Iima panggilan tak terjawab dari Vano. Vano : Rev, di mana? Di rumah lo kenapa gak ada orang? Gue jadinya duluan, udah ditunggu sama yang laen. Tapi lo dateng kan? Gue tunggu di Bimasakti. Revita tersenyum. Membaca pesan Vano dari lock screen ponselnya. Sengaja tidak membalasnya. Kedua tangannya justru mengeratkan rambut yang ia kuncir satu. Membenarkan posisi topi merah muda yang melingkar di kepala, lantas menarik sudut bibirnya sembari menatap pantulan wajahnya di depan cermin yang sedang ia bawa. Sepasang matanya terpejam beberapa detik. Menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya perlahan. Menetralisir rasa gugup yang mulai menyerang saat sebuah mobil sedan keluar dari garasi. Revita mengepalkan kedua tangannya yang mulai berkeringat dengan erat. Kemudian berjalan ringan

