Us

2426 Words

"AAAAAAAAAAAA." "PAKKK! PAK!!! SAYA MASIH DOYAN NASI PAK!!!" "SUMPAH PAK! SAYA GAK MAU MATI MUDA! MAU KAWIN SAYA PAKKK-AAAAAAA!!!!" "PATAH TANGAN SAYA PAK!!! UDAHAN PAK! UDAHANNN!!!!" Revita mengigiti kukunya. Entah harus tertawa atau kasian melihat Vano yang terus meraung-raung kesakitan. Selepas pertandingan, Vano sengaja tidak langsung dibawa pulang. Melainkan dilarikan ke tukang urut. Karena sepanjang jalan pulang, Vano terus mengeluhkan rasa sakit di lengannya. Reyhan, Soraya dan Heri justru tertawa keras melihat anak itu yang terus mengoceh tidak jelas. Bahkan Heri dan Reyhan terpaksa turun tangan untuk memegang kaki Vano yang menggeliat seperti ular. "Wah gila, Pak! Bisa bunuh orang sampean!" Revita kini bisa terkikik melihat wajah Vano yang semerah kepiting rebus. Rambut, wa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD