Peringatan

1351 Words

Suara deru motor berhenti tepat di halaman rumah minimlais dengan cat abu-abu. Vano mebuka helm, lantas turun dari motornya. Langkahnya yang jenjang melangkah ringan ke dalam rumah. Vano hendak langsung menuju kamarnya, namun kedua kakinya terhenti begitu saja di ruang tengah. Kedua tangan Vano reflek mengepal erat kala melihat seluruh keluarganya, Heri, Soraya dan Reyhan yang berkumpul di sana, seolah-olah memang menunggunya pulang. "Duduk kamu!" Heri berucap tegas. Sepasang matanya memburu di balik kaca lensa tebalnya, pria dewasa itu menatap sang bungsu dengan tajam. Sejuta kemarahan dan kekecewaan terpancar jelas di kedua mata itu. Alih-alih menurut ucapan Heri, Vano justru terdiam dengan rahang yang mengeras, menatap sang papa dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Papa tahu kamu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD