Part 2 : Rasa yang salah

1052 Words
"Lepaskan saya!" Alya berontak memukul punggung orang yang membawa paksa dirinya untuk masuk ke dalam salah satu mobil yang sudah terparkir dengan rapi di depan rumahnya. Dia terus melawan. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan mereka yang memiliki postur tubuh tinggi besar, membuat perlawanannya dirasa percuma. *** Annisa beranjak dari tempat tidur, mencari keberadaan sang suami yang tidak ada di sampingnya, dan ia kembali ke kamar setelah mencari ke semua ruangan, lalu coba menghubunginya melalui sambungan telepon, tidak lama sambungan telepon pun terhubung. "Mas, di mana?" tanya Annisa khawatir. "Aku ada urusan," jawab Reyhan. "Selarut ini?" tanyanya lagi. "Iya, kenapa memangnya?" ketus Reyhan. Annisa menghela nafas dalam sebelum kembali bicara. "Ya udah, kamu pulang nggak?" "Aku nggak tau, kamu gak usah nungguin aku." "Ya udah, kalau gitu aku tidur lagi ya, Mas." "Hhmm..." jawabnya tanpa berkata, lalu sambungan telepon pun terputus begitu saja. Annisa yang merasa khawatir, tidak bisa kembali tidur sampai sang suami benar-benar pulang dalam keadaan baik-baik saja, terus terjaga sambil duduk di atas tempat tidur. Sekitar lebih dari 1 jam menunggu, akhirnya Reyhan pun pulang dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Annisa yang sudah berpindah duduk di atas sofa, beranjak dari sana menghampiri sang suami, berdiri di sampingnya. "Kamu dari mana?" tanya Annisa. "Aku banyak urusan, dan jangan banyak bertanya, aku lelah," ketus Reyhan, tanpa merubah posisi tidurnya. Annisa yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diam, lalu kembali berbaring di atas kasur, di samping sang suami, yang saat ini sedang berbaring memunggunginya. Sulit menebak hati seorang Reyhan. Terkadang dia bersikap posesif, tidak jarang ia juga bersikap manis, tetapi dalam sekejap dia bisa berubah menjadi lebih kejam, saat Annisa melakukan kesalahan sekecil apa pun. Pagi hari. Annisa yang terbiasa bangun subuh, mendapati ponsel suaminya dalam keadaan menyala, juga sebuah pesan dari Bram yang berisi. "Saya sudah menemukan tempat yang cocok, Tuan." Hanya kalimat itu yang nampak di layar ponsel sang suami, dan masih ada tiga pesan lagi yang tidak bisa ia buka, lalu ia pun kembali meletakkan ponsel itu di atas nakas, saat Reyhan memanggil namanya. "Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Reyhan masih berbaring. "Ng-nggak, Mas. Aku mau ke bawah, mau masak dulu," ujarnya. Setelah Annisa benar-benar keluar dari kamar, Rayhan meraih ponselnya, membaca semua pesan yang dikirim oleh Bram, lalu ia pun segera membersihkan diri, hendak menemui Bram yang sekarang sudah berada di sebuah gudang sejak matahari belum menampakkan cahayanya. Tiba di sana, ia melihat gadis itu sedang mengamuk, memukul Bram dengan tangan kosong tanpa perlawanan sedikit pun darinya. Hal itu membuat seorang Reyhan yang terkenal dingin tiba-tiba bibirnya membentuk simpul sempurna, sehingga nampak barisan gigi Reyhan yang berbaris dengan rapi juga bersih. Ini bukan Reyhan yang sebenarnya, dia tidak pernah menampakkan senyum semanis itu, kecuali saat pertama ia jatuh cinta kepada Annisa saat dijodohkan oleh orang tuanya. "Apakah ini cinta? aku tidak mungkin mencintai gadis ini. Ingat Rey, kamu memiliki seorang istri yang cantik, baik, bahkan istrimu nyaris tidak memiliki kekurangan," batinnya terus bergumam berjalan masuk ke dalam gudang, menarik tangan Alya yang tidak mau berhenti memukul Bram. "Hentikan!" tegas Reyhan. Alya yang tidak sudi tangannya di pegang oleh Reyhan, dengan sangat kasar ia mengibaskan tangan itu, tetapi gagal karena ia semakin mengeratkan genggamannya. "Jangan coba-coba memancing emosiku, gadis kecil." "Lalu apa yang akan anda lakukan?" tegas Alya tanpa rasa takut, menatap wajah Reyhan penuh keberanian. "Saya bisa melakukan apa pun, bahkan saya bisa menghabisimu saat ini juga," ucapnya penuh ancaman. "Saya tidak takut, kalau anda mau menghabisi saya, maka lakukan sekarang juga." Reyhan tidak menyangka gadis itu memiliki keberanian yang cukup tinggi, dengan menjawab setiap ancaman yang keluar dari mulut jahatnya. Bukan hanya Reyhan. Bram yang saat ini penampilannya sangat berantakan, menatap tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar barusan. "Gila ini orang, berani banget sama Tuan Rey?" batinnya bergumam. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, di mana saat mata mereka saling bertemu, raut wajah Reyhan terlihat berbeda, dia berusaha memalingkan pandangannya dari gadis itu, lalu keluar dari gudang sambil memanggil Bram. Bram yang masih tergeletak di lantai, segera bangkit, lalu mengikuti langkah tuannya dari belakang, sedang gadis itu terus berteriak, minta untuk dibebaskan. "Aku mau pulang!" "Tuan," panggil Bram. Namun, yang dipanggil sama sekali tidak memberikan respon, sehingga ia harus memanggilnya kembali dengan suara sedikit lantang. "Tuan," panggilnya lagi, lalu Reyhan pun menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. "Berani ya kamu membentak saya?" tegas Reyhan seraya meraih kerah kemeja Bram, menatap tajam. "Maaf, Tuan. Saya sudah memanggil anda beberapa kali, tapi sepertinya anda tidak mendengar," ucapnya sedikit terbata, karena lehernya yang tercekik oleh tangan kekar Reyhan. "Kamu ngatain saya budeg?" tuduhnya lagi, semakin geram. "Tidak, Tuan." Ia melepaskan kerah baju Baram, lalu ia berkacak pinggang sambil menatap ke sembarang arah seperti orang yang sedang kebingungan, dia mengacak rambutnya frustasi lalu berteriak, "Aaa...!" Bram yang ada di sana hanya bisa tertunduk saat mendapati sikap aneh sang majikan yang kerap terjadi setiap kali bertemu dengan Alya. *** Hari berlalu, Alya yang saat ini masih menjadi tawanan Reyhan, tidak lagi tinggal di dalam gudang, melainkan di sebuah kamar dengan fasilitas kasur besar nan empuk, terdapat AC juga TV berukuran empat puluh dua inci, juga pelayanan makan sebanyak tiga kali sehari dengan gizi yang cukup lengkap. Aneh memang, siapa pun akan merasa betah kalau disekap tetapi mendapat pelayanan mewah seperti yang Reyhan berikan untuk Alya. Sudah lebih dari satu minggu Alya menjadi tawanan Reyhan, selama itu juga ia tidak lagi masuk kuliah, dan bekerja, membuat semua orang bertanya, mencari keberadaan Alya yang om dan tantenya sendiri pun tidak tahu. Namun, setiap kali ada yang bertanya tentang keberadaan Alya, bu Ratna maupun Pak Chandra selalu mengatakan kalau Alya dalam keadaan baik-baik saja, dan sedang berlibur di rumah saudaranya, padahal jelas-jelas Alya tidak memiliki siapa pun selain om dan tantenya yang berpura-pura sayang kepada dirinya. Reyhan sering menemui Alya setiap satu minggu dua kali, seharusnya ia tidak perlu melakukan itu, dengan memberikan fasilitas mewah saja sudah lebih dari cukup ia berikan kepada Alya. Akan tetapi, Reyhan merasa ada yang kurang kalau dalam satu minggu ia tidak bertemu dengan gadis itu. "Perasaan apa ini? dia memang cantik, tapi kecantikannya bahkan tidak lebih cantik dari istriku, tapi kenapa? kenapa aku selalu ingin melihat wajahnya?" Seketika lamunannya memudar saat ia mendapat pesan dari asisten yang menjaga Alya di vila miliknya, dan mengatakan kalau Alya kabur, dia tidak ada di kamarnya. "Sial."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD