Sasi berulangkali melirik pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Menghitung mundur waktu berakhirnya jam kerja. Tidak hanya melihat pada arloji ditangan, Sasi juga melihat ponselnya berkali-kali. Berharap ada pesan dari Vincent. Namun tidak ada sama sekali. Entah jam ataupun notifikasi... keduanya sama- sama tidak membuatnya puas. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi sebelum waktu kerja berakhir tapi Sasi sudah sangat tidak sabar untuk segera keluar kantor. Seharian ini tidak ada kenyamanan yang dirasakannya sama sekali. Bukan karena desakan pekerjaan ataupun hal lain yang berurusan dengan suasana dikantor tapi murni karena urusan pribadinya dengan Vincent.
Tadi pagi, perpisahan mereka tidak dalam suasana yang baik. Sasi tidak sempat menjawab pertanyaan Vincent dengan baik dan benar karena tiba-tiba saja ponsel Vincent berbunyi. Asisten pribadinya yang menelpon karena Vincent sudah ditunggu untuk rapat dadakan.
Sasi masih ingat dengan jelas betapa dinginnya muka Vincent saat meninggalkan Pelataran kantornya. Sepertinya Vincent berasumsi lain dengan keberadaan Rizal di kantor yang sama dengannya. Tapi yang membuat Sasi bingung kenapa Vincent tahu tentang Rizal. Dan kebingungan Sasi terjawab saat ia menelpon Damar saat jam istirahat siang tadi.
" Darimana Vincent tahu soal Rizal?" tanya Sasi to the point," kalau bukan kamu yang cerita siapa lagi? nggak mungkin Papa,kan?"
" Kenapa tiba-tiba mbak bahas soal kunyuk itu?" bukannya langsung menjawab Damar malah balik bertanya yang membuat Sasi jadi hilang kesabaran.
" Pasti kamukan? alasan apa yang membuat kamu merasa berhak buat ceritain hal pribadi aku sama orang lain,ha?!"
" Mbak nggak lupa kalau dia teman aku,kan?"
" Nggak ada hubungannya!"
" Jelas ada, mbak lupa kalau waktu mbak patah hati dia juga ada disana? tanpa aku cerita dia juga tahu sendiri. Salah siapa nggak bisa ngontrol diri. Semua orang juga tahu kalau saat itu mbak nggak baik- baik saja. Jangankan Vincent yang sering kerumah, pak Rt sama satpam kompleks juga tahu kali. Lagian mbak sih... jadi cewek kok bar- bar sekali asal senggol bacok saja."
" Itu bukan alasan Damar Adi Wijaya!kalaupun dia tahu soal aku yang patah hati bukan berarti dia tahu siapa orangnya kan?"
Cukup lama Damar terdiam yang membuat Sasi makin curiga. Seingatnya Vincent dan Rizal tidak pernah berada ditempat yang sama sebelumnya. Meski berpacaran cukup lama dengan Rizal tapi Sasi jarang mengajaknya kerumah. Mereka lebih sering bertemu diluar.
" Damar!" panggil Sasi keras," cepat jawab! kenapa dia sampai tahu."
" Kenapa mbak nggak tanya sendiri?"
" Kamu... jangan main-main, cepat jawab! kalau nggak mbak nggak akan hadir dipernikahanmu nanti." ancam Sasi kekanakan.
Ancaman yang cukup manjur karena akhirnya Damar cerita juga kalau mereka sempat melabrak Rizal kala itu. Jawaban Damar tentu saja membuat Sasi tambah sakit kepala saja.
Tepat pukul lima sore Sasi langsung beranjak dari meja kerjanya. Ia tidak butuh waktu untuk berkemas karena sejak tadi barang- barangnya sudah masuk semuanya kedalam tas. Bahkan laptopnya pun sudah mati dan masuk laci meja. Sehari-hari Sasi memang tidak menenteng laptop karena terlalu berat buatnya yang sering naik transportasi umum. Sebagai gantinya Sasi juga memakai ipad mini agar tidak ada kendala saat butuh bekerja dari mana dan dimana saja.
Sasi tiba di kantor Vincent empat puluh menit kemudian. Bukan kali pertama ia menginjakkan kaki disana. Sebelumnya Sasi pernah kesana dengan Papanya untuk menjemput Damar yang kebetulan sedang disana. Pernah juga Sasi kesana bersama Damar untuk bertemu dengan Vincent meski Sasi cuma menunggu didalam mobil saja. Kalau sejak statusnya berubah baru kali ini Sasi lakukan dan tanpa perjanjian pula. Entah dirinya akan diterima atau tidak nantinya. Sasi tidak bisa menunggu lebih lama untuk berbicara tentang Rizal dengan Vincent. Jangan sampai Vincent punya pikiran buruk dengan kenyataan kalau mereka sekarang satu kantor. Sasi tidak mau dituduh mempertahankan pekerjaannya demi pria itu. Big No!
" Bu Sasi...?"
Sasi cukup terkejut saat sekretaris Vincent mengenalinya. Kalau untuk dibawah tadi dirinya maklum bisa naik karena Sasi memang punya akses untuk masuk.
" Bisa bertemu dengan Vi... eh pak Vincent?" tanya Sasi agak gagap.
Sekretaris Vincent tidak segera menjawab. Raut mukanya terlihat sedikit tegang.
" Maaf bu, pak Vincentnya sedang ada tamu."
" Boleh saya tunggu?" tanya Sasi sambil melihat ke sofa set yang berada tidak jauh dari pintu ruangan yang diyakininya sebagai ruangan Vincent.
Wanita itu terlihat ragu dan kian gugup saja. Hal itu tentu membuat Sasi jadi curiga.
Kecurigaan Sasi tidak berlangsung lama karena pintu ruangan Vincent tiba- tiba terbuka dan seorang wanita muncul disana diikuti oleh Vincent sendiri.
Wanita itu adalah Stella.
" Pak, ada tamu...."
Sekretaris Vincent lah yang pertama kali bersuara ditengah ketegangan yang terjadi diantara mereka.
" Sasi..."
" Mbak..."
Sasi menatap dua orang dihadapannya bergantian lalu tersenyum sekilas.
" Maaf sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat." ucapnya sebelum berlalu.
" Sasi, tunggu!" panggil Vincent yang tidak dipedulikan oleh Sasi.
Setengah berlari Sasi masuk kedalam lift dan menutupnya dengan cepat.
Tbc