar aku selalu bisa melihat wajahmu, dan mencintaimu dalam diam." Seandainya dengan berontak akan menyelesaikan masalah, pasti sudah ia lakukan saat ini juga. Namun, semua itu akan dirasa percuma. Alya memilih diam, mendengarkan kata apa yang akan pria itu ucapkan setelah ungkapan cinta. "Alya, apakah mustahil membuat kamu jatuh cinta kepadaku?" "Tidak akan pernah. Pria sepertimu tidak pantas mendapatkan cinta tulus dari siapa pun," batin Alya. Reyhan tersenyum. Dia kembali mengecup kening Alya, lalu pergi. Begitu mendengar suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali, Alya langsung menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya, menatap tidak percaya ke arah pintu. “Gila. Dia benar-benar gila, bagaimana dia bisa mencintaiku disaat ia sudah memiliki seorang istri? terbuat dari apa hati pria itu? tega sekali dia membagi hatinya untuk orang lain. Dia benar-benar tidak waras. Dia bisa melakukan apa saja, bahkan saat akal sehat mengatakan tidak mungkin. Aku benar-benar harus pergi dari rumah ini. Aku akan mencari strategi lain." Alya bergegas kembali ke kamarnya, memikirkan cara lain untuk melarikan diri, karena mustahil dia melakukannya malam ini. Masih sangat pagi. Sekitar pukul tiga pagi Alya terbangun dari tidurnya setelah alarm yang ia pasang berdering cukup nyaring, ia langsung pergi ke dapur, memanfaatkan momen memasak untuk mencari celah, juga memperhatikan CCTV yang terpasang hampir di setiap sudut ruangan. “Kenapa banyak sekali CCTV?” batin Alya mendegus sambil mengiris bumbu dapur, tanpa berhenti berpikir. “Come on, cari cara.” “Alya...” Seseorang memanggilnya dari belakang, dia yang pikirannya sedang melayang, terkejut dengan panggilan itu, sehingga jarinya teriris pisau dengan luka cukup dalam, mengeluarkan banyak darah. “Aaww...” dengan gerakan spontan, ia langsung menghisap jarinya, untuk menghentikan darah yang keluar. “Kenapa, Al?” Lastri menghampiri Alya, terkejut melihat banyaknya darah yang keluar, bahkan sampai berceceran di lantai. “Ya ampun, kamu berdarah? Aku ambilkan kotak P3K ya.” Alya menunggu di dapur, sementara Lastri mengambil kotak P3K di dalam lemari obat. Ia masih terus menghisap jari, tidak lama pria yang sangat ia benci itu datang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Reyhan. “Kenapa?” cetus Reyhan, sontak membuat Alya terkejut dan langsung melangkah mundur. “Anda...?” “Apa kamu tidak punya telinga? Saya tanya, kenapa?” "Tidak apa-apa," Alya menjawab pertanyaan Reyhan dengan cetus, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Alya!" Suara Reyhan membentak. “Tidak bisa ya bicara pelan-pelan?” suara Alya tidak kalah menantang. “Jangan kurang ajar, ingat siapa kamu di sini, kamu hanya pembantu.” “Siapa bilang saya pembantu? saya ini adalah tawanan ingat itu, Tuan Reyhan. Saya tidak pernah sudi datang ke rumah ini sebagai pembantu, apa lagi harus satu rumah dengan anda, karna itu membuat saya muak.” Alyan benar-benar sudah memancing emosi seorang Reyhan, ia menarik tangan wanita itu dengan kasar, hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. “Lepaskan saya!” Alya berusaha melepaskan diri, tetapi tangan kekar itu terus melingkar di pinggangnya, semakin kuat. “Jangan coba membangunkan singa yang sedang kelaparan, Alya. Aku bisa melakukan hal lebih dari ini. Jadi, bersikaplah seperti biasa. Kamu mengerti?" “Aku tidak mau mengerti!” dengan penuh keberanian Alya menjawab, menatap tajam wajah Reyhan. Dia yang merasa tertantang langsung membungkam mulut Alya dengan bibirnya. Gadis itu berontak, memukul bahu Reyhan berusaha melepaskan tangan yang menahan wajahnya. Saat perlawanan yang dilakukan tidak berhasil, ia terpaksa menggigit bibir pria berusia tiga puluh lima tahun itu cukup kuat, hingga akhirnya ia melepaskan cengkeramannya. Setelah berhasil melepaskan diri, sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Reyhan, lalu darah segar pun mengalir. Bukan karena tamparan, darah itu mengalir karena luka robek di sudut bibirnya. Saat Reyhan hendak melakukan sesuatu, saat itu juga ia mendengar suara seseorang. “Maaf ya lama, aku...” Ucapan Lastri menggantung saat melihat sang majikan berdiri tepat di samping Alya, dengan posisi memunggunginya. “Tuan...?” Lastri menatap heran, sekaligus curiga. “Pergi!” hardik Reyhan tanpa merubah posisi ia berdiri. Tidak menunggu lama, Lastri pun langsung pergi karena perintah keras sang majikan. “Bersiaplah mendapatkan hukuman dariku, Alya Kinana. Kamu benar-benar menguji kesabaranku.” Reyhan menatap Alya dari ujung matanya, lalu melangkah pergi sambil memegang bibirnya yang terluka. “Aku tidak takut,” teriak Alya, menghentikan langkah kaki pria itu yang belum terlalu jauh. Ia menoleh ke belakang, dengan wajah berapi-api. “Aku tidak pernah takut dengan semua ancaman anda, Tuan Afzal Reyhan.” Lanjut Alya. “Berhenti bicara! atau kamu akan menyesal." “Kenapa memangnya? Anda takut? Cih." Ia mendesis tidak perduli. dengan ancamannya. “Saya akan membongkar semua keburukan anda kepada nyonya Annisa. Saya akan mengatakan semua, dan akibatnya anda akan segera merasakannya." Bukan lagi menoleh, ia kembali melangkahkan kakinya cepat, menghampiri Alya, lalu kembali menciumnya kasar, bahkan lebih kasar dari sebelumnya. Alya berontak, memukul, lalu Reyhan pun membawa Alya masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di sebelah kanan mereka, untuk memberikan gadis pemberani itu pelajaran. “Tolong...!" Beberapa kali Alya berteriak meminta tolong, hingga akhirnya suara teriakan itu tidak lagi terdengar setelah Reyhan melakukan sesuatu kepada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD