Revita menyelodorkan kedua kakinya di tepi lapangan basket yang hangat. Meperhatikan tim sekolahnya yang baru saja selesai berlatih untuk lomba minggu depan. Ya, selepas pelajaran berakhir, Revita harus merelakan waktunya di tempat itu. Angin sore menerjang wajah Revita. Membuat ujung-ujung rambut yang sengaja digerai menari terbawa angin. Netra mata cokelat madu gadis itu tak lepas menatap Vano, sudut bibirnya mengembang saat laki-laki itu berlarian kecil menghampiri dirinya dengan tangan kanan mendribble bola basket yang sudah tampak kotor dan hitam akibat sering dipantulkan. "Gimana? Keren kan gue?" Vano mengambil tempat di sebelah Revita yang kini mengangkat dua jempol untuknya. Vano terkekeh, menerima air mineral dari Revita. "Ekhem, ekhemm! Duh, haus nih tenggorokan gua!" Suar

