Reyhan yang saat ini sedang duduk santai di atas balkon bersama sang istri juga putranya, seketika terperanjak saat mendapat kabar kalau Alya tidak ada di dalam kamarnya, dari seorang pengawas yang ia tugaskan untuk menjaga Alya.
"Ada apa, Mas?" tanya Annisa saat melihat raut wajah sang suami terlihat panik.
Reyhan tergugup saat Annisa bertanya. "Itu..."
"Itu apa?"
"Aku..."
Kalimatnya terjeda karena putranya Abiyu tiba-tiba menangis. Reyhan memanfaatkan kesempatan itu saat Annisa lengah, ia pun pergi tanpa sepatah katapun, membuat Annisa semakin kebingungan.
"Aku akan memikirkan jawaban yang tepat saat nanti Annisa bertanya." pikir Reyhan, dan hal yang terpenting saat ini adalah jangan sampai Alya berhasil kabur dari vila.
Mobil yang Reyhan tumpangi melaju sangat cepat menuju vila, di mana tempat ia menyembunyikan Alya. Tiba di sana, pengawas yang bertugas menghampiri Reyhan menceritakan kronologisnya sehingga Alya berhasil kabur.
"Kalian semua tidak becus. Apa tidak bisa hanya menjaga satu gadis kecil saja?" hardik Reyhan membentak kesal.
"Maafkan kami, Tuan." Semua anak buah Reyhan tertunduk menyesal.
Tidak ingin membuang banyak waktu, akhirnya ia pun mengerahkan semua pengawas untuk segera menemukan Alya, sebelum hari semakin larut.
Dengan deru nafas yang masih terengah-engah, Alya terus berlari di dalam hutan tanpa mengkhawatirkan sesuatu hal buruk yang mungkin saja bisa membahayakan dirinya.
"Tolong aku, Tuhan."
Dia terus berlari sangat cepat tanpa tau arah tujuan, sehingga ia berputar di siti-situ saja seolah ia sedang berada di dalam kotak labirin yang tidak ada ujungnya.
"Sial." Alya mendengus kesal, tidak kunjung menemukan jalan keluar, sehingga ia pun lelah, lalu pingsan, jatuh ke dalam dekapan seseorang.
"Alya."
Dia tidak sadarkan diri, Reyhan yang berhasil menemukan Alya, kembali membawa ia ke vila, lalu mendapatkan pertolongan pertama agar ia segera sadar.
Tidak bisa terus seperti ini, Alya tidak akan berhenti berusaha kabur kalau ia jauh dari pengawasan dirinya, sehingga Reyhan harus berpikir keras lagi, akan membawa gadis itu ke mana.
Terus berpikir, akhirnya ia pun menemukan jalan keluar. Setelah mendapatkan jalan keluar, Ia tidak sabar menunggu Alya sadar, dan segera membawa Alya ke tempat dimana dia tidak akan pernah bisa kabur.
"Tuan.." panggil Bram tergesa-gesa.
Reyhan yang saat ini sedang berdiri di atas balkon, menoleh ke belakang, menyahuti panggilan Bram. "Ada apa?"
"Gadis itu sudah sadar."
Reyhan menemui Alya, merasa tenang melihat gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
Dia kembali berontak padahal kakinya dalam keadaan terikat, sehingga menimbulkan luka di pergelangan kakinya, ia pun meringis kesakitan.
"Aaww..."
Melihat Alya meringis, sontak membuat Reyhan marah, lalu menghajar orang yang sudah mengikat terlalu kuat kaki gadis itu bahkan sampai terluka.
"Dia berontak, Tuan," ucapnya coba membela diri, akan tetapi dirasa akan percuma, Reyhan terus memukul sang pengawas yang menurutnya sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal.
Dia berjalan perlahan menghampiri Alya, lalu jongkok di depannya. "Kamu mau bebas dari sini?" tanya Reyhan, sedang Alya terus diam tidak ingin menjawab.
"Jawab!" suara Reyhan membentak. Hal itu sontak membuat Alya mengerjap takut.
"Jawab pertanyaan saya, atau kamu akan saya buang ke dasar laut, sehingga tidak akan ada satu orang pun yang bisa menemukanmu."
Ayla memilih tetap diam, membuat Reyhan semakin geram, sehingga ia meminta Bram untuk membawa gadis itu ke klub malam dan akan mempekerjakannya di sana.
"Jangan!" Ia berteriak. "Saya ingin bebas dari sini, Tuan. Saya mohon jangan membawa saya ke sana!"
Reyhan tersenyum penuh kemenangan saat Alya menyerah, lalu ia memerintahkan Bram untuk segera mengemas pakaian Alya, karena ia akan segera berpindah tempat tinggal, di mana tidak akan ada sedikit pun celah untuk ia bisa melarikan diri.
"Kemana, Tuan?" tanya Bram setelah menurunkan Alya.
"Nanti kamu akan tau."
Setelah urusan dengan Alya selesai, Reyhan pun kembali ke rumahnya dengan perasaan tenang, juga senyum di wajahnya terus mengembang, membuat Bram penasaran, melihat di balik kaca spion kecil yang menggantung di depannya.
Keesokan harinya, Annisa terlihat sibuk di dapur bersama pembantu sedang menyiapkan makan untuk sarapan, sedangkan Abiyu masih tertidur pulas di kamarnya, dan entah apa yang membuat Reyhan bangun tidur sepagi ini, membuat Annisa semakin sibuk, harus segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum sang suami merasakan lapar.
"Masih lama?" tanya Reyhan yang saat ini duduk di atas sofa sambil menyaksikan News Pagi.
"Sebentar lagi, Mas," saut Annisa.
"Tumben Tuan bangun sepagi ini, Nyonya?" tanya salah satu pembantu yang saat ini sedang memasak bersama Annisa, berbisik di dekat telinganya.
"Saya juga bingung, Bi. Tapi saya senang dia bangun pagi," ujar Annisa dengan senyum ramah.
"Bisa nggak sih masaknya cepetan? aku kelaparan, Nisa," teriak Reyhan dari kejauhan.
"Iya, Mas."
Reyhan meletakkan ponselnya di atas meja lalu ia menghampiri sang istri berdiri di sampingnya. "Kamu sebetulnya bisa nggak sih masak lebih pagi?" ketus Reyhan kepada Annisa.
"Iya, Mas. Maaf, kamu kan bangun lebih pagi baru sekali ini, biasanya mepet jam kerja," saut Annisa tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Sabar ya!" ucapnya seraya memeluk sang suami dari samping, lalu Reyhan pun mencium puncak rambutnya.
"Aku rasa kamu butuh pembantu lagi, Sayang."
"Sayang?" batin Annisa, senyumnya semakin mengembang karena bahagia.
"Nggak kok, Mas. Aku bisa tangani sendiri kalau masalah masak, aku akan bangun lebih awal lagi biar kamu nggak kelaparan," ungkapnya dengan senyum.
"Nggak. Aku nggak mau kamu semakin sibuk di dapur, aku mau kamu banyak menghabiskan waktu denganku, dan aku akan memberikan kamu satu pembantu lagi."
"Tapi..."
"Nisa..." Reyhan memotong kalimat yang belum sempat terucap.
"Kamu tau kan aku paling tidak suka kalau kamu tidak mengikuti semua perintahku?" tegas Reyhan, lalu Annisa pun mengangguk patuh dengan setiap perintahnya.
"Sekarang kamu ikut aku, biarin pembantu kita yang bekerja."
"Iya, Mas."
Sambil menunggu waktu, Reyhan memilih membersihkan diri terlebih dahulu, sedangkan Annisa menyiapkan baju kerja yang akan suaminya kenakan.
Selesai membersihkan diri, Reyhan keluar dari kamar mandi, meminta Annisa menggantikan baju kerjanya dengan baju santai, karena hari ini ia tidak akan berangkat ke kantor, lalu Annisa pun mengambil setelan kaos hitam senada dengan jeans berwarna biru.
"Boleh juga pilihan kamu," Reyhan memuji keterampilan Annisa yang memang memilih fakultas desainer saat kuliah dulu.
Annisa bahagia dengan semua pujian yang ia dapatkan dari sang suami, sehingga ia tidak bisa berhenti tersenyum.
Setelah berpakaian rapi, Reyhan bersama Annisa kembali ke lantai bawah hendak menyantap sarapan yang pastinya sudah tersaji di atas meja makan.
Saat menuruni anak tangga, Annisa dibuat heran saat melihat Bram sedang berdiri bersama seorang wanita, tepatnya seorang gadis yang usianya kisaran di angka dua puluhan.
"Siapa dia yang lagi sama Bram, Mas?" tanya Annisa kepada sang suami.
Reyhan menjawab pertanyaan Annisa setelah mereka berdiri di depan Bram, juga gadis itu.
"Dia adalah pembantu baru kita, dia akan bekerja di sini, jadi kamu nggak usah masak lagi di dapur," ujar Reyhan.
"Masak itu kemauan aku, Mas. Pembantu kita juga banyak."
"Udah, pokoknya itu sudah menjadi keputusanku, dia akan bekerja di sini sebagai pembantu, juga mengasuh Abiyu."
"Siapa nama kamu?" tanya Annisa.
"Alya, saya Alya Kinana."