Perihal gengsi

2945 Words
Revita merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Setelan baju tidur berlatar biru muda dengan corak kepala koala berukuran mini melekat apik di tubuhnya. Revita mengembuskan napas lelah. Menunggu hujan reda, membuatnya pulang dengan terlambat. Revita mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas kasur. Sepertinya kipas angin yang menyala di kamarnya tidak memberikan efek apa-apa. Terlihat dari pelipis anak itu yang kini justru basah akibat keringat. Pandangan Revita langsung terjatuh pada sebuah benda yang menggantung di sebelah lemari. Entah dorongan dari mana sehingga anak itu bergerak turun dari kasurnya. Revita meraih jaket hitam milik Vano. Ia menggenggam jaket itu dengan erat. Mendekatkan ke lubang hidungnya. Lagi-lagi Revita terbuai akan aromanya. Revita menjauhkan jaket itu setelah sadar jika dirinya telah mencium jaket itu berkali-kali. Bibirnya tersenyum merasakan aroma parfum maskulin, yang entah mengapa langsung membuatnya candu akan aroma itu. "Loh, belum tidur?" Revita tersentak. Kepalanya menoleh ke belakang. Sudut bibir tipisnya sedikit terangkat saat mendapati Oma yang berada di ambang pintu. "Belum, Oma," jawab Revita sopan. Oma melotot. Kedua tangannya langsung berkacak pinggang. "Kok belum! Sekarang sudah jam berapa? Tidur!" Revita menelan ludah gusar. Jaket di tangannya ia gantung kembali dengan cepat. Revita memucat. Mematikan kipas angin, dan langsung menghempaskan diri di atas kasur. Menarik selimut tebalnya, lalu bersiap untuk segera tidur. °°° Pagi ini langit lebih cerah dari kemarin. Sinar surya tidak lagi bersembunyi di balik awan. Semilir angin segar menyibakkan rambut serta ujung pakaian Revita yang tengah melangkah seorang diri pada koridor sekolah. Di sepanjang langkahnya, mulut merah muda tanpa polesan lipstik itu terus bersenandung kecil mengikuti suara musik yang tersumpal di telinganya. Revita memasuki kelas yang telah ada beberapa temannya di sana. Selepas mengucapkan salam, Revita menjatuhkan diri pada tempat duduknya. Walaupun pagi ini terbilang hangat, namun tubuh anak itu justru masih setia terbalut dengan jaket. Ya, jaket yang kemarin dipinjamnya. Dan Revita langsung jatuh cinta pada aroma yang ada di jaket itu. "Rev, kenapa lo? Sakit?" Bella yang duduk di belakang Revita bertanya khawatir. Karena dia juga mengetahui kalau temannya itu mempunyai alergi dingin. Revita membalikkan tubuhnya. Headset dengan volume kecil ia lepas dari kedua lubang telinganya. Revita menggeleng dengan bibir yang terangkat. "Bell, lo tahu gak ini parfum merek apa?" Revita bertanya dengan menyodorkan lengannya yang tertutupi jaket. Mendekatkan pada cuping hidung Bella. Bella sedikit mencondongkan tubuhnya. Hidungnya yang mungil ia paksa untuk mencium lengan jaket itu dengan dahi yang belipat-lipat. Dua detik kemudian, tubuh Bella kembali tegap dengan kedua mata yang melebar menatap teman di hadapannya. "Ini parfum cowok, woy!" kata Bella dengan lantangnya. Revita melongos dengan memutar kedua matanya jengah. Ya jelas parfum cowok lah, kan jaketnya punya si Vano, batin Revita. "Iya, tahu! Yang gue tanya itu, lo tahu gak merek parfumnya!" tukas Revita jadi emosi. "Yeee, lo pikir gue toko parfum, segala tanya merek!" balas Bella tak kalah emosi. "Gue aja paling mentok cuma pakai kisprey, kagak ada tambahan parfum. Gue kan udah wangi dari zigot," lanjutnya dengan menepuk dadanya bangga. Revita lagi-lagi memutar bola matanya malas dengan berembus gusar. Tangannya ia tarik kembali dengan sedikit rasa kecewa. "Eh, ngomong-ngomong mana tuh krucil yang sering lo ketekin?" Bella bertanya dengan melepas kacamata bulatnya, mengusap lensa kaca yang terlihat mengembun dengan seragamnya. "Hah?" Dahi Revita mengkerut. Menatap bingung temannya itu dengan berpikir sesuatu. "Maksud lo, si Novi?" ucap Revita menerka-nerka walaupun lipatan di dahinya belum menghilang. "Iya lah, siapa lagi," kata Bella dengan memasang kembali kacamatanya. Membuat wajahnya yang tembem semakin terlihat bulat. "Oh." Revita manggut-manggut. "Dia nebeng sama Ryan. Eh, bukan nebeng, sih. Lebih tepatnya ditawarin berangkat bareng. Kan rumah Ryan persis di seberang kos si Novi." "Oh." Kini gantian Bella yang manggut-manggut mendengar penjelas lebar itu. Revita kembali membalikkan tubuhnya. Sebagian teman kelasnya sudah ramai memasuki kelas. Namun teman satu bangkunya itu belum juga menampakkan diri. Revita mengelap pelipisnya yang ternyata berkeringat. Memang pilihan buruk untuk memakai jaket pada cuaca hangat seperti ini. Revita akhirnya melepas jaket hitam itu, lantas melipatnya dengan apik. Detik berikutnya, semua pasang mata terfokus pada Novi yang memasuki kelas dengan menghentak-hentakkan kakinya. Wajah anak itu terlihat sangat kesal, ditambah rambutnya yang terlihat cukup berantakan. Deru napasnya pun naik-turun dengan pandangan yang berapi-api. Selang beberapa langkah, Ryan datang dengan wajah yang nampak tegang. Dia sedikit berlari kecil ke depan kelas, lantas berteriak, "Guys! Gue ada berita penting!" Sontak saja, semua pasang mata langsung menyorot ke arahnya dengan penasaran. "Lo mau mati?!" Novi berteriak murka. Kedua matanya kian melotot dengan napas yang terlihat memburu. Ruan melirik sekilas Novi, lantas menyeringai. Tidak ada rasa takut sedikitpun melihat pelototan itu. "Masa, ya! Ban motor gue langsung kempis pas ditumpangi Novi!" "RYANNNN!!!" "HAHAHAHA ...." Tawa meledak menggelegar di kelas itu. Entah mengapa melihat ekspresi Ryan dan kemaran Novi yang meluap seolah menjadikan skit-comedy tersendiri. "Lo bonceng Novi apa dugong!" celatuk Anam yang membuat kelas semakin bising dengan tawa. "Nam! Lo mau gue gorok?!" Novi kini berada pada puncak kemarahan. Anam tidak tahu apa kalau dirinya benar-benar sensitif jika dikata gendut? Benar-benar mencari mati si Anam. "Gorok sini gorok!" kata Anam meledek dengan meninggikan lehernya. Novi menggeram. Sisi-sisi gerahamnya saling bergemelatuk. Namun sasaran marahnya saat ini bukan untuk Anam, melainkan untuk orang yang sudah membuat harga dirinya jatuh berkeping-keping. "LO!" Novi menahan napasnya dengan rahang mengeras. "GUE GAK MAU DITEBENGIN SAMA LO LAGI!" tegas Novi, jari telunjuknya ia angkat sejajar ke arah wajah Ryan. "Dih! Siapa juga yang mau nebengin lo lagi! Tekor gue! Untung kagak, rugi iya!" sahut Ryan ogah-ogahan. "Bilang aja lo yang mau ambil kesempatan kedua buat meluk-meluk gue, kan?" "Ryaaannn!!!" teriak Novi benar-benar murka. Dan perang dunia dimulai. Aksi saling balas kata diselingi umpatan menjadi sarapan pagi di kelas itu. Ditambah dengan sahutan-sahutan panas dari warga kelas. Tak tanggung-tanggung, suara mereka bahkan terdengar hingga kelas belakang. Walaupun bel pelajaran pertama telah berkumandang, tak ada efek sampingnya pada kelas yang memang terkenal bebal. Dan di sinilah masa-masa terindah di sekolah. Momen-momen paling absurd yang akan selalu dirindukan pada hari kelak. Hari di mana perpisahan tiba. Dan hari yang tidak akan bisa terulang untuk kedua kalinya. °°° Seperti biasa, pada istirahat pertama, kondisi kantin sudah cukup padat. Jelas saja, kantin adalah tempat terindah yang ada di sekolah. Tempat yang sering menjadi pelarian jika suntuk belajar di kelas. Beralibi dengan guru pengajar untuk pergi ke toilet. Namun ujung-ujungnya malah bersarang di tempat ini dengan beberapa jajanan ringan yang mereka beli. Asap panas mengepul pada dua mangkuk putih yang berada di salah satu meja kantin. Revita yang sudah merasa lapar harus rela menahan mulutnya untuk menyantap mi ayam di hadapannya, demi mendengarkan Novi yang masih saja terlihat marah. Jujur saja, Novi sangat berisik hari ini. "Gila, ya! Dia yang maksa-maksa gue buat berangkat bareng malah fitnah gue yang enggak-enggak!" "Udah motor butut! Kempis di jalan pula! Segala pakai suruh gue dorong motor, bisa-bisanya dia nyalahin tubuh gue! Dia gak tahu apa bedak gue udah luntur duluan sebelum masuk gerbang!" "Dasar Ryan jelek! Sebelas dua belas sama ketek!" "Nyesel gue nyesel, nolongin anak kucing dia yang nyungsep di selokan. Tahu gitu majikannya aja yang gue lelepin di rawa-rawa!" "Awas aja kalau dia sampai—" "Nov, berisik ih!" Revita berucap jengah. Telinganya kini benar-benar terasa panas dengan kepala yang sedikit pening. Bukan main, mulut Novi yang terlihat mungil itu ternyata bisa berbacot ria tanpa henti dan tidak mengenal durasi. Revita menarik mangkuk di hadapannya, mengabaikan rengekan Novi yang menyuruh dirinya tidak memulai makan sebelum mendengarkan semua keluh kesalnya. Namun, Revita tidak peduli dan memulai menyantap mi ayamnya yang sudah tidak terlalu panas lagi. "Makan dulu. Kalau lo tetep nyerocos, gue jejelin sekalian mangkuknya ke mulut lo!" ancam Revita mendengus kesal. "Ish, lo gak asik!" Novi menggerutu. Bibirnya langsung membentuk kerucut. Mi ayam miliknya disantap dengan sangat brutal. Novi membanting sendoknya dengan keras di atas mangkuknya yang kini telah kosong. Kedua mata Revita membulat sempurna. Tidak percaya akan Novi yang mampu melahap satu porsi mi ayam dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Perutnya seketika terasa kenyang melihat pipi Novi yang mengembang begitu besar. Revita dapat melihat anak itu mengunyah dengan susah payah. Revita menyesap es teh pesanannya. Mi ayam kesukaannya terasa tidak menarik nafsunya lagi. Melihat Novi yang makan sebegitu brutal membuat ia mati-matian menahan muntah. "Rev! Gak lo habisin?" Revita menoleh, mendapati Novi yang mengusap bibir dengan punggung tangannya. "Enggak!" jawab Revita ketus. "Yaudah, buat gue aja." Kedua mata Revita kian terbelalak. Dia menelan ludah dengan susah payah. Sungguh sial, bisa mati ceritanya kalau seperti ini. Mau tidak mau, Revita nanti harus merelakan kupingnya lagi untuk mendengar ocehan Novi tentang berat badannya yang naik akibat makan terlalu banyak. Ujung-ujungnya pasti dia yang disalahkan. Emang Novi dasarnya kurang ajar! Jemari Revita bergemelatuk di atas meja. Sedari tadi anak itu terlihat gusar dengan kepala yang meneleng ke sana ke mari. Novi mengusap bibirnya dengan punggung tangan, menatap Revita yang terlihat tidak tenang. Tanpa sadar, Novi ikut meneleng ke sekitar mengikuti gerakan Revita. "Rev! Lo cari siapa, sih?" tanya Novi pada akhirnya. Revita berdecak kala tidak menemukan orang yang memang ia cari. "Si Vano," jawab Revita lesu. Kini jemarinya bermain pada sedotan di dalam gelas es teh yang tersisa setengah. "Heh? Tumben lo cari Vano?" sahut Novi lalu menegak es teh miliknya langsung dari gelasnya. "Mau kembaliin jaket," jawab Revita lugas. "Oh." Novi manggut-manggut. Kepalanya kembali mengedarkan pandang, mencari sosok Vano yang sering ia lihat di kantin ini. "Iya, tumben tuh anak kagak kelihatan di sini. Emang gitu ya, kalau dibutuhin mendadak jadi transparan. Tapi kalau gak dibutuhin nongol mulu. Inilah yang dinamakan keajaiban dunia!" kata Novi mulai meracau. Revita mendengus. Mengabaikan perkataan Novi yang menurutnya tidak jelas itu. "Mending tanya Anam aja. Dia kan deket banget sama Vano," ujar Novi menyarankan. Seperti sebuah bohlam muncul di kepalanya, Revita langsung tersadar kalau Anam itu teman basket Vano. Pandangan Revita kembali menyapu isi kantin, mencari-cari sosok Anam. Hingga akhirnya, Revita melihat Anam yang tengah jongkok di depan stan Pak Mija dengan menyantap ongol-ongol seribuan. "Nam!" Revita sedikit berteriak karena kondisi kantin yang benar-benar ramai. Revita lagi-lagi berdecak kala suaranya kalah keras dengan sekitar. Revita kembali berteriak dengan lebih keras memanggil nama Anam. Sebelah tangannya terangkat dan melambai-lambai. Bibirnya sedikit tersenyum saat Anam beranjak dan berjalan mendekat. "Apaan, sih?! Ganggu orang ganteng lagi makan aja!" celatuk Anam dengan mulut yang masih terlihat mengunyah. Baik Revita maupun Novi sama-sama memasang ekspresi ingin muntah. Revita mendengus, menatap Anam malas sekali. "Lo tahu Vano di mana?" tanya Revita to the point. Dia memang tidak suka berbasa-basi "Mana gue tahu! Emang gue upilnya yang ngintilin dia ke mana-mana!" sahut Anam ketus seusai menelan kunyahannya. Revita memutar kedua bola matanya begitu jengah. Kenapa ia harus dipertemukan dengan orang se-menyeblkan ini?! "Napa lo cari-cari, Vano?" tanya Anam pada akhirnya. Sepasang mata anak itu memicing, penuh dengan kecurigaan. "Napa lo lihatin gue segitunya!" bentak Revita geregetan. "Gue cuma mau kembiin jaket. Jangan mikir macem-macem!" Revita berkata ketus dengan melirik sinis ke arah Anam. Meskipun Revita dan Anam sudah bisa dikatakan akrab sebagai teman sekelas, namun Revita tetap saja tidak pernah berani menatap wajah lawan bicaranya. "Oh, kirain lo udah bisa suka laki. Kan secara lo itu lesbian." "NAM! LO MAU MATI?!" teriak Revita begitu keras dengan mendobrak meja. Kedua matanya kian melotot marah ke arah Anam. Dan keramaian kantin mendadak hening, semua pasang mata terarah pada meja tengah di mana asal suara keributan itu. Dan kali ini Revita memilih mengabaikannya, toh di mata Anam dirinya memang dicap sebagai anak barbar, dan itu benar adanya. "Weh, santai dong! Gak usah nge-gas gitu!" sahut Anam berlagak sok galak dengan balas menggebrak meja menggunakan sebelah tangannya. Kantin kembali ramai saat melihat si pelaku keributan adalah Anam. Mereka kembali melengos tidak peduli karena sudah hapal kelakuan Anam sebagai King Drama di sekolah. Namun sebagian yang lain malah asyik menonton drama tidak berfaedah itu. "Sekali lagi lo ngomong gitu...," Revita menekan di setiap katanya. "Gue pecahin pala lo!" ancam Revita dengan sebelah tangan yang sudah mengangkat gelasnya. "Gue buntingin lo kalau berani nyentuh pala gua!" tantang Anam dengan begitu serius. Sialan! Revita menaruh kembali gelasnya dengan sedikit membantingnya. Ucapan Anam barusan berhasil membuat wajahnya merah padam. Dirinya benar-benar terlihat malu, apalagi sekarang berada di kantin yang sangat ramai. Rasanya, Revita ingin lenyap sekarang juga. "Udah-udah! Kalian apa-apaan, sih! Malu tahu!" kata Novi begitu jengah melihat kedua temannya ini yang tidak pernah akur. "Udah deh Nam, lo kasih aja kontak ponselnya si Vano. Pusing gue lihat lo berdua ribut mulu!" "Minta ke gue kudu pakai password," jawab Anam dengan enteng. "Dih, lo kata mau ambil duit! Pakai password segala!" ketus Novi menahan diri untuk tidak menonjok muka Anam. "Emang apaan password lu! Kek orang penting aja!" Anam menyeringai. Kedua matanya menatap lurus-lurus Revita yang masih terlihat kesal. "Revita kudu bilang ke gue gini, 'Anam yang ganteng, manis dan budiman, minta nomor hp-nya Vano, dong'." "OGAH!" jawab Revita cepat-cepat. Sepasang matanya kian melotot tidak terima. Dirinya benar-benar tidak habis pikir pada otak temannya itu. Jangankan mengucapkan, membayangkannya saja sudah membuatnya mau muntah. "Yaudah!" sahut Anam tak ambil pusing. "Lagian kok gak langsung lo samperin ke kelasnya aja, sih! Ribet banget lo jadi orang!" sinis Anam lalu meraih gelas Revita dan menegak isinya hingga tandas. Revita mendengus kasar. Kali ini ia menatap Anam dengan menahan geram. "Kelas kita kan kadang moving, bego! Kalau tetap ya udah gue samperin!" tegas Revita lalu membuang pandangnya ke tempat lain. Napasnya yang normal mendadak berderu menahan dongkol luar biasa. "Ya, usaha dong!" geram Anam. "Lo keliling sekolah sana cari kelas dia. Mikir makanya mikir!" Anam menoyor-noyor pelipis Revita pelan dengan telunjuknya. "Ish!" Revita menepis tangan Anam dengan kasar. Pancaran matanya kian membara. "Kurang kerjaan banget gue keliling satu sekolah!" "Ututuu ... Repitong suka marah-marah, ih!" Anam mencebik lalu mengusap-usap kepala Revita dengan tangan kiri bekas dia mengupil tadi. "Berhubung gue emang ganteng, baik hati dan suka menolong. Gue kasih deh nomor Vano. Kurang mantap apa lagi coba gue? Emang gue itu menantu idaman mertua!" Anam menyugar rambutnya sok keren dan sok ganteng. Tangan Anam merogoh sakunya, mengeluarkan benda pipih hitam itu. Mengotak-atik layarnya sebentar lalu memasukkan lagi ke dalam saku. "Udah gue send. Kalau lo berdua jadian, traktir gue ongol-ongol dua puluh bungkus!" kata Anam kemudian berlalu. Revita hanya melengos tidak peduli dengan kata-kata Anam barusan. Kini pandangannya teralih pada Novi yang terlihat gelisah dengan memegangi perutnya. "Kenapa, lo? Mau lahiran?" terka Revita dengan kedua alis yang saling terangkat. "Sembarangan lo kalau ngomong! Gue masih segelan tau!" kata Novi sambil menunjukkan raut wajah yang terlihat kesakitan. "Perut gue penuh banget, Rev! Sepertinya mau meledak!" "Terus?" tanya Revita tidak ada belas kasih. "Ya sakit lah! Gue berasa gak bisa jalan." Novi meringis dengan kedua tangannya yang kian meremas perutnya. "Eh, lo jangan mengada-ada! Abis ini bel masuk. Lo mau gue gelindingin?!" Kedua mata Revita kian menyalang dengan tangannya yang saling berkacak pinggang. "Lo kata gue ban motor!" balas Novi tak kalah melotot. "Ck! lo nyusahin banget tahu, gak!" Revita menggerutu. Kepalanya terlihat mengedar ke seluruh penjuru kantin. Dan ketika mendapati seseorang yang tepat, Revita bisa bernapas lega. "Yan, Ryan!" teriak Revita lantang. Sebelah tangannya terangkat dan melambai. "Heh! Ngapain lo panggil-panggil Ryan!" Revita menghiraukan Novi yang berteriak protes. Ryan menolehkan kepalanya, anak itu datang menghampiri. "What?" tanya Ryan yang merasa cukup aneh saat Revita memangil namanya. Anak itu menyesap jus mangga yang ada di tangannya. Melirik sekilas ke arah Novi yang meringis kesakitan. "Lo bisa gendong Novi ke kelas? Dia mendadak jadi lumpuh akibat makan dua mangkuk mi." "HEH?!" Ryan dan Novi teriak bersamaan. Sepasang mata mereka melotot tak percaya dengan ucapan Revita. "Ogah!" tolak Ryan mentah-mentah. "Tadi ban sepeda gue yang kempis. Masa tubuh gue yang sexy ini juga ikut kempis!" "Gue juga ogah digendong sama Ryan! Enak banget dia nyuri-nyuri kesempatan!" bentak Novi tidak terima. Revita mendengus. Memutar kedua bola matanya dengan sangat lelah. Baru saja dramanya dengan Anam selesai, dan sekarang akan ada drama baru lagi yang akan membuat kekesalannya semakin meluap. Revita memilih berdiri dan beranjak dari tempatnya. Berjalan seorang diri dengan langkah ringan menuju kelas. "Rev! Kok gue lo tinggalin! Woy, Rev! Sumpah gue kagak bisa jalan! Reviii ...!" Novi teriak-teriak persis orang kesurupan. Namun seberapa keras ia berteriak, nyatanya tidak membuat Revita berbalik dan menghampirinya. "Lo memang nyusahin!" Ryan menaruh jus mangganya di atas meja. Lantas berjalan mendekat ke arah Novi. Sedikit membungkukkan tubuhnya. "Eh, lo mau ngapain?!" Novi melotot gugup. "Awas aja lo kalau berani nyentuh gue, bakal gue—" Kalimat Novi seketika terhenti saat merasakan tangan Ryan benar-benar menyelip di lipatan kakinya, dan sebelah tangannya yang lain menyelip di punggungnya. Wajah Novi seketika merah padam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Kedua tangan Novi reflek melingkarkan di leher Tegar agar tidak jatuh. Desiran aneh mengguyur tubuhnya. Namun Novi tidak tinggal diam. Anak itu justru meronta-ronta. Novi menggigit bibir bawahnya kala Ryan justru memeluk tubuhnya kian erat. "RYANN! TURUNIN GUE! TURUNIN!!!" Novi terus berteriak dengan sesekali mengumpat. Anak itu sangat marah. Tapi, kenapa kedua pipinya terasa panas? Dan kenapa dirinya tiba-tiba merasa gugup? Mendengar teriakan Novi yang begitu nyaring membuat langkah Revita terhenti. Anak itu menoleh ke belakang. Detik itu juga kedua matanya membulat dengan mulut yang menganga. Sangat tdak mempercayai Ryan yang benar-benar menggendong Novi. Bahkan tubuh Revita seakan membeku saat mereka melewatinya. Dan bukan dirinya saja yang menganga, hampir seluruh siswa yang ada di sana juga tercenung melihat pemandangan langka di sekolah ini. Revita tersenyum geli saat mendapati Novi yang menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Ryan. Revita yakin kalau wajah temannya itu kini merah padam. Tanpa membuang kesempatan, Revita mengeluarkan ponselnya. Merekam mereka berdua dari belakang dengan menahan tawanya. Revita hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua sejoli itu yang kuat dengan gengsinya. Ya, seperti itulah. Gengsi seakan menjadi tembok kokoh pemisah kebahagiaan. Penyebab sebuah kekecewaan adalah ekspetasi yang terlalu tinggi, dan sebuah gengsi yang juga tidak tahu diri. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD