Suara Annisa mengejutkan keduanya, terutama Reyhan yang langsung mendudukan diri di kursi meja makan dengan perasaan gugup. "Cepat duduk, layani aku makan!" titah Reyhan kepada sang istri yang masih berdiri jauh di samping kananya. Annisa melirik ke arah mereka secara bergantian.
"Iya, Mas." Ia pun berjalan menghampiri sang suami, lalu membuka tudung saji. "Telur?" kata Annisa.
"Telur?" sambung Reyhan. Mata elangnya langsung menatap tajam ke arah Alya yang masih berdiri di belakangnya.
Dengan penuh keberanian, Alya membalas tatapan Reyhan sambil tersenyum puas.
"Apa-apaan ini?" berang Reyhan sambil menyentuh salah satu piring yang berisi telur dadar, lalu kembali ia letakkan di atas meja dengan kasar, sehingga terdengar dentingan piring yang saling beradu satu sama lain.
"Mas, sudahlah." Ia coba menenangkan sang suami yang sedang marah dengan meraih tangannya.
"Tinggalkan kami berdua, Nisa!" perintah Reyhan sambil berdiri tanpa mengalihkan pandangan dari wanita yang sudah berani menentangnya.
"Kamu mau ngapain, Mas?"
"Aku akan memberikan dia pelajaran," tegasnya lagi.
"Tapi ..."
"Nisa!" Suara Reyhan membentak, Annisa mengerjap, lalu Bram pun datang karena mendengar keributan dari luar.
"Tuan, ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Bram berdiri di belakang Annisa.
"Bawa istriku pergi! aku akan memberi perhitungan untuk gadis yang kurang ajar ini."
Tidak ada perintah yang berani Bram bantah, lalu dengan sikap hormatnya, Bram mempersilahkan Annisa berjalan di depan, diikuti oleh Bram dari belakang.
Setelah memastikan kalau Annisa bersama Bram pergi jauh, tangan kekar itu berhasil mencengkram leher Alya membuat ia mengalami kesulitan untuk bernafas. Ingin mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tercekat di kerongkongan.
"Le–laskan saya!" Alya memukul, coba berontak berusaha melepaskan diri, tetapi tangan kekar itu terlalu kuat untuk ia lawan, sehingga ia pun hanya bisa pasrah untuk beberapa saat.
"Jangan coba bermain-main dengan saya kalau kamu masih ingin hidup!" Geram Reyhan terus mencengkram leher Alya hingga akhirnya ia pun melepaskannya setelah melihat wajah gadis itu terlihat pucat, matanya melirik ke atas, seolah sedang melihat malaikat sedang mencabut nyawanya.
Alya jatuh tersungkur lemas di lantai sambil memegang lehernya yang terasa sakit, juga meraup udara sebanyak-banyaknya demi mengisi rongga paru-paru yang kehabisan oksigen, setelahnya ia pun kembali bicara. "Anda memberikan tugas yang mustahil saya lakukan. Anda gila?" geram Alya.
"Ingat, Alya Kinana. Kamu tinggal di sini hanya untuk menjadi pembantu, pembantu dengan banyak tugas berat, sepadan dengan hutang yang harus kamu bayar." Setelahnya pria itu pun menumpahkan air ke lantai, lalu pergi.
"Aku akan mati tanpa dibunuh kalau terus tinggal di rumah ini," batin Alya bergumam, seraya berfikir langkah apa yang akan ia lakukan untuk menyelamatkan diri.
Rumah itu memiliki keamanan yang sangat ketat. Setiap hari Alya terus berusaha mencari celah untuk melarikan diri. Namun, rencananya tidak pernah berhasil, hingga tidak terasa satu bulan sudah ia tinggal di sana menjadi asisten rumah tangga, juga pengasuh Abiyu yang masih berusia empat tahun.
Abiyu termasuk anak yang mudah akrab dengan orang lain. Kebersamaannya dengan Alya selama satu bulan, membuat anak kecil itu sulit sekali untuk jauh-jauh darinya. Reyhan merasa bahagia atas kedekatan mereka. Sikapnya mulai berubah, tidak lagi bersikap kejam, walaupun pekerjaan berat masih dibebankan kepadanya.
"Mas..."
"Hhmm..."
Annisa memanggil sang suami yang saat ini sedang membuka satu persatu kancing kemejanya hendak membersihkan diri selepas pulang bekerja, sedangkan Annisa saat ini sedang berdiri di depan lemari hendak mengambil handuk baru.
"Mas tau nggak, putra kita udah mulai akrab sama Alya loh," ucapnya seraya menutup kembali pintu lemari, membawa handuk putih itu untuk diberikan kepada sang suami.
"Oh ya?" Reyhan memberikan respon biasa saja, tanpa menghentikan aktivitasnya.
Annisa mengangguk. "Iya." Kini ia berdiri di depan sang suami sambil menenteng handuk di tangan, matanya menangkap tangan Reyhan kesulitan saat membuka kancing terakhir.
"Sini aku bantu!" tawar Annisa.
Masih memegang handuk, ia coba membantu sang suami yang kesulitan membuka kancing bajunya sambil berucap, "Nggak usah buru-buru, mau ke mana sih?"
"Aku mau mandi, gerah."
Setelah Annisa berhasil membuka kancing bajunya, Reyhan pun menyerahkan kemeja kotor itu kepada sang istri, lalu bergegas ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Di kamar sebelah, tepatnya di dalam kamar Abiyu, saat ini Alya sedang berbaring di atas ranjang, berada di dalam satu selimut bersama dengan anak kecil itu setelah membacakan putra majikannya buku cerita.
Lelah. Alya merasa tubuhnya sudah remuk setelah banyaknya tugas yang ia lakukan hari ini. Mulai dari memasak, dengan menu yang berbeda setiap kalinya, menemani Abiyu bermain, membersihkan halaman, juga beberapa tugas konyol yang diperintahkan oleh Reyhan kepadanya seperti mencuci mobil, bahkan sampai motor, juga sepeda Abiyu yang berjumlah lebih dari dua.
"Dasar pria gila, seharusnya pekerja keras seperti aku ini gajinya lebih dari sepuluh juta setiap bulannya." Alya terus mendengus, hingga akhirnya ponsel yang ia letakkan di atas meja berdering. Alya segera meraih benda pipih itu, lalu menjawab panggilan masuk tanpa melihat nama si penelepon.
"Halo. Siapa?" tanya Alya sambil beranjak dari atas tempat tidur, lalu ia pun pergi ke kamar mandi karena khawatir perbincangan dirinya menganggu tidur Abiyu.
"Alya...?" kata seseorang di seberang sana.
Ia melirik sejenak nama yang tertera pada layar ponsel, untuk memastikan kalau yang menghubunginya adalah orang ia kenal.
"Om Chandra? Om kemana aja baru menghubungiku?" gerutu Alya dengan suara pelan.
Walaupun berada di dalam kamar mandi, Alya tetap harus hati-hati, khawatir percakapannya didengar oleh orang lain, terutama Reyhan yang sudah melarang Alya menghubungi keluarganya.
"Om baru sempat, Al. Kemarin-kemarin om sibuk mencari uang untuk membayar hutang, agar kamu cepat bebas." ucapnya berbohong.
Alya tidak melihat raut wajah om-nya yang malah tersenyum setelah mengatakan itu, karena sebenarnya Chandra sama sekali tidak melakukan apa pun untuk membayar hutang kepada Reyhan. "Hidup seperti ini lebih nyaman, tidak ada Alya bebanku berkurang, dan akan mencari ke mana uang sebanyak itu? beruntung tuan Rey menyukai keponakanku, jadi aku tidak perlu bersusah payah mencari uang pengganti," batin pak Chandra.
"Terus sekarang gimana, Om? aku udah nggak betah di rumah ini, tenagaku dikuras habis-habisan," keluh Alya sambil memijat punggung lehernya. Ia berdiri sambil bersandar pada dinding pembatas kamar mandi.
"Sabar ya, Al. Om masih harus berusaha lagi."
Alya menarik nafas dalam-dalam, dengan cepat ia menghembuskannya, coba mengerti apa yang dikatakan Om-nya.
"Lalu ada hal apa sampai Om menghubungiku?" tanya Alya lemas, lagi-lagi bukan kabar baik yang ia dengar.
"Om mau kasih kamu kabar, kalau om dipindah tugaskan oleh tuan Rey keluar kota."
"Lalu?" tanya Alya terkejut.
"Lalu, buatlah diri kamu senyaman mungkin di rumah itu, karena kamu tidak bisa pulang untuk sekarang-sekarang ini."
"Om ko kayak gitu sih? lalu aku bagaimana?"
"Alya, mengertilah, Om juga sedang berusaha."
Kesal, bukan kabar baik yang ia dengar, Alya memutus sambungan telepon tanpa aba-aba, bahkan yang di seberang sana masih bicara.
"Aku nggak bisa pasrah begitu aja, aku harus cari cara supaya bisa kabur. Apa hari ini ada celah untuk melarikan diri? aku akan coba melihat keadaan diluar. Semoga tuan b******k itu sedang lengah."